AKU ADALAH AKU

 

oleh: G.
I. Dedy Wikarsa, M.Th.

 

 

 

 

Firman Allah kepada Musa, “AKU
ADALAH AKU” (Kel. 3:14), telah ditafsirkan bermacam-macam. Ada yang
mengatakan bahwa perkataan itu adalah nama Allah, tetapi ada juga yang
mengatakan bahwa perkataan ini hanyalah suatu ungkapan yang menjelaskan arti
nama atau karakter Allah.

 

Untuk mengerti perkataan
ini, kita harus melihat konteksnya, yaitu pemanggilan dan pengutusan terhadap
Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Jawaban “AKU
ADALAH AKU” adalah jawaban Allah atas pertanyaan Musa, “Tetapi apabila aku
mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah
mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang
nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (Kel. 3:13). Pengetahuan
bahasa Ibrani akan menolong kita memahami apakah perkataan tersebut adalah
sebuah nama atau suatu ungkapan. 

 

Sebenarnya, pertanyaan Musa
di atas sama sekali tidak menanyakan nama, melainkan arti nama. Arti nama
sangatlah penting bagi orang Israel. Abram diganti menjadi Abraham.
Yakub diganti menjadi Israel. Sebuah nama mencerminkan karakter
orangnya. Pertanyaan Musa di dalam bahasa Inggris adalah “What (ma) is his
name?” Martin Buber mengatakan bahwa bahasa Ibrani yang dipakai di Alkitab
tidak pernah menggunakan kata ma untuk menanyakan nama seseorang,
melainkan menggunakan kata mi. Dengan demikian, pertanyaannya seharusnya
adalah “Who is he?” atau “Who is his name?” Pada saat kata “what” yang 
digunakan, maka yang
ditanyakan pemakainya adalah ekspresi atau ungkapan yang ada di balik sebuah
nama. Nama Allah sudah diketahui oleh bangsa Israel. Apa yang hendak mereka
ketahui adalah apakah arti nama tersebut. 

 

Terhadap pertanyaan ini
Allah memberikan dua jawaban. Jawaban pertama adalah “AKU ADALAH AKU.” (Ul.
3:14). Kita tidak perlu mencari-cari arti perkataan ini secara teologis atau
filosofis karena perkataan ini mengandung pengertian yang sangat sederhana.
Dalam bahasa Inggris perkataan ini diterjemahkan “I am who I am” )ehye )aser 
)ehye
Kata ini harus dimengerti dalam terang ayat 12. Allah menggunakan kata yang
sama pada waktu Ia berkata: “Aku ( )ehye ) akan menyertai
engkau.” Dengan demikian perkataan “AKU ADALAH AKU” dapat dimengerti sebagai
satu pernyataan Allah pada Musa bahwa Allah adalah AKU yang akan selalu
menyertai umatNya yang sedang berada di dalam perbudakan dan juga Allah adalah
AKU yang akan menyertai mereka. Dia juga adalah AKU yang selalu beserta dengan
mereka yang membutuhan pertolongan, baik sekarang maupun di kemudian hari.

 

Musa berusaha untuk mengerti
Allah melalui sebuah nama. Tetapi dari jawaban Allah sendiri dapat diketahui
bahwa Allah tidak dapat dibatasi di dalam sebuah nama. Pada waktu TUHAN
berkata, “AKU ADALAH AKU,” (I am who I am) dengan jelas Ia mengatakan bahwa
Allah tidak bisa dimengerti secara sempurna hanya dengan sebuah kata yang
memiliki pengertian yang sangat terbatas. Ia adalah Allah Yang Mahakuasa,
Mahaada, Mahabisa, Mahabenar, dan serba Maha. Cassuto, seorang penafsir
berkebangsaan Yahudi, menyimpulkan:

To Moses’ question: What shall I
say to them if they ask me for the name of Him that sent me, the reply is given
‘I am who I am’,the meaning of which is: Say this to the children of Israel,
I am (who I am) has sent me to you, that is, He who sent me
to you is the God who says of Himself, I am.

 

Perkataan TUHAN kepada Musa
ini mengingatkan kita kepada perkataan “AKU ADALAH” dari Tuhan Yesus Kristus
yang terkenal di dalam Injil Yohanes. Sama halnya dengan Allah Bapa, kita juga
tidak boleh membatasi Allah Putra hanya di dalam sebuah nama. Oleh sebab itu
Yesus Kristus berkata:

-        AKUlah Roti hidup (Yoh. 6:48).

-        AKUlah Terang dunia (8:12).

-        AKUlah pintu (10:9).

-        AKUlah Gembala yang baik (10:11).

-        AKUlah kebangkitan dan hidup (11:25).

-        AKUlah Jalan dan Kebenaran dan Hidup (14:6).

-        AKUlah Pokok Anggur yang benar (15:1).

 

Jawaban Allah yang kedua
kepada Musa berkenaan dengan pertanyaan Musa terdapat dalam ayat 15.
Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang
Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah
Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan
itulah sebutan-Ku turun-temurun.

 

Di sini Allah kita
menyebutkan namaNya yang sebenarnya. Nama Allah kita adalah Yahweh. Dengan
jelas Allah berkata bahwa Dialah Allah nenek moyang bangsa Israel, Allah
Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. TUHAN juga berkata: “Itulah nama-Ku
untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun temurun.” 

 

Nama Allah kita adalah TUHAN
atau Yahweh. Sedangkan “AKU ADALAH AKU” merupakan suatu ungkapan bahwa TUHAN
adalah Allah yang Mahakuasa dan Dia adalah Allah yang selalui menyertai
umatNya. Dan ini digenapi dengan datangnya sang AKU ke dalam dunia ini dan 
dinamakan
IMANUEL yang berarti: Allah beserta kita.

 

 

 

Sumber:

Buletin Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar
(GKJMB) No. 7 - Tahun 4, November 1999

www.gky.or.id

 

 

 

Profil
G. I. Dedy Wikarsa:

G.
I. Dedy Wikarsa, Sm.Th., M.Div., M.Th. adalah Dosen Paro-Waktu dalam bidang 
Bahasa Ibrani dan
Perjanjian Lama di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Beliau
menyelesaikan studi Sarjana Muda Theologi
(Sm.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Divinity 
(M.Div.) dan Master of Theology (M.Th.) di Reformed
Theological Seminary, Jackson, Mississipi, U.S.A.



“The evil in our desires often lies not in what we want, but in the fact that 
we want it too much.”
(Dr. John Calvin; paraphrased by Dr. David Powlison; as quoted in Rev. C. J. 
Mahaney, Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World, ed. C. J. 
Mahaney, p. 20)




Kirim email ke