WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-6:
Eden dan Dosa-5: Kebingungan Ordo
 
oleh: Denny Teguh Sutandio
 
 
 
Nats: Kejadian 3:6b
 
 
 
 
Setelah melihat bahwa buah pohon pengetahuan baik dan jahat, apa yang Hawa 
lakukan kemudian? Alkitab mencatat, “Lalu ia mengambil dari buahnya dan 
dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, 
dan suaminyapun memakannya.” (Kej. 3:6b) Alkitab memberi tahu kita bahwa Hawa 
lalu mengambil buah tersebut dan memakannya. Apakah cukup hanya mengambil dan 
memakan buah tersebut? TIDAK. Alkitab mencatat kembali bahwa Hawa akhirnya 
memberikan buah tersebut ke suaminya dan suaminya itu memakannya. Pertanyaan 
lebih lanjut, mengapa si Adam mau menerima buah yang diberikan oleh Hawa dan 
yang lebih parah lagi ikut memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat 
tersebut? Bukankah Adam sudah mendapatkan perintah dan larangan dari Allah 
sendiri untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat (Kej. 
2:17)? Allah sudah memberi perintah kepada Adam, supaya Adam nantinya memberi 
tahu Hawa, namun semuanya menjadi kacau dan
 Adam akhirnya mendengarkan perkataan Hawa. Di sini, kita melihat bahwa dosa 
mengakibatkan adanya kebingungan ordo/urutan. Allah telah menetapkan urutan:
Allah
▼
Pria
▼
Wanita
▼
Makhluk lain (hewan dan tumbuhan)
▼
Alam dan Iblis
 
 
Meskipun pria dan wanita diciptakan setara oleh Allah, namun Allah menetapkan 
ordo bahwa pria di atas wanita. Mengapa? Apakah ini tidak adil? TIDAK. Di dalam 
seluruh Alkitab, kita mencatat konsistensi pengajaran ini. Di dalam Perjanjian 
Lama, kita menjumpai bahwa Allah memilih banyak hakim dan raja bagi Israel 
selalu pria, dalam beberapa kasus, Ia mengizinkan munculnya Debora sebagai 
nabiah sekaligus hakim di Israel (Hak. 4:4) justru untuk mempermalukan pria 
yang waktu itu (Barak) seorang pengecut. Di dalam Perjanjian Baru, hal ini 
menjadi lebih jelas. Di dalam Efesus 5:23, Tuhan melalui Rasul Paulus mengajar 
kita, “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala 
jemaat.” Kata “suami” dan “istri” di dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya bisa 
diterjemahkan pria (man) dan wanita (woman), sehingga dapat diterjemahkan bahwa 
pria adalah kepala wanita sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Oleh 
karena itu, sebagai
 implikasinya, Paulus mengajar dua poin: “Karena itu sebagaimana jemaat tunduk 
kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu” (Ef. 
5:24) dan “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi 
jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef. 5:25) Berarti, istri/wanita 
harus tunduk kepada suami/pria seperti jemaat tunduk kepada Kristus, namun 
sebaliknya, si pria/suami harus mengasihi wanita/istrinya seperti Kristus 
mengasihi jemaatnya. Mana yang lebih dahulu? Tentu pria harus terlebih dahulu 
mengasihi wanita, karena Kristus terlebih dahulu mengasihi jemaat-Nya, sehingga 
jemaat-Nya dapat tunduk kepada Kristus.
 
Setelah pria di atas wanita, maka ordo selanjutnya adalah pria dan wanita 
berada di atas makhluk ciptaan lain, yaitu hewan dan tumbuhan. Mengapa 
demikian? Karena Allah menciptakan hewan dan tumbuhan bagi manusia, sehingga 
manusia diberikan kebebasan oleh Allah untuk membunuh hewan untuk dimakan 
dagingnya dan memotong tumbuhan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. 
Orang Kristen bukanlah orang yang vegetarian alias herbivora (pemakan 
tumbuh-tumbuhan), tetapi omnivora, karena segala sesuatu halal di hadapan 
Allah. Saya pribadi heran dengan para vegetarian. Saya memperhatikan fakta di 
Pasar Atum, Surabaya, ada yang menjual makanan vegetarian, tetapi di situ juga 
tersedia makanan yang notabene ada dagingnya, ternyata ketika diselidiki itu 
bukan daging sungguhan, tetapi daging tipuan (kalau dimakan seperti daging, 
tetapi itu sebenarnya hanya dibuat dari tepung). Seorang vegetarian adalah 
seorang yang tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Kalau mereka
 mau konsisten, mengapa mereka membuat makanan daging tiruan? Itu sama sekali 
tidak berguna. Meskipun kita diizinkan membunuh binatang, mengutip Pdt. Dr. 
Stephen Tong yang mengutip perkataan seorang penginjil, kita tetap tidak boleh 
menyiksa binatang, seperti menggunting kaki nyamuk, dll.
 
Kemudian, manusia berada di atas iblis, karena manusia diciptakan segambar dan 
serupa dengan-Nya, sedangkan iblis hanya berbentuk roh. Sekadar intermeso, Pdt. 
Dr. Stephen Tong di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) 2010: Rahasia 
Kemenangan dalam Cinta dan Seks Menuju Pernikahan memaparkan perbedaan manusia, 
binatang, dengan roh/malaikat (termasuk setan): manusia memiliki cinta dan 
seks; binatang memiliki seks, namun tidak memiliki cinta; sedangkan 
roh/malaikat memiliki cinta, namun tidak memiliki seks. Konsep manusia di atas 
iblis menjadi jelas tatkala ordo ini berlaku bagi orang Kristen, manusia 
Kristen sejati jelas berada jauh di atas iblis, bukan karena kehebatan manusia, 
namun karena Kristus telah mengalahkan setan dan kuasanya melalui karya 
penebusan-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati (1Kor. 
15:55-57; 1Ptr. 5:8-9).
 
 
Ordo yang begitu jelas ini akhirnya dirusak oleh dosa, sehingga di Taman Eden 
yang terjadi:
Alam/iblis/makhluk lain (hewan/tumbuhan)
▼
Wanita
▼
Pria
▼
Allah
 
Wanita bukan mendengarkan perkataan Allah, namun mendengarkan perkataan iblis. 
Begitu juga halnya dengan si pria yang malahan mendengarkan perkataan si 
wanita. Dan akhirnya Allah berada di posisi paling bawah yang tidak didengarkan 
perintah dan larangan-Nya. Mengapa semua ini bisa terjadi? Karena mereka hidup 
terlepas dari Allah. Mereka lebih menaati apa yang iblis katakan melalui 
“kebenaran” yang ditawarkannya, sehingga makin hidup mereka terlepas dari 
Allah, hidup mereka akan makin kacau dan tidak menentu. Orang sekuler, modern, 
apalagi yang baru-baru ini beredar paham Atheisme baru (New Atheism) selalu 
menganggap bahwa agama itu hanya candu dan merupakan sesuatu yang jahat yang 
harus dibasmi, namun mereka tidak pernah menyadari bahwa ketika Allah 
dihilangkan dari hidup mereka, hidup mereka bukan tambah baik, tetapi tambah 
rusak dan kacau. Tidak usah jauh-jauh, gara-gara ngotot menganut feminisme 
radikal, dunia kita makin lama makin kacau, negara
 kita yang dahulu pernah diperintah oleh seorang presiden wanita, apakah tambah 
beres? TIDAK! Benarlah apa yang dikatakan oleh penulis kitab Amsal, “TUHAN 
membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik 
dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” (Ams. 16:4) Makin seseorang (jika bukan umat 
pilihan-Nya) hidup terlepas dari Allah, percayalah, pelan namun pasti, Tuhan 
akan menunjukkan kedaulatan-Nya dengan membiarkan orang tersebut binasa 
selama-lamanya.
 
 
Apa akibat dari kebingungan ordo ini?
Pertama, suara Allah diacuhkan. Kalau kita membaca kembali Kejadian 3:6, tidak 
ada indikasi sedikitpun baik Adam maupun Hawa menyadari peringatan Allah, 
sehingga mereka akhirnya tidak jadi memakan buah tersebut. Mereka semuanya 
telah hanyut oleh tipuan iblis. Tidak cukup di situ, keturunan langsung dari 
Adam dan Hawa pun meniru orangtuanya. Ketika Kain marah karena korban 
persembahannya tidak diindahkan Tuhan, sedangkan korban persembahan Habel 
diindahkan Tuhan, Tuhan masih mengingatkan Kain akan dosanya (Kej. 4:6-7). 
Namun, apa reaksi Kain? Pada ayat 8, Alkitab mencatat, Kain tetap bersikeras 
membunuh Habel dengan mengajaknya ke padang. Di sini, kita belajar bahwa ketika 
ordo sudah mulai kacau, di titik pertama, suara Allah diacuhkan. 
 
Hal serupa juga terjadi di zaman yang kita hidupi saat ini. Ordo yang sudah 
kacau mengakibatkan di titik pertama, suara Allah dan kebenaran-Nya sudah mau 
diacuhkan. Kita sudah mulai jarang mendengarkan berita Kebenaran firman yang 
murni yang menegur dosa, mengkritik filsafat zaman, dll, mengapa demikian? 
Karena di zaman ini, suara Allah diacuhkan dan dianggap tidak up-to-date. Bagi 
orang zaman sekarang dan mungkin sekali tidak sedikit orang “Kristen” di 
dalamnya, Alkitab dianggap kuno, sedangkan sains dianggap up-to-date. Ini bukan 
hanya teori, saya sendiri sudah membaca sebuah pernyataan dari seorang teman 
saya yang non-Kristen (X) di Facebook yang mengatakan bahwa Alkitab itu kuno, 
nanti kalau saya masih mempercayai Alkitab, maka akan ditertawakan oleh anak 
dan cucu saya kelak. Dia juga berkata bahwa teori penciptaan (Allah menciptakan 
dunia) itu teori yang tidak masuk akal. Yang lebih lucu lagi, dia juga berkata 
bahwa agamanya mempercayai seperti
 teori Big Bang. Katanya, Einstein itu seorang ilmuwan yang menganut agamanya. 
Selain itu, dia juga bertanya kepada saya bahwa dari mana saya tahu bahwa Tuhan 
menciptakan dunia, Tuhan itu disebut Tuhan, dll? Saya menjawab pertanyaannya 
dengan beberapa penjelasan singkat (saya berpikir bahwa penjelasan yang terlalu 
mendetail tidak diperlukan, karena ia belum Kristen). Perlu diketahui, teman 
saya ini adalah seorang yang menganut agama Timur. Dia tidak percaya akan 
adanya Tuhan, apalagi Tuhan yang berpribadi. Bagi dia (agamanya), “Pencipta”nya 
(agama ini TIDAK mengakui adanya Tuhan, namun herannya, ketika memberi selamat 
ulang tahun kepada temannya di Facebook, si penganut agama ini mengucapkan, 
“GBU”—God Bless You—sebuah kontradiksi “iman” yang benar-benar lucu) adalah 
sebuah hukum alam. Seorang yang mempercayai hukum alam adalah seorang yang 
mempercayai akan adanya kebetulan, karena hukum alam itu tidak berpribadi! 
Sekarang mari berpikir
 logis. Jika teman saya (X) percaya bahwa “pencipta”nya adalah sebuah hukum 
alam, tolong tanya, bagaimana dia bisa menjelaskan bahwa dia bisa lahir di 
Surabaya pada akhir abad 20? Yang lebih lucu lagi, ketika saya bertanya kepada 
dia, dia menjawab, “Itu hukum karma.” Jaka Sembung naik ojek, gak nyambung jek, 
hahaha… Kedua, jika agamanya mempercayai seperti teori Big Bang, itu lebih 
tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah ledakan besar mengakibatkan 
munculnya sebuah dunia yang teratur seperti sekarang ini? Ev. Yakub Tri 
Handoko, Th.M. di dalam sebuah seminar di UK Petra, Surabaya pernah memberikan 
ilustrasi: anggaplah kita sekarang berada di sebuah gedung, mendadak terjadi 
ledakan bom di depan gedung di mana kita berada, mungkinkah hasil dari ledakan 
bom tersebut membentuk sebuah mainan anak-anak yang lucu dan indah? TIDAK 
MUNGKIN, bahkan konyol! Hal yang sama konyolnya terjadi pada orang yang 
mati-matian mempercayai teori Big Bang sebagai
 “kebenaran”. Jadi, sebenarnya yang lebih tidak masuk akal: Alkitab atau 
agamanya yang mempercayai hukum alam dan Big Bang tersebut? Silahkan pikir dan 
renungkan sendiri!
 
Kedua, suara iblis didengarkan. Seorang yang di titik pertama telah mengacuhkan 
suara Allah, maka otomatis ia dengan mudahnya mendengarkan perkataan iblis. 
Adam dan Hawa telah membuktikannya. Begitu juga halnya dengan Kain yang 
akhirnya lebih mendengarkan suara iblis untuk membunuh si Habel. Makin 
seseorang mendengarkan suara iblis, orang tersebut hidupnya makin kacau, bahkan 
dapat dikatakan, makin bodoh. Saya teringat akan perkataan Pdt. Solomon Yo, 
M.Div. di dalam khotbah mimbar tanggal 15 Agustus 2010. Beliau mengatakan bahwa 
orang berdosa adalah orang yang tidak logis. Yup, saya sangat setuju dengan 
pernyataan beliau. Orang berdosa itu seolah-olah nampak logis, namun ketika 
ditelusuri ternyata tidak logis. Itulah wajah orang berdosa yang lebih 
mendengarkan suara iblis. Makin mendengarkan suara iblis, manusia makin bodoh, 
meskipun terlihat seolah-olah pandai. Mengapa? Karena yang didengarkannya 
adalah suara dari bapa/sumber pendusta! Tidak heran, Pdt.
 Dr. Stephen Tong pernah mengeluarkan pernyataan yang sangat berani dan menohok 
bahwa semua agama, filsafat, dan ilmu yang melawan Alkitab PASTI berkontradiksi 
dengan dirinya sendiri (self-defeating). Saya sudah membuktikan pernyataan 
beliau.
 
Ketiga, wanita memerintah pria dan pria tidak berdaya. Kebingungan ordo 
mengakibatkan wanita yang memerintah pria dan si pria sendiri tidak berdaya 
karena diperintah wanita. Adam dan Hawa adalah contoh pertama yang telah 
membuktikannya. Adam yang seharusnya menegur Hawa agar taat kepada Allah, eh, 
ternyata malahan menerima tawaran “manis” dari si Hawa dan ikut-ikutan makan 
buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Bahkan Alkitab mencatat bahwa bapa 
orang beriman, Abram pun yang sudah mengenal Allah pernah suatu kali lebih 
menaati istrinya, Sarai untuk menghampiri budaknya, Hagar. Perhatikan lebih 
jelas apa yang Alkitab catat, “Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, 
TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku 
itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram 
mendengarkan perkataan Sarai.” (Kej. 16:2) Sarai tentu mengetahui bahwa Tuhan 
telah berjanji akan membuat Abram menjadi bangsa yang
 besar (Kej. 12:2), namun Sarai menyadari bahwa sampai usia tua, ia mandul. 
Demi “merealisasikan” kehendak Tuhan, maka Sarai memberikan alternatif kepada 
Abram, yaitu menyuruh Abram untuk tidur dengan Hagar, pembantunya, supaya 
mendapatkan anak. Dan lucunya, Abram waktu itu menyetujui usul istrinya. Dari 
sini, kita belajar bahwa istri yang tidak takut akan Allah biasanya (tidak 
selalu) adalah seorang istri yang mendesak suaminya untuk lebih menaati 
perkataan si istri ketimbang perkataan Tuhan. Dan karena cinta (atau lebih 
tepatnya karena cinta yang disisipi oleh dosa di dalamnya), si suami lebih 
menuruti perkataan si istri yang dinilai masuk akal ketimbang perkataan Tuhan. 
Di situlah letak rusaknya sebuah keluarga Kristen, dikarenakan seorang istri 
yang tidak takut akan Tuhan.
 
 
Kebingungan ordo mengakibatkan hidup manusia makin lama makin kacau, sehingga 
tidak ada jalan lain, kecuali pertobatan yang sungguh-sungguh. Sudah saatnya 
orang Kristen meninggalkan semua filsafat dunia dan tradisi nenek moyang yang 
melawan Alkitab, lalu bertobat dan menerima Kristus serta melakukan apa yang 
dikehendaki-Nya sesuai dengan Alkitab. Biarlah renungan singkat ini menyadarkan 
kita akan pentingnya ordo yang dibangun di atas dasar pengenalan akan Allah dan 
firman-Nya yang TIDAK mungkin bersalah dalam teks aslinya, yaitu Alkitab! Amin. 
Soli Deo Gloria.
 


“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke