SORI YA…

Susahnya Orang
Zaman Sekarang Meminta Maaf

 

oleh:
Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Manusia adalah ciptaan Allah yang
diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya, namun telah jatuh ke dalam dosa.
Dosa mengakibatkan manusia terpisah dari Allah, diri, sesama, dan makhluk hidup
lain. Dosa berarti ketidaktaatan terhadap perintah Allah. Mengapa tidak taat?
Karena manusia berpikir bahwa perintah Allah itu tidak baik dan hendak
menggeser otoritas dan perintah Allah dengan otoritas dan perintah diri. Manusia
yang sudah salah TIDAK pernah merasa diri bersalah dan TIDAK pernah meminta
maaf/ampun sedikit pun kepada Tuhan dan bertobat. Dari sini, sudah terlalu
jelas bahwa dari titik pertama, manusia pertama yang sudah jelas-jelas berdosa
TIDAK pernah menyadari dirinya berdosa dan TIDAK pernah meminta maaf/ampun
kepada Tuhan ditambah: tidak pernah mau bertobat dan bahkan menutupi dosanya
dengan menyalahkan orang lain. Rupa-rupanya tabiat ini menjalar kepada banyak
orang, sehingga banyak orang di zaman ini meniru pola Adam dan Hawa: sudah tahu
salah, tidak merasa diri bersalah (cuek), tidak mau meminta maaf, bahkan yang
lebih parah lagi menyalahkan orang lain dan situasi karena kesalahannya. 

 

Dosa mengakibatkan manusia menjadi
GILA. Dunia kita bukan hanya sedang sakit, tetapi gila. Gila apa? Tentu bukan
gila bola, tetapi gila diri. Gila diri berarti tergila-gila dengan kehebatan
dan kepuasan diri. Orang ini biasanya mempertahankan gengsi dan kelebihannya
dibandingkan orang lain. Orang yang gila diri biasanya identik dengan orang
yang keras kepala yang ngotot dengan
pandangannya sendiri meskipun itu jelas-jelas salah dan melukai orang lain. 
Orang
ini biasanya juga seorang yang egois yang hanya mau kepentingannya sendiri
diperhatikan dan diutamakan. Contohnya, Pdt. Billy Kristanto, Ph.D. di dalam
salah satu khotbahnya pernah mengutip Pdt. Dr. Stephen Tong yang pernah
menanyakan hal yang unik kepada jemaatnya, “Siapa yang pernah disakiti orang
lain?” Spontan, banyak jemaat yang mengangkat tangan. Kemudian, Pdt. Stephen
Tong bertanya lagi, “Siapa yang pernah menyakiti orang lain?” Spontan, suasana
menjadi hening. Inilah wajah dunia kita yang gila diri: kalau disakiti orang
lain paling merasa, namun ketika menyakiti orang lain TIDAK pernah merasa,
bahkan cuek abiz.

 

Tidak heran, karena kegilaan,
kekeraskepalaan, dan keegoisannya, manusia zaman sekarang SUSAH merasa diri
bersalah (introspeksi diri) dan kemudian meminta maaf jika ia memang bersalah.
Jika ada orang lain yang mengingatkan dirinya bersalah (memang benar-benar
bersalah secara objektif), orang ini langsung bete (alias ngambek),
lalu mengatakan bahwa itu hal sepele (TANPA mau meminta maaf sedikitpun!).
Namun ketika orang lain yang bersalah kepada dirinya dan orang lain ini TIDAK
mau meminta maaf, dia juga bete, karena
orang lain tersebut tidak mau meminta maaf kepadanya. Baginya, meminta maaf
berarti mengatakan sesuatu yang menodai kehebatannya sendiri sambil membuka
kelemahannya sendiri. Yang paling celaka adalah gejala seperti ini terjadi pada
orang Kristen yang katanya “bertobat”(?).

 

Bagaimana sikap orang Kristen
seharusnya? Orang Kristen yang sungguh-sungguh yang termasuk anak-anak Tuhan
sejati HARUS mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum melihat orang lain. Saya
pribadi melihat dan mencoba mengajar diri saya sendiri untuk melakukan apa yang
saya imani dan pikirkan. Kita tentu sudah mengetahui didikan dari kecil bahwa
jika kita bersalah, kita harus segera meminta maaf kepada orang yang kepadanya
kita bersalah. Namun, mengapa setelah usia kita bertambah, konsep itu hilang
dengan cepat? Ya, itu karena DOSA membuat kita menjadi pintar secara 
konsep/teori,
tetapi nol dalam penerapannya. Namun puji Tuhan, Ia yang mengizinkan dosa ada
adalah Ia yang menebus umat-Nya yang berdosa, sehingga mereka dapat menjadi
saksi-Nya di tengah dunia. Para saksi Kristus yang bersalah terhadap orang lain
seharusnya cepat peka terhadap kesalahannya, lalu meminta maaf. Saya mengetahui
hal ini TIDAK mudah seperti teori yang ada, karena saya sendiri mengalami
susahnya meminta maaf jika saya bersalah. Namun, Tuhan akhirnya terus-menerus
mendorong saya untuk sesegera mungkin meminta maaf jika saya bersalah atau
melukai perasaan orang lain.

 

Bagi Anda yang terus merasa diri
hebat dan tidak pernah peka terhadap kesalahan diri, namun sangat amat peka
dengan kesalahan orang lain, saya mengajak Anda saat ini juga untuk bertobat
dari tabiat buruk Anda: 

Pertama,
mintalah
maaf jika Anda bersalah terhadap orang lain. JANGAN menganggap enteng segala
sesuatu! Belajarlah menghargai orang lain JIKA Anda ingin dihargai! Jika orang
lain merasa disakiti oleh perkataan atau ulah Anda, berhentilah memberikan
argumentasi bahwa hal itu sepele, namun segeralah sadar dan mintalah maaf.
JANGAN pernah menuntut orang lain minta maaf kepada Anda, namun Anda TIDAK
pernah satu kali pun meminta maaf kepada orang lain! Berhentilah menjadi orang 
“Kristen”
yang egois!

 

Kedua,
berkomitmenlah untuk berubah. Sesudah minta maaf, jangan mengulangi kesalahan
yang telah Anda perbuat barusan, tetapi berkomitmenlah untuk mau berubah agar
tidak menyakiti orang lain. Meskipun ini sulit, mintalah Roh Kudus memimpin
kita untuk mengambil komitmen untuk mau berubah.

 

Biarlah renungan singkat ini
menyadarkan kita khususnya kita yang mudah peka jika disakiti orang lain (atau
orang lain bersalah terhadap kita) namun TIDAK pernah sedikitpun peka jika
telah menyakiti orang lain (atau kita yang bersalah terhadap orang lain).
Biarlah Roh Kudus menyadarkan kita untuk bertobat dan berubah demi
kemuliaan-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

 



“Ketika saya menganggap Allah sebagai seorang tiran, saya melihat dosa saya 
sebagai hal yang sepele, tetapi ketika saya mengenal Dia sebagai Bapa saya, 
maka saya meratapi bagaimana saya pernah melawan-Nya.”
(Rev. Charles H. Spurgeon, seperti dikutip dalam Prof. Edward T. Welch, Ph.D., 
Depresi, hlm. 115)



Kirim email ke