IMAN KRISTEN DAN 

KONSEP CINTA ALA
MUDA-MUDI

 

oleh:
Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Kalau ngomongin
cinta, siapa sich kawula muda yang gak doyan? Lagu-lagu kawula muda kebanyakan
bernuansa cinte, seperti: Putus Nyambung, dll. Namun, apakah konsep
cinta yang didengungkan di dalam zaman qta
itu bener-bener cinta? Apa standar
cinta yang qta pake sebagai orang
Kristen?

 

Karena qta
sebagai orang Kristen yang berarti para pengikut Kristus, maka segala sesuatu
baik dalam lingkup iman dan aplikasi hidup qta
harus sesuai dengan apa yang Kristus kehendaki di dalam Alkitab. Segala konsep
tentang cinta yang dunia indoktrinasikan ke dalam generasi muda harus diuji
secara ketat oleh Alkitab. Sebagai anak muda, jangan biasakan menelan
mentah-mentah konsep dunia tentang cinta, karena cinta versi dunia kebanyakan
semu dan merusak. Pada kesempatan kali ini, qta
akan membahas dua konsep dunia tentang cinta yang akan kita uji secara Alkitab
dan logika!

 

Pertama,
cinta
itu buta. Konsep ini mengajarkan bahwa ketika qta mencintai seseorang, sering 
kali qta lebih melihat hal-hal positif dari orang yang qta cintai. Hal-hal 
negatif dari
pasangan qta sering tidak qta amati, sehingga begitu pacaran dan
akhirnya menikah, qta terkaget-kaget
dengan kebiasaan buruk pasangan qta.
Karena belum pernah menikah, maka saya hanya mendengar cerita dari mereka yang
telah menikah, hehehe… Harus diakui, dalam beberapa hal, saya sendiri (dulu) 
seperti
itu, namun saya pun tetap memperhatikan sesuatu yang negatif dari lawan jenis
dan tentunya kelemahan saya sendiri, sehingga masing-masing bisa saling
menguatkan dan menegur demi pertumbuhan menuju kedewasaan ke arah Kristus.
Jujur harus diakui (dalam konteks BELUM menikah) jika qta melihat sesuatu yang 
buruk dari orang yang qta cintai itu dalam batas-batas kewajaran, qta bisa 
menerima dan otomatis pelan-pelan menegurnya, namun jika
keburukan itu sudah benar-benar fatal dan pasangan qta tetap keras kepala 
dengan keburukannya, qta harus berpikir ulang tentang lawan jenis qta. Gejolak 
cintrong
kawula muda memang berapi-api, namun sebagai orang Kristen, saya mengajak diri
saya sendiri dan qta untuk menenangkan
gejolak api yang terlalu membara di dalam diri qta dan berpikirlah obyektif. 
Saya tahu ini sangat sulit, namun
kesulitan ini bukan berarti qta
mustahil mengerjakannya. Berdoalah dan minta Tuhan memberikan kepekaan kritis
kepada qta.

 

Cinta yang buta juga berarti cinta yang TIDAK
memperhatikan lagi prinsip-prinsip penting iman Kristen di dalam memilih
pasangan hidup. Prinsip terpenting iman Kristen tersebut adalah pasangan hidup
HARUS seiman dan cinta Tuhan (2Kor. 6:14). Gak
usah heran seorang anak majelis di sebuah gereja dengan pede mengatakan bahwa 
lagi “bergumul”
dengan (dulu) gebetannya yang berbeda
agama, namun bergumulnya hampir 1 tahun, “bergumul” macam apakah itu? Kalau
prinsip iman dibuang, jangan salahkan jika orang ini nantinya menikah, rumah
tangganya bakal berantakan karena
dipimpin oleh dua iman yang berbeda. Yang kasihan
nanti anak-anaknya, mereka ikut iman yang mana? Prinsip iman dan cinta Tuhan
HARUS dipentingkan. Saya pribadi pun di dalam memilih lawan jenis untuk menjadi
pasangan hidup TIDAK bermain-main untuk urusan iman. Urusan IMAN adalah urusan
yang MUTLAK, karena itu nantinya bisa berakibat fatal! Jangan pernah berkata,
“nanti kan bisa diinjili” atau “siapa tahu pasangan qta nantinya bertobat”, 
dll. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam
khotbahnya di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) 2010: Rahasia
Kemenangan Dalam Cinta dan Seks Menuju Pernikahan mengungkapkan bahwa jika ada 
lawan
jenis qta yang non-Kristen berkata kepada
qta yang Kristen, “nanti saya jadi
Kristen”, itu adalah kalimat klise yang kebanyakan tidak pernah terjadi! So, 
jangan bermain-main kalau menyangkut
iman. Iman berbeda apalagi ATHEIS (entah itu atheis praktis atau atheis dalam
iman—Ev. Bedjo Lie, M.Div. membedakannya menjadi: weak atheism vs strong 
atheism), hindari saja, jangan mau ditipu
setan!

 

Bagaimana jika lawan jenis kita sama-sama
Kristen namun berbeda aliran (misalnya: Protestan dengan Katolik atau 
Protestan/Injili
dengan Karismatik)? Apakah qta dengan
kaku dan fanatik mengatakan TIDAK boleh?! TIDAK! Melalui sharing dari Ev. Yakub 
Tri Handoko, Th.M., saya mendapat prinsip
bahwa sebagai orang Kristen, qta
harus mengakui standar kebenaran qta
adalah Alkitab yang tentunya harus ditafsirkan secara bertanggung jawab dan
teliti, maka yang patut diperhatikan adalah apakah lawan jenis qta itu taat dan 
menghargai otoritas
Alkitab atau tidak? Meskipun lawan jenis qta
Kristen bahkan aktif melayani Tuhan, namun jika qta memperhatikan bahwa lawan 
jenis qta ini fanatik dengan memberhalakan pemimpin gerejanya atau
tradisi gereja, maka sebagai orang Kristen yang cinta firman Tuhan, qta 
sebaiknya atret teratur dalam
mengejar lawan jenis ini, karena itu akan berakibat fatal jika nanti qta 
pacaran, menikah, dan memiliki anak.

 

Cinta yang buta juga berarti cinta yang mengorbankan
apa saja/segala sesuatu demi seseorang yang qta
cintai. Qta harus membatasi
konteksnya. Jika konteksnya terjadi pada saat pacaran, hal ini sah-sah saja,
namun jika hal ini terjadi pada tahap pendekatan (PDKT), berhati-hatilah 
terhadap konsep ini! Cinta sekali lagi TIDAK
pernah buta dan cinta HARUS melek, kalo
gak, kan bisa nubruk sini sana, hahahaJ Maksud saya, cinta
itu HARUS melek dan melihat realitas, jangan ditipu oleh bahasa-bahasa puitis. 
Kalo konteks kita masih pedekate dengan
lawan jenis, berpikirlah bijaksana! Cinta memang harus berkorban, karena itu
yang diajarkan Alkitab, namun cinta yang berkorban itu berada di dalam konteks
cinta yang memiliki, yaitu Allah yang telah memiliki umat-Nya! Saya
mengeluarkan pernyataan ringkas tentang hal ini, “Di mana ada komitmen yang
pasti, di situ ada pengorbanan!” Kalo qta
terlalu mudah mencintai seseorang dengan mengorbankan apa yang qta punyai, 
berhati-hatilah jika qta sebagai seorang cowok bisa
dimanfaatin ama cewek yang qta taksir, lalu habis dimanfaatin, qta ditendang. 
Fakta ini merupakan
cerita langsung dari temannya dari teman saya yang ditipu seorang cewek melalui
guna-guna, sehingga si cowok akhirnya menuruti apa yang dimauin si cewek. 
Begitu juga sebaliknya seorang cewek yang
mencintai si cowok, jangan sampai karena cinta, kalian mau diajak berhubungan
seks sebelum waktunya (menikah). Berhati-hatilah!

 

Kedua, cinta tidak harus
memiliki. Pernyataan ini sebenarnya terjadi ketika seorang cowok yang menaksir
seorang cewek, kemudian si cewek menolak cinta si cowok, lalu dengan bahasa
puitis nan indah, si cowok berkata, “Cinta memang gak harus memiliki. Biarkan 
dia bahagia bersama orang lain, namun
ku kan selalu mencintainya.” Benarkah si cowok ini TIDAK akan menikahi gadis
lain dan terus menunggu si cewek ini bahkan jika si cewek ini sudah menikah?
Mungkin iya, namun kebanyakan TIDAK, karena waktu membuktikan bahwa banyak
cowok yang pandai berpuisi ria ini akhirnya menikahi gadis laen koq. Nah, jika 
si cowok akhirnya menikahi gadis laen, pertanyaan saya adalah apakah si
cowok ini menikahi gadis laen itu karena
terpaksa (karena aslinya dia masih cinta ama
cewek yang pernah nolak dia) or tulus? Kalo tulus, bukankah bahasa puitis yang 
dulu diucapkannya itu hanya
gombal semata? Atau mengutip analisis teman gereja saya, Sdri. Ozora Yisrael,
itu hanya merupakan sebuah pernyataan ketidakrelaan si cowok karena cewek yang
diincarnya “digondol” cowok laen?
Sebenarnya inilah motivasi dari orang yang berpuisi ria tersebut.

 

Jika ditelusuri dari Alkitab, benarkah cinta
tidak harus memiliki? Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. membedakan dua macam cinta
Allah, yaitu umum dan khusus. Kalau secara umum, Allah mencintai dunia dan
semua manusia, sedangkan secara khusus, Allah HANYA mencintai umat pilihan-Nya.
Kalau dalam konteks cinta umum, memang Allah TIDAK harus memiliki, apalagi
semua manusia tanpa kecuali, namun jika dalam konteks cinta khusus, Allah yang
mencintai umat-Nya juga adalah Allah yang telah memiliki mereka (melalui
pemilihan Allah sebelum dunia dijadikan—dikenal dengan ajaran/doktrin 
predestinasi).
Begitu juga dengan umat-Nya yang mencintai Allah adalah respons dari umat-Nya
yang telah dimiliki-Nya terlebih dahulu. Dengan kata lain, konsep “cinta tidak
harus dimiliki” TIDAK bisa dibenarkan baik dari sisi logika maupun Alkitab, so 
jangan suka co-pas (copy paste) konsep
dunia plisss…

 

So, berkaitan dengan
konsep cinta ala kawula muda, hendaklah qta sebagai orang Kristen yang cinta
Tuhan dan taat akan firman-Nya, janganlah menerima mentah-mentah konsep dunia,
namun ujilah berdasarkan firman Tuhan, lalu ambillah yang benar (1Tes. 5:21).
Kawula muda, berpikir dan bersikaplah kritis yang bijak!

 



“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”(Rev. Prof. Gary T. Meadors, 
Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke