From: Romo maryo “Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya” (2Sam 7:1-5.8b-12.16; Luk 1:67-79)
“Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: "Terpujilah Tuhan, Elohim Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Elohim Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Elohim kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”(Luk 1:67-79), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut: · Kelahiran anak pertama bagi suami-isteri/ keluarga baru pada umumnya merupakan kebahagiaan khusus, ‘membawa kelepasan bagi mereka berudua sebagai pasangan hidup’, antara mereka menjadi bapak dan ibu dan dengan demikian tidak menjadi bahan pergunjingan seagaimana sering terjadi ketika sepasang suami-isteri telah lama menikah namun tidak dikaruniai anak.Dalam warta gembira hari ini secara khusus ‘kelepasan’ terjadi dalam diri Zakharia, dia yans semula bisu kini dapat bebicara, berkata-kata, dan begitu dapat berbicara atau berkata-kata lagi Zakharia langsung mengumandangkan kidung pujian kepada Elohim, yang telah melawatinya. Memang dengan kelahiran seorang anak juga akan terjadi pembaharuan dan tentu saja yang diharapkan adalah pembaharuan yang baik, antara lain ‘mengarahkan kaki para orangtua kepada jalan damai sejahtera’. Maka marilah menjelang pesta kelahiran Penyelamat Dunia, Natal, ini kita arahkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita kepada jalan damai sejahtera, karena yang akan kita rayakan atau kenangkan adalah Pembawa Damai Sejahtera bagi seluruh dunia/bumi. Marilah membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam ajakan, sentuhan, saran atau nasihat untuk membangun hidup damai sejahtera yang menjadi dambaan semua orang, damai sejahtera yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita semua. Mariilah kita ‘beridabah kepadaNya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapanNya seumur hidup kita’, artinya mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, Penyelengaraan Ilahi sampai mati dengan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendakNya, sehingga dimanapun dan kapanpun kita senantiasa berbudi pekerti luhur. · “ Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi” (2Sam 7:9). Tuhan hadir di mana-mana dan sepanjang masa, ketika kita istirahat atau tertidur Ia terus bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, bagaikan ‘jantung kita’ yang terus bekerja sementara kita tidur atau istirahat. Apa yang disebut ‘jantung’ pada umumnya penting dan besar namannya, misalnya jantung kota, jantung hati, dst.. Masing-masing dari kita adalah ‘jantung hati’ dan diharap kan menjadi besar nama kita ‘seperti nama-nama besar yang ada di bumi’. Mereka yang memperoleh nama besar di bumi pada umumnya mempersembahkan hidup dan kerja seutuhnya demi kesejahteraan umum, terutama memberi perhatian bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Penyelamat Dunia yang kita nantikan kedatangan Nya akan lahir di dalam suasana yang miskin dan serba berkurangan, di dalam kegelapan malam, di kandang domba-domba yang kotor dst.. Maka baiklah agar kita dapat mengenangkan atau merayakan kedatanganNya di malam Natal nanti, kita arahkan perhatian kita kepada sesama dan saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan, kita ajak mereka untuk berpartisipasi dalam kebahagiaan damai Natal. Hendaknya juga diperhatikan secara khusus anak-anak atau bayi yang dalam arti tertentu juga dalam keadaan miskin dan berkekurangan, namun memiliki harapan masa depan yang besar. Kita persembahkan anak-anak dan bayi-bayi kita kepada Tuhan, Penyelamat Dunia yang berbaring di palungan, dengan harapan dan permohonan semoga anak-anak dan bayi-bayi kita kelak kemudian hati tumbuh berkembang memiliki nama besar di bumi, karena mereka berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia sepanjang hidupnya. “Aku hendak menyanyikan kasih setia YHWH selama-lamanya, hendak memperkenal kan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." (Mzm 89:2-5) ==================================================== From: Romo maryo HR Natal Fajar: Yes 62:11-12; Tit 3:4-7; Luk 2:15-20 "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Cicero adalah seorang komandan perang yang handal dan tangguh, pasukannya senantiasa menang dalam peperangan atau pertempuran, padahal jumlah anggota pasukan tidak besar. Perang atau pertempuran pada masa ini antar musuh harus berhadapan muka, maklum pasukannya adalah pasukan berkuda, sedangkan senjata nya adalah pedang atau panah. Waktu itu Cicero memimpin tentara berjumlah 100 (seratus) tentara dan harus menghadapi pasukan musuh yang berjumlah besar, lebih dari 1000 (seribu) tentara. Cicero harus memutar otak alias berpikir matang untuk menyusun strategi perang. Setelah berpikir dan mempertimbangkan banyak hal akhirnya Cicero memutuskan strategi perang sbb: “Pasukannya tidak perlu langsung melawan berhadapan dengan pasukan musuh, melainkan mereka diperintahkan menyusup ke daerah musuh melalui jalan lain, dan setiap tentara/orang harus ‘menculik’ anak atau bayi dari musuh”. Perang atau pertempuran memang belum dimaklumkan dan pasukan nampak masih dalam persiapan, tetapi anak buah Cicero telah menyusup ke daerah lawan melalui jalan lain tanpa membawa senjata dan memang masing-masing tentaranya berhasil menculik seorang anak atau bayi. Dengan penculikan anak atau bayi tersebut, maka para ibu menangis dan berteriak-teriak menyusul atau menemui suam-suami mereka yang siap perang. Para ibu menceriterakan bahwa tentara musuh telah menculik anak-anak mereka. Mendengar dan memperhatikan laporan, tangis dan derita para ibu atau isteri-isteri mereka, maka pasukan yang semula siap perang dan membunuh ‘betekuk-lutut’, alias tidak jadi perang, malainkan memaklumkan perdamaian dengan Cicero dengan harapan anak-anak atau bayi mereka dikembalikan. Dan memang perdamaian sungguh terjadi karena anak-anak atau bayi tersebut. Dalam hati para tentara ada bisikan luhur: untuk apa hidup dan berjuang, bukankan untuk anak-anak kita. Anak-anak atau bayi telah membuat para orang dewasa untuk saling bertekuk-lutut dan bersujud membangun dan mem-perdalam pedamaian sejati. Hari ini kita rayakan atau kenangkan kelahiran ‘Seorang Bayi’, Penyelamat Dunia yang diiringi pujian gembira oleh para malaikat: “Kemuliaan bagi Elohim di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."(Luk 2:14). Mendengar pujinn gembira tersebut pada gembala yang tertidur di kegelapan malam yang dinginpun terbangun dan kemudian berseru bersama: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”(Luk 2:15) "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” (Luk 2:15) Dalam (salah satu) Perayaan Ekaristi Natal hari ini pada umumnya dikhususkan bagi anak-anak bersama dengan orangtuanya: koor oleh anak-anak, ada persembahan dari anak-anak kepada Kanak-Kanak Yesus yang terbaring di palungan, pesta anak-anak dst… Dengan kata lain kepada kita semua diharapkan mengarahkan pandangan dan perhatian kita kepada anak-anak dan tentu saja juga kepada Kanak-Kanak Yesus yang terbaring di palungan, bersembah-sujud kepadaNya. Hendaknya diakui, diimani dan dihayati bahwa anak-anak atau bayi-bayi lebih suci, murni, bersih daripada orang dewasa/kakak-kakak atau orangtuanya sendiri. Maka marilah, bersama dengan ‘para gembala’, kita ‘pergi ke Betlekem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”.. Ingat dan sadari bahwa beberapa penjahat sering mengarahkan pandangan dan perhatiannya pada anak-anak untuk ‘diculik’ dan dijadikan ‘tameng’ atau alat untuk memeras uang sebanyak mungkin dari para orangtuanya. Beberapa orangtua juga telah bertekuk-lutut serta menyerahkan sebagian besar harta atau uangnya kepada penjahat demi anak-anaknya. Maka baiklah sekarang kita arahkan pandangan dan perhatian kita kepada anak-anak, dengan kata lain kita wujudkan sembah-sujud dan kebaktian kita kepada Kanak-Kanak Yesus dengan bersembah-sujud dan berbakti kepada anak-anak. “Kita harus mengajarkan nilai kepada anak-anak kita karena inlah amal yang paling nyata dan paling efektif yang dapat kita perbuat untuk kebahagiaan mereka” dan nilai-nilai itu antara lain “kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri/potensi, disiplin diri/tahu batas, kemurnian/kesucian, setia/dapat dipercaya, hormat, cinta/kasih sayang, peka/tidak egois, baik hati/ramah, adil/murah hati” (lihat: Linda & Richard Eyre: Mengajarkan Nilai-nilai kepada anak-anak, Gramdia - Jakarta 1997, hal xvii- xxvii). “Metode terbaik untuk mengajarkan nilai kepada anak-anak adalah contoh tentang siapa kita dan yang kita berikan. Contoh selalu menjadi guru yang paling baik - dan yang kita perbuat selalu berdampak lebih luas, lebih jelas, dan lebih berpengaruh daripada yang kita katakana” (ibid, hal xxviii-xxix). Perhatikan dan cermati bahwa anak-anak akan melihat dan mendengarkan dengan cermat, tekun dan penuh penyerahan diri pada apa yang anda katakan dan perbuat; dan apa yang dilihat dan didengarkannya akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan kepribadiannya. Itulah kiranya yang ‘diberitahukan Tuhan kepada kita’ ketika kita berada di depan anak-anak “Ketika nyata kemurahan Elohim, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.” (Tit 3:4-7) Kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia, di tengah-tengah kita merupakan ‘kemurahan Elohim, kasihNya kepada manusia’, hal yang sama kiranya juga kita imani dan hayati ‘kelahiran seorang anak’ di tengah-tengah kita. Dialah dan juga anak-anak menjadi ‘pengharapan kita’ semua, maka marilah kita senantiasa bergembira, ceria , bergairah, dan dinamis karena kemurahan Elohim yang penuh pengharapan ini. Kita wujudkan kegembiraan, keceriaan dan kegairahan kita dengan berbuat baik kepada sesama agar mereka juga bergembira, ceria dan bergairah dalam hidup yang sarat dengan tantangan dan hambatan pada saat ini. Namun ingat dan hayati bahwa jika kita dapat berbuat baik kepada orang lain tidak lain merupakan rahmat Elohim, Elohim yang hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Hari ini kita kenangkan “Juruselamat Dunia”, dan kepada kita semua dianugerahi panggilan dan tugas pengutusan untuk menjadi ‘juruselamat dunia’ juga. Maka dimana ada bagian dunia, seluk beluk dunia tidak selamat di situlah kita dipanggil untuk menyelamatkannya. Ingat dan hayati kita kenangkan atau rayakan adalah Penyelamat ‘Dunia’ bukan penyelamat orang Kristen atau Katolik. Maka marilah kita wujudkan bersama-sama kidung pujian para malaikat “damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.". Memang pertama-tama dan terutama bagian dunia yang harus kita selamatkan adalah lingkungan hidup kita sehari-hari, yaitu keluarga maupun tempat kerja dan terutama adalah kelauarga atau komunitas kita masing-masing, dimana kita menjadi anggotanya. “Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena YHWH, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.” (Mzm 97:11-12) =================================================== From: Mauli Siahaan MENGAPA MARIA? Lukas 1:26-38 Natal sangat bersangkut paut dengan bayi Yesus, Maria dan Yusuf, para gembala, orang majus dan kemudian berkembang dengan parnak-pernik seperti pohon natal dan lain sebagainya. Dari semua hal yang kita sebut di atas kita akan menyoroti Maria. Mengapa Maria menjadi ibu Yesus dan bukan yang lain. Ada orang yang berkata karena Maria perawan dan wanita baik-baik. Tetapi bukankah ada banyak perawan dan wanita baik-baik pada waktu itu di Palestina, tetapi mengapa Maria yang dipilih untuk menghadirkan Yesus di tengah-tengah dunia ini? Mengapa bukan Marta atau perempuan yang lain? Atau mengapa bukan Anda misalnya? Kalau kita menyimak perikop kita di atas di mana ketika malaikat Gabriel datang menghampiri Maria dan menyatakan rencana Elohim untuk menjadikan dia sarana menghadirkan Yesus di tengah-tengah dunia ini. Kita akan menemukan alasan dari pemilihan Maria. Hal itu terlihat jelas dari pernyataan malaikat itu kepada Maria, yaitu karena kasih karunia. "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." (ayat 28 dan lihat juga ayat 30) Jadi pemilihan Maria menjadi ibu Yesus di dasari oleh anugerah Elohim. Bukan karena Maria wanita baik-baik atau bukan karena Maria masih perawan - walaupun alasan ini harus dipenuhi - tetapi tindakan Elohim untuk memakai Maria menjadi sarana untuk Yesus hadir ke dalam dunia ini memang murni kasih karunia Elohim. Anugerah atau kasih karunia artinya pemberian cuma-cuma. Tidak ada alasan dari tindakan Elohim untuk melakukan sesuatu dalam diri seseorang karena faktor manusia yang akan mendapatkan anugerah itu. Dan kalaupun Elohim bertindak dalam kehidupan sesorang, mutlak atas prakarsa Elohim sendiri. Memang orang yang akan Elohim pakai untuk menjadi ibu Yesus secara jasmani haruslah seorang perawan. Tetapi keperawanan Maria bukan menjadi dasar dari Elohim memilih Maria. Kalau itu menjadi dasarnya mengapa Maria dan bukan yang lain. Bukankah banyak perawan pada masa itu tetapi tidak dipakai Elohim untuk menjadi ibu Yesus. Itulah sebabnya ketika malaikat itu menyapa Maria, dia dengan jelas berkata bahwa Maria mendapat karunia dari Elohim untuk dapat memenuhi rencana-Nya dengan menjadi ibu Yesus yang akan dilahirkannya. Hidup ini adalah anugerah Elohim dan apa saja yang kita miliki adalah kasih karunia Tuhan. Pernahkah Anda berpikir mengapa Anda menjadi seperti sekarang ini dan bukan orang lain di tempat Anda sekarang? Mungkin Anda berpikir bahwa apa yang ada dapatkan karena Anda bekerja keras, punya pendidikan yang memadai untuk itu dan sudah banyak pengalaman sehingga pada tempatnya Anda berpikir bahwa Anda layak mendapatkan seperti apa yang sudah Anda dapatkan hari ini. Tetapi sadarkah Anda bahwa banya orang lain melakukan sama seperti yang Anda lakukan dan bahkan lebih tetapi mereka tidak mendapatkan seperti apa yang Anda dapatkan hari ini. Jadi kalau Anda mendapatkan apa yang ada dapatkan hari ini apapun itu bentuknya; apakah itu kekayaan, kehormatan, kemasyuran itu semata-mata adalah anugerah Elohim. Ketika Anda ada di tempat di mana Anda ada sekarang itu adalah anugerah Elohim. Kalaupun Anda sedang menikmati kemasyuran hidup itu adalah anugerah Elohim. Jika saat ini Anda sedang mengalami kehormatan hidup semata-mata adalah anugerah Elohim. Natal mengingatkan kita bahwa hidup ini dalah anugerah Elohim dan anugerah itu telah nyata di dalam Yesus Kristus yang telah lahir. Jadi jangan pernah menyombongkan diri karena kalau bukan Tuhan menganugerahkan apa saja dalam hidup ini, kita ini tidak akan mendapatkan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Lihatlah Yesus yang walaupun dalam rupa Elohim artinya bahwa Dia adalah Elohim yang Mahakuasa telah mengosongkan diri-Nya dan rela menjadi manusia yang hina dengan lahir di kandang domba untuk menyatakan bahwa manusia tidak perlu menyombongkan diri karena memang bukan siapa-siapa. Yang kedua mengapa Maria menjadi pelaku natal pada pertama kali dan bukan yang lain karena Maria yang mendapatkan anugerah Elohim itu mempercaya Elohim yang merencana kan hidupnya menjadi sarana untuk menghadirkan Yesus di tengah-tengah dunia ini. Walaupun pada awalnya Maria berkata, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (ayat 34), tetapi kemudia dia percaya karena menyadari bahwa bagi Elohim tidak ada yang mustahil (ayat 37). Keyakinan inilah yang membawa Maria untuk menanggapi anugerah Elohim dalam kehidupannya. Memang bukan karena iman Maria menjadi dasar pemilihan Elohim terhadap dirinya tetapi anugerah Elohim. Namun anugerah Elohim hanya akan menjadi nyata apabila diimani. Bisa saja Maria tetap tinggal di dalam pertanyaannya yang berkata, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi", tetapi dia tidak mau berlama-lama untuk ada dalam kebimbangan dan keraguan. Ia mau hidup di dalam keyakinan kepada Elohim yang Mahakusa. Natal mengingatkan kita bahwa Elohim adalah Tuhan yang tidak pernah bisa dibatasi oleh keterbatasan kita. Dia adalah Tuhan yang sanggup dan mampu melakukan segala perkara. Kalau kita percayakepada pribadi-Nya, maka kita juga akan mengalami mujizat Elohim karena Roh Kudus yang turun atas Maria adalah pridi yang sama yang dicurahkan juga dalam kehidupan kita saat kita percaya kepada-Nya. Mungkin kita diperhadapkan kepada masalah yang membuat kita berkata seperti Maria, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi?" Jangan tinggal di keraguan Anda, tetapi keluarlah dari kebimbangan Anda dan pandanglah kepada Elohim yang tidak akan bisa dibatasi oleh pikiran Anda yang terbatas. Kalau Anda percaya maka Anda akan mengalami apa yang Anda percayai. Hal ketiga yang membuat Maria menjadi pelaku natal yang pertama itu adalah karena dia menanggapi anugerah Elohim dengan ketaatan penuh walaupun ada konsekwensi besar yang akan dia hadapi. Pada waktu itu dia belum menikah walaupun sudah bertunangan, tetapi sekonyong-konyong dia harus mengandung Yesus. Bukankah ini merupakan aib di tengah-tengah masyarakat di mana dia hamil padahal belum menikah? Dan akibat dari aib itu tentu Maria tahu di mana dia bisa mendapatkan hukuman dari masyarakat di sekitarnya dengan hukuman mati lewat dilempari batu sebagai akibat dari orang yang hamil di luar nikah. Namun Maria rela mengambil resiko itu karena dia lebih mentaati Elohim yang telah menganugerahkan kesempatan bagi dia untuk menjadi pelaku natal yang pertama itu. Anugerah Elohim yang telah Maria peroleh hanya menjadi nyata ketika dia mau taat pada rencana Elohim dalam kehidupannya. Sebab kalau Maria tidak mau taat, maka Elohim akan mencari yang lain tentu juga di dasari oleh anugerah-Nya. Namun sejarah mencatat bahwa karena ketaatan Marialah membuat dia menjadi pelaku natal yang pertama itu. Rencana Tuhan yang didasari oleh anugerah-Nya hanya akan nyata dalam kehidupan kita apabila kita juga taat pada rencana-Nya. Ingat, Tuhan memilih kita untuk masuk pada rencana-Nya karena anugerah-Nya. Jadi dibutuhkan ketaatan kalau ingin menikamati rencana Elohim itu dalam kehidupan kita. Sering yang terjadi karena tidak mau mengambil resiko terkadang kita tidak mau taat sekalipun anugerah-Nya luar biasa dalam kehidupan kita. Bukankah ada banyak orang dengan sengaja menyembunyikan imannya di dalam Yesus Kristus karena takut diusir atau tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarganya. Dan tidak sedikit orang oleh karena pekerjaan dan jabatan tidak mengakui bahwa dia percaya kepada Tuhan Yesus. Di lain pihak oleh karena takut tidak menikah lebih baik orang menyangkali imannya kepada Yesus. Ingatlah, anugerah Elohim yang kita percayai memang penuh dengan resiko. Tetapi ingat juga ketika kita mau taat seperti Maria, maka Elohim akan memelihara kita sampai kita mengalami seluruh rencana Elohim dalam kehidupan kita. Perhatikan Maria, bisa saja ketika masyarakat di sekitarnya tahu bahwa dia hamil padahal belum menikah dan kemudian melempari dia dengan batu. Tetapi Elohim tidak mengijinkan hal itu terjadi karena memang rencana Tuhan bagi Maria sudah pasti bahwa dia akan sarana untuk menghadirkan Yesus ke dunia ini. Jadi kalau kita mempercayai Elohim yang Mahakuasa, maka taatilah dia melebihi apa yang kita takutkan di dalam dunia ini. Jadi mengapa Maria? Pertama karena Maria mendapatkan anugerah Elohim. Tuhan bebas untuk memberikan anugerah-Nya kepada siapa saja karena memang Dia adalah Tuhan yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun dan oleh apapun di luar diri-Nya sendiri. Hal itu menunjukkan bahwa kalaupun Tuhan memakai kita dan membarikan apa saja dalam hidup ini semata-mata adalah anugerah Elohim. Jadi jangan sombong. Namun anugerah Elohim yang telah diberikan kepada Maria diyakininya sekalipun sesuatu yang tidak mungkin menurut ukuran manusia. Memang anugerah Elohim tidak harus sejalan dengan akal manusia. Yang penting apakah kita percaya kepada pribadi-Nya yang Mahakuasa. Ketiga, anugerah Elohim yang diimani Maria diwujud nyatakan dalam ketaatan walaupun mengandung resiko. Kalau kita mau taat kepada Elohim sekalipun ada konsekwensi untuk itu, maka anugerah-Nya akan menuntun kita kepada rencana-Nya yang mulia, Amin. Selamat Natal 25 Desember 2008 dan Selamat Tahun Baru 01 Januari 2009 Tuhan Yesus memberkati. www.maulisiahaan.blogspot.com www.geocities.com/diaspora_gerizim

