SIKAP HIDUP BERSYUKUR

 

oleh:
Ev. Paul S. Hidayat, S.Th., M.Th.

 

 

 

 

Rasa syukur adalah perasaan
terindah yang dapat dimiliki manusia. Bersyukur adalah puncak sukacita hidup,
melebihi nikmat seks, menang undian atau menyaksikan putri diwisuda menjadi
sarjana. Tidak ada hal lain dalam kehidupan yang melebihi perasaan aman,
hangat, nyaman, suka, karena berada dalam genggaman kuasa kasih karunia. Dari
situlah mengalir keluar ungkapan syukur di dalam orang yang di dalam hatinya
kasih Allah berdenyut.

 

Sejak kecil saya diajar
untuk bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur atas segala sesuatu dan pada segala
waktu. Tetapi kenyataan hidup yang tidak enak, hanya membuat anjuran itu
menjadi beban mental berat yang menghambat lahirnya rasa syukur. Jika orang-tua
tidak sanggup membelikan pakaian baru untuk anak-anaknya menjelang Natal,
bagaimana mungkin bersyukur? Jika masalah rumah tangga menjadi-jadi, bagaimana
dapat bersyukur? Tetapi tidak bersyukur dalam kesulitan juga merupakan beban
berat. Beban itu hanya terangkat tatkala kita mulai belajar bersyukur. Musik
indah kesukaan itu terdengar hanya bila kita mulai menggetarkan dawai-dawai
hati kita untuk terpesona, takjub, girang, dan heran. Tidak bersyukur adalah
ciri orang yang tidak mengenal Tuhan (Rm. 1:21). Ia menggerogoti roh, melayukan
jiwa dan membusukkan kehidupan. Jadi bagaimana sebaliknya? Bersyukur atau
tidak?

 

Syukur harus dilihat bukan
sebagai kewajiban tetapi sebagai kesempatan. Syukur seumpama tepuk tangan
meriah untuk seorang musikus piawai yang membuat dawai hati kita ikut tergetar,
atau seumpama tawa lepas karena lawakan yang lucu, atau serupa pelukan spontan
untuk seorang yang kita kasihi. Syukur membuat kasih-karunia-Nya terhayati
segar di tengah dunia yang kelam dan berat ini.

 

Syukur atau terima kasih
adalah respons terhadap suatu hadiah. Rasa syukur kita akan mengalir lancar
bila mendapatkan suatu hadiah sejati. Tidak semua yang kita terima adalah
hadiah. Jika seorang pengemis menemukan nasi bungkus utuh di tong sampah
seorang kaya, ia tidak bersyukur. Itu bukan hadiah, itu hanya sekadar sesuatu
yang di dalamnya terlibat pikiran, perhatian dan hati sang pemberi. Tak perlu
mahal, bisa berupa sepucuk surat, sekuntum bunga, atau apa saja yang pemberinya
menaruh dirinya di dalam pemberian itu. Pemberian yang pemberinya tidak
terlibat adalah sesuatu yang palsu dan tak menggerakkan rasa syukur. Hadiah
sejati juga mengandung balik sesuatu darinya. Pengorbanan itu bisa berupa
waktu, uang, talenta, entah apa saja. Tetapi ia tidak diberikan agar dibayar
kembali, sebab bila demikian ia bukan lagi hadiah tetapi pinjaman. Hadiah
sejati tidak membuat kita merasa berhutang, bahkan juga tidak berhutang syukur.
Pemberian selalu merupakan judi, sebab begitu diberikan, terserah kepada
penerima hendak diapakan hadiah itu. Hadiah sejati membuat kita terkejut. Jika
istri menanyakan dulu apa yang diinginkan suami sebagai hadiah ulang tahunnya,
hilanglah unsur kejutan itu. Suami mendapatkan yang diinginkan, tetapi tidak
ada kejutan, tidak ada risiko, bukan hadiah sejati! Bukankah Kristus hadiah
sejati Allah untuk kita, mengandung semua ciri ini?

 

Hadiah sejati sesempurna itu
hanya datang sesekali dalam hidup. Tetapi jika kita menunggu sampai datang yang
sempurna, wajah kita akan terus murung tanpa sinar kesukaan syukur menghiasnya.
Orang yang perfeksionis membunuh dorongan syukur dalam hidupnya. Hidup ini
memang penuh kepahitan, kesakitan dan masalah. Namun demikian, kita perlu
membuka hari bukan memompa perasaan bagi aliran syukur. Syukur itu mungkin
bermula dari desah dan bisik lemah terima kasih untuk akhirnya menjadi sorak
sorai. Syukur sering kali harus dimulai dari tetes kecil tak berarti yang
menganak-sungai ke samudera kesukaan penuh gelora.

 

Syukur selalu diutarakan
atas sesuatu yang lain dari yang lain. Sinar kemilau matahari paling indah
terlihat di balik awan-awan. Pernahkah Anda bersyukur bahwa Anda lebih
beruntung dari orang lain? Syukur semacam itu sangat memalukan karena bersyukur
atas penderitaan orang lain. Namun, jika Anda menunggu sampai semua pengemis
punya mobil, sampai semua orang tidak bisa mati, kita tidak akan pernah bisa
bersyukur! Bukan penderitaan orang yang menjadi dasar yang membuat hari kita
bersyukur, tetapi karena kelemahan kita memang membuat kita harus memiliki
pembanding, yang membangkitkan kita untuk bersyukur.

 

Kedengarannya syukur
berlawanan dengan kekuatiran. Namun keduanya berhubungan erat. Jika orang tidak
pernah mengizinkan diri merasa kuatir sedikit pun, kejutan syukur ketika rasa
kuatir teratasi tak pernah pula dialaminya. Kini banyak orang berusaha membuang
kuatir jauh-jauh. Dengan film, makanan, bir, pil penenang, dsb. Kuatir tidak
dapat diatasi dengan melarikan diri darinya. Megapa tidak menatap kuatir itu
sendiri dan membawanya di hadapan Tuhan? Ketika Dia menerangi situasi dan hati
kita, kuatir lenyap dan syukur menggantikannya.

 

Sekuat apa pun struktur
mental dan rohani kita, dalam al bersyukur kita semua seperti busa sabun yang
ringan dan mudah tertipu ke sana sini. Tidak heran bila sulit sekali memiliki
sikap hidup bersyukur. Namun jika kita membuka hati dan mengizinkan Allah yang
meniupkan napas kehidupan mengalir melalui paru-paru kita untuk membangkitkan
tenaga syukur itu, kita dapat merayakan hidup ini di dalam dan bersama Tuhan.

 

 

 

Sumber:

http://www.ppa.or.id/artikel/sikap-hidup-bersyukur-378.html

 

 

 

 

Profil
Ev. Paul S. Hidayat:

Ev.
Paul Santoso Hidayat, S.Th., M.Th., Ph.D. (Cand.) adalah Direktur
Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA). Beliau menamatkan studi Sarjana Theologi 
(S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan Master of
Theology (M.Th.) di Calvin Theological Seminary,
U.S.A. Saat ini beliau
sedang menyelesaikan studi Doctor of
Philosophy (Ph.D.) di Oxford Center for Mission Studies, U.K.

 

 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny
Teguh Sutandio



“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”(Rev. Prof. Gary T. Meadors, 
Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke