Renungan Natal 2008
CHRISTMAS:
Christ-Mass or Christ-Less?
oleh: Denny Teguh Sutandio
Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
Lukas 2:11
Tidak terasa hari Natal tahun 2008 segera datang. Tetapi sayangnya Natal
tidak dimengerti sebagai Natal yang sesungguhnya yang berpusat kepada Kristus.
Natal menjadi momen di mana tidak hanya orang Kristen yang merayakan Natal,
orang-orang non-Kristen pun “merayakan” Natal. Caranya, dengan memasang pohon
Natal dan aksesoris Natal lainnya di toko mereka atau menggelar diskon
besar-besaran di toko/swalayan/dll mereka (tidak ada bedanya dengan hari raya
lainnya). Natal sepertinya sudah menjadi tradisi setiap tahun yang tidak ada
bedanya dengan hari raya lainnya. Bukan hanya di luar gereja, di dalam gereja,
tradisi Natal diberlakukan tanpa mengerti esensi Natal. Lihat saja, banyak
“hamba Tuhan” di gereja Protestan arus utama mengkhotbahkan Natal tidak lagi
berbicara mengenai Kristus, tetapi aksi-aksi sosial dan lingkungan alam. Contoh
praktis, bacalah beberapa renungan Natal di surat kabar pada hari Natal, apa
yang para penulis renungan itu beritakan di saat Natal?
Injil Kristus sejati? TIDAK. Yang mereka beritakan bahkan hampir tidak ada
sangkut pautnya dengan Natal, misalnya: menolong orang miskin, memperhatikan
lingkungan alam, dll. Hal seperti ini tidak perlu ditulis menjadi renungan
Natal, karena orang non-Kristen pun bisa melakukannya. Di sisi lain, di banyak
gereja kontemporer, para pengkhotbah membicarakan mengenai kesuksesan,
keberhasilan, dll, karena Kristus lahir. Benarkah itu semua identik dengan
Natal secara esensi? TIDAK. Itu yang saya sebut sebagai: Christ-less Christmas
(Natal yang tanpa Kristus). Fenomena yang ditonjolkan adalah “Natal,” tetapi
inti Natal dihilangkan dan bahkan hampir dibuang. Mengapa? Karena berita Natal
yang berpusat kepada Kristus seolah-olah sudah tidak sesuai dengan selera zaman
yang telinganya gatal ingin mendengarkan ajaran-ajaran yang menyenangkan (2Tim.
4:3-4). Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dibuang, lalu diganti dengan
“Kristus” sebagai penolong kaum tertindas, pembebas
manusia, pemberi berkat, dll. Meskipun hal-hal tersebut tidak salah, tetapi
itu bukan inti Natal yang Alkitab ajarkan. Lalu, apa sih yang menjadi inti
Natal?
Inti Natal adalah Kristus yang lahir. Jika kita memperhatikan Lukas 2:11,
secara konteks, para malaikat Tuhan memberitahukan kepada para gembala di situ
bahwa pada hari itu telah lahir bagi mereka Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan,
di kota Daud. Para malaikat TIDAK memberitakan bahwa pada hari itu telah lahir
bagi mereka: Penolong kaum tertindas, Pembebas mereka yang terbelenggu
penjajah, pemberi berkat, dll, seperti konsep “Natal” ala postmodern sekarang.
Mengapa para malaikat tidak memberitakan hal tersebut? Karena itu TIDAK penting
dan berpusat kepada manusia (antroposentris), sedangkan maksud Kristus diutus
adalah menggenapkan kehendak Allah (Theosentris), sehingga yang diberitakan
oleh para malaikat adalah berita Theosentris, bukan antroposentris atheis.
Mari kita menyelidiki berita Theosentris tersebut. Ada tiga jabatan yang
langsung dikenakan kepada Tuhan Yesus di dalam Lukas 2:11 ini, yaitu:
Juruselamat, Kristus, dan Tuhan. Mari kita menelusuri ketiga jabatan ini
beserta implikasinya.
Sebagai Juruselamat, kelahiran Kristus dan karya-Nya di dunia adalah
menyelamatkan umat pilihan Allah dari dosa-dosa yang membelenggu mereka. Sejak
zaman Perjanjian Lama, bangsa Israel menantikan kedatangan Juruselamat yang
dapat membebaskan mereka dari penjajahan. Konsep mereka tentang Juruselamat
adalah konsep antroposentris humanis yang tidak ada bedanya dengan konsep
“Natal” ala postmodern sekarang. Akibatnya ketika Kristus hadir di
tengah-tengah mereka sebagai Pribadi yang “lemah,” seolah-olah “tidak
berkuasa,” tidak berpasukan, dll, mereka akhirnya banyak yang menolak-Nya. Hal
ini tidak jauh berbeda, jikalau andaikata umpama Kristus benar-benar hadir di
zaman postmodern ini, yang pertama-tama menolak Kristus bukan orang
non-Kristen, tetapi justru banyak “pemimpin gereja” yang sudah sekolah
“theologi” (bahkan doktor) di luar negeri, namun tidak mengakui finalitas
Kristus (baik eksplisit maupun implisit). Mereka akan mengatakan bahwa “Kristus”
yang mereka kenal adalah Kristus yang penuh “belas kasih,” bukan yang
“sombong” yang mengajarkan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Dia (Yoh. 14:6;
Kis. 4:12). Sungguh ironis, bukan? Konsep fenomenal tentang Juruselamat ini
ditentang oleh Kristus sendiri dengan mengatakan bahwa Kerajaan-Nya bukan dari
dunia ini (Yoh. 18:36). Dengan kata lain, kedatangan Kristus bukan bermakna
fisik/jasmaniah (membebaskan Israel dari penjajahan), tetapi rohani, yaitu
menyelamatkan umat pilihan Allah dari dosa-dosa yang membelenggu mereka. Hal
ini terus ditekankan oleh Tuhan Yesus kepada para murid-Nya, tetapi sayangnya,
menjelang Tuhan Yesus naik ke Sorga, para murid-Nya masih bertanya, kapan Dia
akan memulihkan Kerajaan Israel (Kis. 1:6). Hari ini, di hari Natal, kita
diingatkan kembali, bahwa Kristus yang lahir bagi kita adalah Kristus, Sang
Juruselamat, yang menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Sejak kita masih
seteru/musuh Allah, Allah telah mengasihi kita dengan mengutus
Kristus sebagai Juruselamat yang mendamaikan Allah yang Mahakudus dengan kita
yang berdosa (Rm. 5:10). Kelahiran Kristus ini memberikan pengharapan kepada
kita bahwa ada jalan keluar dari dosa, yaitu penebusan Kristus. Dosa manusia
tidak bisa diselesaikan dengan cara manusia melalui perbuatan baik (amal),
karena semakin manusia berbuat “baik” (supaya diselamatkan dan masuk “sorga”),
manusia semakin berbuat dosa. Mengapa? Karena perbuatan baiknya dilakukan bukan
dengan motivasi kebaikan itu sendiri (mengutip perkataan seorang filsuf Yunani
kuno) Dosa manusia hanya bisa diselesaikan dengan cara di luar manusia, yaitu
tentunya cara Allah yang mencipta mereka. Nah, Allah menggunakan satu-satunya
cara untuk menebus dosa manusia yaitu dengan mengutus Tuhan Yesus, 100% Allah
dan 100% manusia untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Kristus harus
100% Allah, karena hanya Allah saja yang mampu menyelamatkan manusia dari dosa,
lalu bagaimana caranya Allah
menyelamatkan manusia dari dosa itu? Dengan mengajari manusia untuk berbuat
baik? TIDAK. Satu-satunya cara adalah Kristus harus menjadi manusia (tanpa
kehilangan natur Keilahian-Nya), lalu Ia mati disalib demi menggantikan dosa
umat pilihan-Nya. Kristus harus menjadi manusia karena Allah tidak bisa mati,
sedangkan manusia bisa mati. Inilah titik finalitas Kristus yang juga adalah
keagungan Injil yang tidak bisa dipersamakan dengan semua kebudayaan, agama,
dan filsafat manusia berdosa. Hari ini, izinkan saya menantang Anda, sudahkah
Anda menerima Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat Anda? Biarkan Roh Kudus
bekerja di hati dan pikiran Anda saat ini...
Sebagai Kristus, Ia adalah yang Diurapi oleh Allah (Messiah). Kedua, Tuhan
Yesus bukan hanya sebagai Juruselamat, Ia juga adalah Kristus yang berarti yang
Diurapi oleh Allah (anointed). Sebagai Yang Diurapi oleh Allah, Kristus yang
diutus oleh Allah Bapa mengemban mandat penting yaitu menggenapkan karya
penebusan bagi umat pilihan yang berdosa. Berarti, Kristus sendiri adalah
Utusan Allah sekaligus Pribadi kedua Allah Trinitas. Mengapa saya menyebut
Kristus juga sebagai Pribadi kedua Allah Trinitas selain sebagai Utusan Allah?
Bidat Saksi Yehuwa dan Unitarianisme (menyembah 1 Pribadi Allah) mati-matian
mengajar bahwa Kristus bukan Allah, tetapi hanya sebagai utusan/hamba/malaikat
Allah. Alkitab dengan jelas mengajar bahwa Kristus adalah Allah. Alkitab
menyebut Kristus sebagai Alfa dan Omega (Why. 1:8; 21:6; 22:13). Ketiga ayat
ini jelas secara konteks mengacu kepada Tuhan Yesus, bukan kepada Allah Bapa.
Dengan demikian, Kristus yang diurapi oleh Bapa juga adalah Pribadi
kedua Allah Trinitas, karena tidak ada pribadi lain yang layak diurapi oleh
Bapa untuk menebus dosa manusia, kecuali Pribadi Allah sendiri. Ingatlah, Allah
Bapa tentu TIDAK akan mengutus malaikat biasa (yang juga termasuk ciptaan sama
seperti manusia) untuk menebus dosa manusia! Dengan kata lain, tesis bidat
Unitarian yang mengajar bahwa Tuhan Yesus hanya malaikat Allah itu sudah salah
dan sesat, karena malaikat yang juga diciptakan Allah tidak berhak menerima
kuasa dari Allah untuk menebus dosa manusia (yang juga adalah ciptaan Allah).
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menerima Tuhan Yesus sebagai Kristus?
Artinya, sudahkah kita menomersatukan Tuhan Yesus sebagai Yang Diurapi oleh
Allah? Sudahkah kita melaksanakan mandat yaitu memberitakan Injil Kristus
tersebut?
Sebagai Tuhan, Ia adalah Tuhan yang harus disembah dan ditinggikan. Setelah
para malaikat mengatakan hal ini, mereka bersama-sama menaikkan puji-pujian
yang memuliakan Allah (baca ayat 14). Jika kita membaca kisah orang-orang Majus
dari Timur di Matius 2, Matius mencatat bahwa di hadapan bayi Kristus, mereka
sujud menyembah dan memberikan persembahan (Mat. 2:11). Semuanya ini
membuktikan bahwa Kristus adalah Tuhan yang harus disembah dan ditinggikan.
Kata “Tuhan” yang dipakai di dalam Lukas 2:11 menggunakan bahasa Yunani kurios
yang berarti Tuan (Lord) atau Master (Guru). Sayangnya, Kekristenan di era
sekarang hanya mengakui Kristus sebagai Juruselamat, tetapi tidak sebagai
Tuhan. Meskipun mengakui Kristus sebagai Tuhan, biasanya banyak orang Kristen
mengucapkannya secara perkataan dan tidak pernah diaplikasikan di dalam
kehidupannya sehari-hari. Tidak heran, di hari Minggu, mereka aktif menyanyi
dan memuji Kristus sebagai Tuhan, tetapi di luar gereja, mereka aktif
memuji diri dan setan. Kristus tidak lagi ditempatkan sebagai Tuhan yang
memerintah dan mengontrol hidup orang Kristen. Mereka hidup, bekerja, sekolah,
dll dengan kemampuan diri tanpa Kristus bertahta sebagai Tuhan. Bandingkan hal
ini dengan sikap para orang Majus di atas. Para orang Majus bukanlah orang
bodoh, tetapi mereka adalah orang-orang yang pandai khususnya dalam hal
perbintangan (astronomi)—Matius 2:9-10. Meskipun orang pandai, mereka tetap
menyembah Kristus, karena mereka mengetahui bahwa Kristus adalah Tuhan.
Bagaimana dengan hidup kita saat ini? Sudahkah kita men-Tuhan-kan Kristus di
dalam hidup kita? Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan peka terus-menerus
mendengarkan suara-Nya melalui firman-Nya dan suara Roh Kudus di dalam hati
kita yang memimpin hidup kita untuk mengerti kehendak-Nya dan men jalankannya.
Hidup yang menTuhankan Kristus adalah hidup Kristen yang menjadikan Kristus
sebagai satu-satunya Raja dan Pemerintah yang menguasai hidup kita
sehingga hati, pikiran, perkataan, sifat, dan tindakan kita sesuai dengan
hati, pikiran, perkataan, sifat, dan karya-Nya. Aplikasikanlah konsep Kristus
sebagai Tuhan ini di dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga,
pendidikan, pekerjaan, politik, hukum, ekonomi, masyarakat, sosial, keamanan,
medis/kesehatan, dll, supaya nama Kristus sajalah yang ditinggikan dan
dimuliakan sampai selama-lamanya. Rev. Jonathan Edwards, A.M. pernah mengajar,
“Kebahagiaan ciptaan terdapat di dalam bersukacita di dalam Allah, yang
dengannya Allah juga dibesarkan dan ditinggikan.” (seperti dikutip oleh Dr.
John S. Piper di dalam bukunya Gairah Allah bagi Kemuliaan-Nya, terj. Franklin
Noya [Surabaya: Penerbit Momentum, 2008], hlm. 38)
Biarlah Natal tahun ini bukan menjadi Natal tradisi, tetapi Natal
inspirasional dan revivalis yang menginspirasi dan membangkitkan iman kita
untuk berpusat hanya kepada Kristus saja. Amin. ... Solus Christus ...
Merry Christmas 2008
and
Happy New Year 2009
""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
(1Sam. 16:7b)
---------------------------------
Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru
Lengkap dengan segala yang Anda sukai tentang Messenger!