HARTA DUNIAWI ATAU SORGAWI?
 
oleh: Denny Teguh Sutandio
 
 
 
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan 
ditambahkan kepadamu.”
(Mat. 6:33)
 
 
 
Ketika pertama kali kita mendengar istilah harta, apa yang ada di benak Anda? 
Kekayaan melimpah? Mobil mewah? Rumah megah? Sering kali kita mengidentikkan 
harta dengan harta yang kasat mata. Benarkah itu harta yang sesungguhnya? 
Bolehkah sebagai orang Kristen, kita mengumpulkan harta duniawi? Apa kata 
Alkitab?
 
Nats Alkitab kita saat ini adalah Matius 6:33 yang mengajar kita pentingnya 
mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (lebih tepat diterjemahkan: 
keadilannya). Mari kita menyelidikinya. Injil Matius 5-7 merupakan catatan 
khotbah Tuhan Yesus di bukit. Setelah menguraikan tentang Ucapan Bahagia 
(Beatitudes) di Matius 5:1-12 dan tafsiran Tuhan Yesus tentang Hukum Taurat di 
Matius 5:17-48, maka mulai pasal 6, Ia mengaplikasikan pokok pengajaran di 
pasal 5 ke dalam setiap aspek kehidupan orang percaya: iman dan praktik hidup 
sehari-hari. Pasal 6 ini dimulai dengan aplikasi dalam hal memberi sedekah 
(6:1-4), berdoa (6:5-15), berpuasa (6:16-18), dan terakhir mengumpulkan harta 
(6:19-34). Saya menempatkan ayat 25-34 bukan di dalam subtema kekuatiran 
seperti yang dilakukan oleh Alkitab Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), tetapi 
dalam subtema mengumpulkan harta, karena subtema kekuatiran di ayat 25-34 
berkaitan erat dengan ayat sebelumnya (19-24). Seorang yang
 hidupnya kuatir adalah seorang yang hidupnya terlalu banyak mengumpulkan harta 
di dunia (ay. 19) dan yang pada akhirnya mengilahkan Mamon (ay. 24). Dengan 
kata lain, seorang yang kuatir adalah seorang yang hidupnya tidak mencari Allah 
dan kebenaran-Nya, karena ia terlalu sibuk mencari harta duniawi yang 
diklaimnya sebagai berkat “Allah”.
 
Kepada orang yang terlalu mengumpulkan harta duniawi yang mengakibatkan dia 
menjadi kuatir dalam hidupnya, Tuhan Yesus mengajar dan menegur:
Pertama, kumpulkan harta di Sorga (ay. 20). Apa arti harta di Sorga? Kata 
“harta” dalam bahasa Yunaninya thēsaurous berarti harta-harta, gudang, kotak 
harta, tempat menyimpan. Kata ini muncul di dalam Perjanjian Baru sebanyak 17x 
dan diterjemahkan: tempat harta benda, harta, dan perbendaharaan. (Hasan 
Sutanto, Konkordansi Perjanjian Baru, hlm. 374) Jika kita membandingkan ayat 20 
dengan ayat 19, maka kita akan menjumpai bahwa makna harta di sini adalah 
sesuatu yang berharga/bernilai di dalam hidup seseorang. Maka jika harta di 
bumi diartikan sebagai sesuatu yang bernilai/berharga di bumi, maka harta di 
Sorga berarti sesuatu yang berharga di Sorga. Dengan kata lain, harta di Sorga 
bisa diartikan sebagai kekekalan. Harta di Sorga ini diperintahkan oleh Tuhan 
Yesus untuk dikumpulkan atau disimpan. Berarti kekekalan bukan hanya menjadi 
ide orang Kristen, tetapi juga menjadi pengalaman sehari-hari orang Kristen di 
dalam imannya yang harus disimpan dan
 dipelihara. Mengapa orang Kristen harus menyimpan harta Sorgawi? Lebih lanjut, 
Ia menjelaskan alasannya: karena harga Sorgawi tidak bisa dirusak oleh ngengat 
dan karat dan juga tidak mungkin bisa dibongkar dan dicuri oleh para pencuri.
 
Kedua, ubahlah arah pandang kita (ay. 21-24). Bagaimana menyimpan dan 
memelihara harta Sorgawi kita? Kristus memerintahkan kita untuk mengubah 
perspektif kita. Perspektif yang dimaksud adalah cara pandang kita terhadap 
segala sesuatu. Kalau orang dunia memiliki perspektif dunia terhadap harta 
duniawi, maka sebagai pewaris harta Sorgawi, kita harus memiliki perspektif 
Allah.. Hal ini ditandai dengan mengubah perspektif hati dan mata kita (ay. 
21-23), lalu mengarahkannya kepada Allah. Wah, menjadi orang Kristen susah ya? 
Beberapa (atau mungkin banyak?) orang Kristen mencoba berpikir: Apakah kita 
tidak bisa berada di dalam posisi netral: separuh Allah dan separuh setan? 
Inilah yang kerapkali disukai oleh banyak orang Kristen bunglon atau ½ Kristen: 
Allah mau, setan pun mau. Tidak heran, hari Minggu, waktu di dalam kebaktian, 
banyak orang Kristen seperti malaikat, selalu memikirkan tentang Tuhan, tetapi 
begitu pulang dari kebaktian, pikirannya sudah dikuasai
 iblis. Tidak ada posisi netral! Tuhan Yesus mengajar prinsip ini di ayat 24, 
posisi kita harus jelas, jangan ambigu.
 
Ketiga, memiliki cara pandang Allah (ay. 25-34). Setelah mengubah arah/cara 
pandang kita, lalu mengarahkannya kepada Allah, maka pertanyaan selanjutnya, 
apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang yang memiliki cara pandang Allah di 
dalam hidupnya? Pertama, tidak perlu kuatir. Mulai ayat 25-32, Tuhan Yesus 
mengajar agar kita yang sudah memiliki cara pandang Allah TIDAK perlu kuatir 
akan hidup kita: makan, minum, dan pakaian. Mengapa kita tidak perlu kuatir? 
Karena Allah yang kita percaya adalah Allah yang bukan hanya mencipta dan 
menebus kita, Ia juga memelihara kehidupan anak-anak-Nya. Kristus mengajarkan 
hal ini dengan 5 cara: memandang pentingnya hidup dan tubuh ketimbang hal-hal 
lahiriah (ay. 25), membandingkan manusia dengan burung-burung yang tidak kuatir 
akan makanannya (ay. 26), menyadarkan bahwa kekuatiran tidak dapat 
memperpanjang umur seseorang (ay. 27), membandingkan manusia dengan bunga 
bakung di ladang (ay. 28), dan ditutup dengan kesimpulan
 di ayat 30. Pengertian kita akan providensia (pemeliharaan) Allah di dalam 
kehidupan anak-anak Tuhan mengakibatkan kita TIDAK perlu kuatir lagi akan hidup 
(ay. 31), karena makanan, minuman, dan pakaian itu dicari oleh orang yang tidak 
mengenal Allah (ay. 32) atau menggunakan bahasa InterVarsity Press Bible 
Background: New Testament: The pagan (bangsa kafir). Dengan kata lain, seorang 
yang masih kuatir akan persoalan hidup: makan, minum, dan pakaian disamakan 
dengan orang yang tidak mengenal Allah, karena orang tersebut lebih 
mementingkan urusan duniawi ketimbang Allah. 
Oleh karena itu, sebagai orang Kristen yang telah ditebus Kristus dan memiliki 
cara pandang Allah yang tentunya harus berbeda dari orang-orang dunia, maka 
sikap orang Kristen yang benar yang kedua adalah: mencari Kerajaan Allah dan 
keadilan-Nya (ay. 33). Kata “mencari” dalam bahasa Yunaninya zēteite yang akar 
katanya zēteō yang bisa berarti: mencari, menyelidiki, dll. Kata zēteite (zēteō 
+ ete) di dalam bahasa Yunani menunjukkan bahwa kata ini dikenakan pada orang 
kedua jamak (misalnya: kamu sekalian; konteks ayat ini adalah khotbah Yesus di 
atas bukit kepada banyak orang). Setelah mencari, maka disusul perkataan, 
“terlebih dahulu” yang dalam terjemahan Inggrisnya: first (pertama/terlebih 
dahulu). Ini berarti mencari harta duniawi itu bukan yang terpenting/terdahulu, 
lalu apa yang harus dicari terlebih dahulu? Kerajaan Allah dan kebenarannya. 
Tema Kerajaan Allah adalah tema sentral Injil Matius, di mana melalui Injil 
ini, Matius hendak
 memproklamasikan Kristus sebagai Raja yang mendirikan Kerajaan-Nya di bumi 
ini. Lalu, kerajaan Allah ini disusul dengan kebenarannya. Kata “kebenaran” 
dalam teks Alkitab LAI kurang tepat terjemahannya. Kata yang dipakai dalam 
bahasa Yunaninya dikaiosunen yang berarti kebenaran-keadilan (sedangkan 
kebenaran yang dalam bahasa Inggris truth diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani: 
alētheia). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear 
Yunani-Indonesia (2006) menerjemahkannya: keadilan-Nya (hlm. 30) Lalu, apa arti 
mencari kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya? NIV Spirit of the 
Reformation Study Bible menafsirkannya, “This means making God’s sovereign rule 
and our right relationship with him the highest priorities in life.” (hlm. 155) 
(=Ini berarti menjadikan peraturan Allah yang berdaulat dan hubungan kita yang 
benar dengan-Nya menjadi prioritas tertinggi dalam hidup.) Dengan kata lain, 
ketika kita berkomitmen hendak mencari
 Kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya, maka di saat yang sama, kita 
berkomitmen menjadikan Allah, Kerajaan-Nya, dan peraturan Kerajaan-Nya sebagai 
satu-satunya fondasi, sumber, dan tujuan hidup kita di dalam Kristus. 
Lalu, setelah kita mencari kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya, apa sikap 
kita selanjutnya? Sikap kita yang ketiga adalah: menerima pemeliharaan Allah 
(ay. 33b). Seorang yang telah mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya 
adalah orang yang telah siap menerima pemeliharaan Allah di dalam hidupnya. 
Tentu hal ini TIDAK berarti kita tidak usah bekerja keras dan terus menantikan 
berkat Allah saja. Hal ini berarti kita tetap bekerja keras seperti untuk 
Tuhan, namun kita juga mempercayakan proses dan hasilnya kepada Allah yang 
memelihara hidup kita setiap hari. Kembali, orang yang siap menerima 
pemeliharaan Allah adalah orang yang siap menerima berkat-berkat Allah secara 
dasar di dalam hidupnya. Di ayat 33b, Ia berfirman, “maka semuanya itu akan 
ditambahkan kepadamu.” Pertanyaan selanjutnya, apa makna semuanya itu? Apakah 
ini berarti Tuhan akan memberikan kekayaan, kelancaran, keberhasilan, dll 
seperti yang ditafsirkan oleh banyak pemimpin
 gereja yang menganut “theologi” kemakmuran? Tafsiran ngaco ini sayangnya TIDAK 
dibicarakan Tuhan Yesus dalam konteks ini. Kalau kita membaca ulang dengan 
teliti dari ayat 25-32, maka kita dapat mengerti arti “semuanya itu” (all these 
things; di dalam bahasa Inggris, kata these berarti itu secara jamak dan 
merujuk pada ayat-ayat sebelumnya), yaitu: makanan, minuman, dan pakaian. 
Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole 
Bible menafsirkan “semuanya itu” sebagai the necessary supports of life 
(pendukung hidup yang diperlukan). Lebih tajam lagi, Dr. John Gill 
menafsirkannya sebagai, “meat, drink, clothing, or whatsoever worldly 
sustenance else is necessary for you” (daging, minuman, pakaian, atau kebutuhan 
dunia apa pun yang penting bagimu). Dengan kata lain, “semuanya itu” berarti 
segala kebutuhan dasar kita yang penting: sandang, pangan, dan papan. Ketika 
kita telah mencari Kerajaan Allah dan
 kebenaran-keadilan-Nya, maka kebutuhan dasar kita akan ditambahkan/diberikan 
(Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. lebih memilih untuk menerjemahkannya: “diberikan”) 
kepada kita. Setelah kita mencari kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya 
lalu menerima berkat-berkat-Nya, maka kita dituntut-Nya untuk tidak perlu 
kuatir lagi akan hari esok, karena hari esok memiliki kesusahannya sendiri yang 
ada di dalam pemeliharaan-Nya yang sempurna (ay.. 34).
Dengan kata lain, setelah kita mencari dan mengejar harta Sorgawi, yaitu 
kekekalan, maka Allah yang adalah Pemelihara akan memelihara kehidupan kita 
hari lepas hari dengan memberikan berkat-berkat jasmani kepada kita sesuai 
dengan kebutuhan kita (bukan sesuai dengan keinginan kita). 
 
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mencari harta Sorgawi kita, lalu setelah 
itu percaya pada pemeliharaan-Nya yang akan mencukupkan kebutuhan kita sesuai 
kehendak-Nya yang berdaulat? Amin. Soli Deo Gloria. 


“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke