From: "Kisah" <[email protected]>

Edisi 101 -- Ucapan Syukur Edisi KISAH ke-100

PENGANTAR
   Puji Tuhan! Pada masa Natal yang penuh dengan sukacita ini,
   Publikasi KISAH telah menembus edisi yang ke-100, yang terbit pada
   Senin, 8 Desember 2008 yang lalu. Kami percaya semua itu hanyalah
   karena anugerah dan penyertaan Tuhan semata -- Ia yang memberikan
   hikmat akan terus mengizinkan publikasi ini menjadi berkat yang
   menguatkan iman para Pembaca sekalian. Oleh karena itu, sebagai
   ungkapan rasa syukur, dalam edisi kali ini, segenap redaksi yang
   pernah terlibat dalam penyusunan KISAH memberikan Kesan dan Harapan
   dari Balik Layar. Kami berharap sajian tersebut menjadi berkat bagi
   Pembaca, sekaligus mengajak Pembaca untuk bersama-sama berdoa demi
   mendukung pekerjaan Tuhan melalui publikasi KISAH.

   Bersama dengan itu, kami juga telah menyajikan kesaksian Natal yang
   akan membawa kita kepada keindahan Natal yang sesungguhnya, yaitu
   saling berbagi kasih, seperti Kristus telah mengasihi kita terlebih
   dahulu dengan datang ke dunia, mengosongkan diri-Nya, dan mengambil
   rupa seorang hamba. Akhir kata, kami ucapkan selamat menyimak.
   Kiranya melalui edisi ini, damai Natal menghangatkan hati dan
   kembali mengingatkan setiap orang akan hadiah terindah yang telah
   diberikan oleh Elohim.

   Redaksi Tamu KISAH,
   Yohanna Prita Amelia
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

                            SEMUA KEBAGIAN
   Beberapa tahun lalu, nenek saya menceritakan sebuah kisah tentang
   masa lalunya yang selalu saya ingat ketika hendak memberikan hadiah,
   terutama saat Natal. Saya ingat duduk di pangkuannya saat mata kecil
   dan gelap Sue Belle Johnson, nenek saya, menjelaskan betapa tak lama
   setelah pergantian abad, di tempat-tempat yang jauh dan terpencil di
   seluruh Amerika Serikat dan segala penjuru dunia, para misionaris
   dan keluarganya harus bekerja keras, terpisah dari keluarga, dan
   terisolasi dalam usaha mereka memberitakan Injil kepada orang-orang
   yang mungkin sebagian besar dari kita tidak akan pernah tahu atau lihat.

   Mungkin perasaan terisolasi dan kesendirian mereka akan lebih terasa
   lagi saat Natal tiba. Untuk mengingat mereka pada hari Natal,
   tradisi pada masa itu adalah gereja-gereja mengirimkan apa yang
   disebut sebagai "kotak misionaris" kepada para misionaris di daerah-daerah 
terpencil.

   Para misionaris dan istri beserta keluarga mereka akan membuat
   daftar hal-hal yang mereka inginkan untuk Natal. Bisa berupa
   pakaian, mainan, mungkin buku-buku atau perlengkapan rumah, atau apa
   saja yang benar-benar mereka butuhkan, tetapi tidak mampu mereka
   beli atau memang tidak dapat ditemukan. Daftar tersebut juga memuat
   usia setiap anak dan ukuran pakaian mereka.

   Setelah selesai, daftar tersebut dikirim ke organisasi misionaris
   yang mensponsori mereka. Kemudian organisasi tersebut akan
   mengirimkan daftar tersebut ke sebuah gereja di mana jemaatnya
   kemudian akan berusaha untuk memenuhi daftar permintaan tersebut.

   Gereja nenek saya yang ada di Hattiesburg, Mississippi, adalah salah
   satu gereja yang menerima daftar natal semacam itu. Suatu kali,
   daftar tersebut datang dari sebuah keluarga misionaris yang tinggal
   di daerah yang saat itu disebut Teritori Indian (daerah tempat
   tinggal orang Indian). Banyak perempuan yang tergabung dalam Kaum
   Ibu di gereja nenek yang memandang tugas untuk memilih sebuah barang
   dan membelikannya atau menyumbang uang, sebagai tugas kudus.

   Pada hari yang ditentukan, semua barang yang diminta dibawa ke
   gereja, dan para ibu itu pun mulai memeriksa barang yang ada untuk
   dibandingkan dengan daftar, kemudian membungkus barang-barang
   tersebut dan memasukkan semuanya ke dalam sebuah kotak kayu yang
   besar. Kotak tersebut nantinya akan dikirimkan agar tiba di rumah
   sang misionaris, tepat saat Natal.

   Tetapi, tidak semua orang di gereja nenek ikut bekerja sama.
   Sementara para kaum ibu menyiapkan kotak sang misionaris, salah
   seorang jemaat -- seorang ibu yang dikenal kaya -- masuk ke ruangan
   tersebut sambil membawa sebuah jas. "Saya membawakan jas bekas milik
   suami saya untuk diberikan kepada kalian," ujarnya santai. "Saya
   akan membelikan jas yang baru untuk suami saya."

   Nenek gusar. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi pikirannya terus
   berkecamuk. Mereka semua telah berusaha keras untuk memenuhi daftar
   tersebut, bahkan sebagian dari mereka telah berkorban. Tetapi, ibu
   ini malah datang dengan segala kesombongannya. "Saya sangat kaya
   sehingga saya dapat membeli jas yang baru."

   Semakin nenek memikirkan kesombongan ibu tersebut, semakin gusarlah
   perasaannya. Ibu itu "membersihkan" dirinya dari sesuatu yang
   menurutnya sudah tidak berguna, pikir nenek. Sikap natal macam apa
   itu? Amarah nenek bangkit terhadap jas dan ibu tersebut.

   Keluarga misionaris tersebut tidak memasukkan jas dalam daftar
   mereka, dan para ibu pun tidak berniat memasukkan jas tersebut ke
   dalam kotak. Tetapi, sekalipun semua barang yang diminta telah
   dimasukkan, masih ada ruang kosong dalam kotak tersebut.

   "Yah," ujar salah satu ibu, "kita masukkan saja jas ini. Dengan
   demikian, semua barang akan tersusun rapi dan tidak terlempar ke
   sana kemari yang dapat membuatnya pecah."

   Jadi, mereka pun melipat jas tersebut, memasukkannya, dan menutup
   kotak. Kemudian mereka mengirimkan kotak tersebut kepada keluarga
   misionaris di Teritori Indian.

   Beberapa minggu berlalu. Natal pun datang dan pergi. Kemudian,
   sebuah surat tiba di gereja. Itu adalah surat ucapan terima kasih
   dari keluarga misionaris yang ditulis oleh istri sang misionaris.
   "Teman-teman sekalian yang baik," ia memulai surat tersebut, "kami
   ingin berterima kasih atas kotak yang Anda kirim."

   Kemudian istri misionaris itu menceritakan bagaimana ia dan suami
   beserta ketiga anaknya datang ke stasiun kereta untuk mengambil
   kotak tersebut, membawanya pulang, dan meletakkannya dengan posisi
   berdiri di tengah ruang keluarga di pondokan mereka yang kecil,
   sambil menantikan Natal. Anak-anak begitu bersemangat sehingga
   mereka menari-nari mengelilingi kotak tersebut, penuh pengharapan.

   Kemudian, sehari sebelum Natal, badai salju datang. Badai tersebut
   semakin besar, dengan salju yang begitu tebal dan angin yang sangat
   menakutkan sehingga di luar terlihat seperti lautan putih. Beberapa
   saat sebelum makan malam, dalam badai, tiba-tiba ada orang yang
   menggedor pintu depan. Dan, saat sang misionaris membuka pintu untuk
   melihat siapa yang menggedor pintu, nampaklah seorang pria tua
   beruban yang menggigil karena suhu yang dingin. Tubuhnya penuh salju.

   "Saya tersesat," ucap pria tersebut. "Dapatkah saya masuk sejenak?"

   Sang misionaris pun menjawab, "Tentu saja. Masuklah!"

   Setelah makan malam, sudah hampir tidak mungkin untuk menahan
   keinginan anak-anak membuka kotak tersebut. Tetapi, ibu mereka
   berhasil menidurkan mereka, menerangkan bahwa mereka harus menunggu
   lebih lama lagi, karena tidaklah sopan untuk membuka kotak,
   mengeluarkan semua hadiah, dan membagikannya selagi pria tua
   tersebut masih ada di rumah mereka. "Tidak ada hadiah untuknya,"
   ujar Ibu, "Kotak tersebut hanya berisi barang-barang yang kita
   minta. Kita harus menunggu sampai bapak itu pergi."

   Pagi harinya, Natal. Keluarga tersebut bangun dan menyadari bahwa
   badai belum mereda. Angin masih bertiup sama kencangnya dengan tadi
   malam. Ibu menyiapkan sarapan untuk setiap orang. Dan, setelah
   sarapan, mereka menanti-nanti badai berhenti agar pria tua tersebut
   dapat melanjutkan perjalanannya dan mereka pun dapat membuka kotak.

   Hari telah siang, tetapi badai tak kunjung reda. Anak-anak sudah
   tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Jadi, sang misionaris dan
   istrinya menerangkan kepada sang pria tua bahwa kotak tersebut
   telah disiapkan beberapa minggu sebelumnya dan berisi hadiah-hadiah
   natal yang hanya ditujukan bagi keluarga mereka. Sang misionaris dan
   istrinya meminta maaf sedalam-dalamnya. Dan, setelah sang pria tua
   berkata bahwa ia mengerti, sang misionaris pun membalik kotak
   tersebut dan mulai membuka bagian atasnya.

   Keluarga tersebut pun mulai mengeluarkan satu persatu
   bingkisan-bingkisan yang mereka pinta sesuai daftar natal. Setiap
   bingkisan telah diberi tanda, jadi mereka tahu milik siapa bingkisan
   tersebut. Setiap orang sangat senang. Pakaian-pakaian, mainan, semua
   tepat sesuai permintaan setiap anggota keluarga. Semua sangat senang
   dan gembira, sementara sang pria tua hanya duduk dan memerhatikan.

   Akhirnya mereka sampai ke bagian bawah kotak. Di situ, tepat di
   ujung paling bawah kotak, yang berada di paling atas saat para ibu
   menyiapkannya, terdapat sebuah barang yang tidak dikenali keluarga
   tersebut. Itu adalah barang yang tidak mereka minta. Ketika sang
   misionaris memasukkan tangannya dan mengeluarkan barang tersebut, ia
   tahu bahwa itu adalah sebuah jas pria. Ia mengangkatnya. Sepertinya
   ukuran jas tersebut cocok untuk sang pria tua. "Cobalah!" Sang pria
   tua mengambil jas tersebut dan mengenakannya. Ukurannya sangat
   tepat. "Jas ini pasti memang untuk Anda," ujar sang misionaris sambil 
tersenyum.

   "Bagaimana Anda semua bisa tahu?" sang istri misionaris mengakhiri
   suratnya, "bahwa kami akan memerlukan sebuah jas pria untuk Natal?
   Terima kasih banyak!"

   Pada saat nenek selesai membaca surat tersebut, ia berkata dirinya
   hampir pingsan dalam kekaguman. Jas terbuang yang memerlukan pemilik
   baru telah menemukannya. Seorang pria tua yang memerlukan jas
   penghangat telah memerolehnya. Sebuah keluarga yang telah menerima
   seseorang yang tersesat dan membutuhkan hadiah khusus telah
   disediakan. Semua itu terlalu dahsyat. Tuhan telah mewujudkan sebuah
   mukjizat melalui sebuah hadiah yang nenek kira tidak berharga.

   Setelah usai bercerita, nenek menggenggam tangan saya dan berkata,
   "Hari itu nenek belajar bahwa nenek telah salah, dan nenek tidak
   boleh meremehkan sebuah hadiah yang dapat digunakan Tuhan."

   Saat Natal kembali menjelang, saya mengingat kembali kisah nenek.
   Saat saya memilih hadiah-hadiah untuk diberikan pada Natal kali ini,
   saya berharap bahwa hadiah-hadiah tersebut akan membuat para
   penerimanya bahagia dan saya bangga memberikannya. Tetapi, lebih
   dari semua itu, saya berdoa agar apa pun hadiah tersebut, bagi siapapun 
hadiah tersebut, ia akan benar-benar menjadi hadiah yang dapat dipakai oleh 
Tuhan.

   Diambil dan disunting seperlunya dari:
   Judul buku: Guideposts bagi Jiwa: Kisah-Kisah Iman Natal
   Judul asli buku: Guideposts for The Spirit: Christmas Stories of Faith
   Penulis: Jacqueline Hewitt Allen
   Penerjemah: Mary N. Rondonuwu
   Penerbit: Gospel Press, Batam 2006
   Halaman: 18 -- 26
______________________________________________________________________
"Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." 
(Lukas 2:11)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Lukas+2:11 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Berdoalah supaya kiranya damai natal menyentuh hati setiap orang
      sehingga mereka dapat memiliki hadiah yang sesungguhnya dari
      Elohim, yaitu keselamatan yang sejati dalam Yesus Kristus.

   2. Berdoalah bagi misionaris yang saat ini berada jauh dari
      keluarganya. Kiranya Tuhan memberikan penghiburan dan kehangatan
      natal di hati mereka masing-masing.
======================================================
Edisi 102 -- Seorang Wanita Kristen yang Memberikan Sebagian Livernya untuk 
Saudara Seimannya

 
PENGANTAR

   Tidak mudah bagi kita untuk menyumbangkan bagian tubuh kita kepada
   orang lain. Apalagi jika kita belum mengenal orang tersebut. Tapi
   apa yang dilakukan oleh Wendy pada kesaksian berikut ini sungguh
   berbeda. Tuhan telah menjamah dan menguatkan hatinya untuk
   memberikan livernya bagi wanita lain yang membutuhkan, sehingga
   wanita tersebut memiliki kesempatan hidup yang lebih lama lagi.
   Kiranya, kesaksian berikut ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, dan 
   mengingatkan kembali akan kasih Elohim yang rela memberikan anak-Nya yang 
tunggal 
  kepada kita, sehingga kita boleh beroleh hidup yang kekal.

   Redaksi Tamu KISAH,
   Yohanna Prita Amelia
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

        SEORANG WANITA KRISTEN YANG MEMBERIKAN SEBAGIAN LIVERNYA
                       UNTUK SAUDARA SEIMANNYA
   Jeanette Barber, yang telah dengan setia membantu nenek kami yang
   sakit, memberitahuku tentang teman anak perempuannya di gereja,
   Teresa Israel, yang memberikan sebagian livernya untuk didonorkan
   kepada seorang teman. Aku bilang, "Jeanette, cerita soal itu, dong!"
   Yang mengejutkan, beberapa hari kemudian Jeanette mengisahkan peristiwa 4 
   Agustus 2002 itu kepada jurnalis harian Asheville Citizen-Times, Susan 
Reinhardt.

                                   ***
   Tracy Wilde, yang berusia 20-an tahun, hilang pengharapan. Ibu dua
   anak perempuan dari Weaverville ini sekarat karena penyakit liver,
   setelah satu dekade mengalami masalah-masalah kesehatan. Selama
   hidupnya, dia tidak menginginkan apa-apa kecuali menjadi seorang ibu
   yang baik. Setelah 2,5 tahun, dia mendapati bahwa dirinya
   membutuhkan liver yang baru. Sejak saat itu, kesehatannya terus
   menurun, dan sekarang dia terlalu lemah untuk menggendong
   anak-anaknya, memasak untuk mereka, atau berlari bersama mereka di
   halaman. Wendy dan Tracy bertemu di gereja pada tahun 1991. Mereka
   berteman, tidak lebih dari itu, namun Wendy tidak dapat berhenti
   memikirkan anak-anak perempuan yang akan kehilangan ibu mereka.
   Teresa Israel juga adalah jemaat gereja itu.

   Wendy mendapatkan ide (lebih tepatnya, Tuhan menempatkan keinginan
   itu dalam hatinya). Keinginan itu muncul pada suatu hari di musim
   panas tahun 2000. Suaminya ingat betul hari saat Wendy menyampaikan
   berita yang mengguncangkannya itu: keinginannya untuk membantu
   menyelamatkan Tracy. Saat itu dia baru pulang dari bekerja sebagai
   staf pembenahan di penjara Craggy, dan mendapati istrinya berdiri di pintu 
belakang.

   Wendy diam dan menerawang sejenak, menyiapkan diri untuk apa yang
   akan dia katakan. Doanya telah terjawab. Bapa Surgawinya telah
   memberkatinya dengan keinginan luar biasa yang Wendy rasakan.
   "Tuhan," katanya, "ingin aku melakukannya."

   Setelah mendapatkan berkat ilahi ini, dia masih membutuhkan satu hal
   lagi. Restu dari suaminya. Tidaklah mudah bagi seorang pria untuk
   mengatakan, "Ya, Sayang, itu sungguh suatu tindakan yang mulia."
   Tidak semudah itu. Keluarga Ballards telah banyak kehilangan di
   beberapa tahun terakhir ini, termasuk keguguran tiga bayi dan ibu
   Wendy yang meninggal karena kanker.

   Akhirnya, kehidupan mereka mulai membaik dan mereka memiliki dua
   anak yang cantik, pekerjaan yang baik, dan kesehatan yang baik.
   Mereka memiliki rumah yang nyaman di daerah Asheville yang aman, di
   mana anak-anak mereka bisa bermain di bak pasir atau ayunan di halaman 
belakang.

   Tim berdiri di ambang pintu. Istrinya memandang wajahnya dalam-dalam
   dengan matanya yang hijau, mata yang sama yang selalu membuatnya
   berhenti bernapas, sejak menit pertama dia melihatnya di musim panas
   di Pantai Myrtle, S.C., sesaat setelah kelulusan SMA. Sang istri
   meletakkan tangannya di perutnya sendiri, di tempat livernya berada.

   "Bagaimana menurutmu?" tanyanya.

   "Ini bukan keputusanku," kata Ballards, yang menyanyi dalam kwartet
   Christian Gospel pada malam hari dan berurusan dengan para pengedar
   obat terlarang, pembunuh, pemerkosa, dan pencuri pada siang hari di
   penjara. Ada kelembutan dalam dirinya, sifat lembut yang tidak
   terduga dari posturnya yang gagah dan kekar. "Kamu harus
   mendoakannya. Bila kamu mendoakannya dan merasakan damai sejahtera,
   maka aku akan mendukungmu 100%."

   Wendy tersenyum dan berekspresi seperti seorang anak yang
   menghampiri ibunya, seorang anak yang ingin mainan baru atau minta
   izin untuk tidur lebih lama.

   "Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu," kata Wendy dengan suara
   berbisik. Meskipun mereka telah menikah selama bertahun-tahun dan
   dan menjadi sangat akrab, cinta mereka sangat kuat, rasa menghormati
   sangat dalam. Mereka menghidupi janji-janji nikah mereka sesuai
   dengan apa yang Alkitab katakan, dan mengambil petunjuk-petunjuk
   untuk memertahankan janji-janji tersebut dari setiap halaman
   Alkitab. Tanpa suami yang mendukung di belakangnya, dia akan mundur,
   ia sadar permintaannya tersebut terlalu berat bagi ayah anak-anaknya. 
Bagaimana 
    mereka bisa mengatur semuanya tanpa sang ibu, haruskah terjadi sesuatu?

   Tim tahu benar siapa istrinya. Dia mengetahuinya saat dia bertemu
   dengannya pada tahun 1986, gadis pirang mungil dari Chapin, S.C.,
   ini adalah wanita yang akan memberikan pakaiannya kepada orang lain.
   Atau, seperti yang dia hadapi saat ini, sebagian livernya.

   Wendy berdiri di sana, sinar bulan menyinari rambutnya sehingga
   seolah-olah ia memakai mahkota. Dia meletakkan tangannya di
   perutnya, memandang wajah suaminya dan mengangkat alisnya. Bila
   Tuhan mengatakan ya, dan Wendy harus melakukannya, maka suaminya
   akan mendukung keputusan yang sangat bermanfaat itu.

   Wendy tahu risikonya tidaklah besar. Liver dari seorang yang sudah
   meninggal akan memberikan peluang 50-50 bagi seorang wanita yang
   sakit. Transplantasi dari donor yang masih hidup dapat menurunkan
   risikonya menjadi 25%.

   Menurut Wendy, 25% cukup baginya untuk membuatnya mau berada di
   bawah terangnya cahaya lampu ruang operasi dan melakukan pembedahan
   dari tulang dada ke perut, dan sepanjang sisinya, membuat pembedahan
   pada perut seperti simbol Mercedes yang besar. Dia akan melakukan
   ini untuk seorang wanita yang bukan saudara kandungnya, bukan ibunya
   atau anaknya, atau bahkan sepupunya. Hanya teman. Tapi itu sudah cukup.

   "Dia (wanita sakit itu) dan dua anaknya yang sangat berharga," pikir
   Wendy. "Tuhan, mereka harus mengenal ibu mereka. Inilah yang harus aku 
lakukan!"

   Dengan penuh semangat dan dengan tujuan yang pasti, Wendy tidak
   sabar lagi menunggu pagi hari untuk menceritakan hal ini kepada Tracy.

   "Ayo kita beritahu dia," katanya kepada Tim. Dan hari itu juga
   mereka menuju ke Weaverville, berbelok ke Marshall, dan sampai di
   Shepherd's Branch Road menuju ke bukit di mana terdapat dua rumah
   yang jaraknya kira-kira sejauh jarak antartitik tumpu lapangan
   kasti. Tracy Wilde dan suaminya tinggal di salah satu rumah itu. Ibu
   dan ayahnya di rumah yang satunya.

   Wendy melangkah ke beranda depan rumah Johnny dan Linda Brown. Dia
   merasakan hatinya berdebar. "Inilah yang harus aku lakukan," dia
   mengingatkan dirinya sendiri.

   Tracy (kira-kira pada saat itu berusia 26 tahun), seorang wanita
   yang lincah dan jujur yang mencintai hidup, namun tidak didukung
   oleh kondisi tubuhnya, sedang duduk di ayunan. Dia tampak kurus dan
   lemah seperti seorang wanita yang usianya tiga kali dari usianya
   sekarang. Tubuhnya penuh dengan luka dan kerusakan organ dalam. Ini
   berawal dari radang usus besar yang dideritanya 10 tahun yang lalu
   (kira-kira tahun 1990), suatu penyakit yang dia rasa mengganggu
   tetapi tidak berbahaya, yang kemudian menjadi semakin parah pada
   tahun 1999 hingga menjadi penyakit liver yang mematikan. Dokter
   mengatakan bahwa dia perlu transplantasi liver dan dokter di Mayo
   mengatakan hal ini mungkin perlu waktu 10 -- 15 tahun untuk
   mendapatkannya. Tracy menangis, namun kemudian merasakan suatu pesan
   di hatinya, "Kamu akan mendapatkan donor liver sehingga kamu bisa
   sehat. Dalam 2 -- 3 tahun, kamu akan mendapatkannya. Bukan 10 -- 15
   tahun. Dan kamu akan sehat." Tuhanlah yang mengatakan itu kepadanya.

   Sejak tahun 2000 hingga Maret 2002, Wendy tak henti-hentinya
   menghubungi koordinator transplantasi di Klinik Mayo untuk
   mendonorkan 62% dari livernya (yang akan menjadi pendonor hidup yang
   ke-15 pada usia 33 di Mayo), tetapi Mayo menunggu donor dari orang
   yang sudah meninggal. Pembedahan itu merupakan sesuatu yang sangat
   besar, baik bagi pendonor maupun resipiennya. Sebelum operasi
   dilakukan, berat badan Tracy menyusut kira-kira 80 pon dan terlalu
   lemah untuk melanjutkan hidup. Tetapi pada 6 Maret 2002, Mayo
   menelepon, dan pembedahan dilakukan satu bulan kemudian. Hanya 25%
   peluang keberhasilannya. Tetapi tangan Tuhan turut campur; dan lima
   bulan setelah operasi, keduanya sehat. Anak-anak Tracy mendapatkan
   ibu mereka kembali dan dua wanita itu menjadi sahabat. Jeanette
   mengatakan bahwa dia, dirinya sendiri, tahu setiap detailnya, dan
   kesaksian mukjizat kesehatan ini penuh dengan detail inspiratif yang
   bahkan tidak ditulis di koran.

                                   ***
   Siapa pun yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat adalah
   saudara seiman dan Alkitab jelas mengatakan suapaya kita saling
   memerhatikan. Tetapi banyak dari "panggilan" Elohim itu memerlukan
   kekuatan yang dahsyat untuk bisa memenuhinya. Kebanyakan membutuhkan
   lebih dari sekadar keinginan untuk tahu meskipun Tuhan sudah
   melangkah dan menggunakan orang-orang yang ada dan keadaan untuk
   menciptakan suatu mukjizat, seperti kisah Wendy dan Tracy. (t/Ratri)

   Diterjemahkan dari:
   Nama situs: THE TRUTH...what is it?
   Judul asli artikel: Wendy Ballard, Christian Lady Gives Part of
                       Her Liver to a Sister Christian
   Penulis: Tidak dicantumkan
   Alamat URL: http://poptop.hypermart.net/testwb.html
______________________________________________________________________
"Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!"
Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu,
dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain." (Matius 12:13)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Matius+12:13 >
______________________________________________________________________
POKOK DOA

   1. Doakan mereka yang mengalami pergumulan dengan penyakit mereka
      sampai saat ini, supaya Tuhan memberi mereka kekuatan dalam
      kesakitan mereka dan tetap teguh berpegang pada Yesus.

   2. Doakan juga keluarga yang sedang bergumul dengan anggota keluarga
      mereka yang sedang terbaring lemah. Kiranya Tuhan tetap menguatkan mereka 
      dalam iman dan tetap setia berpegang teguh pada janji keselamatan.

   3. Doakan bagi setiap orang yang sampai saat ini masih menungu donor
      yang tepat untuk organ tubuh mereka, kiranya Tuhan memberikan
      penguatan dan penghiburan dalam penantian mereka. Doakan kiranya
      mereka boleh mengerti bahwa Tuhan senantiasa memiliki rencana
      yang terbaik dalam hidup mereka.

   4. Doakan bagi mereka yang sedang menghadapi operasi transplantasi,
      supaya semua boleh berjalan lancar dan baik.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2008 YLSA
YLSA -- http://www.ylsa.org/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Redaksi Tamu: Yohanna Prita Amelia
Kontak: kisah(at)sabda.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Kirim email ke