KEKRISTENAN DAN OTORITAS ALKITAB
 
oleh: Denny Teguh Sutandio
 
 
 
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
(Mzm. 119:105)
 
 
 
Semboyan Sola Scriptura (hanya Alkitab saja) yang dicetuskan pertama kali oleh 
seorang reformator Protestan dari Jerman, Dr. Martin Luther menjadi sumber 
pertama Kekristenan Injili pada abad-abad sesudahnya yang menolak otoritas 
kepausan dan menjunjung tinggi otoritas Alkitab. Semangat ini nantinya 
mempengaruhi gereja-gereja Reformasi dengan berbagai aliran selanjutnya: 
Reformed/Presbyterian (mengikuti ajaran dari Dr. John Calvin, penerus Luther), 
Baptis, Methodist, Pentakosta, Karismatik, dll. Bahkan Dr. Calvin mengeksposisi 
hampir setiap kitab di dalam Alkitab di dalam setiap khotbahnya. Tidak heran, 
pada banyak gereja Protestan Injili, di dalam pengakuan imannya, mereka 
mengakui bahwa Alkitab adalah sumber pedoman bagi iman dan praktik hidup 
Kristen sehari-hari. Pertanyaan lebih lanjut adalah benarkah gereja dan orang 
Kristen khususnya yang berada di Indonesia sungguh-sungguh memegang teguh 
otoritas Alkitab sebagai dasar iman dan praktik hidup
 Kristen? TIDAK. Fakta yang menyedihkan adalah banyak orang dan gereja Kristen 
hari-hari ini meskipun menyetujui otoritas Alkitab sebagai dasar iman dan 
praktik hidup Kristen, namun secara hati dan praktik nyata, mereka 
menyangkalinya. Otoritas Alkitab sengaja digeser dan diganti menjadi otoritas 
yang berpusat pada manusia berdosa dan setan. Apa saja wujudnya?
 
Kecenderungan manusia berdosa adalah kecenderungan yang anti-otoritas, namun 
secara tidak sadar, makin menyuarakan anti-otoritas, mereka sebenarnya sedang 
menekankan otoritas diri mereka sebagai kebenaran untuk diikuti oleh para 
pengikutnya. Sebuah kontradiksi logika yang aneh dan ilogis. Oleh karena itu, 
otoritas utama yang sering dianut oleh banyak orang dan gereja Kristen di abad 
ini adalah otoritas yang berpusat pada manusia berdosa. Otoritas ini bisa 
meliputi beberapa aspek: 
 
Pertama, otoritas telinga dan nafsu duniawi. Rasul Paulus menasihati Timotius 
di dalam 2 Timotius 4:3, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi 
menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut 
kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.” Di zaman akhir ini, Paulus 
memperingatkan Timotius dan orang Kristen di abad ini bahwa ilah zaman akhir 
ini adalah telinga. Beberapa Alkitab terjemahan Inggris menerjemahkan 
“keinginan telinganya” dengan: dengan telinganya yang gatal (itching ears). 
Tidak heran, demi memuaskan telinganya yang gatal, banyak orang Kristen yang 
mencari gereja yang cocok dengan telinganya, yaitu gereja yang mengajarkan 
ajaran dunia yang dibalut dengan segudang kutipan ayat Alkitab di luar konteks. 
Misalnya, gereja mengajarkan bahwa ikut Tuhan pasti kaya, sehat, bahkan tidak 
pernah digigit nyamuk itulah yang sedang laris digemari oleh banyak orang 
Kristen yang hidupnya setengah-setengah dan
 ingin kaya. Gereja ini seperti orang yang menawarkan daging segar kepada 
anjing-anjing yang kelaparan. Namun faktanya, orang Kristen yang sudah kaya 
biasanya langsung hengkang dari gereja tersebut, karena dirinya sudah kaya. 
Supaya lebih “hidup”, gereja-gereja ini mengundang motivator-motivator agar 
jemaat-jemaatnya bisa hidup lebih kaya sebagai tanda “diberkati” Tuhan. Tidak 
heran, seorang Joel Osteen begitu diminati oleh banyak gereja kontemporer dan 
orang Kristen yang enggan ditegur dosanya, namun senang dihibur. Gereja tidak 
ada bedanya dengan klub diskotik atau café atau tempat hiburan lainnya.
 
Selain kemakmuran, gereja yang gemar dicari oleh banyak orang “Kristen” 
pragmatis ini adalah gereja yang mengajarkan ajaran yang berdamai dengan semua 
orang. Ajaran ini dapat dilihat dari isi khotbah yang disampaikan, misalnya: 
mengajarkan toleransi umat beragama (ujung-ujungnya mengajarkan: semua agama 
itu sama), menyangkal bahwa keselamatan hanya di dalam Tuhan Yesus, menyangkal 
ketidakbersalahan Alkitab baik eksplisit maupun implisit, dll. Pada waktu Natal 
dan Paskah, biasanya mereka mengkhotbahkan solidaritas umat manusia yang hampir 
TIDAK ada kaitannya dengan inti berita Natal dan Paskah. Melalui program 
gereja, kita juga dapat melihat gejala serupa, misalnya rapat majelis gereja 
memutuskan untuk memasang spanduk yang bertuliskan selamat memperingati hari 
raya agama mayoritas, namun secara TIDAK KONSISTEN, gereja yang sama TIDAK 
pernah memasang spanduk serupa pada saat hari Waisak atau Galungan/Kuningan. 
Intinya, mereka itu ketakutan, kalau
 kasus HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) menimpa gereja mereka. Perhatikan 
juga kolom artikel/renungan di surat kabar pada saat Natal dan Paskah, bacalah 
artikel/renungan tersebut, mayoritas menekankan solidaritas manusia, kemudian 
ceklah siapa penulisnya, bisa dipastikan berasal dari banyak gereja-gereja 
Protestan arus utama yang ngaco.
 
Kedua, otoritas pemimpin gereja. Karena berpusat pada telinga dan nafsu 
duniawi, maka banyak orang Kristen kontemporer yang pragmatis percaya penuh 
pada apa yang dikatakan si pemimpin gereja. Hal ini ditandai dengan banyak 
jemaat yang spontan (tanpa berpikir panjang) meneriakkan, “Amin”, ketika si 
pengkhotbah mengajar, “Ikut Tuhan pasti kaya, amin saudara?” Di satu sisi, hal 
ini ada benarnya (jika si pemimpin gereja bisa dipertanggungjawabkan 
ajarannya), namun di sisi lain, perlu dipertanyakan: apakah pemimpin gereja itu 
Tuhan yang harus ditaati setiap perkataannya? Misalnya, jika pemimpin gereja 
melarang jemaatnya untuk membaca buku The Da Vinci Code, tentu nasihat ini 
bagus, namun pertanyaan lebih lanjut, apakah pemimpin gereja ini juga membekali 
jemaatnya dengan alasan pelarangan tersebut dan kesalahan fatal buku tersebut? 
Jika pemimpin gereja hanya melarang membaca buku tersebut tanpa membekali 
jemaatnya, maka pemimpin gereja mendidik
 jemaatnya untuk loyal kepada si pemimpin gereja (apalagi yang berani mengklaim 
bahwa khotbahnya itu di“wahyu”kan langsung dari “Tuhan” bahkan khotbahnya 
diklaim merupakan hasil dari Pemahaman Alkitab langsung sambil minum kopi 
dengan “Tuhan Yesus” kemarin malam)! Tidak heran, beberapa orang Kristen yang 
berada di dalam gereja yang digembalakan oleh si pemimpin gereja ini ketakutan 
dalam memilih, membeli, dan membaca buku. Jangan-jangan, si jemaat kalau 
membeli buku tertentu, ia akan menelpon si pemimpin gereja untuk memastikan 
apakah buku ini beres atau tidak.
 
Ketiga, otoritas tradisi (nenek moyang). Di sisi lain, beberapa (atau mungkin 
banyak?) orang Kristen hari-hari ini khususnya yang berusia tua (di atas 40/50 
tahun) notabene memegang teguh tradisi nenek moyang sebagai standar kebenaran 
bahkan di atas Alkitab, meskipun orang ini berada di dalam gereja yang ketat 
mengajarkan Alkitab. Ada beberapa contoh: Pertama, beberapa orang Kristen 
khususnya banyak dari gereja Katolik Roma (saya percaya mungkin jika Anda 
bertanya kepada Pastor Katolik, apakah diperbolehkan sembahyang di depan 
kuburan/foto orang yang sudah meninggal, mungkin banyak dari mereka akan 
berkata TIDAK BOLEH) dengan mudahnya ikut-ikutan sembahyang/menyembah di depan 
foto orang yang sudah meninggal dengan alasan menghormati orang yang sudah 
meninggal. Saya pernah mendengar seorang pernah berkata bahwa kalau jadi 
Kristen/Protestan itu sulit, tidak boleh sembahyang, tetapi kalau jadi Katolik 
itu mudah, semua boleh. Bagi saya, perkataan ini
 membuktikan bahwa tradisi sudah dijadikan berhala dan standar kebenaran untuk 
mencari agama yang “pas”. Kedua, anak sejak kecil BUKAN dididik untuk takut 
akan Tuhan dan menemukan panggilan Tuhan di dalam hidupnya, namun dididik dan 
diindoktrinasi untuk memenuhi keinginan orangtua yaitu meneruskan usaha mereka 
(tidak peduli apakah itu sesuai dengan panggilan Tuhan bagi si anak atau 
tidak). Ketiga, masih ada orang “Kristen” yang memasang cermin untuk menolak 
setan di dalam tokonya dan memanggil mudin, lalu ketika ditanya oleh ayah saya 
mengapa ia bertindak demikian, si pemilik toko menjawab dengan mudahnya, “Kan 
kita harus ikut budaya dunia?”
 
Keempat, otoritas mistik. Yang lebih parah, beberapa (atau mungkin banyak?) 
orang Kristen hari-hari ini begitu tergila-gila dengan yang namanya mistik 
melalui sarana-sarana, seperti: shio, bintang, dukun, paranormal, dll. Saya 
melihat sendiri fakta ada seorang jemaat yang aktif melayani di gereja Injili 
di Surabaya pergi ke paranormal/suhu. Ada juga yang begitu mempercayai ramalan 
shio/bintang dan menganggapnya sebagai kebenaran. Mereka itu aneh, manusia kok 
mau-maunya disamakan dengan binatang (shio ini jiong dengan shio itu; bahkan 
ada yang ditambahi dengan kesaksian nyata sebagai bukti jiong tersebut) dan 
yang lebih aneh lagi bisa percaya penuh pada perkataan dukun/suhu yang 
mengatakan tentang hari depannya yang belum tentu tepat, tetapi tidak percaya 
kepada Allah.
 
Jika banyak orang “Kristen” dan gereja hari-hari ini tidak memegang teguh 
otoritas Alkitab, maka saya menantang Anda untuk bertobat dan kembali kepada 
Alkitab! Kembali kepada Alkitab berarti kembali memegang teguh otoritas Alkitab 
sebagai sumber kebenaran bagi iman dan praktik hidup Kristen. Pertanyaan 
selanjutnya, mengapa harus Alkitab? Karena Alkitab adalah satu-satunya wahyu 
Allah bagi umat pilihan-Nya yang ditulis oleh lebih dari 40 orang yang berbeda 
zaman, budaya, bahasa, bangsa, status sosial, dll dengan inti berita: asal mula 
dunia diciptakan, manusia diciptakan Allah, manusia berdosa, tidak ada jalan 
keluar bagi manusia kecuali cara Allah dengan mengutus Tuhan Yesus untuk mati 
disalib dan bangkit demi manusia berdosa, kuasa Roh Kudus melahirbarukan 
umat-Nya, dan kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Dan yang juga penting, 
Alkitab memiliki keakuratan historis yang tidak bisa dibandingkan dengan 
kitab-kitab agama lain, meskipun Alkitab
 BUKANlah buku sejarah. Makin seseorang membuang otoritas Alkitab, orang itu 
bukan makin pandai dan berhikmat sejati, karena ia telah membuang Alkitab 
sebagai sumber hikmat.
 
Memegang teguh otoritas Alkitab berarti:
Pertama, percaya penuh akan ketidakbersalahan Alkitab dalam naskah aslinya. 
Jangan mengharapkan seorang Kristen dapat memegang teguh otoritas Alkitab, jika 
ia sendiri tidak percaya penuh akan ketidakbersalahan Alkitab dalam naskah asli 
(autographa)nya. Seorang yang tidak percaya penuh akan ketidakbersalahan 
Alkitab dalam naskah aslinya, maka dengan mudahnya ia akan mengkritik Alkitab 
tanpa terlebih dahulu mempelajari secara tuntas Alkitab.
 
Kedua, menjadikan Alkitab bukan sebagai obyek, tetapi subyek. Setelah percaya 
penuh akan ketidakbersalahan Alkitab, maka orang yang memegang teguh otoritas 
Alkitab TIDAK seharusnya hanya menjadikan Alkitab sebagai bahan penelitian 
(akademis), namun juga harus menjadikan Alkitab sebagai penilai bagi iman dan 
praktik hidupnya, sehingga ia bukan hanya makin pandai mengerti dan menafsirkan 
Alkitab dengan teliti, tetapi juga makin rohani dan rendah hati di hadapan 
Allah. Orang Kristen ini akan dengan rela hati ditegur oleh firman Tuhan 
tatkala iman dan praktik hidupnya salah bahkan mendukakan hati Tuhan. Bagi 
orang Kristen ini, yang terpenting adalah firman dan kehendak-Nya yang terjadi, 
bukan konsepnya sendiri yang berlaku. Oleh karena itu, dengan rela, orang 
Kristen ini akan mengaplikasikan semua pengajaran Alkitab ke dalam kehidupannya 
sehari-hari. Ia akan mengintegrasikan iman Kristen yang berdasarkan Alkitab 
dengan semua aspek kehidupannya, baik:
 pendidikan (integrasi iman dan ilmu), pekerjaan (integrasi iman dan 
bisnis/pekerjaan), keluarga (integrasi iman dan prinsip keluarga), dll.
 
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita secara serius memegang teguh otoritas 
Alkitab ataukah kita masih menjadi orang Kristen yang setengah-setengah? 
Ingatlah, Tuhan Yesus membenci orang Kristen yang suam-suam kuku. Oleh karena 
itu, jika Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertobat, bertobatlah dan 
kembali kepada Alkitab! Amin. Soli DEO Gloria.
 


“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke