TINJAUAN TERHADAP FENOMENA PENAMPAKAN TUHAN YESUS (Artikel ini disarikan dari khotbah G. I. Tommy Elim dalam acara Persekutuan Doa GKJMB Green Ville tahun 1999) oleh: Pdt. Tommy Elim, S.Th., M.Div. Awal tahun 1999, kota Manado dihebohkan dengan munculnya penampakan ibu Tuhan Yesus - Maria, yang sedang menangis. Berbagai macam pendapat serta tafsiran berkaitan dengan makna peristiwa ini muncul pada saat itu. Ada yang mengaitkan dengan kondisi bangsa dan negara yang sedang mengalami krisis berkepanjangan, ada pula yang mengaitkan dengan ketegangan antaragama yang semakin meruncing, serta berbagai tafsiran lainnya muncul pada saat itu. Seingat penulis, pada tahun 1995 di kota Kupang - NTT terjadi peristiwa penampakan. Yang nampak adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Penampakan tersebut terjadi di jendela sebuah gereja di luar kota Kupang, kemudian muncul di berbagai gereja serta tempat lainnya, termasuk salah satu toko dari paman penulis sendiri (penulis juga berasal dari kota Kupang - NTT). Peristiwa ini berdampak positif bagi rakyat kota Kupang. Mereka yang selama ini malas ke gereja dan hidupnya tidak benar menjadi berubah. Gereja tiba-tiba menjadi penuh dengan kunjungan jemaat. Penampakan terbaru di Indonesia adalah pada KKR di istora Senayan yang dipimpin Morris Cerullo pada bulan November 1999. Terjadi penampakan berupa salib pada langit di atas istora Senayan. Peristiwa ini memang tidak dibicarakan dalam surat kabar seperti dua kasus terdahulu, namun peristiwa ini menjadi pembicaraan seru dalam media internet. Jika semua fenomena penampakan seperti di atas diinventarisasi, akan ditemukan begitu banyak fenomena. Pertanyaannya, apakah fenomena ini benar berasal dari Allah? Bagaimana kita mengetahui keabsahan penampakan ini? Apakah kriteria penentunya? Apakah karena yang melihat seorang pendeta atau penginjil, maka penampakan ini adalah penampakan sejati? Apakah karena banyak orang yang melihatnya, maka itu adalah penampakan yang benar? Apakah karena penampakan tersebut terjadi di daerah yang mayoritas penduduknya Kristen, maka itu adalah sejati? Apakah standarnya? Kapan dan Mengapa Penampakan Terjadi? Istilah ‘penampakan’ muncul oleh karena sesuatu yang nampak itu tidak pernah ada atau sangat jarang muncul dan kemudian ia menampakan dirinya. Dalam kaitan dengan peristiwa penampakan Tuhan, hal ini terjadi oleh karena manusia berdosa telah terpisah dan terbuang dari hadapan Tuhan, sehingga Ia perlu menampakan diri. Berbeda sekali dengan peristiwa di taman Eden (Kej. 2) saat manusia masih mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan dan bisa berdialog langsung berhadapan muka dengan muka dengan Tuhan. Pada saat itu tidak perlu ada penampakan karena manusia selalu bertemu dengan Tuhan. Namun, Kejadian 3 mengisahkan bahwa hubungan yang indah tersebut hancur oleh karena dosa Adam dan Hawa. Karena dosalah manusia diusir dari Eden dan tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Inilah penyebab peristiwa penampakan perlu terjadi agar manusia bisa mengetahui kehendak Allah. Dalam konteks ini, maka fungsi utama penampakan adalah untuk menyatakan kehendak Allah atau firman-Nya. Perhatian yang seksama terhadap peristiwa penampakan yang tercatat dalam Alkitab akan menghasilkan kesimpulan bahwa peristiwa tersebut selalu diiringi penyampaian Firman Allah. Perhatikan peristiwa penampakan dalam PL yang ditujukan pada Abraham (Kej. 12:7), Musa (Kej. 3:2), Salomo (1Raj. 3:5) ataupun dalam PB pada saat kelahiran Kristus (Mat. 1:20-23), kebangkitan (Kis. 1:3), pertobatan Paulus (Kis. 9:4-6, 10-17), panggilan misinya (Kis. 16:9), dan saat Yohanes di Patmos - penglihatan dalam kitab Wahyu. Semua penampakan ini selalu disertai penyampaian Firman Tuhan. Tanpa penyampaian firman Allah maka penampakan itu tidak ada gunanya. Allah tidak sekedar mempertontonkan kehebatan diri-Nya (show of force), tapi Ia hendak menyampaikan kehendak-Nya kepada manusia melalui semua peristiwa spektakuler yang dilakukan-Nya, termasuk melalui pertistiwa penampakan. Penampakan Pada Zaman Ini, Apakah Masih Terjadi? Pembicaraan mengenai penampakan selalu diakhiri dengan pertanyaan, “Apakah penampakan masih terjadi pada zaman ini? Apakah yang terjadi adalah penampakan yang benar?” Sebelum menjawab pertanyaan ini ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting untuk dipikirkan, yaitu “Mengapa Allah perlu memberikan penampakan pada jaman ini? Apakah maksud Allah atas semuanya ini?” Ada beberapa kemungkinan jawaban dari pertanyaaan di atas. Yang pertama, apakah karena Firman yang Allah nyatakan pada manusia melalui Alkitab kurang cukup atau kurang lengkap sehingga Ia perlu menambahkannya? Benarkah demikian? Jika ya, maka bagian mana yang perlu ditambahkan? Apakah bagian eskatologi, yaitu pembicaraan yang berkaitan dengan akhir jaman (point ini yang selalu menjadi penekanan dari setiap penampakan yang terjadi). Jika jawabannya: ya, kurangkah ajaran eskatologi yang Yesus Kristus sampaikan dalam Matius pasal 24-25? Kurangkah apa yang Paulus sampaikan dalam 1 dan 2 Tesalonika? Kurangkah apa yang Petrus sampaikan dalam 2 Petrus? Kurangkah apa yang disampaikan oleh rasul Yohanes dalam kitab wahyu? Rasa-rasanya adalah mustahil jika dikatakan bahwa yang disampaikan oleh Kristus dan para rasul kurang cukup sehingga perlu ditambahkan lagi di zaman ini. Bukankah rasul Yohanes sudah memberikan peringatan mengenai hal ini dalam Wahyu 22:18-19, bahwa tidak boleh ditambahkan ataupun dikurangi Firman yang telah disampaikan dalam Alkitab. Karena itu, alasan pertama tidak bisa diterima sebagai alasan perlunya penampakan di zaman ini. Alasan kedua, melalui penampakan banyak orang akan percaya pada-Nya. Penampakan menjadi sarana pertobatan, betulkah? Alkitab menunjukan bahwa pada zaman-Nya, Kristus telah melakukan berbagai tindakan spektakuler, tetapi mereka yang melihat bahkan merasakan perbuatan tersebut justru meneriakkan kalimat, “Salibkan Dia, salibkan Dia.” Mujizat, penyembuhan, dan tentunya penampakan bukan sarana untuk pertobatan, karena mereka yang bertobat melalui hal ini tidak mempunyai fondasi iman yang teguh. Yesus Kristus tidak pernah memakai sarana ini sebagai sarana penginjilan. Pada saat penampakan di Kupang, memang banyak orang yang kemudian rajin beribadah dan mengikuti kegiatan religius, namun hal ini tidak bertahan lama. Ketika penulis berada selama setahun di Kupang dari tahun 1996-1997, kadar kerinduan beribadah dan kerohanian jemaat di sana mengalami kemunduran. Jika demikian, adakah alasan lain yang mendasari pentingnya terjadi penampakan? Kelihatannya tidak ada satu alasan mendasar sebagai peluang terjadinya penampakan pada zaman ini. Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa kita membatasi kerja Allah yang memberikan penampakan tersebut, karena Allah adalah Allah yang berdaulat. Namun, kedaulatan Allah pasti memiliki tujuannya dan tujuannya pasti tidak bertentangan dengan Firman yang telah disampaikan-Nya melalui Alkitab. Kalau Firman tersebut sudah cukup, untuk apa Ia memberikannya lagi. Jika bukan dari Allah, dari manakah penampakan tersebut? Selain dari Allah, ada dua kemungkinan lain terjadinya penampakan. Kemungkinan pertama adalah penampakan tersebut terjadi karena penipuan Iblis. Alkitab berkata bahwa Iblis akan mempengaruhi manusia dengan rupa-rupa perbuatan ajaib (2Tes. 2:9-10), bahkan iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang (2Kor. 11:14). Selain itu, dalam paket pembinaan Kristus mengenai akhir zaman dalam Matius 24-25, Ia sudah mengingatkan bahwa pada akhir zaman akan banyak orang berkata, "Lihat Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga...." (Mat. 24:23-27). Data-data ini seharusnya membuat orang percaya pada zaman ini berhati-hati terhadap berbagai macam fenomena penampakan yang marak pada akhir-akhir ini. Jangan sampai tertipu dan terseret dalam berbagai hal ajaib. Kita perlu lebih bijaksana dan berhati-hati. Kemungkinan kedua adalah penampakan itu terjadi karena penipuan manusia. Ada orang yang hendak mereguk keuntungan, baik popularitas maupun dana, dari peristiwa penampakan ini. Hal ini terjadi pada kasus penampakan di kota Kupang. Penampakan dimanfaatkan untuk mereguk keuntungan dana. Selain itu, penampakan tersebut bisa juga terjadi karena faktor psikologis. Ada orang-orang yang memiliki kejiwaan yang labil sehingga gampang mengalami berbagai jenis halusinasi yang kemudian disebut sebagai penampakan. Tentu saja ini bukanlah jenis penampakan yang sejati, meskipun isi penampakan tersebut bersifat spiritual - punya nuansa kristiani - bahkan dilakukan oleh orang-orang yang rohani. Jika demikian, maka kembali pada pertanyaan semula, “Apakah penampakan masih terjadi pada zaman ini?” Jawabannya, “Mungkin saja!” Tapi apakah semua fenomena penampakan yang terjadi pada akhir-akhir ini adalah penampakan yang sejati? Tentu saja tidak. Karena iblis dan orang tidak percaya berpeluang besar memakai semuanya ini untuk menipu orang percaya. Sikap yang tepat terhadap semua fenomena penampakan pada zaman ini adalah jangan langsung percaya, tapi ujilah keabsahan penampakan tersebut. Pergunakanlah prinsip-prinsip dalam artikel ini sebagai sarana pengujian. Sumber: Buletin Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar (GKJMB) No. 8 - Tahun 5, April 2000 http://www.gky.or.id/ Profil Pdt. Tommy Elim: Pdt. Tommy Elim, S.Th., M.Div. adalah hamba Tuhan yang melayani di Gereja Kristus Yesus (GKY) Green Ville, Jakarta (yang digembalakan: Pdt. Hendra G. Mulia, M.Th.). Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.” (Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)

