CHRIST CENTERED CHRISTIAN FAITH
 
oleh: Denny Teguh Sutandio
 
 
 
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu 
tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas 
Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, 
dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Hati-hatilah, supaya jangan ada 
yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran 
turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”
(Kol. 2:6-8)
 
 
 
KRISTEN: ASAL MULA DAN ARTINYA
Nama Kristen pada mulanya adalah sebutan yang dikenakan kepada jemaat di 
Antiokhia (Kis. 11:26). Kata Yunani yang dipakai adalah Christianos (Inggris: 
Christians) yang berarti pengikut Kristus. Nama ini sebenarnya merupakan 
panggilan/sebutan dari orang-orang Antiokhia pada waktu itu kepada jemaat 
Kristus di sana (seperti memanggil para pengikut Herodes sebagai Herodian, 
dll). Lambat laun, nama Kristen ini akhirnya dipergunakan oleh jemaat Antiokhia 
untuk menyebut diri mereka sendiri. Pada zaman dahulu, ketika mereka menyandang 
nama Kristen, orang-orang di luar sudah mengetahui bahwa mereka adalah para 
pengikut Kristus atau istilahnya Kristus-kristus kecil, seseorang yang 
menampilkan Kristus secara terbuka kepada orang lain. Tidak heran, di zaman 
gereja mula-mula, mereka yang berani menyebut diri Kristen kebanyakan akan 
menderita aniaya, entah itu difitnah, dibunuh, dll, karena sikap hidup mereka 
berlawanan dengan sikap hidup dunia di mana mereka hidup
 dan tinggal. 
 
 
KRISTEN: SEBUAH REALITAS MENGENASKAN
Jika pada awal sebutannya, Kekristenan begitu indah dan banyak pengikut-Nya 
berani mati demi Kristus, namun sejarah kemudian membuktikan hal yang 
benar-benar mengenaskan. Nama Kristen yang begitu agung mulai diselewengkan 
dari zaman ke zaman. Dosa mengakibatkan penyimpangan signifikansi sebutan 
Kristen ini, sehingga tidak heran, makin hari kita melihat banyak orang Kristen 
yang tidak layak lagi disebut Kristen atau pengikut Kristus, karena mereka 
hidup di luar Kristus, meskipun masih terlihat seolah-olah rajin beribadah di 
gereja. Di dunia ini, hanya ada dua macam iman (Kristen), yaitu iman yang 
berpusat kepada Allah/Kristus vs iman yang TIDAK berpusat kepada Kristus. Iman 
yang tidak berpusat kepada Kristus, menurut Rev. Prof. Michael S. Horton, 
Ph.D., disebut sebagai Christless Christianity (Kekristenan yang tanpa 
Kristus). Jika orang Kristen tidak memusatkan imannya kepada Kristus, maka apa 
yang menjadi pusat iman mereka?
 
Pertama, human centered faith (iman yang berpusat kepada manusia). Iman ini 
ditandai dengan hal-hal yang berkaitan dengan manusia (entah itu rasio, 
perasaan, dll) yang menjadi berhala dalam iman dan kehidupan banyak orang 
Kristen. Biasanya banyak orang Kristen model ini meskipun terlihat alim dan 
rohani di dalam gereja, rajin melayani Tuhan, namun mereka sebenarnya lebih 
mementingkan hal-hal seperti: rasio, perasaan, dll. Mereka hanya mau menerima 
Kekristenan jika Kekristenan itu cocok dengan kemauannya, entah itu rasio atau 
perasaannya. Sebagai contoh, kita menjumpai perkataan, “Wah, hari ini, 
khotbahnya gak enak, gak ada humornya” atau mungkin sekali seorang pemimpin 
gereja melontarkan pernyataan, “Alkitab itu hanya berisi firman Allah, oleh 
karena itu Alkitab bisa salah.” Atau mungkin seorang Kristen bisa berkata, 
“Wah, gereja ini kuno, tidak ada ‘roh kudus’ (=maksud sebenarnya tidak ada 
musik band-nya).” Berbagai cara dilakukannya
 agar orang Kristen tersebut dapat memuaskan keinginan telinganya (2Tim. 
4:3-4), salah satu caranya adalah dengan mencari gereja yang cocok dengan 
keinginan telinganya. Seorang Kristen bisa dengan mudahnya berpindah gereja 
dengan alasan yang sungguh pragmatis, yaitu musik gereja. Akibatnya, makin 
seorang Kristen beribadah, makin mereka membius diri dengan kesenangan 
“rohani”, lalu kemudian setelah pulang dari gereja, mulai hari Senin s/d Sabtu, 
mereka menjalani kehidupan mereka seperti biasa yang tanpa Kristus di dalamnya, 
kemudian hari Minggu berikutnya, membius diri kembali di gereja, dst. Tidak 
usah heran, Kekristenan model ini jika diserang oleh filsafat dunia misalnya 
dengan merebaknya buku The Da Vinci Code, Misquoting Jesus, dll, banyak dari 
mereka kaget, lalu beberapa pemimpin gereja mereka mengindoktrinasi jemaatnya 
untuk tidak membaca buku-buku tersebut, tanpa memberi tahu alasannya dengan 
jelas. Bagi saya, iman model ini adalah iman
 pokoke. Orang Kristen model ini hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan si 
pemimpin gereja (membeo), tanpa mau mengujinya berdasarkan Alkitab, karena bagi 
mereka, yang dikatakan di atas mimbar identik dengan Alkitab yang tidak bisa 
bersalah.
 
Selain emosi, banyak orang “Kristen” yang memusatkan imannya pada kehebatan 
diri. Peluang empuk ini ditangkap dan direalisasikan oleh banyak motivator, 
lalu kemudian mereka membentuk pelatihan motivasi yang beridekan Gerakan Zaman 
Baru. Pelatihan ini eksplisit maupun implisit mengajarkan bahwa di dalam diri 
manusia ada sebuah kekuatan yang luar biasa yang sedang tidur (ide Gerakan 
Zaman Baru yang merupakan pencampuran: monisme dan pantheisme), sehingga 
kekuatan ini harus dibangunkan, maka diperlukan teriakan-teriakan seperti, 
“Dahsyat!”, “Sukses adalah hak saya!”, “miskin adalah dosa”, dll. Tidak heran, 
sesuatu yang membuat manusia merasa diri hebat ini begitu laris diminati oleh 
banyak orang “Kristen” hari-hari ini, bahkan yang mengenaskan seorang motivator 
bisnis diundang berbicara di dalam seminar di sebuah gereja.
 
Kedua, worldly centered faith (iman yang berpusat pada duniawi). Selain 
berpusat pada manusia, ada juga tipe orang “Kristen” yang beriman kepada 
hal-hal duniawi, meskipun mengaku aktif melayani Tuhan di gereja. Iman yang 
berpusat kepada hal-hal duniawi ditandai dengan orientasi hidup mereka yang 
lebih mementingkan hal-hal duniawi ketimbang Kerajaan Allah. Misalnya, ada 
orang “Kristen” yang mati-matian gila uang, sehingga setiap hari dari Minggu 
s/d Sabtu dari pagi sampai malam dipergunakan untuk mencari dan menghitung 
uang. Dia tidak akan ingat lagi untuk pergi ke gereja di hari Minggu atau 
mungkin sekali dia masih ingat pergi ke gereja di hari Minggu, namun ia akan 
berusaha mencari gereja yang menyelenggarakan kebaktian/ibadah secepat mungkin 
(jika mungkin hanya 1 jam saja), karena waktu selanjutnya dipergunakan untuk 
mencari dan menghitung uang kembali. Jangankan orang Kristen, beberapa pemimpin 
gereja pun tidak luput dari iming-iming hal-hal
 duniawi ini. Seorang pebisnis Kristen pernah berujar bahwa hari-hari ini, 
bisnis apa saja gagal, hanya satu yang tidak bisa gagal, cho (cari untung di) 
gereja. Gimana cara bisnis di dalam gereja? Mudah, cukup menyewa satu tempat 
yang strategis, undanglah pengkhotbah yang top, jangan lupa juga undang artis 
Kristen yang top juga, supaya peserta/jemaat yang hadir juga banyak, kemudian 
setelah itu, tinggal memberi honor bagi si pengkhotbah dan artis top tersebut. 
Setelah gereja ini berkembang pesat, kemudian ada beberapa anak buah si 
pemimpin gereja ini tidak puas dengan pemimpinnya, sehingga beberapa anak 
buahnya memberontak dan akhirnya mendirikan gereja sendiri. Mengapa mereka 
tidak puas? Tidak puas dengan ajaran si peimpin? Bukan! Kebanyakan mereka tidak 
puas karena mereka tidak mendapat kedudukan yang sama untungnya dengan si 
pemimpin gerejanya. 
 
Selain uang, orang Kristen yang beriman duniawi itu ditandai dengan 
memberhalakan tradisi nenek moyang. Mereka berani mengklaim diri sebagai orang 
Kristen, bahkan beberapa di antara mereka berani membagikan iman Kristen 
khususnya doktrin tertentu yang dipercayainya kepada orang non-Kristen atau 
orang Kristen dari gereja yang berbeda darinya, namun sayang, imannya jika 
diteliti bukan lagi berpusat kepada Kristus, namun kepada tradisi nenek moyang. 
Segala sesuatu dalam hidupnya ditentukan bukan apa yang Alkitab katakan, tetapi 
apa yang tradisi katakan, bahkan yang lebih celaka lagi, apa yang shio katakan. 
Orangtua “Kristen” yang melihat lawan jenis anaknya bukan ditanya apa imannya, 
tetapi apa shionya, kemudian dilihat tanggal dan bulannya, lalu bertanya kepada 
orang-orang yang mengerti shio. Jika si lawan jenis dan si anak shionya jiong, 
maka si orangtua “Kristen” mati-matian memisahkan si anak dari lawan jenisnya. 
Ada juga orangtua “Kristen”
 yang masih melihat hari baik ketika hendak menikahkan anaknya. Bagi orang ini, 
khotbah di atas mimbar hanya cocok didengarkan, namun tidak untuk 
diaplikasikan, karena yang terpenting dalam hidup orang ini adalah tradisi 
nenek moyang yang sudah mendarah daging dalam dirinya. Orang seperti ini masih 
layakkah disebut Kristen??
 
 
KRISTEN: SEBUAH PANGGILAN UNTUK MEMUSATKAN HIDUP HANYA PADA KRISTUS 
Sebuah tragedi mengenaskan terjadi pada banyak orang Kristen di zaman 
postmodern ini menyadarkan kita bahwa 2 ciri khas tersebut bukanlah apa yang 
Tuhan inginkan pada diri orang Kristen. Tuhan membenci perzinahan rohani (Kel. 
20:3)! Oleh karena itu, sudah saatnya orang Kristen kembali kepada Alkitab, 
kembali melihat apa yang Tuhan inginkan pada diri orang Kristen SEJATI. Oleh 
karena itu, marilah kita menyimak apa yang Tuhan melalui Paulus ajarkan kepada 
kita di dalam Kolose 2:6-8:
Pertama, hidup di dalam Kristus (ay. 6b). Di dalam Kolose 2:6a, Paulus telah 
mengingatkan jemaat Kolose (termasuk kita) bahwa mereka (kita) telah menerima 
Kristus Yesus sebagai Tuhan, maka ia memerintahkan (bentuk imperatif) kita 
untuk hidup di dalam Kristus. Kata Yunani yang dipakai di sini adalah 
peripateō. Beberapa terjemahan Inggris menggunakan kata walk in Him (berjalan 
di dalam-Nya). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear 
Yunani-Indonesia menerjemahkannya, “hendaklah tetap hidup.” Di sini, kita 
diajar bahwa iman Kristen bukan hanya sekadar pengakuan secara mulut saja, 
namun juga pengakuan secara hidup, artinya hidup kita adalah hidup di dalam 
Kristus. Hidup di dalam Kristus berarti hidup berada di dalam wilayah kekuasaan 
Kristus di mana Kristus bertakhta sebagai Raja. Lalu, bagaimana hidup 
me-Raja-kan Kristus? Pada poin berikutnya akan dibahas.
 
Kedua, berakar dan dibangun di dalam-Nya (ay. 7a). Jika di ayat 6b, Paulus 
menggunakan kalimat aktif menurut struktur bahasa Yunani, maka di ayat 7 ini, 
ia menggunakan kalimat pasif. Menurut InterVarsity Press Bible Background: New 
Testament, penggunaan analogi agrikultural ini mengingatkan kita akan janji 
Tuhan di dalam Perjanjian Lama bahwa jika mereka mematuhi Tuhan, mereka akan 
mengambil akar, ditanam, dibangun, dll. Dengan kata lain, mulai tahap ini, 
Kristus yang menguasai seluruh aspek kehidupan kita. Kristus akan membuat kita 
berakar terus di dalam Dia dan dibangun di dalam-Nya melalui firman-Nya, 
Alkitab. Penyelidikan yang tuntas dan teliti akan Alkitab mengakibatkan kita 
makin lama makin mensyukuri anugerah-Nya dan memusatkan hidup kepada Kristus. 
Selain itu, penyelidikan akan Alkitab dengan tuntas dan menyeluruh 
mengakibatkan kita makin terus mengerti signifikansi menjadi pengikut Kristus 
di tengah arus dunia yang menyesatkan ini, yaitu menjadi
 garam dan terang bagi dunia (Mat. 5:13-16). Atas anugerah-Nya, orang Kristen 
terus-menerus berusaha menghadirkan cahaya Injil Kristus di setiap aspek 
kehidupannya (baik secara hati, pemikiran, perkataan, sikap, dll), sehingga 
orang lain melihat betapa mulia Kristus dan kemudian atas anugerah-Nya, orang 
lain tersebut banyak yang bertobat. Dengan kata lain, hidup yang berakar dan 
dibangun di dalam-Nya merupakan sebuah hidup yang berkelanjutan di dalam 
pengenalan akan Kristus dan Alkitab.
 
Ketiga, semakin diteguhkan dalam iman (ay. 7b). Setelah kita hidup di dalam 
Kristus dan tentunya berakar dan dibangun di dalam-Nya melalui Alkitab, maka 
Paulus mengingatkan kita bahwa kita perlu semakin diteguhkan di dalam iman. Di 
ayat 7b ini, kembali, Paulus tetap menggunakan bentuk pasif, yaitu BUKAN kita 
yang semakin berteguh imannya, tetapi iman kita yang diteguhkan. Siapa yang 
meneguhkan iman kita? Tentu Roh Kudus yang akan meneguhkan iman kita di dalam 
Kristus. Di sini kita melihat kesinambungannya. Kita bukan hanya makin mengerti 
Alkitab, tetapi kita juga dimampukan oleh Roh Kudus untuk berdiri teguh di 
dalam iman di dalam Kristus. Ada unsur pengetahuan doktrinal yang ketat, tajam, 
dan luas, namun juga ada unsur keteguhan iman yang kokoh. Beberapa orang 
Kristen bahkan pemimpin gereja menyelidiki Alkitab sampai tingkat doktoral, 
namun hati dan imannya kering, karena penyelidikan Alkitab yang dilakukannya 
hanya untuk memenuhi pikirannya saja.
 Paulus mengingatkan kita agar iman kita juga diteguhkan di dalam Kristus, 
sehingga antara rasio dan hati bekerja simultan. Makin belajar Alkitab, makin 
melihat keagungan, keindahan, kekonsistenan, kejujuran, dan kekokohan berita 
Alkitab melampaui semua agama, filsafat, tradisi, kebudayaan, sains, dan ilmu 
lainnya. Orang Kristen yang dengan mudahnya meninggalkan iman Kristennya hanya 
demi jabatan di kantor/perusahaan atau demi pasangan hidupnya sebenarnya 
merupakan orang Kristen yang belum mengerti keagungan dan kedahsyatan kuasa 
Injil Kristus. Bersyukurlah jika Anda hari ini masih beriman Kristen, karena 
Roh Kudus yang menguatkan iman Anda kepada Kristus.
 
Keempat, hidup bersyukur (ay. 7c). Orang Kristen tidak hanya dituntut untuk 
belajar firman Tuhan secara ketat dan bertanggungjawab, namun juga harus 
bersyukur. Di ayat ini, Paulus mengingatkan kita untuk bersyukur atas 
anugerah-Nya. Di 1 Tesalonika 5:18, Paulus juga menasihati jemaat Tesalonika 
untuk mengucap syukur dalam segala hal. Mengapa kita harus bersyukur? Dengan 
bersyukur: kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan 
kita bukanlah karena kehebatan kita, namun karena anugerah-Nya saja dan juga 
kita semakin terus bergantung pada kemurahan anugerah-Nya yang berdaulat yang 
memimpin hidup kita.
 
Kelima, tidak ditipu oleh arus dunia (ay. 8). Setelah kita hidup di dalam 
Kristus, berakar di dalam-Nya, bertambah teguh di dalam iman kepada-Nya, 
bersyukur, maka di poin terakhir yaitu ayat 8 ini, Paulus mengingatkan kita 
agar kita tidak ditipu/disesatkan oleh arus dunia. Dengan kata lain, melalui 
ayat ini, Paulus mulai mengajak jemaat Kolose (dan kita juga) untuk berwaspada 
terhadap dunia sekitar (beserta filsafat di baliknya) di mana kita hidup dan 
tinggal. Apa saja yang ditawarkan oleh dunia? Menurut IVP Bible Background: New 
Testament, Paulus membagikannya ke dalam dua hal: filsafat dan ajaran 
turun-temurun (tradisi). Menurut konteks surat Kolose ini, jemaat di sana 
menghadapi beragam filsafat Yunani (menurut Albert Barnes di dalam tafsirannya 
Albert Barnes’ Notes on the Bible menyebutkan adanya filsafat Yunani: Gnostik) 
dan juga tradisi Yudaisme yang kental. Nah, menurut Paulus, baik filsafat 
maupun tradisi ini sama-sama berasal dari roh-roh
 dunia (yang jahat) yang tidak menurut Kristus. Dengan menyebut filsafat dan 
tradisi, sebenarnya Paulus hendak mengajar dua macam penekanan dalam hidup 
seseorang: rasio dan mistik. Orang Yunani (nantinya memengaruhi dunia Barat) 
menekankan pentingnya rasio dan orang Yahudi (nantinya memengaruhi dunia Timur) 
menekankan pentingnya tradisi atau kebudayaan (yang juga mengandung unsur-unsur 
mistik terselubung). 
 
Apakah berarti melalui ayat 8 ini, Paulus memerintahkan kita untuk membuang 
semua filsafat dan tradisi? TIDAK. Melalui ayat ini, Paulus tidak memerintahkan 
kita untuk anti filsafat dan tradisi, tetapi ia mengajar kita untuk jangan 
sampai ditipu dan disesatkan oleh filsafat dan tradisi yang berasal dari 
roh-roh jahat yang melawan Kristus. Di dalam iman Kristen berdasarkan 
perspektif theologi Reformed, kita menghargai filsafat dan tradisi sebagai 
respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah, namun penghargaan tersebut 
sebatas penghargaan, bukan pemberhalaan! Mengapa? Karena meskipun sebagai 
respons manusia terhadap wahyu umum Allah, respons tersebut tetap adalah sebuah 
respons berdosa dari manusia yang sudah berdosa, sehingga hasil akhirnya pun 
tetap berdosa. Oleh karena itu, diperlukan wahyu khusus Allah yaitu Kristus dan 
Alkitab untuk menebus respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah 
tersebut sehingga dapat memuliakan Allah. Iman Kristen
 yang beres adalah iman Kristen yang TETAP menghargai signifikansi tradisi dan 
filsafat, namun TIDAK pernah memberhalakannya, karena jika sampai 
memberhalakannya, itu sudah termasuk dosa, karena dosa, menurut Rev. Prof. 
Cornelius Van Til, Ph.D., berarti menggeser otoritas Allah dan menggantikannya 
dengan otoritas manusia.
 
 
KESIMPULAN DAN TANTANGAN
Setelah merenungkan realitas yang mengerikan dari Kekristenan zaman postmodern 
ini dan panggilan untuk memusatkan iman kita kepada Kristus, apa yang menjadi 
reaksi kita? Apakah kita menyadarinya dan kemudian bertobat? Ataukah kita cuek? 
Biarlah Roh Kudus memakai perenungan singkat ini untuk menyadarkan dan memimpin 
iman kita terus-menerus untuk berpusat HANYA kepada Kristus. Amin. Soli DEO 
Gloria.


“The evil in our desires often lies not in what we want, but in the fact that 
we want it too much.”
(Dr. John Calvin; paraphrased by Dr. David Powlison; as quoted in Rev. C. J. 
Mahaney, Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World, ed. C. J. 
Mahaney, p. 20)




Kirim email ke