SUSAHNYA SI KAYA KE SORGA
 
oleh: Pdt. Bigman Sirait
 
 
 
JUDUL di atas tentu saja tak berarti bahwa bagi si miskin terbuka jalan lebar 
menuju sorga. Juga bukan berarti bahwa pintu sorga tertutup bagi orang kaya. 
Jalan ke sorga, bukan soal orang kaya atau orang miskin, melainkan anugerah 
percaya kepada Yesus Kristus Tuhan. Kaya itu bukan dosa, tapi miskin juga bukan 
aib. Yang dosa, atau aib itu adalah sikap yang menomorduakan Tuhan. Kekayaan, 
memang piawai sebagai godaan, banyak orang yang terjatuh karenanya. Bahkan 
secara khusus Yesus Kristus mengingatkan dalam perumpamaan tentang penabur, 
seperti benih yang jatuh di semak berduri, maka kekhawatiran dan tipu daya 
kekayaan dunia, menghimpit dan mematikan benih itu (Mat. 13:22). Benih tak 
sempat bertumbuh, apalagi berbuah.
 
Adalah suatu tragedi, di mana kebanyakan orang Kristen yang rajin ke gereja 
hanya untuk kepuasan diri semata. Meriah di dalam gedung gereja, tapi nyaris 
tak berdaya dalam amuk dunia nyata, yang memang semakin hari terasa semakin 
menggila. Dan, lebih gila lagi, ketika kekayaan menjadi target dalam 
keberimanan pada Yesus Kristus yang justru mengkritisi kekayaan itu sendiri. 
Bahkan dengan suara membahana, banyak pengkhotbah berkata, “Kita harus kaya, 
sekali lagi harus kaya!” Ya, kaya itu jadi ukuran pembuktian bahwa kita anak 
raja. Itu kata mereka. Anjuran mereka sangat bertolak belakang dengan 
peringatan Yesus, yang bahkan hingga kematiaan-Nya, tak mewariskan harta benda 
apa pun juga, bahkan pada Maria, ibu-Nya. DIA hanya memercayakan Maria kepada 
Yohanes murid-Nya. Yohanes dipercaya untuk mengurus Maria di hari tuanya.
 
Kelihatannya, ajaran Yesus agak berbeda dengan kebanyakan pengkhotbah masa 
kini. Entah siapa yang salah, Anda harus belajar menelaah. Ingat kekayaan bukan 
dosa, namun menjadikannya inti ambisi, sungguh sulit dimengerti. Kekayaan 
sah-sah saja, namun itu adalah berkat Tuhan bagi orang yang diperkenan-Nya. 
Besar kecilnya, mutlak tergantung Tuhan, tapi di sisi lain, juga tak bisa 
dilupakan rajin dan malasnya tiap pribadi dalam berkarya. Ingat, Tuhan benci 
pada orang malas (Ams. 6:6). Apakah anak Tuhan bisa kaya? Ya tentu saja, tapi 
itu bukan tujuan utama, apalagi dijadikan keharusan dan pembuktian iman. 
Bagaimana mau kaya jika Tuhan mengutus seseorang ke pedalaman? Kalau sampai dia 
kaya, malah jadi tanda tanya. Tujuan hidup utama kita sebagai orang percaya 
adalah menyatakan kemulian Tuhan lewat hidup kita, dan menjadi berkat bagi 
banyak orang.
 
Mungkin ada yang berkata, “Bagaimana mau menjadi berkat jika kita miskin?” 
Sebuah pertanyaan yang sangat naïf dan bersifat membodohi! Apakah Yesus menjadi 
berkat karena DIA kaya, atau para rasul yang bukan tergolong kaya itu tidak 
menjadi berkat? Bacalah Kisah Para Rasul, dan simak ucapan Petrus di Bait Allah 
kepada seorang peminta-minta, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang 
kupunya kuberikan kepadamu. Demi nama Yesus Kristus orang Nazareth itu 
berjalanlah (Kis. 2:6).
 
Kekayaan utama mereka bukan harta, melainkan iman. Dan itulah kekayaan sejati 
yang harus dimiliki setiap orang percaya. Sementara, ada yang lain melihat 
kasus Lazarus si miskin masuk sorga, namun berkelit dengan berkata, “Lazarus 
duduk di pangkuan siapa?” Jawab mereka, “Di pangkuan Abraham, orang kaya”. 
Mereka lupa, Abraham memang kaya, tapi dikenal bukan sebagai orang kaya, 
melainkan orang beriman, bahkan menjadi bapa orang beriman. Ingat sekali lagi, 
kekayaan bukan tujuan utama, bahkan Abraham tak pernah mencanangkan itu, 
melainkan keberimanan. Kekayaan adalah bonus atas kerajinan, kesungguhan, 
kejujuran, dan tentu saja ketaatan pada firman Tuhan.
 
Karena itu tidak mengherankan jika Yesus juga berkata, “Bahwa orang kaya sukar 
masuk kerajaan sorga” (Mat. 19:23). Tapi orang kaya sukar masuk sorga bukan 
karena kekayaannya, melainkan sikap terhadap kekayaan itu. Kekayaan dijadikan 
ukuran iman, ukuran berkat Tuhan, dan akhirnya, percaya kepada Tuhan adalah 
mendapat kekayaan. Jika tidak kaya, Anda mengerti sendiri maknanya. Karena itu, 
menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama sangat mengerikan. Berkata, “Kita 
harus beriman, yaitu menjadi kaya”, tak lebih dari sugesti. Itu bukan iman, itu 
biasa dalam dunia psikologi, dalam dunia motivasi.
 
Abraham Maslow sebagai seorang ahli psikologi, bahkan mengatakan, motivasi 
hidup atau berkarya yang terendah pada manusia adalah, materi (sandang, pangan, 
papan). Bagi Maslow, yang tertinggi adalah self actualism, mengaktualisasikan 
diri dengan menjadikan diri berarti bagi orang lain. Orang yang tak berpikir 
pada tahap apa yang bisa didapatnya, melainkan apa yang bisa diperbuatnya bagi 
orang lain. Maslow berbicara bukan sebagai pendeta. Bagaimana mungkin pendeta 
berpikir dengan nilai hidup di bawah Maslow? Padahal Injil lebih tinggi dari 
apa yang digambarkan Maslow, yakni seperti Kristus yang memberikan diri-Nya 
mati di kayu salib, untuk menebus manusia yang berdosa agar tak binasa. Dan 
Yesus meminta pengikut-Nya untuk hidup menyangkal diri, memikul salib, dan 
mengikut DIA.
 
Hidup orang percaya sudah sungguh amat berbahagia karena telah menerima 
penebusan dosa. Amat berbahagia, karena mewarisi kekekalan kerajaan sorga. Amat 
berbahagia, karena bukan nanti, di sana, tapi sekarang, di sini, hidup orang 
percaya dipelihara dan terpelihara senantiasa. Orang percaya bahagia bukan 
karena kaya, karena kaya adalah bonus semata. Alangkah mulianya hati orang 
percaya, sehingga kekayaan tak pernah mampu menggodanya, apalagi membuatnya 
menjadi berdosa. Awas, peringatan Yesus tentang kekayaan tentu saja sangat 
serius, patut diperhatikan. Tapi sebaliknya, anjuran untuk mengimani hal 
menjadi kaya bisa jadi virus, patut dihindari.
 
Sekali lagi ingat kekayaan hanyalah bonus, seperti yang dikatakan-Nya, “Carilah 
dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya akan ditambahkan 
kepadamu” (Mat. 6:33). Cari yang disuruh-Nya, tunggu yang dijanjikan-Nya, atau 
Anda akan terpeleset, dan mendapat murka-Nya, karena salah menentukan arah. 
Anda bukan orang dunia, yang menjadikan kekayaan tujuan utama, ambisi untuk 
kaya, apalagi meyakini harus menjadi kaya dengan merohanikannya. Anda, adalah 
orang percaya yang percaya pada pemeliharaan Allah, lakukan kehendak-Nya. Jika 
kekayaan menyusul, ia akan datang jika itu yang Tuhan mau, karena semua yang 
datang berasal dari DIA (Ams. 22:2). Selamat menjadi kaya tanpa harus 
menomorsatukannya, apalagi menjadikannya tujuan utama. Selamat menjadi kaya 
karena Anda dikasihi-NYA. Ini sangat berbeda, pikirkanlah dengan bijaksana, 
atau Anda akan sukar masuk kerajaan sorga.
 
 
 
 
Sumber: 
http://www.reformata.com/02692-susahnya-si-kaya-ke-sorga.html
 
 
 
Profil Pdt. Bigman Sirait:
Pdt. Bigman Sirait adalah Ketua Sinode dan gembala sidang Gereja Reformasi 
Indonesia (GRI) Antiokhia, Jakarta (www.gri.or.id) sekaligus sebagai Pemimpin 
Umum Tabloid Reformata. Beliau mendirikan Yayasan MIKA yang bergerak dalam 
dunia pendidikan dengan Sekolah Kristen Makedonia, di Kalimantan Barat. Beliau 
saat ini sedang mengambil studi Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah Tinggi 
Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta.


“The evil in our desires often lies not in what we want, but in the fact that 
we want it too much.”
(Dr. John Calvin; paraphrased by Dr. David Powlison; as quoted in Rev. C. J. 
Mahaney, Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World, ed. C. J. 
Mahaney, p. 20)




Kirim email ke