EKSPOSISI 1 KORINTUS 8:4-6
 
oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
 
 
 
Nats: 1 Korintus 8:4-6
 
 
 
Kata “tentang” yang muncul di bagian awal pasal 8:4 mengindikasikan bahwa 
Paulus sedang membahas topik yang baru, walaupun hal itu masih sangat berkaitan 
dengan 8:1 (“sekarang tentang...”). Menggabungkan dua topik yang saling 
berkaitan seperti ini sudah dilakukan Paulus sebelumnya di pasal 7:1, 25. Di 
sana ia menggabungkan topik tentang pernikahan (7:1-24) dan pertunangan 
(7:25-38) secara bersamaan. Dalam kasus 8:1, 4 perbedaan terletak pada kata 
“makan” di 8:4. Kalau di 8:1 yang disorot adalah keberadaan dari makanan 
persembahan berhala, di 8:4 yang dibahas adalah tindakan memakannya. Jemaat 
Korintus tidak hanya bergumul secara teoritis tentang hakekat makanan berhala, 
namun mereka secara praktis langsung bersentuhan dengan isu itu.
 
Alur berpikir Paulus di 8:4-6 tidak terlalu sulit untuk ditelusuri. Seperti 
kebiasaannya di surat ini, Paulus mengutip kalimat atau pandangan dari jemaat 
Korintus. Ia mengakui separuh kebenaran dari pandangan itu, setelah itu ia 
memberikan koreksi terhadap pandangan itu. Pendekatan seperti ini biasanya 
disebut “Yes.-but approach”. Di ayat 4 ia menyetujui pandangan jemaat Korintus, 
lalu di ayat 5-6 ia memberikan tanggapan terhadap pandangan tersebut. Tanggapan 
ini merupakan koreksi atau kritikan terhadap pandangan yang dipegang oleh 
jemaat.
 
 
Pandangan Jemaat Korintus (ay. 4)
Penggunaan “kita tahu” di ayat ini menyiratkan sebuah pemahaman bersama yang 
umum. Baik Paulus maupun jemaat Korintus sama-sama menerima kebenaran dari apa 
yang akan disampaikan. Kedua pihak sama-sama setuju bahwa tidak ada berhala di 
dunia dan hanya ada Allah yang esa. Konsep tentang ketidakadaan berhala (8:4a) 
merupakan ajaran yang sudah tidak asing dalam Alkitab. Banyak teks mengajarkan 
bahwa berhala-berhala tidak lain hanyalah buatan atau hasil kreasi manusia (Ul. 
4:28; Yes. 44:7-11). Mereka seperti angin yang sia-sia (Yes. 41:29; Yer. 
10:3-11). Allah yang dibuat manusia jelas bukanlah Allah (Yer 16:20). Konsep 
seperti ini pula yang diajarkan Paulus kepada orang-orang yang hidup dalam 
konteks politeisme (paham yang mempercayai banyak allah/dewa). Sebagai contoh 
konrkit, dalam suratnya kepada jemaat di Galatia Paulus menyebut 
berhala-berhala sebagai “allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah” (Gal. 
4:8). Ajaran inilah yang juga diajarkan di
 Korintus. Para penafsir bahkan meyakini kalau pandangan jemaat Korintus di 8:4 
memang didasarkan pada ajaran Paulus. Dengan kata lain, mereka sedang 
memanfaatkan ajaran Paulus untuk membenarkan tindakan mereka.
 
Bagian terakhir dari ayat 8 “tidak ada Allah lain selain Allah yang esa” 
merupakan ajaran yang sangat umum pula bagi orang-orang Kristen yang secara 
historis berangkat dari agama Yudaisme yang sangat menekankan keesaan Allah. 
Setiap hari setiap orang Yahudi wajib mengumandangkan “TUHAN, Allah kita, 
adalah esa” (Ul. 6:4). Larangan untuk menyembah Allah lain maupun membuat 
patung berhala sengaja diletakkan di bagian paling awal dari 10 perintah Allah 
(Kel. 20:1-17; Ul. 5:6-21). Konsep tentang keesaan Allah (dikenal dengan 
istilah monoteisme) merupakan ajaran yang sangat aneh menurut ukuran waktu itu. 
Banyak orang mempraktikkan politeisme. Kalaupun ada yang mempercayai keberadaan 
suatu allah yang tertinggi, keyakinan ini hanya sebatas henoteisme. Henoteisme 
mengajarkan bahwa ada satu Allah yang tertinggi, tetapi masih mengakui 
keberadaan dari allah-allah lain yang lebih rendah. Alkitab tidak hanya 
mengajarkan TUHAN sebagai Allah yang tertinggi (Ul.
 10:17; bandingkan gambaran persidangan ilahi di Mzm. 82:1), tetapi Ia adalah 
satu-satunya Allah (Yes. 44:8). Keesaan Allah tidak hanya menuntut orang 
percaya untuk meletakkan Allah di tempat tertinggi, tetapi sekaligus 
menyediakan tempat satu-satunya kepada Dia. Politeisme memandang TUHAN sebagai 
salah satu pilihan, henoteisme meletakkan TUHAN sebagai yang nomer satu, tetapi 
monoteisme menghormati TUHAN sebagai satu-satunya.
 
 
Jawaban Paulus (ay. 5-6)
Kata sambung “sebab” di ayat 5 menunjukkan bahwa di bagian ini Paulus sedang 
memberikan penjelasan terhadap apa yang dia sudah sampaikan di ayat 4. Dalam 
taraf tertentu ia memang menyetujui pandangan jemaat Korintus, namun ada 
beberapa aspek lain yang ia ingin ajarkan. Penjelasan ini mencakup dua hal.
 
Berhala: tidak ada namun ada (ay. 5)
Penyebutan “allah/tuhan di surga dan di bumi” di ayat ini sudah mewakili semua 
bentuk keagamaan lain yang dapat dikategorikan sebagai penyembahan berhala. 
Ungkapan ini mencakup ibadah tradisional yang menyembah para dewa yang tidak 
bermateri maupun kultus terhadap kaisar yang sering menganggap diri sebagai 
allah. Orang-orang kuno percaya bahwa para dewa tinggal di suatu “tempat” 
rohani yang berada di atas. Ini adalah konsep ibadah tradisional yang 
metafisik. Sebagian yang lain menjadi pemuja kaisar, baik secara terpaksa 
maupun sukarela.
 
Di ayat ini Paulus menyebut berhala-berhala sebagai “apa yang disebut allah”. 
Apakah ungkapan “yang disebut” (legomenos) menunjukkan bahwa mereka tidak ada? 
Apakah mereka murni hasil imajinasi manusia yang tidak memiliki eksistensi sama 
sekali? Penyelidikan yang teliti memberitahu kita bahwa apa yang disebut memang 
benar-benar ada. Dalam tulisan Paulus ungkapan “yang disebut” sering kali 
menunjukkan bahwa yang disebut itu sungguh-sungguh eksis atau benar adanya (Ef. 
2:11). Contoh yang paling jelas dan berkaitan dengan pembahasan kita adalah 2 
Tesalonika 2:4. Dalam ayat ini disebutkan bahwa manusia durhaka yang akan 
datang sebelum akhir jaman berusaha meninggikan diri “di atas segala yang 
disebut (legomenos) atau yang disembah sebagai Allah”. Dari sisi konteks 
terlihat jelas bahwa manusia durhaka ini juga akan meninggikan diri atas TUHAN 
Allah kita.
 
Dengan demikian “apa yang disebut Allah” di ayat ini merujuk pada suatu 
keberadaan yang nyata. Begitu pula dengan makna dari ungkapan yang sama di 1 
Korintus 8:5. “Apa yang disebut allah” bukannya tidak ada. Paulus sendiri di 
bagian akhir ayat 6 menegaskan “dan memang benar ada...”. Jika berhala-berhala 
itu memang eksis, lalu bagaimana kita mengharmonisasikan ayat ini dengan ayat 4 
yang mengatakan bahwa berhala itu tidak ada? Dalam bagian ini Paulus sengaja 
tidak memberikan jawaban secara langsung. Di pembahasan selanjutnya ia akan 
menerangkan bahwa berhala-berhala itu eksis dalam arti sebagai roh-roh jahat 
(10:19-20). Sebagai allah berhala memang tidak ada (mereka bukanlah allah sama 
sekali), tetapi sebagai roh-roh jahat mereka memang eksis. Di balik penyembahan 
berhala ada aktivitas roh-roh jahat. Roh-roh itulah yang eksis. Jadi, 
penyembahan berhala bukan hanya menyangkut manusia dan sebuah patung, namun 
manusia dan roh-roh jahat. Kebenaran
 di atas merupakan ajaran yang sudah lama diajarkan dalam Perjanjian Lama.
 
Dalam kapasitas sebagai allah, para dewa/berhala memang tidak eksis. Secara 
hakekat mereka bukan Allah. Bagaimanapun, kita tidak boleh melupakan bahwa 
penyembahan kepada para dewa/berhala pada dasarnya merupakan penyembahan kepada 
roh-roh jahat (Ul. 32:17; Mzm. 106:37; Yes. 19:3). 
 
Dari penjelasan ini kita dapat melihat bahwa pandangan jemaat Korintus di ayat 
4 tidak sepenuhnya benar. Apa yang mereka percayai adalah benar, tetapi itu 
bukan kebenaran yang utuh. Mereka tidak mampu membedakan ketidakadaan berhala 
secara hakekat dan eksistensi. Nanti di pasal 10 Paulus akan menguraikan topik 
ini secara lebih detil. 
 
Monoteisme menuntut loyalitas hidup (ay. 6)
Dalam bagian ini penekanan Paulus sebenarnya tidak terletak pada keesaan Bapa 
dan Yesus. Semua orang Kristen pasti sudah memahami hal tersebut. Orang Kristen 
sejak awal tidak mengajarkan dua Allah atau dua Tuhan. Bapa dan Yesus 
dipercayai dalam keesaan yang sempurna. Jemaat Korintus pun bahwa sudah 
mengetahui bahwa Allah adalah esa (8:4). Pertanyaan yang ingin dibahas Paulus 
di bagian ini bukan “apakah ada satu Allah atau banyak allah?”. Paulus tidak 
sedang memberikan bukti bagi monoteisme. Pertanyaannya juga bukan “bagaimana 
menjelaskan keesaan Bapa dan Yesus?” Paulus tidak sedang mengajarkan doktrin 
Tritunggal (walaupun konsep ini diungkapkan secara eksplisit dalam teks ini). 
Yang lebih menjadi perhatian Paulus adalah pertanyaan “bagaimana 
mengaplikasikan konsep tentang keesaan Allah dalam hidup kita?”
 
Penggunaan kata “kita” di ayat 6 sebanyak 3 kali menyiratkan bahwa hal ini 
sangat penting. Pemunculan kata ini di awal ayat 6 turut mempertegas pentingnya 
kata ini. Paulus tidak sedang memberikan paparan teoritis-filosofis tentang 
eksistensi Allah. Fokus pembahasan bukan secara ontologis, tetapi eksistensial. 
Monoteisme tidak hanya sebagai hasil pergumulan intelektual, tetapi gaya hidup. 
Kekristenan bukan hanya terdiri dari doktrin, tetapi kehidupan praktis yang 
sesuai dengan doktrin tersebut.
 
Di bagian awal ayat 6 Paulus menjelaskan keesaan Bapa terlebih dahulu. Bagi 
orang Kristen hanya ada satu Allah, yaitu Bapa. Konsep ini muncul beberapa kali 
dalam tulisan Paulus (Rm. 3:29-30; Gal. 3:20; 1Tim. 2:5). Konsep tentang “Bapa” 
mengandung dua makna sekaligus: Ia adalah sumber dari segala sesuatu (Yak. 
1:17; bdk. 1Kor. 11:12; Rm. 11:36) dan Ia sangat dekat dengan anak-anak-Nya 
(Mat. 7:11). Dengan demikian ungkapan “Bapa” menggambarkan transendensi Allah 
(Ia terpisah dari ciptaan) maupun imanensi Allah (Ia berinteraksi dengan 
ciptaan). Keseimbangan ini merupakan keunikan kekristenan. Agama-agama lain 
hanya menekankan salah satu aspek, entah itu transedensi atau imanensi Allah.
 
Dalam kekristenan dua aspek ini mendapat penekanan yang seimbang. Doa Bapa Kami 
yang diajarkan Yesus merupakan sebuah contoh sempurna. Dalam doa ini kita 
memanggil Allah sebagai Bapa (dekat) yang ada di sorga (jauh). Sebagai Bapa 
yang dari-Nya segala sesuatu berasal, Allah berhak menuntut segala sesuatu 
untuk kemuliaan-Nya. Segala sesuatu dari Dia dan untuk Dia (Rm. 11:36).. Ini 
konsekuensi yang sangat logis. Bagaimanapun, di 1 Korintus 8:6a Paulus justru 
tidak mengarah pada konsekuensi ini sepenuhnya. Segala sesuatu adalah dari 
Allah; iya. Segala sesuatu untuk Dia; iya. Namun, bukan itu yang ditekankan 
Paulus. Sebaliknya, Paulus mengatakan hidup kita (bukan segala sesuatu) untuk 
Dia (1Kor. 8:6a).
 
Penekanan ini sangat relevan dengan situasi jemaat. Mereka sedang terjebak pada 
satu kesalahan: konsep keesaan Allah digunakan untuk kenyamanan hidup mereka 
sendiri! Dengan keyakinan terhadap keesaan Allah mereka lalu memandang berhala 
tidak ada dan secara sembarangan makan di kuil berhala tanpa menghiraukan hati 
nurani orang percaya yang lain. Sikap ini tidak sesuai dengan keyakinan mereka. 
Jika mereka meyakini Bapa adalah satu-satunya Allah yang menciptakan segala 
sesuatu, maka mereka seharusnya memberikan hidup mereka kepada-Nya. Hidup 
adalah untuk Bapa, bukan untuk diri kita sendiri.
 
Bagian terakhir dari ayat 6 difokuskan pada keesaan Yesus Kristus. Bagi orang 
Kristen hanya ada satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus. Penganut ajaran sesat Saksi 
Yehuwah dan Unitarian sering kali menggunakan ayat ini untuk menolak ke-Allahan 
Yesus. Bagi mereka Allah hanya ada satu (Bapa); Yesus hanyalah sekadar Tuhan, 
tetapi bukan Allah.
 
Asumsi seperti ini jelas tidak dapat dibenarkan. Jika “satu Allah = Bapa” 
berarti Yesus Kristus bukan Allah, apakah mereka akan setuju bahwa “satu Tuhan 
= Yesus Kristus” berarti Bapa bukan Tuhan? Tentu saja mereka tidak setuju! Bagi 
mereka Bapa adalah Allah sekaligus Tuhan, namun Yesus Kristus hanyalah Tuhan, 
tetapi bukan Allah. Jelas, penafsiran mereka terlihat sangat tidak konsisten. 
Mereka sangat dipengaruhi oleh presuposisi mereka bahwa Yesus bukan Allah, lalu 
berusaha menafsirkan semua ayat sesuai presuposisi ini. Jika dibaca secara 
objektif, 1 Korintus 8:6 justru menjadi salah satu teks penting untuk mendukung 
doktrin Tritunggal. Bapa dan Yesus Kristus memang berbeda, tetapi keduanya esa. 
Inilah isi  doktrin Tritunggal yang agung.
 
Di 8:6b Yesus ditampikan sebagai instrumen penciptaan (terjemahan LAI:TB “oleh” 
secara hurufiah dapat diterjemahkan “melalui”). Konsep ini dapat ditemukan di 
berbagai bagian Alkitab yang lain (Kol. 1:15-20; 1Tim. 2:4-5; Ibr. 1:1-3). 
Keberadaan sebagai instrumen ini tidak berarti bahwa peranan Yesus adalah 
sekunder dibandingkan Bapa. Tanpa Yesus tidak ada satu pun yang jadi dari 
segala yang diciptakan (Yoh. 1:3). Keduanya terlibat dalam penciptaan sebagai 
sebuah kesatuan hakekat yang sempurna. Keesaan ini akan terlihat secara lebih 
jelas apabila dikaitkan dengan Yesaya 44:24. Di teks ini TUHAN menyatakan bahwa 
Ia menciptakan segala sesuatu seorang diri. Tidak ada yang menemani Dia selama 
penciptaan. Satu-satunya cara untuk menjelaskan kesendirian TUHAN dalam 
penciptaan (Yes. 44:24) dan keterlibatan Yesus dalam proses ini (Kol. 1:15-20; 
1Tim. 2:4-5; Ibr. 1:1-3) adalah dengan melihat keduanya dalam keesaan ilahi 
yang sempurna. TUHAN (Yahweh) dalam
 Perjanjian Lama menyatakan diri sebagai Bapa dan Yesus (juga Roh Kudus). TUHAN 
adalah Tritunggal yang kudus.
 
Seperti sudah disinggung sebelumnya, fokus Paulus tidak terletak pada hal-hal 
teoritis. Yang penting bukan hanya pengetahuan tentang keterlibatan Yesus dalam 
penciptaan segala sesuatu, melainkan aplikasi dari pengetahuan itu ke dalam 
kehidupan sehari-hari. Karena melalui Yesus segala sesuatu telah dijadikan, 
maka konsekuensinya adalah melalui Dia kita hidup (8:6b). Hidup kita tidak 
bergantung pada diri kita sendiri tetapi pada Kristus (Flp. 1:21).. Apa yang 
dilakukan jemaat Korintus menunjukkan bahwa mereka tidak hidup bagi Kristus. 
Sebaliknya, aplikasi yang keliru dari pengetahuan mereka telah menyebabkan 
mereka melukai orang-orang yang ditebus Kristus (8:11) dan dengan demikian 
berdosa kepada Kristus sendiri (8:12).
 
Seluruh pembahasan di atas menunjukkan kepada kita bahwa kesalahan jemaat 
Korintus terletak pada dua hal. Mereka memiliki konsep teologis yang tidak 
utuh. Mereka pun mengaplikasikan konsep itu secara sembarangan. Berdasarka hal 
ini kita diingatkan tentang betapa pentingnya pengetahuan theologi yang 
komprehensif dan mendalam serta mengintegrasikan pengetahuan itu secara 
hati-hati dalam kehidupan praktis kita sehari-hari. #
 
 
 
 
Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 25 Oktober 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2008%20ayat%2004-06.pdf


“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke