Ringkasan khotbah Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia 
tanggal 21 Desember 2008
     Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen-8  Membangun Komunikasi yang 
Sehat     oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
   
   
   
   
  Nats: Amos 3:3; 2 Korintus 6:11-12
   
   
   
   
  “Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum berjanji?” (Amos 3:3). 
Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum memiliki suara yang akur, 
yang bisa menyamakan persepsi, menyamakan kosep? Itu kalimat nabi Amos yang 
sangat baik sekali.
   
  “Hai orang Korintus, kami telah berbicara terus-terang kepada kamu. Hati kami 
terbuka lebar-lebar bagi kamu dan bagi kami ada tempat yang luas tersedia di 
dalam hati kami tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam 
hati kamu” (2Kor. 6:11-12). Paulus berbicara kepada jemat Korintus dengan 
honestly, openly, sincerely. Ada tempat yang lebar bagi engkau di dalam hatiku, 
kata Paulus. Saudara perhatikan di sini Paulus sedang berbicara mengenai 
komunikasi dan hubungan pribadi dia dengan jemaat Korintus.
   
  Hari ini mari kita belajar mengungkapkan komunikasi verbal kita sebagai suami 
dan istri, bagaimana kita berdiskusi dan berbicara bersama. Paling tidak ada 5 
“musuh dalam selimut” yang tanpa disadari bisa masuk ke dalam kehidupan kita 
dan mengganggu keharmonisan suami istri yang.
  1.         Busyness, hidup yang penuh kesibukan.
  Saya percaya banyak di antara kita yang dua-dua bekerja. Sehingga hidup kita 
dipenuhi dengan berbagai kesibukan pekerjaan dan rumah tangga yang kita anggap 
sebagai hal yang normal. Kadang-kadang pekerjaan yang overload menjadi 
prioritas yang lebih utama di dalam kita membangun hubungan suami istri yang 
baik.
   
  2.        Akibatnya banyak orang sesudah pulang dari kerja yang penat, 
akhirnya kita mengembangkan satu hal yang kita rasa normal yaitu ‘drifted 
away’, mulai pelan-pelan tercipta jarak di antara suami istri. Mungkin karena 
kita sibuk bekerja, sibuk menjaga anak dan mengurus rumah, akhirnya kita anggap 
pasangan kita sudah tahu dan memaklumi apa yang terjadi. Bahayanya, saking 
begitu jarang berkomunikasi, akhirnya baru saja istri bilang “Pa…” suami 
langsung buka dompet dan bertanya, “Perlu berapa duit?” karena memang biasanya 
komunikasi baru terjadi waktu istri perlu uang.
   
  3.        Kebosanan. 
  Orang yang sudah menikah lama akhirnya hidup di dalam kebosanan. Bosan bukan 
berarti tidak ada cinta lagi tetapi saudara merasa hambar di dalam pernikahan 
dan akhirnya malas memulai komunikasi, atau mungkin merasa tidak ada topik yang 
perlu dibicarakan. Istri mengeluh setiap kali dia mau memulai pembicaraan, 
suami merasa itu tidak relevan. Suami malas bicara karena merasa tidak guna 
berbicara dengan istri karena dia tidak mengerti kesulitan yang dia hadapi di 
dalam pekerjaan, dsb.
   
  4.        Irritability. 
  Ada komunikasi yang tidak baik di antara suami istri akhirnya menimbulkan 
kejengkelan dan rasa tidak enak. Namun karena kejengkelan itu tidak 
diselesaikan, akhirnya pelan-pelan membuat pasangan menjadi tidak mau 
berkomunikasi.
   
  5.        Beban ekonomi dan utang.
  Saya percaya ada lebih dari 5 hal yang bisa timbul di dalam kehidupan 
komunikasi suami istri tetapi saudara bisa lihat dari 5 faktor yang disebut di 
atas, 4 di antaranya bicara mengenai bagaimana suami dan istri tidak memiliki 
komunikasi yang baik. Maka hari ini mari kita perkuat hubungan kita dengan 
belajar menjadi seorang suami dan seorang istri yang terbuka satu sama lain, 
berdiskusi dengan baik, menjadikan pasangan sebagai seorang partner yang paling 
dekat di dalam hidup dimana kita bisa leluasa menyatakan ide dan harapan kita. 
Komunikasi yang baik itu bukan berarti banyaknya ngomong. Itu adalah dua hal 
yang berbeda. Makin banyak ngomong bisa jadi makin menutup komunikasi, bukan? 
Itu yang sering kali terjadi dengan anak remaja kita. Makin banyak kita ngomong 
makin dia tutup telinganya. Begitu juga makin banyak istri ngomong, makin 
telinga suami tertutup. Ada banyak hal bisa membuatkomunikasi menjadi tertutup. 
Salah satunya adalah kritikan dan celaan. Bukan komunikasi
 yang terjadi tetapi lecture. Suami lecture istri, istri lecture suami. Itu 
bukan komunikasi. Istri ngomong terus, istri atur semua, sehingga suami menjadi 
pasif. Talking too much belum tentu menjadi good communication karena itu 
bergantung kepada bagaimana kita menyampaikan komunikasi. Bisa jadi kita baru 
mau bicara dengan suami waktu kita mau kritik dia. Kita baru bicara dengan 
istri waktu kita mau lecture dia. Hari ini begitu banyak pasangan menjalani 
hidup di dalam kebosanan, menjadi malas dan tidak memiliki gairah untuk 
berkomunikasi. Maka mari kita sama-sama belajar selama kita masih bisa 
menjadikan hubungan suami istri menjadi indah dan baik.
   
  Pertama, tidak bisa tidak, saudara dan saya harus belajar menjadi seorang 
good listener. Umumnya suami sulit menjadi seorang good listener. Istri sering 
mengeluh, “My husband is not a good listener. He is a good tape recorder.” Dia 
bisa mengulang semua perkataan yang keluar dari mulut isterinya tanpa 
benar-benar menyimak apa yang isterinya katakan. Ada yang mengatakan sebenarnya 
kita memakai pendengaran kita lebih dari 40% ketimbang panca indera yang lain. 
Lalu bagaimana menjadi seorang pendengar yang baik? Tidak gampang. Apalagi 
suami sering mengeluh, “Saya coba belajar mendengar istri, tetapi makin 
mendengar bicaranya makin putar-putar. Itu sebab saya ‘cut’ supaya dia bisa 
fokus.” Banyak hal kita ributkan sebenarnya adalah hal yang kecil, bukan? 
Mengapa kita tidak melihat istri yang berceloteh sebagai tanda dia sedang 
bahagia dan excited? Itu yang penting. Jangan kita rusak percakapannya dengan 
kritikan dan celaan dan berbagai koreksi untuk hal-hal yang
 tidak relevan dengan jalan pembicaraannya.
   
  Di dalam mendengar, kita bukan hanya menyediakan telinga tetapi kita perlu 
skill untuk belajar fokus kepada perasaan apa yang ada di belakang perkataan 
dia. Kenapa suami kadang dianggap tidak mendengar walaupun kita bisa mengulang 
semua kalimat istri persis sampai titik komanya? Karena yang dikatakan istri 
kita ada beberapa hal, yaitu pertama, body language kita memperlihatkan kita 
tidak menyimak apa yang dia ucapkan. Kedua, kita tidak tangkap feeling-nya, 
perasaan apa yang ada di belakang kalimat dia. Mungkin itu perasaan 
sukacitanya, perasaan kuatirnya, perasaan kesalnya, dsb. Ketiga, coba tangkap 
apa isi beritanya, apa yang ingin disampaikan oleh pasanganmu di dalam dia 
menyampaikan sesuatu. Kadang-kadang ada hal yang lebih dalam di situ. Tetapi 
saya juga ingatkan terutama kepada para istri bagaimana belajar menyampaikan 
satu good communication kepada suamimu. Suatu komunikasi yang baik tidak akan 
terjadi kalau kita tidak memiliki honesty dan openness. Ada istri yang
 selalu minta suami jadi “tukang ramal,” mau dia menebak apa yang ada di 
pikiran istri. Waktu sedang jalan berdua, lewat di depan toko kue, istri 
bertanya kepada suaminya, “Mau cheese cake itu?” Suami melihal cheese cake 
seharga $4 itu kemudian menjawab, “Nggak ah, mahal.” Sesudah berjalan 10 m, 
istri bilang, “Cuma $4 saja tidak mau beli, dasar pelit.” Suami kaget, “Ooh… 
kamu mau kue itu to? Ayo, kita beli.” Istri yang jengkel menjawab,”Tidak usah, 
tidak ada napsu makan lagi.” “Addduhh… bilang dong, kalau mau makan cheese cake 
itu, pasti saya belikan.” “Huh, buat apa saya bilang? Kalau you baru belikan 
saya karena saya minta, maka cheese cake itu tidak ada nilainya. Tapi you harus 
tahu, begitu saya berdiri di depan kue itu, you tahu hati saya mau kue itu lalu 
membelinya, di situ saya tahu betapa besarnya cintamu kepada saya.” Aduh, 
bagaimana saya bisa baca apa yang ada di dalam pikiran orang? Hanya Tuhan yang 
tahu isi pikiran manusia.
 Suami mana bisa tahu?
   
  Kenapa komunikasi itu menjadi drifted away, sehingga kita menjadi malas 
membuka komunikasi dengan pasangan kita? Para konselor Kristen mengatakan 
banyak kali pasangan menyimpan luka yang terjadi mungkin belasan tahun yang 
lalu. Sebagai suami, kita mungkin sudah tidak ingat akan hal itu, bahkan istri 
juga tidak sadar menyimpan kepahitan itu tetapi ketika konselor menyelusuri, 
mereka menemukan itu menjadi problemanya. Mungkin ketika peristiwa itu terjadi, 
timbul luka di dalam hati pasangan. Tetapi setelah beberapa waktu, suami 
mengira luka hati sudah sembuh, padahal istri masih menyimpannya. Maka kita 
menjadi terkejut ketika keributan besar terjadi, ujung-ujungnya kita menemukan 
luka lama itu. Baru sebentar berbicara dengan istri tiba-tiba suami marah hanya 
karena hal yang kecil. Akhirnya keluar kalimat, “Memang kamu selalu begitu…” 
yang mengacu kepada luka masa lampau itu, ketidak-senanganmu terhadap 
ketidak-sempurnaan dia. Selama ini engkau ingin dia berubah seturut
 apa yang engkau mau, tetapi engkau terus melihat dia mengulang hal yang sama 
dari tahun ke tahun membuatmu menjadi marah. Itu namanya irritability. Maka 
akhirnya penyebab terjadi miscommunication dan misunderstanding itu bukan aspek 
yang dibicarakan saat itu tetapi disebabkan oleh karena luka yang tersimpan 
lama. Suami salah beli tong sampah sepuluh tahun yang lalu, bisa disebut lagi 
waktu istri kesal suami buang sampah sembarangan, padahal tidak ada 
hubungannya. Maka point ketiga kita mari kita belajar menyembuhkan luka yang 
ada itu, terima dia sebagai seorang yang tidak sempurna karena engkau juga 
tidak sempurna. Maka di dalam hubungan suami istri kita tidak akan memiliki 
satu komunikasi yang lebih indah kalau saudara tidak belajar memiliki satu 
“good fight.” “Good fight” tidak mungkin terjadi kalau saudara tidak mempunyai 
self control. Tetapi self control itu tidak pernah akan terjadi kalau tidak ada 
perasaan memaafkan akan hal-hal yang sudah lewat.
   
  Seorang sosiolog bernama Gibson Winter yang menulis buku “Love and Conflict” 
mengatakan kita justru lebih sering menyakiti orang yang dekat dengan kita 
dibanding orang lain. Dengan orang lain mungkin kita masih memakai bahasa yang 
lebih halus dan lebih “educated.” Tetapi kepada istri dan anak kita pakai 
bahasa pasar. Kita tidak pernah sadar bahwa seharusnya kita lebih sayang dan 
lebih protektif kepada orang yang kita kasihi tetapi sering kali yang terjadi 
kita menjadikan dia lebih terluka. Winter menemukan tidak bisa tidak di dalam 
love pasti ada konflik. Kenapa bisa timbul konflik? Sebab itu adalah perasaan 
melindungi orang yang kita kasihi dengan cara yang salah. Jadi, ada “konflik 
yang benar” dan ada “konflik yang tidak benar.” Konflik yang benar hanya 
terjadi kalau kita belajar memiliki self control dan self control itu baru bisa 
terjadi kalau di belakangnya itu ada forgiveness. Kita tidak bisa mengabaikan, 
setiap kali kita memiliki hubungan yang dekat
 dengan siapa pun, gesekan akan terjadi dan gesekan itu pasti akan menimbulkan 
iritasi. Makin terjadi gesekan lebih banyak dan lebih lama, iritasi itu akan 
berubah menjadi luka. Dan luka yang tidak disembuhkan bisa menjadi luka yang 
mengganggu hubungan di antara kita. Tinggal sekarang bagaimana menyembuhkan 
luka itu terlebih dahulu. Hubungan suami istri yang baik tidak bisa tidak 
adalah suatu hubungan yang terus menerus harus dilandasi dengan perasaan 
forgiveness yang tulus, saling mengampuni satu dengan yang lain. Mengampuni 
tidak berarti kita menutup mata akan kesalahan dia,. Mengampuni tetap mengakui 
tindakan dia itu salah namun saudara menerima dia sebagaimana adanya. Mari kita 
belajar bertumbuh satu sama lain. Forgiveness itu seperti mengeluarkan seorang 
tahanan dari penjara. Setelah dia keluar dari penjara, baru kita sadar tahanan 
itu adalah diri kita sendiri. Orang yang tidak sanggup bisa mengampuni orang 
lain, dia bukan melukai orang itu tetapi memenjara diri
 sendiri. Yang mengeluarkan kalimat itu adalah Lewis Smedes dalam bukunya 
“Forgiveness.” Maksudnya adalah saudara memberikan forgiveness itu bukan demi 
kebaikan orang itu tetapi demi kelegaan dan kelapangan hati saudara. Biarlah 
saudara belajar memberikan kesembuhan bagi dirimu sendiri. Hal yang salah, ada 
hal-hal yang luka, mungkin sudah tersimpan lama di dalam diri saudara tidak 
akan mungkin menghasilkan hubungan suami istri yang indah hari ini kalau 
saudara tidak belajar menyingkirkan dan membuang luka itu dari diri saudara. 
Winter Gibson mengatakan ada yang namanya realistic conflict dan unrealistic 
conflict. Unrealistic conflict adalah konflik yang bisa kita hindarkan di dalam 
hidup ini. Tidak semua peperangan di dalam hidup kita harus kita tempur. Kalau 
kita terus tempur, perang tidak ada habis-habisnya. Maka saudara harus “pick 
wise” peperanganmu. Contoh, kalau suamimu memang cara pencet odolnya sudah 
turun-temurun seperti itu, ya sudah jangan diributi.
   
  Realistic conflict itu yang bagaimana? Saya mendapatkan pelajaran yang sangat 
berarti sekali mengapa kita sering ribut dan konflik, karena sering kali kita 
tidak fokus kepada “need” tetapi kepada “solution.” Ini yang sering terjadi 
pada waktu suami dan istri ribut. Suami cenderung mau memberikan solusi untuk 
menghindari diskusi yang panjang. Akhirnya istri menjadi marah karena merasa 
suami tidak mendengar, padahal dia mungkin cuma ingin menyampaikan perasaan 
kepada suami. Pada waktu kita ingin menyelesaikan masalah, konflik akan selesai 
dan keributan tidak akan berlarut kalau kita fokus kepada “need” ketimbang 
“solusi.”
   
  Gibson memberi contoh, dua orang nun sama-sama hendak pergi keluar dari 
asrama untuk pelayanan. Satu nun pergi ke counter dan mengatakan dia mau pakai 
mobil untuk membesuk orang sekarang. Lalu suster yang satu lagi keluar dan 
mengatakan dia juga mau pakai mobil sekarang untuk keperluan emergency. Dua-dua 
ngotot mau pakai mobil yang sama. Sebenarnya konflik itu bisa selesai kalau 
kita melihatnya dengan cara seperti ini. Tanyakan kepada mereka, “You perlu 
mobil ataukah perlu transportasi?” Kalau mereka setuju sebetulnya yang mereka 
perlu adalah transportasi, mereka tidak perlu ngotot mau pakai mobil yang hanya 
satu itu, tetapi bisa dicarikan jalan keluar yang lebih baik. Misalnya, yang 
satu bisa pakai mobil, yang satu bisa dicarikan taksi. Itu namanya fokus kepada 
“need” ketimbang “solusi.” Kita menjadi ribut karena kita sudah terlebih dahulu 
memilih satu solusi dan mengira hanya satu solusi itu saja yang bisa kita 
ambil. Maka pada waktu konflik akan terjadi,
 mari kita belajar melihat “kebutuhan” bukan melihat “solusi,” barulah kita 
bisa mengembangkan satu komunikasi yang sehat. Bagaimana memiliki satu “good 
fight”? Alkitab tidak bilang kita tidak boleh marah. Alkitab bilang, jangan 
sampai matahari terbenam sebelum padam amarahmu. Ada yang bertanya, kalau 
marahnya pas malam hari, bagaimana? Maksudnya, marahmu jangan disimpan, jangan 
dibawa menjadi sesuatu hal yang berlarut-larut di dalam diri saudara.
   
  Norman Wright mengatakan di dalam mengekspresikan kemarahan ada 4 basic 
responses.
  1.         Supress it, menyimpan kemarahan. Biasanya orang itu tahu dia marah 
namun dia tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap emosi marah itu. Maka 
dia terus simpan, sampai suatu waktu dia tidak tahan lagi dan akhirnya meledak 
tidak terkontrol di dalam tindakan dan perkataannya.
  2.        Express it, mengekspresikan kemarahan. Orang yang bisa 
mengekspresikan marah adalah orang yang memperlihatkan ‘well-developed temper.’ 
Orang itu memakai kemarahannya untuk mengontrol situasi dan orang-orang di 
sekitarnya.
  3.        Repress it, kemarahan. Sering kali orang yang me-repress kemarahan 
akhirnya menjadi depresi karena kemarahan itu ditanam dalam-dalam di hatinya 
dan tidak pernah dibereskan dengan sehat. Orang yang kelihatannya lembut dan 
tenang tidak pernah memperlihatkan emosi marahnya, bahkan beralasan bahwa marah 
adalah dosa dan Tuhan tidak suka anak-anakNya marah.
  4.        Confess it, mengakui kemarahan. Ini adalah cara yang terbaik untuk 
meng-handle emosi marah sebelum dia meledak tak terkontrol, namun kita perlu 
hati-hati bagaimana mengakui kemarahan itu. Adalah baik jika kita mengatakan, 
“OK, you’re right. I really am in a bad mood tonight. Let me tell you why I’m 
so angry…” Dengan demikian pasanganmu akan mengerti dan mungkin akan bersimpati 
terhadap apa yang membuatmu frustrasi dan membantumu deal dengan perasaan marah 
itu.
   
  Maka untuk membangun satu komunikasi yang sehat di dalam hubungan kita 
sebagai suami dan istri, mari kita belajar menangkap feelingnya, belajar 
mengetahui apa yang kira-kira ada di belakang kalimat-kalimatnya, belajar 
memiliki satu body language yang baik di dalam berkomunikasi, belajar melihat 
“need” instead of “solution,” belajar menjadi orang yang memaafkan. (kz)
   
   
   
   
   
  Sumber:
  
http://www.griisydney.org/ringkasan-khotbah/2008/2008/12/21/membangun-komunikasi-yang-sehat/
   
   
  Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio


""Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di 
depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." 
(1Sam. 16:7b)

       
---------------------------------
  Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! 
 Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah

Kirim email ke