GERAKAN BAKAR AL QURAN

"siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat
baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan
berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan
janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!
Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada
tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang
pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,
dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena
hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.
Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki
Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat." (1Petrus 3:13-17)

Pagi ini Senin 2 Agustus 2010,  ketika membuka komputer, penulis membaca dua
berita yang penting untuk direnungkan. Pertama seorang teman yang akan naik
pesawat dari Bandara Sukarno Hatta minggu malam menulis melalui
blackberrynya: "I heard to day in Bekasi there was a religion tension,
against church worship on the street of Batak Congregation." Kedua berita
Detik News, Senin, 02/08/2010, menulis artikel berjudul: Gereja di Florida
Prakarsai 'Gerakan Bakar Al Quran' yang dimulai dengan alinea berbunyi:
"Kerukunan antaragama di Amerika Serikat (AS) sedang mendapatkan cobaan.
Dove World Outreach Center, sebuah gereja perjanjian baru non-denominasi di
Gainesville, Florida, AS, akan menjadi tuan rumah 'Hari Pembakaran Al Quran
Internasional' dalam memperingati 9 tahun tragedi serangan 11 September
2001."

Kedua peristiwa itu menunjukkan bahwa semua agama tidak terkecuali Kristen
memiliki kelompok-kelompok yang berfikir menurut fanatisme yang sempit dan
sering bertindak ekstrim, dan kelompok-kelompok ekstrimis agamis itu merasa
diri mereka menjalankan perintah Tuhan dan ingin menghakimi semua yang tidak
mengikuti kehendak mereka tanpa memperhatikan konsekwensinya yang bisa
berdampak luas. Pada tahun 1995 di Pekalongan, ada berita berjudul
'OrangCina Merobek Al Quran.' Isu ini sempat menimbulkan huru-hara berbau
SARA di kota itu yang mengakibatkan puluhan toko-toko milik non-pri, gereja
dan kelenteng dirusak masa yang kemudian sempat menyebar ke beberapa kota
disekitarnya. Kalau merobek Al Quran saja bisa berdampak begini, bagaimana
kalau Al Quran dibakar?

Kasus rencana pembakaran Al Quran di Florida yang dilakukan oleh gereja
kecil dengan rata-rata 50 pengunjung setiap kebaktian itu, justru akan
mencoreng muka Yesus dan kekristenan, daripada menjadi kesaksian akan kasih
kristiani yang merupakan inti pesan kristen. Kita tidak perlu kuatir untuk
menyalahkan tindakan ceroboh gereja di Florida itu dan mendoakannya, bukan
karena sebagai minoritas di Indonesia umat kristen ingin mencari muka,
tetapi karena memang tindakan demikian berlawanan dengan 'kasih Injil.'
Sebaliknya, kitapun tidak perlu segan menyalahkan pelarangan ibadah maupun
pembakaran gereja!

Umat kristen tidak perlu ikut-ikutan dengan sentimen kelompok kecil di
Florida itu yang bukannya mengasihi melainkan melakukan tirani seperti yang
mereka salahkan sebagai dilakukan oleh pihak lain. Generalisasi merupakan
sikap ketakutan yang sering diidap oleh sebagian umat, sekalipun para
pengacau dan teroris meng'atas-nama'kan Allah dan agama Islam dalam tindakan
teror mereka, umat Kristen seharusnya meng'atas-nama'kan 'Allah yang kasih'
(Yoh.3:16). Sebagian besar umat Islam menyalahkan terorisme 11 September di
USA itu, demikian juga sebagian besar orang Amerika termasuk yang kristen
tidak menyalahkan Islam sebagai berada dibalik musibah itu, karena itu
mengkait-kaitkan terorisme itu dengan perilaku agama Islam sebagai
keseluruhan merupakan kekeliruan fatal, ini sama halnya kalau kita
menganggap semua gereja di Amerika Serikat mau membakar Al Quran sama
fanatiknya dengan gereja kecil di Florida itu.

Tidak kurang National Council of Churches in USA (NCC) maupun National
Association of Evangelical (NAE), demikian juga gereja terbesar di USA yaitu
Southern Baptist menyalahkan rencana gereja di Florida itu, demikian juga
gereja Katolik Roma di sana menyalahkan fanatisme sempit yang lebih
mencerminkan ketidak tahuan akan misi Injil daripada sebagai corong 'firman
Allah yang kasih.'

Memang di kalangan umat Kristen Amerika ada sebagian yang disebut sebagai
'Christian Zionist' yang bagaimanapun berusaha untuk membela Israel apapun
tindakan mereka dan menyalahkan negara-negara Arab yang dianggapnya Islam,
padahal umat kristen Palestinapun banyak yang dihambat oleh Israel juga.
Bagi mereka membela Israel adalah membela Allah, padahal Yesus Kristus yang
adalah Immanuel (Allah yang menyertai kita) selama pelayanannya tidak pernah
berurusan dengan berdirinya negara Israel, bahkan Tuhan Yesus pernah
menubuatkan kehancuran Jerusalem dan bukan membela Jerusalem secara politik
dengan menyalahkan orang-oprang Romawi, tetapi menjadikan kejadian itu
sebagai peringatan bagi bangsa Israel untuk bertobat, Jerusalem yang
membunuh nabi-nabi bahkan yang juga membunuh Yesus (yang adalah orang
Yahudi/Israel) yang adalah Allah yang menyatakan Diri itu.

Sebagai umat kristen, kita seharusnya menjadi penengah dan pendamai kedua
belah pihak, yang disatu sisi berfalsafah 'mata ganti mata, gigi ganti gigi'
dan lainnya berfalsafah 'perang jihad.' Umat kristen di ajarkan untuk
menjalankan perintah Yesus untuk mengasihi sesamanya (serahkan pipi kiri
kalau pipi kanan ditampar) dan mengajak mereka semua ke jalan keselamatan
melalui Yesus Kristus. Berpihak kepada salah satu pihak ekstrimis justru
berarti kita menyangkali dan tidak mentaati Injil kabar baik itu.

Peristiwa menarik terjadi beberapa tahun lalu di Ramallah ketika terjadi
perang antara tentara Israel dan pejuang Palestina. Pejuang Palestina yang
kalah persenjataannya terdesak dan masuk ke gereja 'Nativity' (gereja yang
dianggap tempat Yesus di lahirkan) di Betlehem. Israel menuntut agar gereja
menyerahkan pejuang Palestina yang bersembunyi namun gereja menolak.
Pemecahannya indah dan damai, yaitu para pejuang dibiarkan bebas pergi
keluar dengan meninggalkan senjata mereka. Inilah sikap kristiani yang perlu
kita praktekkan terus-menerus khususnya dalam konteks konflik Israel vs.
Palestina.

Dalam menghadapi isu Israel dan Hamas belakangan ini, tepat sikap tegas
Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI) yang menyalahkan Israel dan juga Hamas
dalam konflik Israel vs. Palestina, maka kitapun seharusnya bersikap menurut
kacamata Tuhan Yesus, yaitu tidak membela Israel dan menyalahkan Hamas dan
juga tidak membela Hamas dan menyalahkan Israel, melainkan menyalahkan
kesalahan yang dilakukan baik oleh Israel maupun Hamas, dan mendorong mereka
agar menjalankan perundingan yang kasih dan damai demi mencapai keadilan
Allah, sebab itulah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada para pengikutnya. Kita
tidak perlu memperluas perang Israel-Palestina seakan-akan itu perang agama
Yahudi melawan Islam, sebab itu perang perebutan tanah untuk eksistensi
kedua bangsa Israel dan Arab, Zionist Isarel yang sebagian besarnya sudah
sekular. Sekalipun Yesus diharapkan sebagai pembebas tanah Israel, Ia dengan
tegas memproklamiskan misinya karena 'Kerajaan Allah bukan Dari Dunia Ini!' 

Menghadapi ulang tahun peristiwa 11 September di USA, kita juga tidak perlu
memperluas seakan-akan itu perang agama Islam melawan agama Kristen, yang
jelas para teroris juga disalahkan oleh mayoritas umat Islam sendiri,
sedangkan diantara para korban juga ada yang beragama Yahudi, Islam,
Kristen, maupun Atheis. Yang jelas peristiwa 'nine-one-one' itu merupakan
pembalasan sekelompok teroris atas negara 'paman Sam' karena ulah USA yang
mati-matian ikut campur dalam konstelasi politik Timur Tengah demi
kepentingan politik minyaknya. Ingat, Amerikalah yang mempersenjatai Taliban
ketika mereka melawan Russia, dan sekarang memusuhi Taliban. USAlah (yang
lobi Yahudinya kuat) yang secara total mempersenjatai Israel dalam perang
Israel-Arab sampai sekarang, bahkan sekalipun USA mati-matian melawan
program nuklir Iran, USA tutup mata terhadap program nuklir Israel bahkan
mendukungnya.

Kenyataan kepongahan Amerika yang diserang dalam peristiwa 11 September
dapat dilihat dari kenyataan berikut: Penulis pernah berkunjung sampai ke
puncak gedung kembar World Trade Center di New York City, dan mendapat
brosur yang memang menggambarkan bahwa WTC merupakan kebanggaan 'uncle Sam,'
betapa tidak, cover brosur dimulai dengan judul besar berbunyi: 'The closest
some of us will ever get to heaven' (bagi orang Amerika, heaven bisa berarti
langit tapi juga surga) dan didalamnya ada tulisan: 'And in the evening,
please don't touch the stars.' Kebanggan diri ini tercermin dalam kotbah
tokoh Amerika sendiri, yaitu Billy Graham, yang dalam Memorial Service yang
khusus diadakan di Kathedral Episcopal Washington untuk memperingati
peristiwa itu dimana ia mengkotbahkan bahwa WTC merupakan gambaran kebanggan
orang Amerika yang selama ini menyombongkan kemajuan dan kemakmurannya,
tetapi semuanya itu dapat runtuh seketika seperti terlihat dengan hancurnya
kedua menara kembar itu, namun bila ia dibangun diatas fundasi yang kuat,
kita bisa membangunnya kembali dengan lebih kuat. Lalu Billy Graham
mengkaitkan pesan ini dengan Injil, bahwa adalah perlu memiliki fundasi iman
kristiani yang kuat untuk membangun Amerika Serikat!

Menjalani bulan menjelang peringatan 11 September, marilah kita berdoa
seperti Billy Graham agar rakyat Amerika menjadi seperti harapan Billy
Graham, dan menghadapi kasus gereja kecil di Florida yang ingin 'membakar Al
Quran' yang beritanya menghiasi surat kabar, you tube, dan milis-milis
saat-saat ini, marilah kita berdoa seperti doa Tuhan Yesus agar 'Allah Bapa
mengampuni mereka karena mereka tidak tahu akan apa yang mereka lakukan,'
dan marilah kita berdoa agar 'Roh Kudus menyadarkan mereka agar tidak
meneruskan rencana yang tidak masuk akal itu.' 

Amin.

Kirim email ke