From: Romo maryo 

“Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya”
(2Sam 7:1-5.8b-12.16; Luk 1:67-79)

“Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: 
"Terpujilah Tuhan, Elohim Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa 
kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam 
keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak 
purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari 
musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk 
menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan 
perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa 
leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan 
musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di 
hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Elohim 
Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk
mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan
keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan
belas kasihan dari Elohim kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi 
dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan 
dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai 
sejahtera.”(Luk 1:67-79), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:

·   Kelahiran anak pertama bagi suami-isteri/ keluarga baru pada umumnya 
merupakan kebahagiaan khusus, ‘membawa kelepasan bagi mereka berudua sebagai 
pasangan hidup’, antara mereka menjadi bapak dan ibu dan dengan demikian tidak 
menjadi bahan pergunjingan seagaimana sering terjadi ketika sepasang 
suami-isteri telah lama menikah namun tidak dikaruniai anak.Dalam warta gembira 
hari ini secara khusus ‘kelepasan’  terjadi dalam diri Zakharia, dia yans 
semula bisu kini dapat bebicara, berkata-kata, dan begitu dapat berbicara atau 
berkata-kata lagi Zakharia langsung mengumandangkan kidung pujian kepada 
Elohim, yang telah melawatinya. Memang dengan kelahiran seorang anak juga akan 
terjadi pembaharuan dan tentu saja yang diharapkan adalah pembaharuan yang 
baik, antara lain ‘mengarahkan kaki para orangtua kepada jalan damai 
sejahtera’. Maka marilah menjelang pesta kelahiran Penyelamat Dunia, Natal, ini 
kita arahkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita kepada jalan damai sejahtera, 
karena yang akan kita rayakan atau kenangkan adalah Pembawa Damai Sejahtera 
bagi seluruh dunia/bumi. Marilah membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam 
ajakan, sentuhan, saran atau nasihat untuk membangun hidup damai sejahtera yang 
menjadi dambaan semua orang, damai sejahtera yang dianugerahkan oleh Tuhan 
kepada kita semua. Mariilah kita ‘beridabah kepadaNya tanpa takut, dalam 
kekudusan dan kebenaran di hadapanNya seumur hidup kita’, artinya 
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, Penyelengaraan Ilahi sampai mati 
dengan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendakNya, sehingga dimanapun dan 
kapanpun kita senantiasa berbudi pekerti luhur.

·   “ Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah 
melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama 
orang-orang besar yang ada di bumi” (2Sam 7:9). Tuhan hadir di mana-mana dan 
sepanjang masa, ketika kita istirahat atau tertidur Ia terus bekerja dalam diri 
kita yang lemah dan rapuh ini, bagaikan ‘jantung kita’ yang terus bekerja 
sementara kita tidur atau istirahat. Apa yang disebut ‘jantung’ pada umumnya 
penting dan besar namannya, misalnya jantung kota, jantung hati, dst.. 
Masing-masing dari kita adalah ‘jantung hati’ dan diharap kan menjadi besar 
nama kita ‘seperti nama-nama besar yang ada di bumi’. Mereka yang memperoleh 
nama besar di bumi pada umumnya mempersembahkan hidup dan kerja seutuhnya demi 
kesejahteraan umum, terutama memberi perhatian bagi mereka yang miskin dan 
berkekurangan. Penyelamat Dunia yang kita nantikan kedatangan Nya akan lahir di 
dalam suasana yang miskin dan serba berkurangan, di dalam kegelapan malam, di 
kandang domba-domba yang kotor dst.. Maka baiklah agar kita dapat mengenangkan 
atau merayakan kedatanganNya di malam Natal nanti, kita arahkan perhatian kita 
kepada sesama dan saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan, kita ajak 
mereka untuk berpartisipasi dalam kebahagiaan damai Natal. Hendaknya juga 
diperhatikan secara khusus anak-anak atau bayi yang dalam arti tertentu juga 
dalam keadaan miskin dan berkekurangan, namun memiliki harapan masa depan yang 
besar.
 Kita persembahkan anak-anak dan bayi-bayi kita kepada Tuhan, Penyelamat Dunia 
yang berbaring di palungan, dengan harapan dan permohonan semoga anak-anak dan 
bayi-bayi kita kelak kemudian hati tumbuh berkembang memiliki nama besar di 
bumi, karena mereka berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia sepanjang 
hidupnya. 

“Aku hendak menyanyikan kasih setia YHWH selama-lamanya, hendak memperkenal kan 
kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk 
selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah 
Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, 
hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun 
takhtamu turun-temurun." (Mzm 89:2-5)  
====================================================
From: Romo maryo 

HR Natal Fajar: Yes 62:11-12; Tit 3:4-7; Luk 2:15-20
"Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti 
yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”

Cicero adalah seorang komandan perang yang handal dan tangguh, pasukannya 
senantiasa menang dalam peperangan atau pertempuran, padahal jumlah anggota 
pasukan tidak besar. Perang atau pertempuran pada masa ini antar musuh harus 
berhadapan muka, maklum pasukannya adalah pasukan berkuda, sedangkan senjata 
nya adalah pedang atau panah. Waktu itu Cicero memimpin tentara berjumlah 100 
(seratus) tentara dan harus menghadapi pasukan musuh yang berjumlah besar, 
lebih dari 1000 (seribu) tentara.   Cicero harus memutar otak alias berpikir 
matang untuk menyusun strategi perang.
Setelah berpikir dan mempertimbangkan banyak hal akhirnya Cicero memutuskan 
strategi perang sbb: “Pasukannya tidak perlu langsung melawan berhadapan dengan 
pasukan musuh, melainkan mereka diperintahkan menyusup ke daerah musuh melalui 
jalan lain, dan setiap tentara/orang harus ‘menculik’ anak atau bayi dari 
musuh”.  Perang atau pertempuran memang belum dimaklumkan dan pasukan nampak 
masih dalam persiapan, tetapi anak buah Cicero telah menyusup ke daerah lawan 
melalui jalan lain tanpa membawa senjata dan memang masing-masing tentaranya 
berhasil menculik seorang anak atau bayi. Dengan penculikan anak atau bayi 
tersebut, maka para ibu menangis dan berteriak-teriak menyusul atau menemui 
suam-suami mereka yang siap perang. Para ibu menceriterakan bahwa tentara musuh 
telah menculik anak-anak mereka. 
Mendengar dan memperhatikan laporan, tangis dan derita para ibu atau 
isteri-isteri mereka, maka pasukan yang semula siap perang dan membunuh 
‘betekuk-lutut’, alias tidak jadi perang, malainkan memaklumkan perdamaian 
dengan Cicero dengan harapan anak-anak atau bayi mereka dikembalikan. Dan 
memang perdamaian sungguh terjadi karena anak-anak atau bayi tersebut. Dalam 
hati para tentara ada bisikan luhur: untuk apa hidup dan berjuang, bukankan 
untuk anak-anak kita. Anak-anak atau bayi telah membuat para orang dewasa untuk 
saling bertekuk-lutut dan bersujud membangun dan mem-perdalam pedamaian sejati. 
 Hari ini kita rayakan atau kenangkan kelahiran ‘Seorang Bayi’, Penyelamat 
Dunia yang diiringi pujian gembira oleh para malaikat: “Kemuliaan bagi Elohim 
di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang 
berkenan kepada-Nya."(Luk 2:14). Mendengar pujinn gembira tersebut pada gembala 
yang tertidur di kegelapan malam yang dinginpun terbangun dan kemudian berseru 
bersama: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di 
sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”(Luk 2:15) 

"Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti 
yang
diberitahukan Tuhan kepada kita.” (Luk 2:15)

Dalam (salah satu) Perayaan Ekaristi Natal hari ini pada umumnya dikhususkan 
bagi anak-anak bersama dengan orangtuanya: koor oleh anak-anak, ada persembahan 
dari anak-anak kepada Kanak-Kanak Yesus yang terbaring di palungan, pesta 
anak-anak dst… Dengan kata lain kepada kita semua diharapkan mengarahkan 
pandangan dan perhatian kita kepada anak-anak dan tentu saja juga kepada 
Kanak-Kanak Yesus yang terbaring di palungan, bersembah-sujud kepadaNya. 
Hendaknya diakui, diimani dan dihayati bahwa anak-anak atau bayi-bayi lebih 
suci, murni, bersih daripada orang
dewasa/kakak-kakak atau orangtuanya sendiri. Maka marilah, bersama dengan ‘para
gembala’,  kita ‘pergi ke Betlekem untuk melihat apa yang terjadi di sana, 
seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”..  

Ingat dan sadari bahwa beberapa penjahat sering mengarahkan pandangan dan 
perhatiannya pada anak-anak untuk ‘diculik’ dan dijadikan ‘tameng’ atau alat 
untuk memeras uang sebanyak mungkin dari para orangtuanya. Beberapa orangtua 
juga telah bertekuk-lutut serta menyerahkan sebagian besar harta atau uangnya 
kepada penjahat demi anak-anaknya. Maka baiklah sekarang kita arahkan pandangan 
dan perhatian kita kepada anak-anak, dengan kata lain kita wujudkan 
sembah-sujud dan kebaktian kita kepada  Kanak-Kanak Yesus dengan 
bersembah-sujud dan berbakti kepada anak-anak. “Kita harus mengajarkan nilai 
kepada anak-anak kita karena inlah amal yang paling nyata dan paling efektif 
yang dapat kita perbuat untuk kebahagiaan mereka”  dan nilai-nilai itu antara 
lain “kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri/potensi, disiplin 
diri/tahu batas, kemurnian/kesucian, setia/dapat dipercaya, hormat, cinta/kasih 
sayang, peka/tidak egois, baik hati/ramah, adil/murah hati” (lihat:  Linda & 
Richard Eyre: Mengajarkan Nilai-nilai kepada anak-anak, Gramdia -  Jakarta 
1997,  hal  xvii- xxvii).   

“Metode terbaik untuk mengajarkan nilai kepada anak-anak adalah contoh tentang 
siapa kita dan yang kita berikan. Contoh selalu menjadi guru yang paling baik - 
dan yang kita perbuat selalu berdampak lebih luas, lebih jelas, dan lebih 
berpengaruh daripada yang kita katakana” (ibid, hal xxviii-xxix).
Perhatikan dan cermati bahwa anak-anak akan melihat dan mendengarkan dengan 
cermat, tekun dan penuh penyerahan diri pada apa yang anda katakan dan perbuat; 
dan apa yang dilihat dan didengarkannya akan sangat berpengaruh pada 
perkembangan dan
pertumbuhan kepribadiannya. Itulah kiranya yang ‘diberitahukan Tuhan kepada 
kita’  ketika kita berada di depan anak-anak 

“Ketika nyata kemurahan Elohim, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, 
pada
waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah 
kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan 
oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya 
kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang 
yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, 
sesuai dengan pengharapan kita.” (Tit 3:4-7)    

Kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia, di tengah-tengah kita merupakan ‘kemurahan
Elohim, kasihNya kepada manusia’, hal yang sama kiranya juga kita imani dan 
hayati ‘kelahiran seorang anak’ di tengah-tengah kita. Dialah dan juga 
anak-anak menjadi ‘pengharapan kita’  semua, maka marilah kita senantiasa 
bergembira, ceria , bergairah, dan dinamis karena kemurahan Elohim yang penuh 
pengharapan ini. Kita wujudkan kegembiraan, keceriaan dan kegairahan kita 
dengan berbuat baik kepada sesama agar  mereka juga bergembira, ceria dan 
bergairah dalam hidup yang sarat dengan tantangan dan hambatan pada saat ini.
Namun ingat dan hayati bahwa jika kita dapat berbuat baik kepada orang lain 
tidak lain merupakan rahmat Elohim, Elohim yang hidup dan berkarya dalam diri 
kita yang lemah dan rapuh ini.  

Hari ini kita kenangkan “Juruselamat Dunia”, dan kepada kita semua dianugerahi 
panggilan dan tugas pengutusan untuk menjadi ‘juruselamat dunia’ juga. Maka 
dimana ada bagian dunia, seluk beluk dunia tidak selamat di situlah kita 
dipanggil untuk menyelamatkannya. Ingat dan hayati kita kenangkan atau rayakan 
adalah Penyelamat ‘Dunia’ bukan penyelamat orang Kristen atau Katolik. Maka 
marilah kita wujudkan bersama-sama kidung pujian para malaikat “damai sejahtera 
di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.". Memang pertama-tama dan 
terutama bagian dunia yang harus kita selamatkan adalah lingkungan hidup kita 
sehari-hari, yaitu keluarga maupun tempat kerja dan terutama adalah kelauarga 
atau komunitas kita masing-masing, dimana kita menjadi anggotanya.  

“Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus 
hati. Bersukacitalah karena YHWH, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah 
syukur bagi nama-Nya yang kudus.”  (Mzm 97:11-12)
===================================================
From: Mauli Siahaan 
 
MENGAPA MARIA?
Lukas 1:26-38
 
Natal sangat bersangkut paut dengan bayi Yesus, Maria dan Yusuf, para gembala, 
orang majus dan kemudian berkembang dengan parnak-pernik seperti pohon natal 
dan lain sebagainya. Dari semua hal yang kita sebut di atas kita akan menyoroti 
Maria. Mengapa Maria menjadi ibu Yesus dan bukan yang lain. Ada orang yang 
berkata karena Maria perawan dan wanita baik-baik. Tetapi bukankah ada banyak 
perawan dan wanita baik-baik pada waktu itu di Palestina, tetapi mengapa Maria 
yang dipilih untuk menghadirkan Yesus di tengah-tengah dunia ini? Mengapa bukan 
Marta atau perempuan yang lain? Atau mengapa bukan Anda misalnya?
 
Kalau kita menyimak perikop kita di atas di mana ketika malaikat Gabriel datang 
menghampiri Maria dan menyatakan rencana Elohim untuk menjadikan dia sarana 
menghadirkan Yesus di tengah-tengah dunia ini. Kita akan menemukan alasan dari 
pemilihan Maria. Hal itu terlihat jelas dari pernyataan malaikat itu kepada 
Maria, yaitu karena kasih karunia. "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan 
menyertai engkau." (ayat 28 dan lihat juga ayat 30) Jadi pemilihan Maria 
menjadi ibu Yesus di dasari oleh anugerah Elohim. Bukan karena Maria wanita 
baik-baik atau bukan karena Maria masih perawan - walaupun alasan ini harus 
dipenuhi - tetapi tindakan Elohim untuk memakai Maria menjadi sarana untuk 
Yesus hadir ke dalam dunia ini memang murni kasih karunia Elohim. 
 
Anugerah atau kasih karunia artinya pemberian cuma-cuma. Tidak ada alasan dari 
tindakan Elohim untuk melakukan sesuatu dalam diri seseorang karena faktor 
manusia yang akan mendapatkan anugerah itu. Dan kalaupun Elohim bertindak dalam 
kehidupan sesorang, mutlak atas prakarsa Elohim sendiri. Memang orang yang akan 
Elohim pakai untuk menjadi ibu Yesus secara jasmani haruslah seorang perawan. 
Tetapi keperawanan Maria bukan menjadi dasar dari Elohim memilih Maria. Kalau 
itu menjadi dasarnya mengapa Maria dan bukan yang lain. Bukankah banyak perawan 
pada masa itu tetapi tidak dipakai Elohim untuk menjadi ibu Yesus. Itulah 
sebabnya ketika malaikat itu menyapa Maria, dia dengan jelas berkata bahwa 
Maria mendapat karunia dari Elohim untuk dapat memenuhi rencana-Nya dengan 
menjadi ibu Yesus yang akan dilahirkannya.
 
Hidup ini adalah anugerah Elohim dan apa saja yang kita miliki adalah kasih 
karunia Tuhan. Pernahkah Anda berpikir mengapa Anda menjadi seperti sekarang 
ini dan bukan orang lain di tempat Anda sekarang? Mungkin Anda berpikir bahwa 
apa yang ada dapatkan karena Anda bekerja keras, punya pendidikan yang memadai 
untuk itu dan sudah banyak pengalaman sehingga pada tempatnya Anda berpikir 
bahwa Anda layak mendapatkan seperti apa yang sudah Anda dapatkan hari ini. 
Tetapi sadarkah Anda bahwa banya orang lain melakukan sama seperti yang Anda 
lakukan dan bahkan lebih tetapi mereka tidak mendapatkan seperti apa yang Anda 
dapatkan hari ini. Jadi kalau Anda mendapatkan apa yang ada dapatkan hari ini 
apapun itu bentuknya; apakah itu kekayaan, kehormatan, kemasyuran itu 
semata-mata adalah anugerah Elohim. Ketika Anda ada di tempat di mana Anda ada 
sekarang itu adalah anugerah Elohim. Kalaupun Anda sedang menikmati kemasyuran 
hidup itu adalah anugerah Elohim. Jika saat ini
Anda sedang mengalami kehormatan hidup semata-mata adalah anugerah Elohim.
 
Natal mengingatkan kita bahwa hidup ini dalah anugerah Elohim dan anugerah itu 
telah nyata di dalam Yesus Kristus yang telah lahir. Jadi jangan pernah 
menyombongkan diri karena kalau bukan Tuhan menganugerahkan apa saja dalam 
hidup ini, kita ini tidak akan mendapatkan apa-apa dan bukan siapa-siapa. 
Lihatlah Yesus yang walaupun dalam rupa Elohim artinya bahwa Dia adalah Elohim 
yang Mahakuasa telah mengosongkan diri-Nya dan rela menjadi manusia yang hina 
dengan lahir di kandang domba untuk menyatakan bahwa manusia tidak perlu 
menyombongkan diri karena memang bukan siapa-siapa.
Yang kedua mengapa Maria menjadi pelaku natal pada pertama kali dan bukan yang 
lain karena Maria yang mendapatkan anugerah Elohim itu mempercaya Elohim yang 
merencana kan hidupnya menjadi sarana untuk menghadirkan Yesus di tengah-tengah 
dunia ini. Walaupun pada awalnya Maria berkata, "Bagaimana hal itu mungkin 
terjadi, karena aku belum bersuami?" (ayat 34), tetapi kemudia dia percaya 
karena menyadari bahwa bagi Elohim tidak ada yang mustahil (ayat 37). Keyakinan 
inilah yang membawa Maria untuk menanggapi anugerah Elohim dalam kehidupannya. 
Memang bukan karena iman Maria menjadi dasar pemilihan Elohim terhadap dirinya 
tetapi anugerah Elohim. Namun anugerah Elohim hanya akan menjadi nyata apabila 
diimani. Bisa saja Maria tetap tinggal di dalam pertanyaannya yang berkata, 
"Bagaimana hal itu mungkin terjadi", tetapi dia tidak mau berlama-lama untuk 
ada dalam kebimbangan dan keraguan. Ia mau hidup di dalam keyakinan kepada 
Elohim yang Mahakusa. 
 
Natal mengingatkan kita bahwa Elohim adalah Tuhan yang tidak pernah bisa 
dibatasi oleh keterbatasan kita. Dia adalah Tuhan yang sanggup dan mampu 
melakukan segala perkara. Kalau kita percayakepada pribadi-Nya, maka kita juga 
akan mengalami mujizat Elohim karena Roh Kudus yang turun atas Maria adalah 
pridi yang sama yang dicurahkan juga dalam kehidupan kita saat kita percaya 
kepada-Nya. Mungkin kita diperhadapkan kepada masalah yang membuat kita berkata 
seperti Maria, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi?" Jangan tinggal di keraguan 
Anda, tetapi keluarlah dari kebimbangan Anda dan pandanglah kepada Elohim yang 
tidak akan bisa dibatasi oleh pikiran Anda yang terbatas. Kalau Anda percaya 
maka Anda akan mengalami apa yang Anda percayai.
 
Hal ketiga yang membuat Maria menjadi pelaku natal yang pertama itu adalah 
karena dia menanggapi anugerah Elohim dengan ketaatan penuh walaupun ada 
konsekwensi besar yang akan dia hadapi. Pada waktu itu dia belum menikah 
walaupun sudah bertunangan, tetapi sekonyong-konyong dia harus mengandung 
Yesus. Bukankah ini merupakan aib di tengah-tengah masyarakat di mana dia hamil 
padahal belum menikah? Dan akibat dari aib itu tentu Maria tahu di mana dia 
bisa mendapatkan hukuman dari masyarakat di sekitarnya dengan hukuman mati 
lewat dilempari batu sebagai akibat dari orang yang hamil di luar nikah. Namun 
Maria rela mengambil resiko itu karena dia lebih mentaati Elohim yang telah 
menganugerahkan kesempatan bagi dia untuk menjadi pelaku natal yang pertama 
itu. 
 
Anugerah Elohim yang telah Maria peroleh hanya menjadi nyata ketika dia mau 
taat pada rencana Elohim dalam kehidupannya. Sebab kalau Maria tidak mau taat, 
maka Elohim akan mencari yang lain tentu juga di dasari oleh anugerah-Nya. 
Namun sejarah mencatat bahwa karena ketaatan Marialah membuat dia menjadi 
pelaku natal yang pertama itu. 
 
Rencana Tuhan yang didasari oleh anugerah-Nya hanya akan nyata dalam kehidupan 
kita apabila kita juga taat pada rencana-Nya. Ingat, Tuhan memilih kita untuk 
masuk pada rencana-Nya karena anugerah-Nya. Jadi dibutuhkan ketaatan kalau 
ingin menikamati rencana Elohim itu dalam kehidupan kita. Sering yang terjadi 
karena tidak mau mengambil resiko terkadang kita tidak mau taat sekalipun 
anugerah-Nya luar biasa dalam kehidupan kita. Bukankah ada banyak orang dengan 
sengaja menyembunyikan imannya di dalam Yesus Kristus karena takut diusir atau 
tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarganya. Dan tidak sedikit orang oleh 
karena pekerjaan dan jabatan tidak mengakui bahwa dia percaya kepada Tuhan 
Yesus. Di lain pihak oleh karena takut tidak menikah lebih baik orang 
menyangkali imannya kepada Yesus. Ingatlah, anugerah Elohim yang kita percayai 
memang penuh dengan resiko. Tetapi ingat juga ketika kita mau taat seperti 
Maria, maka Elohim akan memelihara kita sampai kita mengalami seluruh rencana 
Elohim dalam kehidupan kita. Perhatikan Maria, bisa saja ketika masyarakat di 
sekitarnya tahu bahwa dia hamil padahal belum menikah dan kemudian melempari 
dia dengan batu. Tetapi Elohim tidak mengijinkan hal itu terjadi karena memang 
rencana Tuhan bagi Maria sudah pasti bahwa dia akan sarana untuk menghadirkan 
Yesus ke dunia ini. Jadi kalau kita mempercayai Elohim yang Mahakuasa, maka 
taatilah dia melebihi apa yang kita takutkan di dalam dunia ini.
 
Jadi mengapa Maria? Pertama karena Maria mendapatkan anugerah Elohim. Tuhan 
bebas untuk memberikan anugerah-Nya kepada siapa saja karena memang Dia adalah 
Tuhan yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun dan oleh apapun di luar 
diri-Nya sendiri. Hal itu menunjukkan bahwa kalaupun Tuhan memakai kita dan 
membarikan apa saja dalam hidup ini semata-mata adalah anugerah Elohim. Jadi 
jangan sombong. Namun anugerah Elohim yang telah diberikan kepada Maria 
diyakininya sekalipun sesuatu yang tidak mungkin menurut ukuran manusia. Memang 
anugerah Elohim tidak harus sejalan dengan akal manusia. Yang penting apakah 
kita percaya kepada pribadi-Nya yang Mahakuasa. Ketiga, anugerah Elohim yang 
diimani Maria diwujud nyatakan dalam ketaatan walaupun mengandung resiko. Kalau 
kita mau taat kepada Elohim sekalipun ada konsekwensi untuk itu, maka 
anugerah-Nya akan menuntun kita kepada rencana-Nya yang mulia, Amin. 
 
Selamat Natal 25 Desember 2008
dan 
Selamat Tahun Baru 01 Januari 2009
 
Tuhan Yesus memberkati.
 
www.maulisiahaan.blogspot.com
www.geocities.com/diaspora_gerizim

Kirim email ke