BUKU DAN PENULISNYA

Pada 6 Nopember 2010 penulis diundang untuk membedah buku 'Alkitab Edisi
Studi' dalam acara Christian Books & Gifts Fair 2010. Pagi itu disusul
pembicara lain yang akan membedah buku karya Martin Harun, profesor STF
Driyarkara. Sebelum acara dimulai romo Harun minta izin untuk keluar
mengantar serombongan umat Katolik yang meminta dibimbing dalam mencari
buku-buku. Penulis bertanya-tanya 'mengapa umat sampai minta bimbingan
seorang romo?

Ternyata tidak terlalu lama setelah mulai, romo Harun dan rombongan tadi
sudah kembali mengikuti bedah buku. Ini dapat dimaklumi bahwa menghadapi
begitu banyak buku sekalipun dijual oleh toko-toko buku berlabel 'Kristen'
oleh lebih dari 20 penerbit itu, memang seseorang tidak bisa harus memilih
diantara spektrum buku yang begitu luas antara yang meneguhkan iman
Alkitabiah dan yang memutar-balik ayat-ayat Alkitab sampai yang menebar
keragu-raguan. 

Panggilan Iman

Ketika merasakan panggilan Tuhan 50 tahun silam, penulis tergerak mendaftar
ke sekolah teologi konservatif (karena terlambat tahun pertama dijalani di
Batu dan disusul 3 tahun di Malang). Tidak ada orang yang mendorong kemana
harus belajar, mungkin ketika itu melihat contoh beberapa hamba Tuhan yang
berbeda-beda, ada misionary yang rendah hati dan pendeta yang mengajak
eksposisi Alkitab firman Allah,  namun ada juga pendeta yang bertanya
'mengapa Alkitab buku biasa dicorat-coret warna-warni?' bahkan penulis yang
kalau itu menjabat majelis di gereja arus utama yang besar didatangi pendeta
dan majelis yang menganjurkan agar mendaftar saja ke sekolah teologi di
Jakarta yang ekumenis.

Setelah 40 tahun sejak masuk sekolah teologi (2 konservatif dan 1 ekumenis),
baru disadari kebenaran ucapan pujangga bahwa 'You Are What You Read'
(Ucapan mana kalau dicari di Google menghasilkan 2.950.000.000 entri).
Penulis teringat ketika tahun pertama masuk ke sekolah teologi di Batu,
seorang dosen misionari dari Jerman bersaksi bahwa sebagai seorang sarjana
dan dosen filsafat di negaranya, ia kemudian bertobat melalui pelayanan
pendeta dan masuk sekolah misi belajar teologi dan rela meninggalkan
kenikmatan Jerman menuju desa sunyi di Batu. Ia bersaksi bahwa ketika
menjadi misionari ia membakar buku-buku filsafat yang sudah tidak
diperlukannya karena buku-buku itu dinilainya telah menyesatkan jalan
hidupnya sebelumnya (dalam hati penulis bergumam 'ngapain dibakar berikan
saya saja.')

Seusai lulus dan setelah 5 tahun melayani kalangan mahasiswa, terasa
panggilan Tuhan agar studi lanjut, ini lebih terdorong karena seorang dosen
konservatif yang doktor lulusan Princeton menawari beasiswa dari alma
maternya. Maka jadilah diputuskan ke sekolah teologi ekumenis itu, namun
sebelum berangkat ada tiga tokoh memberi nasehat, Stanley Heath mengingatkan
bahwa sekolah ini liberal, Stephen Tong menganjurkan masuk Westminster saja,
namun Dorothy Marx mendorong 'pergilah kesana agar belajar posisi
liberalisme. Saya tahu kamu sudah punya dasar konservatifisme yang  kuat.'
Memang seminari Princeton terkenal kontroversial, di tahun 1927 mengalami
kemelut ketika dimasuki pengajar yang mengajar 'Kritik Historis' (yang masuk
ke Amerika dari Eropah melalui Union Seminary di kota New York). Princeton
Seminary pecah, sebagian besar dosen konservatif mendirikan Westminster
Seminary namun sebagian lain yang konservatif tetap tinggal, sehingga kedua
kubu dapat dijumpai disitu sampai kini walau tidak seimbang. 

Benar juga nasehat para pembimbing tadi bahwa faktor kesiapan iman dan
teologi pendidikan perlu dipertimbangkan, sebab di tahun 1981 itu setidaknya
ada 2 mahasiswa konservatif yang masuk kesana termasuk Barth Ehrman, Ehrman
kemudian mengaku sebagai agnostik (tidak peduli ada tidaknya Tuhan) dan
menulis 'Misquoting Jesus' (diterjemahkan Gramedia) yang isinya menyimpulkan
Alkitab itu terjemahan yang banyak salah, sedang satunya menulis kesaksian
ini yang disana mengikuti persekutuan mahasiswa injili dan dekat dengan
beberapa dosen konservatif disamping menggali ilmu banyak dosen liberal. 

You Are What You Read

Di Princeton penulis belajar segala faham dan membaca banyak buku karya
liberalisme (sejak kecil senang membaca buku karya pujangga baru mau pun
pujangga Barat, dan mendapat lencana 'pembaca'  ketika remaja di kepanduan).
Ketika pulang membawa 600 buku termasuk 'Why I'm Not A Christian' (Russel),
demitologisasinya Bultmann, evolusi Darwin, Sosiolog Max Weber, Karl Marx,
Solzenitsin dan liberation sociology, anthropolog Durkheim & Marcia Eliade,
dan lainnya. Memang benar ucapan 'You Are What You Read.' Salah satu dosen
yang teman baik Bonhoeffer mengajarkan tokoh ini dan menyuruh membaca
puluhan buku karya Boenhoffer maupun yang berkaitan dan harus membuat paper
setiap usai kuliah. Bonhoeffer kontroversial karena terbilang konservatif
yang diungkap dalam bukunya namun setelah di penjara karena terlibat
konspirasi membunuh Hitler, ia menulis 'Letters from Prison' yang
mengungkapkan kerisauan hatinya menjadi 'secular christian' lalu mencetuskan
'religionless christianity' kekristenan tanpa supranatural, dan ucapannya
yang tekenal berbunyi 'world comes of age' (dunia telah dewasa).

Banyak orang berfikir bahwa orang dewasa harus terbuka akan semua buku tanpa
memilah-milah, karena bukankah setiap buku bagaimana sesatpun ada juga
baiknya?,' namun 'William Barclay' penulis banyak buku tafsiran mengatakan
'tapi sayang manusia tidak kunjung dewasa!' Memang kita tidak perlu menganut
'Pengkotbah' yang mengatakan 'membaca dan belajar banyak buku itu sia-sia'
(12:12), namun 'Ibrani' mencatat bahwa 'makanan keras hanya untuk orang
dewasa' (5:14), tapi jangan lupa ayat 14b melengkapinya: 'yaitu yang sudah
terlatih membedakan yang baik dari yang jahat.' Benar juga, sebab kalau bayi
kita beri makanan keras tentu bisa diare (5:13).

Mengapa demikian? Setidaknya ada berbagai macam buku, ada buku bersifat
pernyataan 'obyektif' dimana terdapat perimbangan informasi dari berbagai
pihak, namun jarang ada buku netral paling tidak ia membawa 'pesan' ideologi
penulisnya, apalagi kalau menyinggung perilaku manusia seperti agama,
biologi, atau sosiologi kita harus menghadapinya dengan hati-hati, dan
bahkan ada buku yang bersifat 'propaganda' bahkan 'provokatif,' jadi
diperlukan filter baik/buruk oleh pembaca yang dewasa. Beberapa tokoh
menunjukkan besar pengaruh apa yang mereka baca dan alami yang membentuk
kariernya kemudian.

Carl Jung adalah anak misionary yang melayani di India, waktu kecil ibunya
sering membacakan cerita dewa-dewi India, ketika ia belajar psikologi ia
banyak tertarik prikologi mistik timur bahkan kemudian membuat desertasi
mengenai 'Dunia Okult,' kita tahu bahwa buku-buku Jung banyak mengungkapkan
ideologi 'mistik timur.' Anton Lavey sejak kecil banyak membaca komik penuh
kekerasan dan senang kanibalisme, waktu dewasa ia menjadi pawang singa di
sirkus, ujung-ujungnya ia mendirikan 'The Church of Satan' dan menulis 'The
Bible of Satan.' Buku ini isinya berlawanan dengan 'Bible' dimana a.l. soal
'membunuh dianggap pahala karena membebaskan manusia dari sakit penyakit dan
penderitaan.' Satanic Bible ini juga membawa korban yang membacanya.

Penulis sudah lama kenal seorang psikiater yang belajar psikiatri di
Australia dan sudah melayani rumah sakit jiwa disana selama 17 tahun, ketika
ke Indo ia bersaksi bahwa selama belajar psikiatri ia dipengaruhi buku-buku
yang menganggap setan itu tidak ada, dan ketika ada pasien yang gila yang
cenderung bunuh diri dan 5 ahli rumah sakit itu tidak berhasil mengatasinya,
keluarga pasien membawa seorang pendeta dan mendoakan pasien itu 'Dalam Nama
Yesus' dan tiba-tiba pasien itu mengeluarkan suara kutukan yang bukan
suaranya dan kemudian menggelepar dan pingsan. Waktu sadar, ia tidak tahu
apa yang menimpanya, ia kembali normal seperti biasa. Kasus ini membuat si
psikiater terbuka hatinya dan mempercayai dunia roh. 

Sebagai konsultan pembangunan perkotaan praktek dan mempelajari 'Urban
Sociology,' pada awal 1990-an penulis diundang membawakan makalah pada
Kongres Metropolis Sedunia di Melbourne, penulis bertemu lagi dengan
psikiater itu yang tinggal disana, suatu malam ia menilpon agar membuka
acara TV di channel tertentu, ternyata disana diputar selama 90 menit
liputan debat tentang 'masuknya satanic worship' di Australia.' Ada dua
contoh menarik dalam tayangan itu tentang dua remaja yang sekarang
dipenjara, yang satu menembak mati ayah dan ibunya dan lainnya menembak mati
dua temannya. Ketika rumah keduanya digeledah, polisi kaget karena
dikeduanya ditemukan buku 'Satanic Bible' dan banyak CD musik hard-rock
'Judas Priest' yang lirik-liriknya mendorong sugesti bunuh-membunuh. 

Kasus ini menunjukkan bahwa ada buku yang mendorong kriminalitas dan okult,
buku-buku 'komunisme' cenderung merupakan 'agitasi melawan kapitalisme,'
buku-buku 'death of god theology' mendorong pembacanya menjauhi Tuhan yang
sudah mati itu, demikian juga nafas buku-buku karya Jesus Seminar, apalagi
motivasi pendiriannya sudah bertujuan menggugurkan 'Alkitab sebagai Firman
Allah dan bahwa Yesus bukan Tuhan dan tidak pernah bangkit setelah mati
apalagi naik ke sorga.' Yang menjadi masalah buku-buku demikianlah yang laku
keras dan dijual di bandara dalam dan luar negeri. Buku-buku imbangannya
jangan harap dijual disitu karena dianggap tidak menguntungkan. Buku-buku
yang mempopulerkan 'Maria Magdalena sebagai isteri Yesus' seperti karya Dan
Brown (The Da Vinci Code) dan Barbara Thiering (Jesus The Man) mudah didapat
di bandara, bahkan penulis membeli buku 'The God Delusion' karya Richard
Dawkins disana, tapi jangan harap menemukan buku 'The Dawkins Delusion.'    

Pengaruh buku terhadap masyarakat luas bisa dibaca dalam buku 'Books That
Changed The World' dan lama sesudah itu terbit buku berjudul sama tapi tidak
hanya membahas 10 buku tapi 50 buku berpengaruh. Yang menarik membaca kedua
buku itu 'Bible' disebut salah satu buku yang berpengaruh bahkan dalam buku
kedua pada covernya ada foto deretan buku-buku dirak dimulai buku "Bible.'
Kalau kita menelusuri Amazon.com mudah menemukan buku 'Why I'm Not A
Christian' (Bertrand Russel) tapi buku imbangannya 'Why I'm A Christian'
(Chesterton) tidak ada mungkin kurang laku sehingga tidak dicetak ulang,
untung buku 'Why I Am A Christian' yang lebih baru karya John Stott ada.

Akhirnya . . .

Penulis sampai sekarang masih suka dimintai bimbingan oleh makasiswa yang
membuat paper, skripsi atau thesis, maka karena dari pengalaman diatas
diketahui bagaimana pengaruh buku itu terhadap pembacanya, dan karena tidak
semua buku merupakan makanan yang baik dan benar dan tidak semua pembaca
cukup dewasa dan terlatih membedakan yang baik dari yang jahat, maka bagi
under-graduates nasehatnya adalah  banyak membaca buku kalangan konservatif
yang meneguhkan iman. Bagi graduates mereka dinasehati juga membaca
buku-buku kalangan liberal, dan bagi post graduates mereka dianjurkan
membaca buku-buku radikal para atheist dan agnostik bahkan yang bersifat
menolak dan menjelek-jelekan Alkitab dan Iman Kristen secara terus terang.
Kalau seseorang lulus SMU kemudian masuk ke sekolah teologi yang tidak
mempelajari Alkitab melainkan buku-buku teologi tentang Alkitab yang
cenderung sinis tentu hasilnya bisa diraba.

Penulis pernah menghadapi permintaan konseling dari seorang mahasiswa
sekolah teologi ekumenis yang frustrasi karena kebanyakan dosennya
membuatnya ragu-ragu karena umumnya mereka mengajarkan buku-buku 'tentang
Alkitab' dan bukan mengajarkan 'Isi Alkitab.' Penulis dapat mengaminkan
perasaan itu karena ketika di Princeton mengikuti kuliah perdana seorang
dosen jenius yang mengajarkan 'Comparative Religion'  ia memulai kuliahnya
dengan bertanya 'Mengapa kamu masuk ke sini?' Seorang mahasiswa menjawab
'God's Calling,' ini langsung dijawabnya: "Don't say anything about God, it
doesn't mean anything to me." Wow!

Lain lagi sikap Agustinus di Afrika Utara yang mendengar ucapan populer di
jamannya 'Semua Jalan Ke Roma,' ia mengikuti ucapan populer itu dan
berkelana ke Roma. Di sana ia terlibat pergaulan bebas, bermabuk-mabukkan
dan judi, dan promiskuitas sampai punya anak haram. Suatu ketika ia
mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan setelah bertobat ia berucap:
"Semua jalan ke Roma, benar! Tapi Roma kota kebinasaan." Kemudian ia menjadi
Uskup Hippo.

Peng-Amsal berseru: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya
menuju maut" (14:12), dan firman Yesus: "Masuklah melalui pintu yang sesak
itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan,
dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah
jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya"
(Matius 7:13, 14), karena "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada
seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes
14:6).

A m i n !

Salam kasih dari YABINA ministry ( <http://www.yabina.org> www.yabina.org)

 

Kirim email ke