Christian World View
  Retreat Kader Pelma–Pusroh UK Petra
  Griya Kusuma Indah-Pacet, 1 Mei 2004
   
  oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
   
   
   
   
  Pembahasan tentang Christian World View (seterusnya disingkat CWC) biasanya 
mencakup dua sisi:
  1.      Mayoritas theolog dan filsuf Kristen memfokuskan pada validitas CWV 
dibandingkan dengan world view yang lain. Validitas ini didasarkan pada 
kekuatan argumentasi rasional CWV. Pendekatan ini bernuansa apologetis dan 
dalam konteks pluralitas keyakinan (atheisme, pantheisme, panentheisme, deisme, 
empirisme, skeptisisme, dll).[1]
  2.      Sebagian kecil lebih menyoroti signifikansi dan implikasi CWV dalam 
berbagai bidang kehidupan orang percaya.
   
  Sesuai dengan permintaan Panitia Retreat, pembahasan dalam tulisan ini lebih 
diarahkan pada poin kedua. Pembahasan pun tidak mencakup semua aspek world 
view, tetapi hanya difokuskan pada world view tentang Allah.
   
   
   
  Definisi
  Secara sederhana world view dapat didefinisikan sebagai “how one views or 
interprets reality...it is the framework through which or by which one makes 
sense of the data of life.”[2] Definisi ini sebenarnya jauh dari memadai. 
Beberapa usulan definisi lain yang telah diajukan ternyata juga belum mencakup 
semua aspek dari world view. Paling tidak dibutuhkan beberapa kalimat atau satu 
kalimat panjang untuk menyentuh semua esensi world view. Beberapa kata yang 
dipakai bahkan masih membutuhkan elaborasi lanjut. Demi mencapai pemahaman yang 
komprehensif dan tidak bias, world view lebih baik diterangkan melampaui 
kapasitas definisi. Artinya, pembahasan sebaiknya lebih diarahkan pada 
karakteristik world view:[3]
  1.      World view memiliki tujuan yang holistik: mencoba melihat setiap area 
kehidupan dan pemikiran dalam suatu cara yang integratif.
  2.    World view merupakan pendekatan yang bersifat perspektif: melihat 
hal-hal dari titik pandang yang sudah diadopsi sebelumnya yang sekarang 
menyediakan kerangka integratif. World view lebih mendasar daripada 
presuposisi. Dalam istilah James W. Sire, world view adalah “basic 
presuppositions.”[4]
  3.      World view memiliki proses eksplorasi: mengarahkan hubungan antara 
satu area dengan area yang lain ke suatu perspektif yang terpadu.
   
  4.      World view bersifat pluralistik: perspektif dasar dapat 
diartikulasikan dalam beberapa cara yang berbeda.
  5.      World view memiliki tindakan sebagai hasilnya: apa yang dipikirkan 
dan dinilai membimbing apa yang akan dilakukan.
   
  Setiap orang pasti memiliki world view terlepas dari (1) orang tersebut 
menyadari atau tidak bahwa ia memilikinya; (2) orang tersebut memahami 
pengertian world view atau tidak; (3) world view tersebut benar atau tidak; (3) 
world view tersebut terintegrasi atau tidak. Presuposisi-presuposisi dalam 
sistem world view biasanya bersifat interdependensi. Pendeknya, tidak ada satu 
area kehidupan pun yang tidak bersentuhan dengan world view, meskipun implikasi 
tersebut kadangkala sangat jauh. Contoh: perdebatan tentang aborsi sangat 
ditentukan oleh perspektif seseorang tentang Allah sebagai pencipta dan nilai 
manusia.
   
   
             
  Keutamaan Posisi Allah dalam CWV
  Keutamaan Allah dalam CWV terlihat dengan jelas dari hal-hal berikut:
  1.      Alkitab dimulai dengan suatu topik yang dianggap menjadi dasar 
pembahasan semua world view, yaitu Allah dan alam semesta sebagai ciptaan-Nya 
(Kej 1:1).
  2.      Alkitab pada dasarnya merupakan pewahyuan tentang eksistensi dan 
atribut Allah – suatu topik yang mendasari seluruh bangunan world view 
seseorang.
  3       Kata benda yang paling sering muncul dalam Perjanjian Baru adalah 
kata theos (Allah), yaitu sebanyak 1317 kali.[5] Lebih dari 40% di antaranya 
muncul dari pena Paulus, seorang yang sangat mempengaruhi world view 
Kristiani.[6]
  4.      Hampir semua buku doktrin, terutama tulisan theolog Reformed, selalu 
diawali dengan pembahasan tentang Allah atau Alkitab sebagai wahyu Allah.[7] 
Konsep tentang Allah dianggap menjadi dasar bagi doktrin-doktrin yang lain.
  5.      Kultur dan perkembangan sains, terutama di dunia Barat, sangat 
dipengaruhi oleh konsep tentang Allah dan alam semesta di Kejadian 1:26-28 
(kontras pantheisme agama kuno dan dualisme Yunani).
   
   
   
  Implikasi CWV yang Theosentris
  Membicarakan CWV tentang Allah merupakan sesuatu yang kompleks.
  (1)  Dari sisi kemungkinan pengenalan Allah, CWV tentang Allah merupakan 
kontras dengan agnostisisme, skeptisisme, relativisme, empirisisme, 
eksistensialisme, dll.
  (2)     Dari sisi kemungkinan eksistensi Allah, CWV berbeda dengan atheisme.
  (3)     Dari sisi personalitas “Allah”, CWV berbeda dengan pantheisme, dan 
panenteisme.
  (4)     Dari sisi relasi dengan ciptaan, CWV berbeda dengan deisme dan 
dualisme Yunani.
  (5)     Dari sisi pewahyuan yang lebih progresif, CWV berbeda dengan ajaran 
Yudaisme maupun Islam.
   
  Sisi terakhir inilah yang paling relevan dengan topik retreat kali ini. 
Namun, perbedaan yang ada juga cukup melimpah dan kompleks. Untuk menghemat 
ruang dan waktu, CWV tentang Allah hanya akan dibatasi pada Pengakuan Iman 
Rasuli “Aku percaya kepada Allah yang mahakuasa, khalik langit dan bumi”. 
Secara verbal beberapa bagian dari pengakuan tersebut memang sama dengan konsep 
Yudaisme dan Islam, tetapi penjelasan di baliknya memberikan kekhususan CWV.[8]
  1.      Aku.
  Kredo memang dimaksudkan untuk diproklamasikan bersama-sama dengan gereja 
seluruh dunia (atau minimal gereja-gereja pada waktu itu yang menghadapi ajaran 
sesat), namun kredo tersebut tetap harus menjadi pengakuan pribadi (“aku”, 
bukan “kami”). 
   
  2.      Aku percaya kepada Allah.
  Percaya dapat memiliki beragam konotasi. Mempercayai sesuatu yang tidak 
berpribadi hanya melibatkan segi kognitif, misalnya percaya bumi adalah bualt 
atau Indonesia akan bertambah maju. Makna ini akan berubah jika dikaitkan 
dengan objek yang berpribadi, misalnya aku percaya pacarku. Percaya terakhir 
ini selain melibatkan kognisi (berdasarkan pengalaman pacar tersebut selalu 
berkata jujur atau kompeten) juga melibatkan relasi. Makna ini akan bertambah 
dalam jika objek kepercayaan adalah Allah yang berpribadi, karena relasi yang 
ada sifatnya tidak setara. Kepercayaan kepada Allah berarti memposisikan diri 
pada relasi sebagai umat yang sangat bergantung dan berfokus pada Allah. 
   
  3.      Aku percaya kepada Allah Bapa.
  Predikat “Bapa” di sini harus dimengerti dalam konteks Tritunggal. Tritunggal 
adalah setara, tetapi dalam relasi ke-Tritunggalan Pribadi ke-1 disebut “Bapa” 
dalam hubungan dengan Pribadi ke-2. Poin ini menjadi ciri khas Kekristenan dan 
sangat fundamental: semua Alkitab merupakan wahyu tentang Allah à Yesus adalah 
puncak wahyu Allah (Yoh. 1:18; Ibr. 1:1-3) à iman kepada Yesus hanya 
dimungkinkan melalui pekerjaan Roh Kudus (Yoh. 16:8; 1Kor. 2:10-16). 
   
  4.      Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa.
  “Mahakuasa” tidak berarti bisa melakukan apa saja. Allah tidak bisa melakukan 
sesuatu yang kontradiktif dan tidak masuk akal (karena pasti salah). Ia juga 
tidak bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan naturnya, misalnya 
berdusta (Bil 23:19; 1Sam 15:29). “Mahakuasa” berarti Ia bisa melakukan apa pun 
yang Ia ingin lakukan (Mzm 135:6). “Apa pun” di sini mencakup segala hal 
(spiritual, historis, sains, dll), tetapi dibatasi oleh frase “yang Ia 
inginkan” (yang diinginkan Allah pasti benar). 
   
  5.      Aku percaya kepada Allah Bapa yang mahakuasa, khalik langit dan bumi.
  Frase “khalik langit dan bumi” mengingatkan manusia pada tiga hal penting: 
(1) alam semesta diciptakan untuk kepentingan (kemuliaan) Allah; (2) alam 
semesta adalah milik Allah, sehingga manusia harus memelihara dan memakainya 
untuk kemuliaan Allah; (3) manusia juga merupakan salah satu milik Allah. 
Sebagai ciptaan manusia tunduk secara total kepada Allah sebagai Pencipta (Rm. 
9:14-21). 
   
   
   
  Catatan kaki:
  [1]      Buku-buku dalam kategori ini sudah banyak ditulis. Salah satunya 
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ronald H. Nash, Konflik Wawasan 
Dunia (Surabaya: Penerbit Momentum, 2000).
  [2]      Norman L. Geisler, Baker Encyclopedia of Christian Apologetics 
(Grand Rapids: Baker Books, 2000, c1999), 785.
  [3]      Karakteristik ini diadopsi dari Arthur W. Holmes, “Toward a 
Christian View of Things” in The Making of a Christian Mind: A Christian World 
View & the Academic Enterprise (ed. by Arthur Holmes; Downers Grove: 
InterVarsity Press, 1985), 17.
  [4]      The Universe Next Door: A Basic World View Catalog (Downers Grove: 
InterVarsity Press, 1978, c1976), 18.
  [5]      Datum ini merupakan hasil riset menggunakan software Bible Work 
versi 4.0. Kata yang menduduki posisi kedua dan ketiga masing-masing adalah 
Yesus (917) dan Tuhan (717).
  [6]      Leon Morris, New Testament Theology (Grand Rapids: Zondervan 
Publishing House, 1990, c1986), 25.
  [7]      John Calvin, seorang yang sangat berpengaruh bagi Kekristenan dan 
dunia Barat pada umumnya, memberikan prioritas pada pembahasan tentang Allah 
dalam bukunya yang sangat monumental Institutio. Ia menyarikan seluruh iman 
Kristen ke dalam dua hal: pengetahuan tentang Allah dan manusia. Keduanya tidak 
bisa dipisahkan, tetapi konsep tentang Allah tetap lebih mendasar. Lihat John 
Calvin, Institutes of the Christian Religion (terj. Henry Beveridge; Grand 
Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1995, c1989), 37-39.
  [8]      Beberapa buku tafsiran tentang Pengakuan Iman Rasuli telah ditulis. 
Untuk pembahasan yang sangat singkat, sederhana dan bermanfaat bagi orang awam, 
lihat J. I. Packer, I Want to be a Christian (Wheaton: Tyndale House 
Publishers, Inc., 1977), terutama 23-44.
   
   
   
  Sumber:
  http://www.gkri-exodus.org/page.php?HIS-CWorld_View
   
   
   
   
  Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
  Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, 
adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya 
(www.gkri-exodus.org) dan dosen di  Institut Theologi Abdiel Indonesia 
(ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari 
GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di 
Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological 
Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), 
Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological 
Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor 
of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), 
Leuven–Belgia.
   
   
   
   
  Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.


""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
  Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web 
 Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online

Kirim email ke