JADUL IS THE BEST?
oleh: Denny Teguh Sutandio
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa
yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
(Rm. 12:2)
Surat Paulus kepada jemaat di Roma ini merupakan surat Paulus yang dapat
dikatakan magnum opus dari Paulus tentang pokok-pokok iman Kristen yang paling
komprehensif yang mengajarkan: dosa dan keselamatan melalui anugerah Allah di
dalam Kristus. Hal ini ditandai dengan 11 pasal dari Roma 1 s/d 11 dipakai
untuk menguraikan pokok-pokok penting iman Kristen tersebut. Namun Paulus bukan
seorang yang hanya pandai berteori, ia juga berusaha mengaplikasikan apa yang
diajarkannya dan prinsip-prinsip aplikasi tersebut diuraikannya di pasal 12 s/d
16. Setelah ditutup dengan segala kemuliaan hanya bagi Allah Trinitas di pasal
11 ayat 36, maka di pasal 12, ia memulai prinsip aplikasinya dengan konsep
ibadah sejati, yaitu dengan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang
total kepada Allah. Cukupkah sampai di situ? TIDAK! Di ayat 2, Paulus
melanjutkannya dengan mengajar bahwa agar kita tidak menjadi serupa dengan
dunia ini, tetapi diubah oleh pembaharuan akal
budi kita. Jika kita membaca ayat 2 dalam terjemahan Indonesia, maka kita
menafsirkannya bahwa kita lah yang aktif untuk tidak serupa dengan dunia dan
mengubah akal budi kita, namun jika kita selidiki teks Yunaninya, maka hal itu
bertolak belakang, di mana teks Yunaninya menggunakan bentuk pasif. “Janganlah
kamu menjadi serupa dengan dunia ini” di dalam teks Yunaninya seharusnya:
“Janganlah kamu dijadikan serupa dengan dunia ini”, lalu “berubahlah oleh
pembaharuan budimu” seharusnya: “kamu diubah oleh pembaharuan pemikiran” (Hasan
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, 2006, hlm. 862). Bentuk
aktif pada kalimat pertama menandakan bahwa dunialah yang mencoba meracuni
kita, sehingga kita jangan mau dibodohi oleh arus filsafat dan gaya hidup
dunia. Lalu disusul dengan pernyataan bahwa kita harus diubah oleh pembaharuan
akal budi. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang mengubah pembaharuan akal budi
kita? Tentu saja Allah! Dengan
bahasa yang singkat namun jelas, The Bible Exposition Commentary: New
Testament menafsirkannya, “The world wants to control your mind, but God wants
to transform your mind (see Eph. 4:17-24; Col. 3:1-11).” Penafsiran ini sangat
tajam, karena membedakan: dunia ingin MENGONTROL pikiran kita (secara tidak
sadar), sedangkan Allah ingin MENGUBAH/MENTRANSFORMASI pikiran kita (secara
sadar).
Melalui apakah dunia kita ingin mengontrol pikiran kita? Dengan beragam
filsafat, ajaran, dan tradisi manusia yang melawan kedaulatan Allah dan
firman-Nya. Pada kesempatan ini, saya hanya akan menspesifikkan satu cara dunia
kita mengontrol pikiran orang Kristen, yaitu TRADISI. Tradisi secara definisi
berarti adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, 1990, hlm. 959). Kalau kita memperhatikan definisi ini, sepintas
tradisi itu benar, namun di dalam perspektif iman Kristen, tradisi itu TIDAK
100% salah dan juga TIDAK 100% benar. Ketika kita membuang tradisi, itu sikap
yang salah, karena itu tidak menghargai sumbangsih sejarah ke dalam kehidupan
kita sekarang, namun di sisi lain, memberhalakan tradisi dan menganggapnya
sebagai “Tuhan” itu juga salah, karena itu termasuk dosa! Dosa mengakibatkan
segala sesuatu menjadi kabur dan apa yang tidak dimutlakkan menjadi sesuatu
yang dimutlakkan. Hal ini sangat nampak pada
pemberhalaan tradisi oleh mayoritas orang dari dunia Timur. Pemberhalaan
tradisi ini jika ditelusuri berasal dari Konfusianisme yang mengajarkan
pentingnya tradisi untuk mendidik moral kepada orang-orang di zamannya (bdk.
Hillary Rodrigues, “Chinese Religions” dalam World Religions: A Guide to the
Essentials, ed. Thomas A. Robinson dan Hillary Rodrigues, hlm. 255, 259). Hal
ini tentu tidak salah, mengingat tujuan Kong Hu Cu mengajar pentingnya tradisi
yaitu untuk mengajar moral. Namun perkembangan selanjutnya mengajar kita bahwa
kebudayaan dan agama Tiongkok menyerap ide Kong Hu Cu dan mengekstremkannya
(mungkin juga dipengaruhi oleh mistisisme sebagai salah satu kepercayaan orang
Tionghoa), sehingga tidak heran kita melihat beberapa atau mungkin banyak orang
Tionghoa yang begitu memberhalakan tradisi, bahkan tidak sedikit orang Kristen
ikut-ikutan. Contoh yang jelas-jelas kelihatan adalah mereka menyembah (jasad)
orang yang sudah meninggal di depan
kubur. Mereka berkata bahwa itu hanya wujud menghormati, namun pertanyaannya
adalah mengapa menghormati ditandai dengan sikap membungkukkan badan? Sikap
membungkukkan badan itu adalah sikap menyembah. Contoh lain yang tidak terlalu
kentara yaitu orangtua (bahkan beberapa di antaranya mengaku diri “Kristen”
bahkan pergi ke gereja Reformed pula) mengindoktrinasi anaknya bahwa HANYA
orangtua yang paling mengerti anak dan setiap keinginan orangtua HARUS ditaati.
Dari konsep inilah, terbentuklah suatu konsep nyeleneh: jadul is the best!
Sebenarnya istilah ini saya pinjam dari seorang teman gereja saya, Sdr. Indra
Oei waktu dia mengomentari salah satu status saya di Facebook. Namun
lama-kelamaan, saya memikir ulang dan mencoba menajamkan istilah ini. Apa
ciri-ciri para penganut konsep “jadul is the best”? (para penganut konsep ini
adalah orang-orang jadul {=jaman dahulu} yang berusia 40 tahun ke atas atau
atau orang-orang yang berusia di bawah 40 tahun namun dengan konsep seperti
orang yang berusia di atas 40 tahun)
Pertama, mereka selalu menekankan bahwa hal-hal terdahulu itu adalah hal yang
paling benar. Standar kebenarannya adalah waktu (usia). Kita bisa melihat
contoh praktisnya ketika kita mencoba memberitakan Injil kepada orang-orang
tua. Mengutip Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M., beberapa orang tua itu selalu
berkata bahwa Kekristenan itu muncul lebih muda dari agamanya (Budha atau Kong
Hu Cu atau sejenisnya), jadi yang paling benar adalah agama mereka. Lalu, Ev.
Yakub Tri Handoko bertanya, apakah sebelum agamanya ada, apakah ada agama lain
yang lebih dulu ada? Orang tua itu yang mengerti sejarah akan menjawab, ADA.
Kemudian, Ev. Yakub bertanya lagi, mengapa orang tua ini menganut agamanya
sekarang dan TIDAK menganut agama yang lebih dulu dari agamanya tersebut? Si
orang tua ini menjawab, “Ya, karena agama yang saya anut sekarang ini lebih
benar.” Dari contoh ini, kita telah melihat ketidakkonsistenan standar
kebenaran dari si orang tua ini: di satu sisi,
standar kebenaran di awal pembicaraan tersebut adalah waktu, namun setelah
dipertajam lagi oleh Ev. Yakub Tri Handoko, ia menyangkal teori pertamanya lalu
memunculkan teorinya yang kedua, yaitu kebenaran TIDAK diukur berdasarkan
waktu. Cape dech… Benar-benar aneh ya. Makin tua bukan makin cerdas dan
bijaksana, tetapi makin aneh! HahahaJ Itulah wujud dunia kita (dan orang tua)
yang tidak mengenal dan tidak beriman di dalam Kristus.
Kedua, mereka selalu membandingkan zaman sekarang dengan zaman dahulu. Karena
standar kebenaran penganut konsep ini adalah waktu, maka tidak heran, biasanya
mereka gemar membandingkan zaman sekarang dengan zaman dahulu, lalu mengambil
kesimpulan zaman dahulu lebih beres daripada zaman sekarang. Di dalam
Kekristenan, ada golongan Kekristenan yang terlalu ekstrem mengagungkan
lagu-lagu dan musik-musik zaman dahulu, lalu mengatakan bahwa lagu-lagu dan
musik-musik zaman dahulu lebih bermutu. Di satu sisi, kita melihat konsep ini
ada benarnya (separuh kebenaran). Kalau kita memperhatikan fakta di zaman
sekarang vs di zaman dahulu, kita memang mengakui bahwa manusia makin modern
bukan hidup makin beres, tetapi makin kacau. Contoh, free-sex lebih banyak
terjadi di zaman sekarang ketimbang di zaman dahulu. Contoh lain, banyak
lagu-lagu rohani Kristen di zaman dahulu memang lebih bermutu secara isinya
ketimbang beberapa (atau mungkin banyak?) lagu rohani
kontemporer yang populer zaman sekarang yang kebanyakan bertujuan
market-oriented. Namun hal ini TIDAK berarti zaman dahulu itu segala-galanya.
Kalau kita belajar dari sejarah, maka kita belajar bahwa justru zaman dahulu
itu embahnya hal-hal (ajaran dan praktik) yang tidak beres yang terjadi di
zaman sekarang. Mengapa ada orang di zaman sekarang yang masih takut buang air
kecil di bawah pohon besar? Tentu ini dipengaruhi oleh tradisi di zaman dahulu
yang menganut mistisisme atau panentheisme yang mengajarkan bahwa “Allah” itu
hadir di dalam setiap bagian dari alam (atau dinamisme). Berkenaan dengan lagu
rohani, Pdt. Dr. Stephen Tong sendiri mengakui bahwa TIDAK semua lagu
klasik/himne itu benar semua dan TIDAK semua lagu rohani kontemporer itu salah
semua.
Ketiga, mereka selalu menjelekkan zaman sekarang (anti zaman sekarang). Ciri
terakhir yang paling ekstrem dari penganut konsep ini adalah mereka dengan
bangganya membanggakan zaman dahulu dan secara membabibuta menjelekkan zaman
sekarang. Namun sambil mengatakan hal tersebut, tiba-tiba HPnya berbunyi tanda
panggilan masuk, lalu orang ini mengambil hand-free-nya untuk dikenakan di
telinganya. Aneh bukan? Sambil anti terhadap zaman sekarang sambil menggunakan
produk zaman sekarang (misalnya: HP, hand-free, mobil terkini, laptop, rekreasi
ke tempat modern {seperti: Hawaii, dll}, bahkan BlackBerry). Kalau para
penganut konsep ini mau konsisten dengan konsepnya sendiri, maka seharusnya
mereka TIDAK usah menggunakan HP apalagi menggunakan hand-free, lalu belilah
mobil-mobil yang tidak menggunakan AC, tidak perlu berekreasi ke Hawaii, dll.
Biarlah mereka menyadari keanehan dan ketidakmasukakalan konsep mereka.
Bagaimana sikap orang Kristen terhadap konsep jadul is the best?
Pertama, Allah adalah Pencipta waktu, berada di dalam waktu, sekaligus
melampaui waktu. Di dalam Kejadian 1:5, Allah berfirman, “Dan Allah menamai
terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah
hari pertama.” Di sini, kita belajar bahwa Allahlah yang pertama kali
menciptakan waktu dengan pertama-tama membedakan siang dengan malam. Waktu
tersebut diciptakan Allah bukan untuk Allah namun untuk dunia. Hal ini Allah
maksudkan untuk mengajar kita bahwa dunia kita ini terbatas oleh waktu (dan
ruang). Selain menciptakan waktu, Ia juga bisa berada di dalam waktu. Inkarnasi
Kristus (Allah menjadi manusia tanpa meninggalkan natur Ilahi-Nya) menunjukkan
God is in history (Allah ada dalam sejarah). Allah ada di dalam sejarah/waktu
membuktikan adanya pemeliharaan (providensia) dan campur tangan Allah secara
langsung di dalam sejarah/waktu di dunia ini. Namun di bagian lain, Allah yang
sama adalah Allah yang melampaui waktu
(omnipresent/Mahahadir). Allah yang Mahahadir adalah Allah yang bisa hadir
kapan saja dan di mana saja sesuai dengan kehendak-Nya yang berdaulat. Ketiga
pemikiran relasi Allah dengan waktu ini HANYA bisa terjadi pada Allah sebagai
Pribadi yang bereksistensi (berada). “Tuhan” yang tak berpribadi atau bahkan
yang hanya sebatas hukum alam mampu menciptakan, berada di dalam, dan melampaui
waktu, karena “Tuhan” tersebut adalah sesuatu yang MATI! Sungguh mengasihankan
orang yang percaya pada hukum alam atau “Tuhan” yang tak berpribadi, karena
secara otomatis, hidup orang ini tidak bermakna.
Kedua, standar kebenaran: Allah. Dari konsep relasi Allah dengan waktu, maka
kita belajar satu prinsip penting bahwa standar kebenaran sejati adalah Allah.
Mengapa? Karena hanya Allah dan kebenaran-Nya yang bersifat kekal yang
melampaui ruang dan waktu. Kebenaran-Nya itu termaktub di dalam Alkitab. Dengan
kata lain, benarkah Alkitab itu sesuatu yang jadul? TIDAK! Mengutip perkataan
Pdt. Prof. Joseph Tong, Ph.D. di dalam catatan di Seminar: The Battle of The
Bible: Current Controversy on the Bible and Its Authority kemarin (25 September
2010), berkenaan dengan inspirasi dari Allah, Alkitab itu bersifat organis,
yaitu: mengandung pribadi (personhood of the Word) dan bersifat relasional dan
personal. Karena bersifat relasional dan personal, maka tentu saja Alkitab
TIDAK pernah dikatakan jadul, namun melintasi waktu. Artinya, Alkitab itu bukan
hanya berlaku di zaman dahulu saja, namun juga berlaku sampai sekarang. Dengan
kata lain, Alkitab itu selalu
up-to-date, karena isinya adalah wahyu Allah. Semakin banyak orang zaman
sekarang yang mengkritik Alkitab dan membuktikannya salah melalui bukti-bukti
yang diklaimnya akademis dan ilmiah, mereka sebenarnya hendak membuang Alkitab,
lalu menggantikannya dengan standar diri sendiri sebagai “kebenaran” yang
sendirinya tidak bisa dipercaya. Aneh bukan? Mengutip Pdt. Sutjipto Subeno,
M.Div., konsep ini berarti: diri sendiri beriman kepada diri sendiri yang
sendirinya tidak bisa dipercaya sebagai kebenaran. Inilah logika yang tidak
logis (Pdt. Sutjipto menyebutnya: illogical logic).
Bandingkan kebenaran dari Allah dengan kebenaran yang diukur dari pikiran,
perasaan, pengalaman, atau bahkan yang konyol (meskipun kelihatan “logis”):
WAKTU. Mereka tidak menyadari bahwa standar kebenaran yang mereka adalah suatu
standar relatif yang bisa salah dan berubah-ubah. Jika saya “beriman” kepada
konsep X di zaman A, maka konsep X tersebut pasti diubah/berubah ketika zaman
beralih dari A ke B. Lalu, jika kita terus mengikuti kebenaran sesuai dengan
waktu, sampai kapan kita baru menetapkan standar kebenaran kita? Apakah sampai
menunggu kita meninggal, baru kita menetapkan standar kebenaran? Aneh bukan?
Inilah keanehan orang yang terus ikut arus zaman, seperti ikan MATI!
Ketiga, ujilah segala sesuatu sesuai dengan kebenaran Allah. Karena kita
percaya bahwa standar kebenaran adalah Allah dan firman-Nya, maka sudah
seharusnya kita sebagai umat pilihan Tuhan menaati firman-Nya. Dengan menaati
dan bersumber pada firman-Nya yang tak mungkin bersalah, kita menguji segala
sesuatu di dunia kita dengan bijaksana dan kritis. Hal-hal di zaman dahulu
maupun di zaman sekarang harus diuji di bawah terang Alkitab. Pengujian ini
menunjukkan bahwa kebenaran sejati TIDAK mungkin bisa dikalahkan oleh
“kebenaran” picisan sekaligus kebenaran di luar Allah dan kebenaran-Nya yang
sejati di dalam Alkitab tidak layak dijadikan standar baku. Pengujian kritis
ini dilakukan dengan dua hal:
Pertama, menerima yang benar. Ketika kita mendapati hal-hal di zaman dahulu
yang beres dan sesuai dengan Alkitab, terimalah itu sebagai kebenaran, karena
kita percaya bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah (all truth is God’s
truth). Bahkan ketika kita menerima dan mempelajari hal-hal di zaman dahulu,
kita makin bijaksana, karena mayoritas hal di zaman dahulu lebih mengajar kita
tentang pentingnya etika, dll. Misalnya, beberapa filsafat dari filsuf Yunani
kuno (Socrates, Plato, dan Aristoteles) dan filsafat dari Timur (seperti:
Konfusianisme dan Taoisme) ada yang benar. Demikian halnya dengan hal-hal di
zaman sekarang yang menekankan perubahan (dengan tindakan ekstremnya: perubahan
yang tambah kacau). Jika kita tidak berubah, itu menunjukkan kita bukan
manusia, karena manusia semakin lama pasti memiliki sifat perubahan entah itu
kerohanian, fisik, karakter, dll.
Kedua, menolak yang tidak benar. Penolakan tersebut didasarkan pada
ketidaksesuaian dengan Alkitab dan kekontradiksian konsep-konsep di luar
Alkitab. Di antara filsafat-filsafat di atas yang mengandung beberapa unsur
kebenaran, tentu juga mengandung unsur-unsur yang tidak benar. Hal-hal yang
tidak benar yang melawan Alkitab itulah yang harus ditolak, misalnya:
penyembahan nenek moyang (meskipun diklaim oleh beberapa orang bahwa itu hanya
“menghormati”), percaya pada banyak ilah, dll. Demikian juga berlaku bagi
hal-hal di zaman sekarang yang menekankan perubahan tanpa batas dan tanpa
aturan. Konsep ini jelas salah, karena kita berubah pun harus sesuai dengan
kebenaran Allah (misalnya, diubah oleh pembaharuan akal budi di Roma 12:2).
Selain itu, kita juga melihat adanya kekontradiksian konsep-konsep di luar
Alkitab. Misalnya, jika ada orang tua yang meneriakkan anti zaman sekarang,
coba ceklah gaya hidupnya, biasanya mereka sambil meneriakkan anti
zaman sekarang, tetapi anehnya juga menggunakan HP, dll yang adalah produk
zaman sekarang. Contoh lain, jika ada anak muda yang meneriakkan anti-otoritas,
di saat yang sama, ia sedang meneriakkan otoritas diri yang harus didengarkan
perkataannya oleh orang lain. Coba Anda tidak mendengarkan teriakannya itu, dia
pasti marah. Jadi, istilahnya: anti-otoritas yang tidak pernah anti terhadap
otoritas!
Melalui 3 sikap iman Kristen terhadap konsep jadul is the best, maka diharapkan
orang Kristen makin lama makin bijaksana menghadapi tradisi dan waktu, kemudian
meletakkan di bawah terang firman Tuhan untuk menguji kebenarannya. Amin. Soli
Deo Gloria.
“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”
(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)