KKR

 

oleh: Ev. Nindyo
Sasongko, S.Th.

 

 

 

Banyak gereja yang
suka KKR.  Banyak pula hamba Tuhan yang bangga bila disebut sebagai
pengkhotbah KKR.  Tak sedikit pemuda-pemudi yang ingin menjadi pembicara
KKR.  Ada semacam prestise yang disandang ketika seseorang menjadi seorang
pengkhotbah KKR.  Dikagumi.  Dicari.  Terpampang di iklan dengan
wajah ekspresif dan berkharisma.

 

Bagi gereja
penyelenggara, KKR pun menduduki tempat khusus.  Lebih tinggi dibandingkan
ibadah yang rutin.  Persiapannya jauh lebih panjang.  Dibentuk
panitia, tim doa, tim acara, latihan panjang, pelatihan konselor, anggaran, dan
bermacam ragam lain persiapan.  Makin serius persiapan itu manakala
pembicara yang diundang berkelas pembicara internasional atau yang menyandang
gelar tinggi, atau yang telah memiliki nama di kancah per-KKR-an.

 

Kian hari, dalam
pengamatan saya, KKR tidak cukup sampai di situ.  Jika hanya firman, masih
kurang.  Ada plus-plusnya.  Demonstrasi kesembuhan ilahi, atau
penggenjotan motivasi dan pembakaran emosi manusiawi  menjadi titik
beratnya.  Suasana tata ruang dan pencahayaan yang diatur sedemikian rupa
sehingga mampu menarik minat massa.

 

Menurut hemat saya,
KKR terbesar sepanjang zaman adalah peristiwa Pentakosta.  Tiga ribu orang
datang dalam sekali kebaktian!  Luar biasa, suatu jumlah yang
super-hebat.  Tetapi mengamati pola yang ada di situ, saya menarik
beberapa kesimpulan:

1.      Tidak
ada manipulasi emosi massal dan tidak ada manipulasi Roh Kudus.  Tidak ada
suasana yang disiapkan sedemikian rupa, tidak ada musik yang menarik
antusiasme, dan tidak ada tantangan yang dikerjakan berulang-ulang.

2.      Pusat
pewartaan adalah Kristus dan karya-Nya.  Tidak ada ilustrasi dan tidak ada
kesaksian hidup dari sang pengkhotbah.  Para rasul hanya berbicara bahwa
mereka adalah saksi Kristus.  Tidak lebih.

3.         KKR itu ditindaklanjuti dengan sebuah pola
hidup yang berbeda, yaitu terbentuknya sebuah masyarakat alternatif yang
bersifat egaliter.

4.      Ketekunan
untuk menyelidiki firman, mendengar pengajaran dan bertekun dalam doa serta
persekutuan.

 

Tidak ada demonstrasi
plus-plus.  Mukjizat banyak dikerjakan oleh para rasul, tetapi bukan di
dalam KKR.

 

Saya sendiri tidak
terlalu tertarik dengan KKR.  Apalagi jika tidak ada arah yang jelas,
untuk apa dan setelah itu mau apa.  Terlebih-lebih bila sudah
diembel-embeli dengan pelbagai demonstrasi mukjizat dan masih banyak
lagi.  Betapa aneh jika tanpa sadar orang Kristen memfokuskan kepada acara
KKR besar, dengan persiapan spesial, seolah Tuhan yang hadir di situ lebih
besar daripada Tuhan yang hadir di ibadah-ibadah Minggu.  Mengapa KKR saja
yang dipersiapkan secara ekstra keras, sementara ibadah tiap Minggu
dipersiapkan ala kadarnya?

 

Saya lebih tertarik
dengan KKR yang lain.  Bukan “Kebaktian Kebangunan Rohani.”  Tetapi
“Komunitas Kebangunan Rohani.”  Komunitas yang jiwa hidupnya adalah
kebangunan rohani.  Tak perlu dengan kebaktian spesial, yang dipersiapkan
dengan lagu-lagu Kristen kontemporer yang hingar bingar.

 

Di komunitas itu,
saya merindukan menjumpai sebuah persekutuan:

·               
Saya
mendambakan sebuah keluarga.  Keluarga yang mengingatkan, menasihati,
menegur, memeluk, menghibur, mengampuni dan menyembuhkan.  

·               
Keluarga
yang membuat saya merasa diterima secara utuh tanpa memandang siapa saya dan
apa latar belakang saya, namun hanya oleh karena Kristus saja mereka menerima
saya.  

·               
Komunitas
yang mengingatkan saya untuk berdoa dan mengajak saya mengalami perjumpaan
dengan Kristus yang hidup.  

·               
Komunitas
yang mengajak saya merayakan iman, bukan dengan selebrasi hingar bingar, tetapi
dalam kesejukan dan keteduhan kidung-kidung kontemplatif dan waktu bagi saya
untuk hening, di tengah hiruk pikuknya dunia tempat tugas saya sehari-hari. 

·               
Komunitas
yang mendewasakan saya sehinga apa yang saya miliki dapat saya berikan kepada
komunitas tersebut.  

·               
Komunitas
yang tidak memanipulasi emosi, tetapi mengembangkan hidup dan laku batiniah
saya untuk intim dengan Sang Kudus.

 

Saya merindukan
KKR.  Tetapi bukan yang seperti yang ada sekarang ini.  Kapan
waktunya?  Di mana?  Semoga Tuhan mendengar kerinduanku.

 

Kudus,
19 Oktober 2010

 

 

 

Sumber:
Notes di Facebook penulis

 

 

 

Profil
Penulis:

Ev.
Nindyo Sasongko, S.Th.
yang lahir tanggal 6 Februari 1980 adalah Associate
Pastor di Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Kudus sejak Oktober 2005.
Beliau menyelesaikan studi Sarjana
Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang.

 

 

 

 

 

Editor dan Pengoreksi: Denny
Teguh Sutandio



“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah 
tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan 
wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.”(Rev. Prof. Gary T. Meadors, 
Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185) 

Kirim email ke