NEW YEAR or “NEW” YEAR?
oleh: Denny Teguh Sutandio Tahun 2011 merupakan peringatan tahun baru bagi kita semua. Biasanya kita merayakannya dengan pesta atau kumpul-kumpul keluarga. Pada pergantian tahun 31 Desember 2010 menuju 1 Januari 2011, banyak dari kita begadang sampai larut malam demi menyambut tahun baru. Namun apa makna tahun baru? Benarkah tahun baru itu benar-benar baru? Bukankah ketika kita dari tahun 2009 menuju 2010, kita juga menyebut 2010 sebagai tahun baru? Apa beda kata “baru” antara tahun 2010 dengan 2011? Mari kita telusuri definisi baru menurut ukuran dunia vs Alkitab. Tahun baru bagi mayoritas orang dunia selalu diidentikkan dengan pergantian. Barang-barang yang lama diganti dengan yang baru. Entah itu pada tahun baru Masehi maupun tahun baru Tionghoa (Imlek), banyak orang ingin mengganti segala sesuatu menjadi baru, dari: seprei, baju, dll. Nanti tahun depan pada tahun baru Masehi maupun Imlek, mereka terus melakukan hal yang sama, sehingga kita bisa menghitung berapa potong baju atau buah seprei yang ada di dalam rumah banyak orang (bisa buka butik atau toko seprei tuh, hehehe)… Selain pergantian, filsafat baru bagi banyak orang identik dengan perubahan. Apa yang diharapkan oleh rakyat ketika presiden baru dilantik? Pasti sebuah PERUBAHAN. Perubahan ke arah mana? Positif atau negatif? Mereka tentu mengharapkan sesuatu yang positif. Tetapi makin manusia mengharapkan perubahan, justru fakta berkata bahwa perubahan menuju ke arah negatif atau bahkan tidak ada perubahan yang terjadi. Bahkan Presiden Amerika Serikat, Barack H. Obama yang meneriakkan Change (perubahan), di dalam pemerintahannya hampir tidak ada perubahan signifikan yang lebih baik, namun makin merosot: etika dan moralitas makin rusak, dll. Sebenarnya, ada apa di balik gejala dunia yang menghendaki: pergantian dan perubahan? Ide dasarnya adalah ketidakpuasan. Manusia terus merasa tidak puas dengan kondisi yang dihadapinya dan berharap dengan adanya sesuatu yang baru, hidup mereka berubah akan menjadi lebih baik. Namun, fakta berbicara bahwa makin mereka tidak puas dan mengharapkan perubahan dan pergantian, mereka justru makin tidak berpengharapan (hopeless). Mengapa? Karena yang mereka idam-idamkan adalah sesuatu yang kasat mata, supaya indah dipandang dan dibanggakan, namun kedalaman hati mereka rusak tidak karuan. Tidak heran, makin mereka merayakan tahun baru, hidup mereka tak pernah berubah secara signifikan. Lalu, apa kata Alkitab tentang “baru”? Mengutip Pdt. Yohan Candawasa, S.Th., iman Kristen TIDAK sama seperti iman pada agama-agama lain yang terus memperhatikan performa (apa yang boleh dan tidak boleh), tetapi iman Kristen adalah iman HATI. Artinya, iman Kristen lebih memperhatikan perubahan hati ketimbang perubahan performa. Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Allah mengajar prinsip ini. Allah berfirman, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” (Yeh. 36:26) Allah melalui Rasul Paulus mengajar kita, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor. 5:17) Bahkan Paulus dengan tajam melihat pembaharuan hati lebih penting daripada performa, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” (Gal. 6:15) Mengapa Allah mengajarkan pembaharuan hati lebih penting ketimbang pembaharuan performa? Karena Ia lebih memperhatikan hal-hal yang terdalam dari diri manusia yang tidak bisa ditipu. Jika performanya berubah, mungkin banyak orang melihat hal tersebut, namun performa berubah TIDAK menjamin HATI berubah, karena hati berbicara tentang hal-hal tersembunyi yang hanya bisa diketahui oleh Pencipta manusia, yaitu Allah. Tidak heran, ketika hendak memilih seorang raja menggantikan Saul, Tuhan berfirman kepada Samuel, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7b) Tuhan menghendaki pembaharuan hati terlebih dahulu, karena dari hati yang murni keluar pemikiran, perkataan, dan sikap yang beres (Mat. 15:18-19). Pembaharuan hati dapat dimulai dari komitmen dan tekad kita untuk menyerahkan hati kita kepada Tuhan untuk dikoreksi oleh-Nya melalui firman-Nya (Alkitab). Makin kita belajar Alkitab, hati kita makin dimurnikan seturut dengan kehendak dan perintah-Nya serta Roh Kudus akan memimpin hidup kita untuk menjalankan kehendak-Nya. Dan lagi makin kita belajar firman-Nya dan hati kita dimurnikan, makin kita terus bersyukur atas anugerah-Nya setiap hari dalam hidup kita. Hal ini membuat kita enggan menggerutu dan putus asa dalam hidup, karena hati kita telah terpaut pada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan, Juruselamat, dan Kekasih jiwa kita. Bagaimana dengan kita? Apa yang mendorong kita memperingati tahun baru? Apakah kita merasa tidak puas dengan yang lama? Tentu tidak ada salahnya merayakan pergantian tahun dan tahun baru, tetapi apa yang kita mengerti dengan filsafat baru seturut Alkitab? Biarlah kita menyambut tahun 2011 bukan hanya sebagai tahun yang baru bagi kita, namun sebagai tahun yang benar-benar baru karena kita telah, sedang, dan akan menyerahkan hati kita untuk dibentuk sesuai dengan firman Tuhan. Amin. Soli Deo Gloria. “Ketika saya menganggap Allah sebagai seorang tiran, saya melihat dosa saya sebagai hal yang sepele, tetapi ketika saya mengenal Dia sebagai Bapa saya, maka saya meratapi bagaimana saya pernah melawan-Nya.” (Rev. Charles H. Spurgeon, seperti dikutip dalam Prof. Edward T. Welch, Ph.D., Depresi, hlm. 115)

