KEHENDAK
ALLAH-2

 

oleh: G. I.
Ronald A. H. Oroh, M.Div.

 

 

 

 

 

Kalau di dalam Kehendak Allah (1) sudah melihat perbandingan dari beberapa
theolog tentang bagaimana melihat kehendak Allah, maka dalam tulisan ini adalah
penggalian pribadi dari Roma 12:1-2.

 

Khususnya ingin menyoroti tiga kata
kerja yang dipakai oleh Rasul Paulus di dalam dua ayat ini.

 

1Karena itu, saudara-saudara,
demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu
sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu
adalah ibadahmu yang sejati. 2Janganlah kamu menjadi serupa dengan
dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat
membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah
dan yang sempurna.

Roma 12:1-2

 

Ketiga kata kerja
yang dipakai oleh Rasul Paulus adalah bagian dari nasehatnya yang bertujuan
agar jemaat di Roma mampu untuk menguji dan membuktikan manakah kehendak Allah
yang baik, berkenan kepada Allah yang sempurna.

 

(1) Parastesai,
dari akar kata paristemi. Kata kerja ini ada di ayat pertama. Dalam Alkitab LAI
diterjemahkan dengan 'mempersembahkan'. Persembahan ini bukanlah
dilakukan berkali-kali, melainkan hanya sekali dan dilakukan secara aktif.
Orang-orang yang ingin mengetahui kehendak Allah adalah orang-orang yang
mempersembahkan hidupnya terlebih dahulu kepada Allah. Sebaliknya orang-orang
yang hanya ingin memaksakan kehendaknya kepada Allah adalah orang-orang yang
tidak pernah mempersembahkan dirinya. Mempersembahkan diri menjadi syarat
pertama untuk mengetahui kehendak Allah, karena dengan mempersembahkan diri
maka kita siap untuk menerima apapun kehendak Allah yang dibukakan untuk
mengubah kehendak kita yang biasanya bertentangan dengan kehendak Allah.

 

(2) Suschematizo.
Kata kerja ini ada di ayat kedua, yang diterjemahkan dengan ‘menjadi serupa’.
Sebenarnya lebih tepat kalau diterjemhkan ‘mencocokan diri dengan pola/skema
zaman ini’. Rasul Paulus menasehatkan jemaat di Roma untuk berhenti
berusaha untuk terus-menerus mencocokan diri dengan pola zaman. Karena pola
zaman yang menjadi trend justru ditandai dengan kecenderungan berbuat dosa yang
begitu hebat. Seharusnya orang percaya tidak mengikuti pola hidup berdosa zaman
ini. Ini adalah tahap kedua untuk mengerti kehendak Allah. Berhenti mengikuti
keinginan dari ilah zaman ini dan tidak mengikuti pola hidup yang berdosa di
zaman ini. Hal ini bukan berarti bahwa kita harus lari dari dunia ini dan
menghindar dari semua trend dan gaya hidup serta kenikmatan yang ada. Nasehat
dari rasul Paulus adalah berhenti mencocokan diri dengan pola hidup orang-orang
berdosa. Jadi, apa yang harus dilakukan?

 

(3) metamorphoo.
Kata kerja ini terdapat di ayat kedua, yang diterjemahkan dengan ‘berubahlah’.
Kata ini sebenarnya adalah kata kerja pasif dan bersifat terus-menerus. Lebih
baik kalau diterjemahkan dengan 'bertransformasilah'. Transformasi ini adalah
pekerjaan Allah di dalam pembaruan (renovasi) pikiran dan cara pandang kita.
Kita pasif karena Roh Kudus yang mengubahkan kita melalui firman, tetapi aktif
di dalam menggali dan merenungkan firman, yang dengan pekerjaan Roh Kudus
sedang mengubah, mengoreksi dan membentuk cara pandang kita. Jadi, bukan hanya
berhenti mencocokan diri, kemudian lari dan menghindar dari kenyataan dunia
yang berdosa ini, melainkan melihat pembaruan yang terjadi dan merubah arah dari
pola zaman ini yang berdosa, di bawa kembali kepada arah yang sejati, kepada
Allah. Di tahap ketiga ini, membuat kita bisa menguji dan membuktikan manakah
kehendak Allah yang baik, berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

 

Sesungguhnya
orang-orang yang sudah mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Allah, akan
berhenti untuk menjadi sama dengan pola zaman ini yang berdosa, kemudian akan
ditransformasikan cara pandangnya dengan kebenaran-kebenaran firman, sehingga
bisa menguji dan membuktikan manakah yang benar-benar kehendak Allah..

 

 

 

Sumber:

http://roielministry.org/2007/05/kehendak-allah-2.html

 

 

 

 

Profil
G. I. Ronald A. H. Oroh:

G.
I. Ronald Arthur Horald Oroh, S.Si., M.Div. lahir pada tanggal 8 Juni 1972 di 
Manado. Beliau
menyelesaikan studi Master of Divinity
(M.Div.) di Institut Reformed, Jakarta.

 

 

 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny
Teguh Sutandio



“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”(Rev. Prof. Gary T. Meadors, 
Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke