WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-7:
Eden dan Dosa-6: Kerja Sama yang Berdosa
 
oleh: Denny Teguh Sutandio
 
 
 
Nats: Kejadian 3:6b
 
 
 
 
Pada bagian terdahulu kita telah menyoroti adanya kebingungan ordo tatkala Adam 
bukannya menegur Hawa yang memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, 
malahan menuruti perkataan Hawa dengan ikut memakannya. Pada bagian ini, kita 
akan menyoroti khusus ayat 6b di dalam frase, “… diberikannya juga kepada 
suaminya yang bersama-sama dengan dia, …” Di sini, kita memperhatikan bahwa 
Hawa bukan hanya makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat seorang diri saja, 
namun ia juga memberikan buah tersebut kepada Adam untuk dimakan juga. Inilah 
bentuk ketidakberesan pertama dalam prinsip kerja sama. Saya menyebutnya 
sebagai: kerja sama yang berdosa. Apa itu kerja sama yang berdosa? Apa penyebab 
dan akibatnya? Bagaimana membentuk kerja sama yang Alkitab inginkan?
 
A.     Kerja Sama yang Berdosa
Kerja sama yang berdosa adalah sebuah kerja sama yang terlepas dari Allah yang 
ditandai dengan dua gejala:
Pertama, tidak ada yang mengingatkan akan kebenaran Allah. Kerja sama yang 
terlepas dari kebenaran Allah tentu sebuah kerja sama di mana tidak ada Allah 
dan kebenaran-Nya di dalamnya, sehingga tidak heran kerja sama tersebut tidak 
ada seorang pun yang mengingatkan akan kebenaran Allah. Masing-masing orang di 
dalam kerja sama tersebut sibuk dengan urusan dan kepentingan masing-masing di 
luar Allah. Dalam kasus di Taman Eden, Adam yang seharusnya menegur Hawa untuk 
tidak makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat dengan mengingatkan akan 
perintah Allah, akhirnya malahan menjadi seorang pria yang lemah yang akhirnya 
mengalah kepada Hawa. Apa sebabnya? Karena kerja sama antara Adam dan Hawa 
bukan didasarkan pada kebenaran Allah, tetapi karena emosi sesaat. Emosi sesaat 
atau fenomena itu ditandai dengan keinginan Adam yang sama seperti Hawa yang 
ingin menikmati buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Makin mereka bekerja 
sama, mereka makin berdosa di hadapan
 Allah, karena kerja sama mereka di luar kebenaran Allah. Di zaman sekarang 
pun, kita melihat gejala yang sama. Mayoritas kerja sama di sekolah, kampus, 
tempat kerja, dll adalah kerja sama yang tidak berpusat kepada Allah, akibatnya 
tidak heran, kita melihat makin mereka bekerja sama, suatu saat mereka makin 
bertengkar satu sama lain, bahkan yang lebih mengenaskan hal ini terjadi di 
dalam beberapa gereja.
 
Kedua, sama-sama menikmati dosa. Di dalam kerja sama yang tidak ada yang 
mengingatkan akan kebenaran Allah akan berakibat pada kecenderungan untuk 
sama-sama menikmati dosa. Karena Adam gagal mengingatkan Hawa akan perintah 
Allah, maka Adam pun bekerja sama dengan Hawa untuk melawan perintah Allah 
dengan memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Bersama-sama melawan 
perintah Allah inilah bentuk dari bersama-sama menikmati dosa. Mereka telah 
diracuni oleh iblis yang mengatakan bahwa melawan perintah Allah itu bukan 
dosa, tetapi suatu kenyamanan. Di dalam zaman ini, gejala yang sama juga 
terjadi. Kerja sama antara teman, rekan, saudara, dll mayoritas bukanlah kerja 
sama yang beres, namun kerja sama yang menikmati dosa. Yang celakanya, kerja 
sama tersebut seolah-olah kelihatan baik di depan, namun secara tidak sadar 
menusuk di belakang. Sifat kerja sama ini bisa eksternal maupun internal. 
Artinya, sifat kerja sama ini bisa berlaku untuk orang luar
 maupun di dalam lingkungan kerja sama tersebut. Sebagai contoh praktis, kita 
mengenal istilah SINDIKAT. Itulah kerja sama menipu. Sindikat itu terdiri dari 
beberapa orang yang saling bekerja sama untuk melakukan penipuan entah itu 
melalui telepon, sms, surat, bahkan yang terakhir melalui Yahoo Messenger (YM). 
Modus operandinya adalah meminta sejumlah uang atau meminta tolong membelikan 
pulsa HP dengan maksud ingin menguras saldo ATM Anda. Atau juga untuk kalangan 
internal, kita melihat contoh praktisnya, di dalam satu kelompok sosial bahkan 
agama atau mungkin keluarga, tidak sedikit orang yang nekat menipu rekan atau 
saudara sendiri untuk meraup keuntungan besar.
 
 
B.      Penyebab
Lalu, kita bertanya-tanya, mengapa semua ini bisa terjadi? Saya menemukan dua 
penyebab:
Pertama, hilangnya kebenaran Allah. Kerja sama yang tidak beres terjadi karena 
kebenaran Allah sudah hilang di dalam prinsip kerja sama. Artinya, kerja sama 
tersebut berdiri di atas dasar kepentingan sendiri yang egosentris. Hilangnya 
kebenaran Allah ditandai dengan diacuhkannya kebenaran Allah. Kebenaran Allah 
hanya ada di dalam mulut seseorang yang berbisa, namun tak pernah 
diaplikasikan. Yang lebih mengerikan, ada kerja sama rohani/agama yang mengutip 
ayat-ayat Alkitab (namun yang dikutipnya terlepas dari konteksnya) dengan 
tujuan mencari keuntungan (hanya kedok semata). Hilangnya kebenaran Allah juga 
ditandai dengan ditinggikannya kehebatan manusia. Manusia dipacu untuk menjadi 
sukses, kaya, berhasil, dll. Caranya? Mudah, melalui pelatihan motivasi dengan 
tujuan ingin membangkitkan kekuatan yang super besar yang sedang tidur di dalam 
diri manusia. Semuanya itu disatukan sebagai sarana untuk bisnis Multi Level 
Marketing (MLM). Para anggota dijanjikan
 keuntungan berlimpah jika mereka berhasil memberi keuntungan kepada perusahaan 
MLM tersebut. Meskipun tidak ada nama Tuhan di dalam bisnis MLM, tetapi 
motivasi, cara, dan tujuan bisnis ini sudah merupakan bentuk kerja sama yang 
tidak beres, karena manusia dipacu seperti sapi yang harus bisa sebanyak 
mungkin menjual produk MLM tersebut. Tetapi herannya, orang yang sama jika 
diperintahkan untuk memberitakan Injil tidak ada spirit yang sama, mengapa? 
Karena orang “Kristen” tersebut terpacu kalau ada iming-iming untung besar. 
Kedua, manusia yang semakin dipacu untuk sebanyak mungkin menjual produk MLM 
mengakibatkan banyak dari mereka yang lebih mengurusi MLM dan mungkin suatu 
hari, dirinya bisa lupa kebaktian di gereja atau enggan lagi membaca Alkitab 
atau melayani Tuhan di gereja, mengapa? Karena sebagian besar waktunya 
dipergunakan untuk mengurusi MLM. Makin bekerja sama di dalam MLM mengakibatkan 
makin lupa Tuhan.
 
Kedua, hilangnya semangat dan komitmen mengatakan Kebenaran. Selain kebenaran 
Allah hilang, yang lebih memprihatinkan adalah hilangnya semangat dan komitmen 
memberitakan kebenaran Allah tersebut. Mengapa demikian? Karena kita hidup di 
zaman yang benar-benar cuek dengan iman kepercayaan. Yang paling mengenaskan, 
gejala ini terjadi pada orang Kristen. Banyak orang Kristen tidak lagi memiliki 
semangat dan komitmen kuat untuk memberitakan kebenaran. Mengapa demikian? 
Pertama, cuek. Banyak orang Kristen cuek dengan iman Kristennya, karena 
sebenarnya mereka hanya orang Kristen rutinitas yang setiap hari Minggu ke 
gereja tanpa mengerti apa yang dikhotbahkan itu sesuai dengan Alkitab atau 
tidak. Ya, harap maklum, membaca Alkitab pun jarang, sampai-sampai Alkitab 
berdebu di rak bukunya. Kedua, “kasih”. Alasan kedua yang lebih parah yaitu 
dengan alasan “kasih” (atau “damai”), banyak orang Kristen enggan memberitakan 
Kebenaran. Atau dengan kata lain,
 alasan mereka adalah “agar orang lain tidak tersinggung.” Makin menjunjung 
tinggi “kasih” dan “damai”, banyak orang Kristen makin takut menyatakan 
Kebenaran. Jika mereka memberitakan kebenaran, mereka nantinya dicap fanatik, 
sok suci, dll. Akibatnya, mereka akan kehilangan banyak teman. Mereka berpikir 
jika mereka tidak memberitakan Kebenaran, maka mereka akan memiliki banyak 
teman.
 
 
C.     Akibat
Kerja sama yang tidak beres ini nantinya sadar atau tidak sadar mengakibatkan 
suatu kerja sama yang melawan Allah dan berpusat pada manusia. Kerja sama Adam 
dan Hawa yang melawan perintah Allah tidak berhenti, namun terus berlanjut. Di 
dalam Kejadian 6:1-4, kita melihat manusia yang makin bertambah banyak makin 
hidup tidak karuan dan di ayat 5-6, Tuhan sendiri sedih melihat kerusakan 
manusia yang semakin parah. Kesedihan Tuhan terus berlanjut dan ditambah dengan 
murka-Nya tatkala Ia melihat manusia yang semakin banyak ingin membuat menara 
yang tingginya sampai ke langit agar mereka tidak terserak (Kej. 11:1-9). Tidak 
cukup sampai di situ, ketika manusia bertambah banyak dan membentuk suatu 
bangsa yang disebut Israel, maka Alkitab mencatat bahwa mereka yang telah 
mendapat anugerah Allah justu menjadi sebuah bangsa yang tegar tengkuk (Kel. 
32:9).
 
 
D.     Persekutuan: Restorasi Prinsip Kerja Sama yang Berdosa
Lalu, jika kerja sama manusia pertama sudah dirusak dosa, bagaimana 
penyelesaiannya? Kerja sama yang rusak akibat dosa harus diselesaikan dengan 
cara Allah, yaitu melalui penebusan Tuhan Yesus Kristus melalui kematian-Nya di 
kayu salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Kematian dan 
kebangkitan-Nya bukan hanya menebus umat pilihan-Nya dari dosa, tetapi juga 
merekatkan kembali hubungan antara sesama umat pilihan-Nya agar mereka bersatu 
di dalam Kristus. Hal ini terealisasi tatkala kuasa Roh Kudus turun ke atas 
para rasul di hari Pentakosta di mana para rasul berbicara dalam bahasa yang 
berbeda kepada orang-orang yang berkumpul di Yerusalem waktu itu (Kis. 2:1-12) 
dan Alkitab mencatat bahwa khotbah Petrus pada waktu itu dipakai Tuhan luar 
biasa sehingga menghasilkan 3000 petobat baru (Kis. 2:41). Kemudian, para 
petobat baru tersebut berkumpul untuk bersekutu di dalam persekutuan tubuh 
Kristus (ay. 42-47). Di sinilah, konsep kerja sama yang tidak
 beres akibat dosa di zaman Adam dan Hawa direstorasi melalui kematian dan 
kebangkitan Kristus plus kuasa Roh Kudus sehingga menghasilkan konsep baru: 
persekutuan (fellowship). Konsep ini terus berkembang di seluruh Perjanjian 
Baru. Setelah membahas konsep ibadah sejati di Roma 12:1-2, maka di ayat 4-8, 
Paulus menjelaskan kesatuan tubuh Kristus yang terdiri dari berbagai anggota 
dengan berbagai macam karunia. Dan di dalam 1 Korintus 12:4-27, Paulus juga 
menekankan kesatuan tubuh Kristus dengan beraneka ragam karunia yang 
dipergunakan untuk membangun tubuh Kristus. Di dalam surat-suratnya yang lain, 
Paulus juga menekankan hal serupa. Dari pemahaman ini, maka apa saja ciri 
persekutuan ini?
Pertama, di dalam Kristus. Persekutuan ini adalah persekutuan di dalam Kristus. 
Berarti dasar dan fokus persekutuan ini adalah Kristus sendiri melalui 
pengajaran-pengajaran-Nya di Alkitab. Kita bisa bersekutu jika persekutuan itu 
didasarkan pada Kristus dan Alkitab, karena Kristus dan Alkitab tidak bisa 
dipisahkan. Adalah suatu ketidakmasukakalan jika mengatakan bahwa yang penting 
bersatu di dalam Kristus, meskipun ajarannya berbeda-beda, bahkan bertentangan 
dengan Alkitab, melawan Alkitab, dan sesat. Itu bukan persekutuan, tetapi kerja 
sama. Bagi saya, persekutuan adalah restorasi Allah bagi konsep kerja sama yang 
ngaco di zaman Adam dan Hawa, sehingga jangan berani mengatakan istilah 
persekutuan, jika konsepnya masih sama seperti konsep kerja sama yang ngaco di 
zaman Adam dan Hawa dahulu. Kembali, jika kita menegaskan bahwa persekutuan 
kita adalah persekutuan di dalam Kristus, berarti di dalam persekutuan kita, 
kebenaran Allah dijunjung tinggi. Lebih
 tajam lagi, berarti kita memiliki semangat dan komitmen mengatakan kebenaran 
Allah. Apakah dengan mengatakan kebenaran Allah ini, kita kurang mengasihi? 
Justru SALAH. Ketika kita mengatakan kebenaran Allah dengan lembut tetapi tanpa 
kompromi, di saat itulah kita menunjukkan kasih Allah kepada orang itu agar 
bertobat. Alkitab sendiri berulang kali mengajar kita bahwa kasih Allah 
ditunjukkan bukan dengan membiarkan kita berkanjang di dalam dosa, tetapi 
justru menegur bahkan menempeleng kita. Di Wahyu 3:19, Tuhan dengan keras 
berfirman kepada jemaat di Laodikia yang suam-suam kuku, “Barangsiapa Kukasihi, 
ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” Lebih 
jelas lagi, melalui penulis Ibrani, Tuhan berfirman, “karena Tuhan menghajar 
orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” 
(Ibr. 12:6; bdk. Ayb. 5:17 dan Ams. 3:11-12) Makin Allah mengasihi umat 
pilihan-Nya, Ia makin mendidik dan mengajar
 mereka agar mereka menjadi serupa dengan gambaran Kristus, Kakak Sulung umat 
pilihan-Nya. Jika Allah mengasihi kita dengan menegur dan mendisiplin kita, 
maka kita sebagai umat pilihan-Nya pun mengasihi saudara seiman lainnya (dan 
orang lain) juga dengan memberitakan kebenaran Allah kepada orang lain. Rev. 
Bill Hybels, D.D. di dalam bukunya Who You Are When No One’s Looking 
mengatakan, “Untuk mengasihi seperti Kristus mengasihi, Anda harus mengutamakan 
untuk mengatakan kebenaran di atas menjaga kedamaian.” (hlm. 83) Bagaimana 
dengan kita? Sudahkah kita benar-benar bersekutu di dalam Kristus dalam arti di 
dalam kebenaran firman-Nya?
 
Kedua, di dalam kasih. Selain di atas kebenaran, kita juga harus bersekutu di 
dalam kasih. Saya menjumpai adanya gejala ekstrem di dalam Kekristenan. Ada 
yang terlalu menekankan kasih tetapi mengabaikan kebenaran firman, sebaliknya 
ada yang terlalu menekankan pentingnya belajar kebenaran firman, namun kurang 
memiliki kasih dan tidak sedikit akhirnya menjadi orang yang gegabah 
menghakimi. Persekutuan yang Tuhan inginkan bukan hanya di dalam Kristus, 
tetapi juga di dalam kasih. Artinya, masing-masing orang Kristen sejati bersatu 
di dalam kasih yang mempersatukan di dalam kebenaran. Ada dua ruang lingkup di 
dalamnya. Pertama, internal. Di dalam satu gereja yang kelihatan, masing-masing 
anggota bersatu untuk bersama-sama bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus: 
saling mengajar, menegur, menghibur, menguatkan, dll. Kedua, eksternal. 
Masing-masing orang Kristen dari berbagai denominasi gereja yang beres bersatu 
di dalam kebenaran untuk menyatakan kebenaran
 Allah kepada dunia luar. Mungkin mereka terhisap di dalam sebuah organisasi 
Kristen atau misi penginjilan yang beres (seperti: OMF, Persekutuan Antar 
Universitas—Perkantas, Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia—LPMI, dll) untuk 
memberitakan Injil Kristus yang beres kepada dunia. Sungguh sangat disayangkan 
jika ada beberapa orang Kristen yang terlalu teoritis dan belajar banyak 
doktrin mengakibatkan dia enggan bersekutu dengan orang Kristen di luar 
gerejanya atau bahkan diindoktrinasi untuk tidak boleh berteman dengan orang 
Kristen di luar gerejanya. Jika orang Kristen sendiri tidak bersatu, kita bukan 
menjadi berkat bagi orang dunia, tetapi justru menjadi celaan.
 
 
Biarlah kita makin hari makin dimurnikan untuk bersatu di dalam kebenaran 
Kristus dan kasih yang mempersatukan demi melebarkan Kerajaan Allah di bumi ini 
dan nama Tuhan dipermuliakan selama-lamanya. Amin. Soli Deo Gloria.



“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke