From: "Kisah" <[email protected]> 

Edisi 188 -- Judi Bola

PENGANTAR

Shalom,
Pada saat kita memutuskan untuk meninggalkan kehidupan kita yang lama dan 
memulai kehidupan yang baru, pasti akan ada saja sesuatu yang mencoba untuk 
menarik kita untuk kembali dalam kehidupan yang lama. Namun jika kita 
bergantung sama Tuhan, niscaya kita tidak akan tergoda untuk melakukan dosa 
yang sama. Kesaksian berikut merupakan salah satu teladan bagi kita semua, 
bahwa memiliki kehidupan yang baru di dalam Tuhan ternyata jauh lebih 
menyenangkan dari apapun juga. Tuhan Yesus memberkati.

Pimpinan Redaksi KISAH,
Novita Yuniarti
< novita(at)in-christ.net >
http://kekal.sabda.org
http://fb.sabda.org/kisah

_________________________________________________________
KESAKSIAN

JUDI BOLA
"Pengusaha kayu," demikian jawab saya ketika ditanya oleh pendeta mengenai apa 
pekerjaan saya saat konseling pranikah. Padahal kalau dia tahu pekerjaan saya 
sebenarnya adalah seorang bandar judi, saya tidak bisa membayangkan apa 
reaksinya dan apa yang akan terjadi nanti. Memang sudah sejak SMP saya 
menggeluti dunia ini. Hampir seluruh keluarga saya berkecimpung dalam dunia 
judi sepak bola.
Semua pertandingan sepak bola, mulai dari liga Inggris sampai liga Italia kami 
jadikan ajang judi. Taruhan yang kami bandari mulai dari lima ratus ribu sampai 
puluhan juta rupiah. Bisnis bandar pertaruhan saya berkembang pesat sehingga 
tahun 1988 saya sudah bisa membuka bandar sendiri. Pertarungan saya sampai 
dengan bandar-bandar top di Jakarta, dengan omzet setiap pertarungan bisa 
mencapai milyaran.

Kemahiran saya dalam pertaruhan membuat saya sering kali menang, sehingga 
membuat saya memiliki uang yang berlimpah. Uang yang mudah datang mudah juga 
perginya. Saya menghabiskan uang itu dengan berfoya-foya dan tinggal di hotel; 
saya jarang sekali pulang ke rumah. Seluruh kegiatan judi tersebut -- mulai 
dari memonitor para petarung, mencari informasi dan prediksi, sampai transaksi 
dengan para pelanggan -- dapat saya lakukan hanya dengan telepon genggam.
Walaupun hidup saya bergelimang uang, namun saya merasa kesepian.
Saya mulai berpikir untuk mencari seorang pasangan hidup. Saya ingin mencari 
seorang wanita yang bukan dari dunia malam, tempat saya hidup dan bergaul. Saya 
ingin mencari seorang wanita dari kalangan baik-baik, sehingga saya mulai 
mengurangi kehidupan di dunia malam untuk berkonsentrasi mencari pasangan hidup.

Tahun 1993, saya bertemu dan berkenalan dengan seorang wanita baik-baik. Dia 
mengajak saya untuk menghadiri sebuah acara makan malam suatu kelompok 
pengusaha yang dipimpin oleh ayahnya sendiri.
Tentu saja saya tidak bisa menolak undangan itu. Semula saya merasa berada di 
tempat yang salah. Kumpulan itu bersorak-sorak, bernyanyi-nyanyi, bertepuk 
tangan, dan mengangkat tangan mereka.
Walaupun begitu, sepulang dari pertemuan itu, saya merasakan sebuah sukacita 
yang lain, sukacita yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, yang juga tidak 
pernah saya temukan di dunia malam yang bergelimang kesenangan itu. Demi 
menyenangkan hati calon istri dan mertua, saya setuju bergabung menjadi anggota 
perkumpulan itu.
Sementara dengan lihainya saya menyembunyikan identitas pekerjaan
saya yang sebenarnya.

Tahun 1994, kami menikah. Saat konseling pranikah, saya harus berbohong kepada 
pendeta dengan mengatakan bahwa pekerjaan saya adalah pengusaha kayu! Begitu 
memasuki tahun kedua pernikahan kami, saya mulai terjun lagi dalam kehidupan 
judi dan dunia malam. Siang hari saya menganggur dan saya mengisinya dengan 
bermain biliar hampir setiap hari. Istri saya keberatan dengan kegiatan yang 
saya lakukan tersebut sehingga sering menimbulkan pertengkaran di antara kami. 
Tahun 1998, krisis yang melanda Indonesia juga berdampak besar bagi bisnis 
pertaruhan saya. Banyak pelanggan yang mengalami kesulitan keuangan sehingga 
enggan lagi untuk bertaruh. 
Akibatnya, saya mengalami kesulitan untuk membayar hutang-hutang ke bank, 
apabila saya tidak dapat membayarnya, maka rumah akan segera disita.

Dalam keadaan terlilit hutang, saya coba datang ke gereja. Mendengar khotbah di 
gereja saya bagai disambar petir di siang bolong. Saya tersentak; saya seperti 
ditegur langsung oleh Tuhan. Tidak mungkin mencapai apa yang saya inginkan 
dalam hidup melalui judi. Saya sadar, ternyata selama ini saya telah mencobai 
Tuhan, sesuatu yang saya tahu salah sejak semula, namun tetap saya lakukan 
berulang-ulang. Saya renungkan teguran itu, dan bertekad untuk berhenti dari 
kehidupan judi. Saya tidak mau lagi mencobai Tuhan.

Baru saja berkomitmen mengenai hal tersebut, mendadak telepon berdering. 
Ternyata pencobaan pertama datang. Seorang langganan bertanya mengenai 
pertaruhan. Saat itu juga dengan tuntunan Tuhan, saya mengatakan padanya bahwa 
saya sudah berhenti berjudi sejak hari itu dan mau melayani Tuhan. 
Dia terkejut, "Bagaimana mungkin kamu bisa begitu?" 
Banyak pengusaha besar menutup usahanya dan beralih menjadi penjudi karena jauh 
lebih menguntungkan, tetapi saya yang telah punya jaringan luas dan nama besar 
malah ingin berhenti. Dia tidak bisa memercayainya; baginya itu mustahil, namun 
itulah yang terjadi. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, segala sesuatunya 
mungkin terjadi bersama dengan-Nya.

Berhenti berjudi otomatis menghentikan juga pemasukan uang, padahal saya harus 
membayar hutang-hutang di bank. Walaupun demikian, ada suatu kekuatan yang 
membuat saya sungguh yakin bahwa langkah yang saya ambil untuk berhenti adalah 
benar. Saya merasakan bahwa Tuhan sangat dekat sekali dan saya memiliki suatu 
keyakinan bahwa Dia akan menyertai dan menyelesai kan segala permasalahan saya. 
Benar saja, Tuhan menolong kami dengan ajaib. Suatu hari, Dia menuntun untuk 
menemukan sebuah toko bernama "Imanuel" di Pasar Turi agar kami membelinya. Dia 
menuntun saya dan istri agar berdagang pakaian di situ. Setelah membuka usaha 
di situ, walaupun usaha kami masih tergolong kecil, namun kesibukan dagang itu 
berangsur-angsur telah membuat saya melupakan kehidupan hitam saya sebelumnya.

Penghasilan yang kami peroleh dari berdagang memang masih belum mampu melunasi 
hutang-hutang bank, namun penyertaan Tuhan memang luar biasa. Ada seseorang 
yang menawar rumah kami dengan harga yang sangat bagus. Bahkan, ia berani 
menukarkan dengan rumahnya sendiri yang bagus di sebuah lingkungan elit dan dia 
masih memberikan kami tambahan uang sebanyak tiga ratus juta rupiah! Akhirnya, 
dari uang itu kami bisa membayar hutang-hutang bank, bahkan sisanya masih cukup 
kami gunakan untuk menambah modal berdagang. Hidup di dalam Tuhan Yesus adalah 
sebuah kepastian, bukan seperti kehidupan judi seperti yang pernah saya lakukan.

Diambil dan disunting dari:
Judul majalah: SUARA, Edisi 77, Tahun 2005
Penulis: Yohanes Yanto Gunawan
Penerbit: Communication Department Full Gospel Business Men's
Fellowship International - Indonesia
Halaman: 10 dan 12 -- 14
_____________________________________________________

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari 
semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, 
menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma 8:29)
< http://alkitab.sabda.org/?Roma+8:29 >
--------------------------------------------------
KS-ILT
Rom 8:29 Sebab, mereka yang telah Dia kenal sebelumnya, juga telah Dia 
pratetapkan serupa dengan gambar Putra-Nya, sehingga Dia menjadi yang sulung di 
antara banyak saudara.
_____________________________________________________
POKOK DOA

1. Doakan agar setiap orang percaya berani mengambil langkah untuk
meninggalkan kehidupan mereka yang lama dan melangkah bersama
Tuhan dalam kehidupan mereka yang baru.

2. Berdoa agar Tuhan menjaga hati setiap orang percaya agar tidak
tergoda untuk kembali ke kehidupan mereka yang lama.

3. Doakan agar Tuhan memberi kekuatan kepada mereka yang saat ini sedang 
berjuang untuk melawan setiap godaan yang datang saat mereka mengambil 
keputusan untuk meninggalkan kehidupan mereka yang lama. 
========================================== 

From: "Kisah" <[email protected]> 

Edisi 189 -- Lebih Banyak Kasih Bagi-Mu

PENGANTAR

Shalom,
Dalam hidup ini, saya belajar bahwa sukacita saya tidak dipengaruhi
oleh kondisi saya -- entah saya sedang sedih maupun senang, saya
akan selalu berusaha untuk bersukacita. Bagi saya, sumber sukacita
bukanlah ketika mendapatkan hadiah atau hal-hal yang bisa membuat
saya tertawa, melainkan Kristus yang menjadi pusat sukacita saya.
Orang-orang Kristen yang sering mengalami aniaya, baik secara fisik
maupun psikis dalam hidup mereka, tidak sedikit dari mereka yang
senantiasa bersukacita karena mereka tahu sukacita yang sesungguhnya
hanya bisa diperoleh di dalam Kristus Tuhan.

Pimpinan Redaksi KISAH,
Novita Yuniarti
http://kekal.sabda.org
http://fb.sabda.org/kisah
_______________________________________________________________
KESAKSIAN

LEBIH BANYAK KASIH BAGI-MU
Selama bertahun-tahun, Pendeta Kim dan 27 orang yang digembalakannya
di Korea hidup dalam lorong-lorong bawah tanah yang digali dengan tangan mereka 
sendiri. Ketika orang Komunis sedang membangun jalan, mereka menemukan 
orang-orang Kristen yang hidup di bawah tanah tersebut.

Para petugas membawa mereka keluar di hadapan 30.000 orang di desa
Gok San untuk disidang di hadapan publik dan dieksekusi. Para petugas tersebut 
berkata, "SangkElohim Kristus, atau kalian akan mati." Tetapi orang-orang 
Kristen tersebut menolak perintah itu.

Pada saat itu, kepala pasukan petugas Komunis telah memerintahkan agar empat 
anak-anak dari orang percaya tersebut disiapkan untuk digantung. Dengan 
tali-tali diikat di sekeliling leher-leher mereka yang kecil, para petugas 
sekali lagi memerintahkan para orang tua itu untuk menyangkal Kristus.

Tidak seorang pun dari para orang percaya mau menyangkal iman mereka. Mereka 
mengatakan kepada anak-anak mereka, "Sebentar lagi kami akan melihat kalian di 
surga." Anak-anak itu meninggal tanpa suara.

Kepala pasukan petugas itu kemudian memanggil agar mesin penggiling
jalanan. Ia memaksa para orang Kristen untuk berbaring di tanah.
Sementara mesinnya berputar, mereka kembali diberikan satu kesempatan terakhir 
untuk menyangkal iman mereka kepada Kristus.
Sekali lagi mereka menolak.

Sementara mesin penggiling mulai beringsut maju, para orang Kristen mulai 
menyanyikan sebuah lagu yang telah sering mereka nyanyikan bersama-sama. 
Sementara tulang-tulang dan tubuh-tubuh mereka diremukkan di bawah tekanan dari 
mesin penggiling raksasa, bibir mereka terus mengucapkan kata-kata.

Eksekusi ini dilaporkan di koran-koran Korea Utara sebagai aksi menekan 
takhayul.

Sepanjang sejarah, para "penggila Yesus" (Jesus Freak) telah bernyanyi dalam 
masa-masa terakhir mereka di bumi. Diiringi rasa takjub dari para penyiksa 
mereka, dengan penuh sukacita mereka mengangkat suara mereka dalam pujian 
kepada Elohim.

"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami
kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari
pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memerhatikan yang kelihatan,
melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan 
yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:17-18)
---------------------------------------------------
2Kor 4:17 Sebab kesukaran kami yang ringan ini, dengan segera mengerjakan bagi 
kami kepenuhan kemuliaan kekal, dari kelimpahan kepada kelimpahan.
4:18 Karena kami tidak memerhatikan apa yang kelihatan melainkan apa yang tidak 
kelihatan, karena apa yang kelihatan itu sementara tetapi apa yang tidak 
kelihatan itu kekal.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Jesus Freaks
Penulis: Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit: Cipta Olah Pustaka
Halaman: 130 -- 131 
_______________________________________________________________

Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Elohim di 
pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31)
< http://alkitab.sabda.org/?p=Roma 8:31 >
--------------------------------------------------
Rom 8:31 Jadi, kita akan mengatakan apa terhadap hal ini? Jika Elohim di pihak 
kita, siapa yang menentang kita?
________________________________________________________________
POKOK DOA

1. Berdoa bagi umat percaya agar dapat menjaga sikap hidup mereka,
sehingga mereka dapat mewartakan kasih Kristus.

2. Berdoa juga agar mereka yang sedang dalam masa-masa sulit boleh
senantiasa mengandalkan Tuhan dan bergantung sepenuhnya hanya kepada Dia.

3. Doakan agar setiap orang percaya mau diproses oleh Tuhan, sehingga mereka 
memiliki kualitas kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai kekristenan.
________________________________________________________________

Pimpinan redaksi: Novita Yuniarti
Kontak: < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/
Facebook KISAH: http://fb.sabda.org/kisah
Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org
Anda terdaftar dengan alamat email: [email protected]
__________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) Kisah 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org/
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

Kirim email ke