From: "Kisah" <[email protected]> 

Edisi 190 -- Mengalir Bersama Dia 
6 September 2010

PENGANTAR

Shalom,
Banyak orang yang berpikiran bahwa Yesus adalah jawaban atas semua masalah yang 
mereka hadapi. Pernyataan ini memang benar. Namun yang sering kali menjadi 
penghalang mukjizat terjadi dalam hidup kita adalah kita kurang berhikmat dan 
sering memaksakan Tuhan untuk segera melakukan mukjizat dalam hidup kita. Kita 
perlu ingat bahwa Tuhan punya waktu dan cara tersendiri, dan setiap hal yang Ia 
lakukan dalam hidup kita adalah untuk mempermuliakan Dia. Tuhan Yesus 
memberkati.

Pimpinan Redaksi KISAH,
Novita Yuniarti
http://kekal.sabda.org
http://fb.sabda.org/kisah
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

MENGALIR BERSAMA DIA
"Bila memang benar Tuhanmu sanggup menyembuhkan anak saya, maka jangankan 
mengikuti-Nya, bahkan saya akan melayani-Nya...." -- SS

Begitulah yang saya katakan pada teman saya dengan tegas. Perkataan itu bukan 
hanya sekadar bentuk keputusasaan terhadap penyakit anak saya, melainkan ada 
sebuah komitmen yang akan saya tepati bila kesembuhan itu benar terjadi. 
Pernyataan itu sendiri sebenarnya menakutkan saya; bagaimana bila hal itu betul 
terjadi? Namun saya berusaha menenangkan pikiran saya dengan menyederhanakan 
jawabannya, yaitu: saya akan menepatinya!

Guru saya pernah berkata bahwa saya adalah "tulang kosong". 
Artinya, satu dewa dari ribuan orang yang dikasihi. Saya adalah orang yang 
terpilih, kalau sembahyang pada dewa permintaannya pasti didengarkan dan 
biasanya dikabulkan. Saya tidak meragukan perkataannya karena memang kehidupan 
spiritual saya berkembang sangat baik, hampir tidak ada halangannya. 
Buktinya, saat bermeditasi saya bisa melayang tidak menyentuh tanah, bahkan 
meditasi membuat saya bisa melihat roh-roh halus. Tapi itu semua sia-sia 
setelah saya mengalami sebuah pukulan yang mengubahkan kehidupan saya.

SEmua berawal pada tahun 2001, saat saya ditawarkan meninggalkan bisnis jual 
beli mobil, dan memulai bisnis baru yang lebih menguntungkan yaitu ekspor 
udang. Saya meminta pendapat dari teman-teman dan guru, mereka mendukung, 
sehingga saya kemudian mulai mencoba dengan skala kecil. Ternyata hasilnya luar 
biasa, untungnya sangat besar. Melihat hasil yang besar itu saya menjadi berani 
meminjam uang pada teman-teman. Bahkan, beberapa relasi menawarkan turut 
berinvestasi dalam bisnis tersebut. 
Selama 6 bulan pertama, bisnis itu memang sangat menguntungkan, hasilnya 
melimpah. Namun selanjutnya terjadi konspirasi pada rekan-rekan bisnis sehingga 
menghancurkan usaha saya. Tagihan-tagihan ratusan juta macet dan saya tidak 
dapat berbuat apa-apa. Barang saya yang masuk pabrik tiba-tiba dihargai sangat 
murah, jauh dari harga aslinya. Semua itu membuat bisnis hancur dalam sekejap 
dan meninggalkan hutang-hutang yang sangat besar.

Tapi bangkrutnya usaha disertai lilitan hutang belum sesulit ketika anak saya 
yang kedua, Willy sakit, pada kakinya. Saat itu saya tidak menyadari bahwa 
penyakit "biasa" ini akan menjadi masalah sangat besar di kemudian hari. 
Berawal dari bengkak pada mata kaki sebelah kanan yang menurut saya hanyalah 
keseleo biasa, saya membawanya ke tukang urut terkenal yang menggunakan 
mantera-mantera dalam pengobatannya. 
Hasilnya bukan bertambah baik, malah bertambah parah. 
Sakitnya kemudian merambat naik ke paha, mengakibatkan Willy menjadi lumpuh, 
tidak dapat berjalan. Penyakit itu kemudian merambat ke pinggang kemudian naik 
ke punggung.

Saya bawa dia ke ahli pengobatan dengan tenaga prana. Tiga bulan pengobatan 
tenaga prana juga tidak membawa hasil. Lalu saya juga membawanya ke beberapa 
dokter terkenal. Sedemikian terkenalnya dokter tersebut, hingga saya harus rela 
antri menunggu berhari-hari untuk dapat menemuinya. Namun dokter yang dibilang 
hebat tersebut menyerah, demikian juga sembilan dokter terkenal lain yang saya 
temui. Segala jenis pengobatan alternatif pun sudah saya lakukan, namun juga 
tidak ada hasilnya. Malah keadaannya bertambah parah, karena dia kini keracunan 
obat di jantung dan livernya. Hidup saya benar-benar terguncang saat itu. 
Karena tekanan pikiran yang luar biasa, setiap malam saya tidak bisa tidur, 
baru pada dini hari saya bisa memejamkan mata. Anak saya juga turut 
merasakannya, dia turut menemani saya sepanjang malam. Saya mengurut kakinya 
sepanjang malam sambil menghiburnya untuk meredakan kesakitannya. Hati saya 
sangat pedih saat menyaksikan dia hanya bisa tidur-tiduran di ranjang sambil 
menahan sakit.

Saat saya ingin menghiburnya dengan jalan-jalan keluar rumah, dia menolaknya 
karena tidak mau melihat ayahnya kelelahan menggendongnya. Sering saya 
mengambil patung-patung di altar dan menyuruh anak saya memeluk dan menciumnya 
karena begitu besarnya keinginan saya agar dia sembuh. Saya benar-benar putus 
asa dan merasa tidak berdaya. Ingin rasanya saya bunuh diri. Saya memohon pada 
dewa kalau bisa saya tidak pernah dilahirkan. Karena stres, saya sampai 
menderita semacam penyakit kedinginan dan ketakutan yang tak beralasan. Suatu 
malam, seperti biasa saya tidak bisa tidur memikirkan seluruh persoalan saya. 
Saya menyalakan televisi untuk coba mengusir kegelisahan dengan menonton. Di 
sana ada sebuah acara tentang kesaksian-kesaksian, dan ada sebuah kesaksian 
yang mirip sekali seperti yang saya alami. Kebangkrutan, anak yang sakit, dan 
dia dibebaskan dari masalah-masalah tersebut. Saya juga ingin seperti dia, 
terbebas dari masalahnya.

Pembawa acara di televisi mengundang penonton yang memiliki masalah dan ingin 
dibebaskan, untuk mengangkat tangannya agar didoakan. Saya pun mengangkat 
tangan, meletakkannya di televisi, dan menutup mata mengikuti doa yang 
diucapkannya. 
Beberapa minggu kemudian, saya bermimpi bertemu dengan suatu sosok, dengan 
jubahnya yang berwarna putih. Saya mengenalnya dari gambar-gambar orang Kristen 
bahwa Dialah yang disebut Yesus Kristus. Tanpa sadar saya sujud di depan-Nya, 
dan berkata betapa saya tidak layak, dan agama saya lain.
Sosok itu tersenyum dan berkata "Agamamu lain, tidak apa-apa, asalkan kamu 
mendengarkan dan melakukan perkataan-Ku". 
Saya mencoba mengenal pribadi Yesus Kristus tersebut, namun perkenalan saya 
dengan beberapa orang Kristen bukan membawa saya semakin dekat pada pribadi 
itu, tapi justru membuatnya semakin jauh. Karena karakter orang Kristen yang 
saya kenal mengecewakan dan menjadi batu sandungan bagi saya. Gereja yang saya 
pernah datangi bahkan membuat saya malu di depan para jemaat. Sehingga usaha 
saya untuk mengenal dan datang kepada Yesus saya lupakan.

Sekitar bulan Juli tahun 2002, saya bertemu dengan seorang teman yang pernah 
saya kenal di kampung halaman. Kami baru memulai menjalin hubungan bisnis. 
Tidak sengaja saya mencerita kan penderitaan saya padanya selama dua tahun ini. 
Dia menawarkan pada saya bahwa Yesuslah solusinya. Setelah kepahitan yang saya 
alami terhadap orang-orang Kristen yang lain, membuat saya menolak apa yang 
dikatakannya. 
Namun dia terus-menerus menelepon saya, membuat saya tidak enak hati, dan 
berkata kepadanya, "Bila Tuhanmu itu sanggup menyembuhkan anak saya, maka 
jangankan mengikuti-Nya, saya bahkan akan melayani-Nya", tantang saya. Dia 
kaget dan berkata bahwa Tuhan mencatat apa yang saya katakan. Tapi dia juga 
punya tantangan agar saya beriman untuk kesembuhan Willy, serta menghentikan 
seluruh pengobatannya.

Saya menerima tantangan itu, maka bertahap saya mulai mengurangi dosis obat 
yang diberikan pada anak saya. Sebenarnya kalau saya tidak memberikan obat 
sesuai dosis, maka anak saya akan menjadi sangat kesakitan. 
Namun anehnya, hari pertama saya kurangi, anak saya tidak apa-apa. Hari ketiga, 
saya kurangi lagi, juga tidak apa-apa, begitu seterusnya. Sampai akhirnya saya 
tidak lagi memberikan obat itu, dia tetap tidak apa-apa. Kemudian di akhir 
bulan pada saat Willy periksa darah di rumah sakit, hasilnya menyatakan bahwa 
dia telah sembuh, bahkan sakit jantungnya juga sembuh. Di rumah sakit itu pula 
saya langsung menepati komitmen dan janji saya pada Tuhan sebelumnya, saya 
berdoa, "Tuhan Yesus, aku sekarang menjadi pengikut-Mu...."
Tanggal 17 Agustus 2003, saya dibaptis dan langsung melayani Dia. Orang pertama 
yang saya layani adalah ayah dan ibu saya sendiri. 
Awalnya mereka menentang keras, namun Tuhan bekerja dengan luar biasa, mereka 
kini juga telah turut menjadi pengikut Yesus. Kini saya rajin melayani Tuhan 
bersama teman-teman, bahkan sampai ke luar kota.

Falsafah hidup saya yang dahulu bahwa, "... selama kita tidak jahat pada orang 
lain maka orang tidak akan jahat pada kita" kini berubah.
Kini saya mengerti bahwa hanya Tuhan Yesuslah yang benar-benar baik.
Orang baik kepada kita bukan karena usaha kita melainkan karena Tuhanlah yang 
baik kepada kita. Saya juga menjadi mengerti bahwa sekeras dan serajin apa pun 
kita berusaha, tetapi jika kita tidak berada dalam Tuhan Yesus, Iblis akan 
mencuri dan menghancurkan semua yang kita miliki dan kita kasihi. Saya juga 
merasakan hidup saya kini memiliki kuasa. 
Dalam kehidupan sehari-hari kalau ada yang sakit, tinggal berdoa dalam nama 
Tuhan Yesus, jadi sembuh. Pernah anak saya sakit muntaber sampai mau opname. 
Kemudian saya berdoa, hasilnya ia langsung sembuh. Kehidupan keluarga kami juga 
benar-benar dipulihkan dan sungguh bersukacita. Tuhan benar-benar
memproses saya, dan saya mengikuti prosesnya mengalir begitu saja.
Saya belajar bahwa dalam kehidupan rohani kita tidak boleh memaksakan kehendak 
kita. Kita mengalir sajalah bersama Tuhan Yesus, maka kita akan diproses-Nya 
menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul majalah: SUARA
Penulis: IM
Penerbit: Yayasan Persekutuan Usahawan Injili Sepenuh Internasional (PUISI), 
Jakarta
Halaman: 11 -- 15
____________________________________________________________

Dan Elohim yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa 
Ia, sesuai dengan kehendak Elohim, berdoa untuk orang-orang kudus. (Roma 8:27)
< http://alkitab.sabda.org/?Roma+8:27 >
---------------------------------------------------
KS-ILT
Rom 8:27 Dan Dia yang menyelidiki hati telah mengetahui bagaimana pikiran Roh 
itu, karena menurut Elohim Dia bersyafaat demi orang-orang kudus.

KJV
Rom 8:27 And he that searcheth the hearts knoweth what is the mind of the 
Spirit, because he maketh intercession for the saints according to the will of 
God. 
_____________________________________________________________
POKOK DOA

1. Doakan agar keluarga SS agar lebih dekat lagi mengenal Yesus dan 
melayani-Nya dengan sepenuh hati.

2. Berdoa bagi keluarga SS dan juga setiap orang supaya mereka tetap 
mengandalkan Yesus dalam menghadapi setiap permasalahan hidup.

3. Doakan orang-orang yang masih terikat dengan kepercayaan di luar Yesus, agar 
mereka dapat berbalik kepada Yesus. Percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juru 
Selamat manusia.
================================================ 

From: "Kisah" <[email protected]> 

Edisi 191 -- Mengharapkan Seorang Anak
13 September 2010

PENGANTAR

Shalom,
Ketika kita membaca Yeremia 17:5 yang berbunyi: "Beginilah firman TUHAN: 
'Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya 
sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!'"; seharusnya kita bertanya, 
mengapa Tuhan begitu murka kepada orang yang mengandalkan manusia atau 
mengandalkan kekuatannya sendiri? Mengapa kepada mereka yang demikian Ia sampai 
harus berkata dengan begitu keras, "Terkutuklah!"?

Tulisan editorial ini tidak hendak menjawab pertanyaan tersebut, tetapi yang 
jelas ada suatu kebenaran penting yang tersirat dari ayat di atas bahwa Tuhan 
sangat tidak suka pada orang yang tidak mengandalkan Tuhan dalam segala hal. 
Bahkan bagi IM yang kisahnya dapat Anda baca di bawah, diperlukan alur 
kehidupan yang cukup sulit disertai jangka waktu yang cukup lama untuk akhirnya 
memahami kebenaran penting ini. Selamat membaca dan semoga kita dapat makin 
belajar mengandalkan Tuhan.

Redaksi tamu KISAH,
Wilfrid Johansen
http://kekal.sabda.org
http://fb.sabda.org
______________________________________________________________________
KESAKSIAN

MENGHARAPKAN SEORANG ANAK
Masa-masa awal pernikahan adalah masa-masa bahagia bagi kami. Tuhan telah 
memberikan saya WG, seorang istri yang terbaik bagi saya. Kami menikah tahun 
1985 di catatan sipil karena orang tua menolak mengadakan upacara pemberkatan 
di gereja. Mereka menginginkan kami menikah secara adat leluhur yang secara 
tegas kami tolak. Saat usia pernikahan telah menginjak tahun yang ketiga, kami 
menjadi lebih sering merasa kesepian. Kami merasa masih ada sesuatu yang kurang 
di dalam kebahagiaan berumah tangga kami: seorang anak. Banyak dokter spesialis 
telah kami kunjungi; berbagai obat, terapi, serta bermacam tes dengan biaya 
yang tidak sedikit telah kami lakukan namun tak satu pun yang dapat membantu 
istri saya hamil.

Tekanan dan siksaan batin mulai kami alami, mulai dari keluarga sendiri hingga 
teman-teman, bahkan dari orang yang baru kami kenal sekalipun. 

Pertanyaan "Berapa putra Anda?" merupakan peperangan mental tersendiri bagi 
saya dan istri. Melalui diagnosa medis, semua dokter menyatakan bahwa tidak ada 
yang salah pada kami berdua. Di dalam keputusasaan, timbul niat untuk mencoba 
jalur "alternatif".
Seorang saudara menyarankan untuk berdoa di sebuah tempat ibadah terkenal di 
kota Tuban. Kami berdoa di sana dan tidak mendapati apa yang kami harapkan. 
Kami juga menemui "orang pintar" yang paling terkenal di Surabaya. Berbagai 
"syarat" telah kami ikuti seperti harus menyediakan kembang-kembang tertentu 
yang sulit dicari, namun tetap tidak membuahkan hasil.

Memasuki tahun keenam "petualangan" kami, kami disarankan untuk pergi 
mengunjungi seorang sinshe yang sangat terkenal dari Tiongkok yang kebetulan 
pada saat itu sedang berkunjung ke Indonesia. Istri saya dinyatakan lemah 
kandungan dan saya kurang memiliki kesuburan.
Merasa mendapatkan titik cerah, kami patuhi segala peraturan untuk meminum 
ramuan pengobatan yang harganya sangat mahal itu. Aturan minum dan cara meracik 
ramuan tersebut sangat sulit, namun kami tetap tekun meminumnya hingga resepnya 
selesai. Dua bulan menanti tidak ada hasil apa pun selain menghabiskan uang 
semakin banyak. Kami benar-benar kecewa.

Kami menyerah. Jalan buntu yang kami temui membuat kami berpikiran untuk 
mengikuti program bayi tabung saja. Kemudian kami pergi berkonsultasi pada 
seorang androlog yang terkenal. Kami bertanya apakah dengan ikut program ini 
kami punya harapan memperoleh keturunan. Ia menjawab bahwa kemungkinannya hanya 
50%. 
Bayi tabung pada saat itu masih tergolong teknologi yang masih baru. Biaya yang 
harus dikeluarkan pun sangat mahal dan tidak semua rumah sakit memiliki 
fasilitas tersebut. Kami bimbang, bagaimana kami harus mengeluarkan biaya yang 
sangat mahal untuk suatu ketidakpastian?

Akhirnya kami putuskan untuk membatalkan ikut program tersebut.
Apalagi setelah kami ketahui bahwa pembuahan itu dilakukan di luar rahim, dan 
jika pembuahan itu berhasil baru akan dimasukkan kembali ke dalam rahim. 
Selebihnya, rumah sakit tidak berani menjamin keberhasilan proses kehamilannya. 
Alasan utama kami membatalkan program tersebut adalah karena selain biaya yang 
mahal, saya teringat bahwa kandungan istri saya yang lemah. Lelah dengan 
berbagai terapi dan pemeriksaan dokter, timbul niat kami untuk mengadopsi anak 
saja. Selain biaya yang dikeluarkan murah, juga tidak mengandung risiko apa 
pun. Tidak lama setelah kami membicarakan mengenai hal itu, istri saya bertemu 
dengan seorang teman lama yang adalah seorang dokter. Setelah 
berbincang-bincang, dia cukup kaget mengetahui bahwa kami belum memiliki anak.

"Sudah ke dokter?" tanyanya. "Sudah habis semua dokter kami kunjungi, bahkan 
berbagai pengobatan alternatif telah kami lakukan, namun tidak satu pun yang 
berhasil," jawab kami.

"Masih ada satu dokter spesialis yang belum kalian kunjungi. Dia pasti mampu 
menyelesaikan permasalahan kalian. Dia adalah dokter di atas segala dokter," 
katanya. 
Kami menjadi semakin kebingungan mendengar penuturannya. Dokter mana lagi? 
Kenapa bisa terlewatkan selama ini? Dan kami menjadi semakin yakin karena yang 
merekomendasikan adalah teman lama kami sendiri yang juga adalah seorang 
dokter. Pastilah dokter dengan reputasi terbaik. Seolah timbul harapan baru 
lagi setelah sekian lama kami kecewa dan putus asa.

"Siapa namanya? Tolong kenalkan kepada kami agar kami bisa segera pergi ke 
sana," tanya kami dengan tidak sabar lagi.

"Namanya Tuhan Yesus!" jawabnya singkat. Kami berdua seperti disambar petir 
mendengar nama "Dokter" yang dia sebutkan. Kami sadar selama ini kami punya 
sikap yang salah. Kami pasrah, tapi pasrah yang salah. Kami tahu Dia yang 
paling berkuasa, namun kami selalu berpikir "kalau Tuhan memberi ya, pasti akan 
memberi, tapi kalau tidak itu merupakan kehendak Tuhan sendiri." Nama Yesus 
tidak pernah kami sebut di dalam doa-doa kami. Kami merasa sangat berdosa 
karena selama ini melupakan Dia yang sesungguhnya mampu melakukan apa pun bagi 
orang yang percaya pada-Nya. 
Mulai malam itu, kami berdua berdoa sambil berlutut di hadapan Tuhan. Kami 
berpegangan tangan tanda sepakat menaikkan permohonan kami kepada Tuhan. Tiap 
malam kami meminta dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan.

Dalam pergumulan doa kami setiap hari, rupanya Iblis tidak tinggal diam. Dia 
mencari cara agar kami berhenti memohon kepada Tuhan. 
Ibu saya berkata, "Lihat, semua saudaramu yang telah menikah sudah memiliki 
anak," katanya.
"Kalau mau dikaruniai anak, engkau harus kembali kepada kepercayaan leluhurmu." 
Namun saya tetap bertahan menghadapi cobaan itu. Banyak teman-teman 
menganjurkan saya agar berselingkuh saja. 
Katanya, hal itu wajar saja dilakukan untuk membuktikan bahwa sebenarnya saya 
subur. Ketika hal itu saya ungkapkan kepada istri saya, dia kaget tapi tidak 
marah. Dia sendiri juga menceritakan hal yang sama, bahwa ada seorang pria yang 
dekat dengannya dan mengajaknya berselingkuh, tapi dia menolak. 
Setelah mendengar hal itu semua, kami menjadi semakin tekun berdoa, mengucap 
syukur pada Tuhan atas kebaikan dan perlindungannya pada kami karena diberikan 
kekuatan menghadapi cobaan.

Tepat 40 hari setelah kami berdoa, istri saya merasakan ada sesuatu yang aneh 
di dalam dirinya. Dia menjadi sering mual-mual dan merasa tidak enak badan. 
Segera kami pergi ke klinik untuk melakukan pemeriksaan. Setiba di rumah, 
dengan tegang kami ingin melihat hasil tes dokter. Istri saya tidak berani 
membukanya, dia menyuruh saya untuk membuka hasil tes tersebut. Setelah dibuka, 
ternyata hasilnya negatif. Istri saya menjadi kecewa dan sedih sekali. Entah 
bagaimana, tiba-tiba gelora iman di dalam hati saya muncul. Saya mengajak istri 
untuk menumpangkan tangan ke hasil tes itu. Walau kedengaran aneh, dia mau saja 
mengikuti ajakan saya. Kami sepakat berdoa. Setelah membuka mata, kami melihat 
hasil tes tersebut... negatif!

Kami berdoa untuk kedua kalinya. Hasilnya masih negatif. Saya katakan kepada 
dia agar jangan berputus asa, "Kita berdoa lagi."
Maka untuk ketiga kalinya kami berdoa. Ketika membuka mata dan melihat hasil 
tes tersebut, ternyata masih negatif. Namun sekilas dari hasil lab itu saya 
melihat ada semacam tanda titik di atas tanda negatif tadi. 
Menurut petunjuk, bila ada dua tanda strip pada hasil tes itu, maka itu berarti 
positif. Saya percaya itu adalah tanda dari Tuhan. Karena saya yakin bahwa 
tanda itu sebelumnya tidak ada dan kini telah bertambah menjadi sebuah titik 
kecil. Saya percaya bahwa tanda itu pasti bisa menjadi strip.

Istri saya tidak percaya, menurutnya titik itu hanya luntur saja.
Menurut saya tidak, kalau kita beriman bahwa tanda itu berasal dari Tuhan, maka 
Dia pasti akan melakukan mukjizat. Maka kami mendoakan tanda titik itu sekali 
lagi, setelah kami buka tanda itu tampak berubah agak memanjang. Kami menjadi 
semakin bersemangat, dengan berkeyakinan bahwa pasti terjadi mukjizat, kami 
menumpangkan tangan sekali lagi pada hasil tes itu. Entah sudah berapa kali 
kami berdoa dan menumpangkan tangan, kami melihat bahwa hasil tes tersebut 
benar-benar telah berubah menjadi strip.
Tanda yang menyatakan bahwa istri saya positif hamil! Suatu tanda iman yang 
sungguh kami nantikan selama bertahun-tahun. Tidak percaya akan tanda itu, kami 
pun kembali ke klinik keesokan harinya. Sungguh mukjizat Tuhan terjadi, hasil 
tes di klinik pun menyatakan bahwa istri saya sedang hamil muda. Masih kurang 
percaya akan hasil lab, maka kami pergi juga ke sinshe. Saat sinshe meraba nadi 
istri saya, dia menyatakan bahwa istri saya sedang hamil dua minggu.

Keajaiban Tuhan sungguh nyata dan tepat waktu karena pada saat itu kami memang 
sudah merencanakan untuk mengadopsi anak jika sampai akhir tahun ini belum ada 
tanda-tanda kehamilan. Ternyata Tuhan tidak pernah mengecewakan orang yang 
bersungguh-sungguh percaya kepada-Nya. 
Dia menjawab doa kami, dan di penghujung tahun, tepatnya tanggal 27 Desember 
1991, anak kami yang pertama lahir. Kini kami telah dikaruniai 3 orang anak. 
Tidak habis bila saya harus menceritakan tentang kebaikan Tuhan di dalam 
kehidupan rumah tangga kami. Dia tidak pernah terlambat untuk menolong.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul asli artikel: Ternyata Masih Negatif
Judul majalah: SUARA, Edisi 78, Tahun 2005
Penulis: IM
Penerbit: Communication Department Full Gospel Business Men's
Fellowship International - Indonesia
Halaman: 11 -- 13 dan 28 
__________________________________________________________

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan 
layanilah Tuhan. (Roma 12:11) < http://alkitab.sabda.org/?Roma+12:11 >
---------------------------------------------------
KS-ILT
Rom 12:11 dengan kerajinan yang tidak kendur, dengan bernyala-nyala dalam roh, 
dengan menghambakan diri kepada Tuhan,

KJV
Rom 12:11 Not slothful in business; fervent in spirit; serving the Lord; 
________________________________________________________
POKOK DOA

1. Doakan agar pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak boleh tetap 
berpengharapan dan percaya penuh pada Yesus.

2. Mengucap syukur untuk pasangan suami istri yang sudah dikaruniai anak. 
Kiranya mereka menjadi orang tua yang baik dan tetap setia pada Yesus.

3. Doakan agar setiap orang tetap bertekun dalam doa dan setia dalam menantikan 
janji-Nya. 
--------------------------------------------------------------------------------------
 
Pimpinan redaksi: Novita Yuniarti
Kontak: < kisah(at)sabda.org >
Berlangganan via email: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Berhenti berlangganan < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-kisah(at)hub.xc.org >
Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/kisah
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org
Facebook KISAH: http://fb.sabda.org/kisah
Twitter KISAH: http://twitter.com/sabdakisah
Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org
Anda terdaftar dengan alamat email: [email protected]
_______________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright (c) 2010 Kisah / YLSA -- http://www.ylsa.org
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati 

Kirim email ke