SPIRITUALITAS SEJATI
oleh: Pdt. Robert Ridsad Siahaan, M.Div. BANYAK orang Kristen mungkin sering terjebak dalam berbagai aktivitas rohani dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ibadah gereja namun tanpa menerima manfaat sesung-guhnya dari kerajinan menjalankan aktivitas rohaninya. Dalam Matius 6:1, Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya supaya tidak menjalankan kewajiban agama mereka dengan tujuan yang salah: “Ingatlah, jangan kamu melaku-kan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” Tuhan Yesus menegaskan bahwa ada perbedaan yang jelas antara menjalankan kegiatan ibadah dengan motivasi melaku-kannya, yang juga akan berdampak pada hasil/manfaat dari ibadah itu sendiri. Di balik semua kegiatan rohani seseorang selalu ada motivasi yang menyertai perbuatannya dan seseorang bisa saja melakukan banyak aktivitas ibadah gereja hanya sebagai alat untuk memuaskan keinginan dirinya sendiri, yaitu untuk mengharapkan decak kagum atau kata-kata pujian orang lain bahwa dia adalah orang yang rohani (Mat.. 6:1-5). Namun Tuhan Yesus juga menegaskan, dengan motivasi yang salah seseorang tidak akan menerima manfaat sejati dari ibadahnya dan Allah sendiri pun tidak “berkewajiban” untuk memberikan berkat-berkat rohani kepada orang tersebut, karena yang diharapkan orang tersebut bukanlah berkat rohani (spiritualitas) tetapi lebih kepada pemuasan diri. Dengan demikian jelas bahwa pusat dari ibadah yang demikian adalah diri sendiri, bukan pada Allah, sehingga ibadahnya hanyalah ritual yang kosong tanpa makna yang sejati. Inti dari ibadah orang Kristen bukan sekadar ditunjukkan dalam bentuk aktivitas rohani yang formal/bersifat agamawiah, tetapi lebih kepada suatu bentuk ketaatan serta penyembahan kepada Allah. Ulangan 11:1 menegaskan hal ini: “Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya.” Karakter Supranatural Menaati Allah dalam segala perintah dan ketetapan-Nya bukanlah hal yang mudah, karena menghidupi kebenaran Allah dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari selalu merupakan bentuk peperangan rohani sekaligus sebagai suatu proses pertumbuhan yang menuntut perkembangan yang signifikan. Sejatinya hidup dalam kebenaran Allah (kekudusan) adalah sesuatu yang “impossible” bagi setiap orang Kristen, hanya oleh hadirnya pertolongan Allah sendirilah yang memampukan setiap orang Kristen untuk hidup dalam ketaat-an termasuk dalam menerima atau mengalami pertumbuhan kerohanian-nya (Ef. 3:20-21; 4:13-16). Dalam hal ini kehadiran iman yang berpusatkan pada Kristus sangat menentukan. Ketika Paulus ‘ditangkap’ oleh Tuhan, Tuhan Yesus sendiri mengaskan bahwa dengan iman kepada-Nya orang Kristen akan memperoleh pengam-punan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan (Kis 26:18). Kualitas sejati kerohanian orang Kristen terletak pada pene-busan Kristus yang memungkinan orang Kristen memiliki pembenaran dan pengampunan dosa, dalam proses itulah orang Kristen mengalami kelahiran baru (regenerasi), mengalami pembenaran sehingga ia juga layak melakukan ke-benaran Allah (1Ptr. 1:18-23). Status dikuduskan melalui pembenaran dalam karya penebusan Kristus di kayu salib itulah yang akan memberikan perbedaan mutlak pada aktivitas spiritual, moral/etika orang Kristen. Alkitab dengan tegas juga menunjukkan bahwa tujuan pengudusan adalah untuk memperbarui orang Kristen agar menjadi semakin serupa dengan Kristus dan menyatakan hidup yang memuliakan Allah (Rm. 8:29; 12:2). Sehingga dalam kekristenan tidak ada proses pengudusan yang dijalankan dengan motivasi untuk men-capai tuntutan hukum agama semata atau dengan dalam ritual-ritual ibadah. Proses pengudusan sejati adalah proses mengarahkan setiap orang Kristen untuk senantiasa hidup mempermuliakan Allah, bukan untuk mempermuliakan diri atau untuk memenuhi kehausan-kehausan emosional belaka. Jika melihat pada fenomena kehidupan beribadah secara umum, akan kelihatan bahwa apa yang dikerjakan orang Kristen atau bukan sering terlihat seolah-olah sama. Orang yang bukan Kristen dapat menunjukkan aktivitas ibadah yang sangat baik, melakukan banyak sekali kegiatan-kegiatan sosial, menyumbangkan uangnya kepada orang miskin, dsb. Namun jika ditelusuri dan dipertanyakan maksud dan tujuan mereka melakukan semua itu, akan terlihat kontras yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dimaksudkan Alkitab bagi orang percaya. Kebanyakan agama-agama di dunia mengajarkan bahwa mereka melakukan semua aktivitas keagamaannya adalah untuk memperoleh pengampunan dosa dan lebih lagi kalau bisa untuk memperoleh kese-lamatan jiwa yang kekal. Namun Alkitab justru mengajarkan bahwa orang Kristen dituntut untuk menjalankan ‘kewajiban agama’ setelah terlebih dahulu menerima pengampunan dan jaminan keselamatan kekal (Ef. 2:1-10; Mat. 5:16, 7:12; 2Tim. 3:17). Edwin Palmer (Five Points of Calvinism) mengatakan bahwa ada dua unsur yang hilang (tidak ada) dalam perbuatan baik dari orang yang tidak percaya, yaitu iman kepada Yesus Kristus dan motivasi melakukan perbuatan baik untuk memuliakan Allah tritunggal. Memuliakan Allah merupakan tujuan dan motivasi tertinggi dalam semua aspek dan detail kehidupan orang Kristen (1 Kor 10:31; Kol 3:23). Oleh karena itu hidup untuk kebenaran Allah sama sekali tidak berpusat dan bersumber dari inisiatif dan tin-dakan orang Kris-ten sendiri atau dari dorongan moral semata. Charles Hodge (Systematic Theology) lebih jauh menegaskan bahwa orang Kristen bukan oleh dirinya sendiri ia menjadi kudus, bukan oleh keyakinan dirinya, bukan oleh ketegasan tujuannya atau karena kerajinannya, sekalipun hal itu diperintahkan, tetapi hanya oleh kekuatan Allah saja orang mampu menjadi setia, dan rajin menghasilkan buah-buah kebenaran. Pengudusan sejati tidak terjadi karena semua kemampuan yang ada pada diri manusia, tetapi merupakan karakter supranatural yang dianugerahkan Allah melalui pribadi Roh Kudus di dalam diri setiap orang Kristen. Alkitab menegaskan bahwa kehadiran Roh Kudus merupakan jaminan kemenangan bagi orang percaya untuk mampu menjalani proses pengudusan (Gal. 5:25; Ef. 1:15-16; 2Kor. 1:22). Spiritualitas Sejati Spiritualitas sejati orang Kristen pertama-tama terletak pada relasi yang intim dengan pribadi Allah itu sendiri, di luar Allah, di luar kehadiran pribadi Kristus, orang Kristen tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak berkenan kepada Allah (Yoh. 15:4-6). Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa dalam aktivitas doa orang Kristen agar melakukannya dalam suatu relasi yang intim dengan Bapa: “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat. 6:6). Ketika seseorang berhadapan dengan Allah dalam tempat yang sangat khusus, maka ia bebas mengekspresikan apa pun dan bebas mengucapkan apa pun tanpa ada orang lain yang menghalangi atau mengganggu relasi itu. Kehadiran Allah dan kuasa Allah juga tentunya akan dirasakan oleh orang-orang di sekitar orang Kristen yang memiliki kualitas kerohanian sejati. Orang Kristen yang memiliki spiritualitas sejati akan menun-jukkan suatu cara hidup yang otentik dan berintegritas, tiada kebohongan dan manipulasi dalam kata-kata dan perbuatan mereka. Apa yang mereka katakan akan selalu sama dengan apa yang mereka lakukan, kerohanian mereka nyata dalam keseharian yang bukan kepalsuan. Hanya dengan ketulusan dan kemurnian motivasi di dalam ketaatan kepada Allah saja setiap orang Kristen dapat menghidupi kerohanian yang sejati. Seperti diungkapkan J. C. Ryle: “Kekudusan adalah kebiasan untuk menyatukan pikiran dengan pikiran Allah, sebagaimana kita temukan dalam Kitab Suci. Suatu kebiasaan untuk menyetujui penghakiman Allah, membenci yang dibenci Allah, mencintai yang dicintai Allah, dan mengukur segala sesuatu di dunia ini dengan standar kebenaran Allah.” Soli Deo Gloria. Sumber: http://www.reformata.com/04865-spiritualitas-sejati-.html Profil Pdt. Robert R. Siahaan : Pdt. Robert Ridsad Siahaan, S.Th., M.Div. adalah gembala sidang Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI) Kebayoran Baru dan dosen Theologi Praktika di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) di STTRII Jakarta. Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio. “Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”(Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)

