From: "Kisah" <[email protected]> Edisi 190 -- Mengalir Bersama Dia 6 September 2010
PENGANTAR Shalom, Banyak orang yang berpikiran bahwa Yesus adalah jawaban atas semua masalah yang mereka hadapi. Pernyataan ini memang benar. Namun yang sering kali menjadi penghalang mukjizat terjadi dalam hidup kita adalah kita kurang berhikmat dan sering memaksakan Tuhan untuk segera melakukan mukjizat dalam hidup kita. Kita perlu ingat bahwa Tuhan punya waktu dan cara tersendiri, dan setiap hal yang Ia lakukan dalam hidup kita adalah untuk mempermuliakan Dia. Tuhan Yesus memberkati. Pimpinan Redaksi KISAH, Novita Yuniarti http://kekal.sabda.org http://fb.sabda.org/kisah ______________________________________________________________________ KESAKSIAN MENGALIR BERSAMA DIA "Bila memang benar Tuhanmu sanggup menyembuhkan anak saya, maka jangankan mengikuti-Nya, bahkan saya akan melayani-Nya...." -- SS Begitulah yang saya katakan pada teman saya dengan tegas. Perkataan itu bukan hanya sekadar bentuk keputusasaan terhadap penyakit anak saya, melainkan ada sebuah komitmen yang akan saya tepati bila kesembuhan itu benar terjadi. Pernyataan itu sendiri sebenarnya menakutkan saya; bagaimana bila hal itu betul terjadi? Namun saya berusaha menenangkan pikiran saya dengan menyederhanakan jawabannya, yaitu: saya akan menepatinya! Guru saya pernah berkata bahwa saya adalah "tulang kosong". Artinya, satu dewa dari ribuan orang yang dikasihi. Saya adalah orang yang terpilih, kalau sembahyang pada dewa permintaannya pasti didengarkan dan biasanya dikabulkan. Saya tidak meragukan perkataannya karena memang kehidupan spiritual saya berkembang sangat baik, hampir tidak ada halangannya. Buktinya, saat bermeditasi saya bisa melayang tidak menyentuh tanah, bahkan meditasi membuat saya bisa melihat roh-roh halus. Tapi itu semua sia-sia setelah saya mengalami sebuah pukulan yang mengubahkan kehidupan saya. SEmua berawal pada tahun 2001, saat saya ditawarkan meninggalkan bisnis jual beli mobil, dan memulai bisnis baru yang lebih menguntungkan yaitu ekspor udang. Saya meminta pendapat dari teman-teman dan guru, mereka mendukung, sehingga saya kemudian mulai mencoba dengan skala kecil. Ternyata hasilnya luar biasa, untungnya sangat besar. Melihat hasil yang besar itu saya menjadi berani meminjam uang pada teman-teman. Bahkan, beberapa relasi menawarkan turut berinvestasi dalam bisnis tersebut. Selama 6 bulan pertama, bisnis itu memang sangat menguntungkan, hasilnya melimpah. Namun selanjutnya terjadi konspirasi pada rekan-rekan bisnis sehingga menghancurkan usaha saya. Tagihan-tagihan ratusan juta macet dan saya tidak dapat berbuat apa-apa. Barang saya yang masuk pabrik tiba-tiba dihargai sangat murah, jauh dari harga aslinya. Semua itu membuat bisnis hancur dalam sekejap dan meninggalkan hutang-hutang yang sangat besar. Tapi bangkrutnya usaha disertai lilitan hutang belum sesulit ketika anak saya yang kedua, Willy sakit, pada kakinya. Saat itu saya tidak menyadari bahwa penyakit "biasa" ini akan menjadi masalah sangat besar di kemudian hari. Berawal dari bengkak pada mata kaki sebelah kanan yang menurut saya hanyalah keseleo biasa, saya membawanya ke tukang urut terkenal yang menggunakan mantera-mantera dalam pengobatannya. Hasilnya bukan bertambah baik, malah bertambah parah. Sakitnya kemudian merambat naik ke paha, mengakibatkan Willy menjadi lumpuh, tidak dapat berjalan. Penyakit itu kemudian merambat ke pinggang kemudian naik ke punggung. Saya bawa dia ke ahli pengobatan dengan tenaga prana. Tiga bulan pengobatan tenaga prana juga tidak membawa hasil. Lalu saya juga membawanya ke beberapa dokter terkenal. Sedemikian terkenalnya dokter tersebut, hingga saya harus rela antri menunggu berhari-hari untuk dapat menemuinya. Namun dokter yang dibilang hebat tersebut menyerah, demikian juga sembilan dokter terkenal lain yang saya temui. Segala jenis pengobatan alternatif pun sudah saya lakukan, namun juga tidak ada hasilnya. Malah keadaannya bertambah parah, karena dia kini keracunan obat di jantung dan livernya. Hidup saya benar-benar terguncang saat itu. Karena tekanan pikiran yang luar biasa, setiap malam saya tidak bisa tidur, baru pada dini hari saya bisa memejamkan mata. Anak saya juga turut merasakannya, dia turut menemani saya sepanjang malam. Saya mengurut kakinya sepanjang malam sambil menghiburnya untuk meredakan kesakitannya. Hati saya sangat pedih saat menyaksikan dia hanya bisa tidur-tiduran di ranjang sambil menahan sakit. Saat saya ingin menghiburnya dengan jalan-jalan keluar rumah, dia menolaknya karena tidak mau melihat ayahnya kelelahan menggendongnya. Sering saya mengambil patung-patung di altar dan menyuruh anak saya memeluk dan menciumnya karena begitu besarnya keinginan saya agar dia sembuh. Saya benar-benar putus asa dan merasa tidak berdaya. Ingin rasanya saya bunuh diri. Saya memohon pada dewa kalau bisa saya tidak pernah dilahirkan. Karena stres, saya sampai menderita semacam penyakit kedinginan dan ketakutan yang tak beralasan. Suatu malam, seperti biasa saya tidak bisa tidur memikirkan seluruh persoalan saya. Saya menyalakan televisi untuk coba mengusir kegelisahan dengan menonton. Di sana ada sebuah acara tentang kesaksian-kesaksian, dan ada sebuah kesaksian yang mirip sekali seperti yang saya alami. Kebangkrutan, anak yang sakit, dan dia dibebaskan dari masalah-masalah tersebut. Saya juga ingin seperti dia, terbebas dari masalahnya. Pembawa acara di televisi mengundang penonton yang memiliki masalah dan ingin dibebaskan, untuk mengangkat tangannya agar didoakan. Saya pun mengangkat tangan, meletakkannya di televisi, dan menutup mata mengikuti doa yang diucapkannya. Beberapa minggu kemudian, saya bermimpi bertemu dengan suatu sosok, dengan jubahnya yang berwarna putih. Saya mengenalnya dari gambar-gambar orang Kristen bahwa Dialah yang disebut Yesus Kristus. Tanpa sadar saya sujud di depan-Nya, dan berkata betapa saya tidak layak, dan agama saya lain. Sosok itu tersenyum dan berkata "Agamamu lain, tidak apa-apa, asalkan kamu mendengarkan dan melakukan perkataan-Ku". Saya mencoba mengenal pribadi Yesus Kristus tersebut, namun perkenalan saya dengan beberapa orang Kristen bukan membawa saya semakin dekat pada pribadi itu, tapi justru membuatnya semakin jauh. Karena karakter orang Kristen yang saya kenal mengecewakan dan menjadi batu sandungan bagi saya. Gereja yang saya pernah datangi bahkan membuat saya malu di depan para jemaat. Sehingga usaha saya untuk mengenal dan datang kepada Yesus saya lupakan. Sekitar bulan Juli tahun 2002, saya bertemu dengan seorang teman yang pernah saya kenal di kampung halaman. Kami baru memulai menjalin hubungan bisnis. Tidak sengaja saya mencerita kan penderitaan saya padanya selama dua tahun ini. Dia menawarkan pada saya bahwa Yesuslah solusinya. Setelah kepahitan yang saya alami terhadap orang-orang Kristen yang lain, membuat saya menolak apa yang dikatakannya. Namun dia terus-menerus menelepon saya, membuat saya tidak enak hati, dan berkata kepadanya, "Bila Tuhanmu itu sanggup menyembuhkan anak saya, maka jangankan mengikuti-Nya, saya bahkan akan melayani-Nya", tantang saya. Dia kaget dan berkata bahwa Tuhan mencatat apa yang saya katakan. Tapi dia juga punya tantangan agar saya beriman untuk kesembuhan Willy, serta menghentikan seluruh pengobatannya. Saya menerima tantangan itu, maka bertahap saya mulai mengurangi dosis obat yang diberikan pada anak saya. Sebenarnya kalau saya tidak memberikan obat sesuai dosis, maka anak saya akan menjadi sangat kesakitan. Namun anehnya, hari pertama saya kurangi, anak saya tidak apa-apa. Hari ketiga, saya kurangi lagi, juga tidak apa-apa, begitu seterusnya. Sampai akhirnya saya tidak lagi memberikan obat itu, dia tetap tidak apa-apa. Kemudian di akhir bulan pada saat Willy periksa darah di rumah sakit, hasilnya menyatakan bahwa dia telah sembuh, bahkan sakit jantungnya juga sembuh. Di rumah sakit itu pula saya langsung menepati komitmen dan janji saya pada Tuhan sebelumnya, saya berdoa, "Tuhan Yesus, aku sekarang menjadi pengikut-Mu...." Tanggal 17 Agustus 2003, saya dibaptis dan langsung melayani Dia. Orang pertama yang saya layani adalah ayah dan ibu saya sendiri. Awalnya mereka menentang keras, namun Tuhan bekerja dengan luar biasa, mereka kini juga telah turut menjadi pengikut Yesus. Kini saya rajin melayani Tuhan bersama teman-teman, bahkan sampai ke luar kota. Falsafah hidup saya yang dahulu bahwa, "... selama kita tidak jahat pada orang lain maka orang tidak akan jahat pada kita" kini berubah. Kini saya mengerti bahwa hanya Tuhan Yesuslah yang benar-benar baik. Orang baik kepada kita bukan karena usaha kita melainkan karena Tuhanlah yang baik kepada kita. Saya juga menjadi mengerti bahwa sekeras dan serajin apa pun kita berusaha, tetapi jika kita tidak berada dalam Tuhan Yesus, Iblis akan mencuri dan menghancurkan semua yang kita miliki dan kita kasihi. Saya juga merasakan hidup saya kini memiliki kuasa. Dalam kehidupan sehari-hari kalau ada yang sakit, tinggal berdoa dalam nama Tuhan Yesus, jadi sembuh. Pernah anak saya sakit muntaber sampai mau opname. Kemudian saya berdoa, hasilnya ia langsung sembuh. Kehidupan keluarga kami juga benar-benar dipulihkan dan sungguh bersukacita. Tuhan benar-benar memproses saya, dan saya mengikuti prosesnya mengalir begitu saja. Saya belajar bahwa dalam kehidupan rohani kita tidak boleh memaksakan kehendak kita. Kita mengalir sajalah bersama Tuhan Yesus, maka kita akan diproses-Nya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Diambil dan disunting seperlunya dari: Judul majalah: SUARA Penulis: IM Penerbit: Yayasan Persekutuan Usahawan Injili Sepenuh Internasional (PUISI), Jakarta Halaman: 11 -- 15 ____________________________________________________________ Dan Elohim yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Elohim, berdoa untuk orang-orang kudus. (Roma 8:27) < http://alkitab.sabda.org/?Roma+8:27 > --------------------------------------------------- KS-ILT Rom 8:27 Dan Dia yang menyelidiki hati telah mengetahui bagaimana pikiran Roh itu, karena menurut Elohim Dia bersyafaat demi orang-orang kudus. KJV Rom 8:27 And he that searcheth the hearts knoweth what is the mind of the Spirit, because he maketh intercession for the saints according to the will of God. _____________________________________________________________ POKOK DOA 1. Doakan agar keluarga SS agar lebih dekat lagi mengenal Yesus dan melayani-Nya dengan sepenuh hati. 2. Berdoa bagi keluarga SS dan juga setiap orang supaya mereka tetap mengandalkan Yesus dalam menghadapi setiap permasalahan hidup. 3. Doakan orang-orang yang masih terikat dengan kepercayaan di luar Yesus, agar mereka dapat berbalik kepada Yesus. Percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat manusia. ================================================ From: "Kisah" <[email protected]> Edisi 191 -- Mengharapkan Seorang Anak 13 September 2010 PENGANTAR Shalom, Ketika kita membaca Yeremia 17:5 yang berbunyi: "Beginilah firman TUHAN: 'Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!'"; seharusnya kita bertanya, mengapa Tuhan begitu murka kepada orang yang mengandalkan manusia atau mengandalkan kekuatannya sendiri? Mengapa kepada mereka yang demikian Ia sampai harus berkata dengan begitu keras, "Terkutuklah!"? Tulisan editorial ini tidak hendak menjawab pertanyaan tersebut, tetapi yang jelas ada suatu kebenaran penting yang tersirat dari ayat di atas bahwa Tuhan sangat tidak suka pada orang yang tidak mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Bahkan bagi IM yang kisahnya dapat Anda baca di bawah, diperlukan alur kehidupan yang cukup sulit disertai jangka waktu yang cukup lama untuk akhirnya memahami kebenaran penting ini. Selamat membaca dan semoga kita dapat makin belajar mengandalkan Tuhan. Redaksi tamu KISAH, Wilfrid Johansen http://kekal.sabda.org http://fb.sabda.org ______________________________________________________________________ KESAKSIAN MENGHARAPKAN SEORANG ANAK Masa-masa awal pernikahan adalah masa-masa bahagia bagi kami. Tuhan telah memberikan saya WG, seorang istri yang terbaik bagi saya. Kami menikah tahun 1985 di catatan sipil karena orang tua menolak mengadakan upacara pemberkatan di gereja. Mereka menginginkan kami menikah secara adat leluhur yang secara tegas kami tolak. Saat usia pernikahan telah menginjak tahun yang ketiga, kami menjadi lebih sering merasa kesepian. Kami merasa masih ada sesuatu yang kurang di dalam kebahagiaan berumah tangga kami: seorang anak. Banyak dokter spesialis telah kami kunjungi; berbagai obat, terapi, serta bermacam tes dengan biaya yang tidak sedikit telah kami lakukan namun tak satu pun yang dapat membantu istri saya hamil. Tekanan dan siksaan batin mulai kami alami, mulai dari keluarga sendiri hingga teman-teman, bahkan dari orang yang baru kami kenal sekalipun. Pertanyaan "Berapa putra Anda?" merupakan peperangan mental tersendiri bagi saya dan istri. Melalui diagnosa medis, semua dokter menyatakan bahwa tidak ada yang salah pada kami berdua. Di dalam keputusasaan, timbul niat untuk mencoba jalur "alternatif". Seorang saudara menyarankan untuk berdoa di sebuah tempat ibadah terkenal di kota Tuban. Kami berdoa di sana dan tidak mendapati apa yang kami harapkan. Kami juga menemui "orang pintar" yang paling terkenal di Surabaya. Berbagai "syarat" telah kami ikuti seperti harus menyediakan kembang-kembang tertentu yang sulit dicari, namun tetap tidak membuahkan hasil. Memasuki tahun keenam "petualangan" kami, kami disarankan untuk pergi mengunjungi seorang sinshe yang sangat terkenal dari Tiongkok yang kebetulan pada saat itu sedang berkunjung ke Indonesia. Istri saya dinyatakan lemah kandungan dan saya kurang memiliki kesuburan. Merasa mendapatkan titik cerah, kami patuhi segala peraturan untuk meminum ramuan pengobatan yang harganya sangat mahal itu. Aturan minum dan cara meracik ramuan tersebut sangat sulit, namun kami tetap tekun meminumnya hingga resepnya selesai. Dua bulan menanti tidak ada hasil apa pun selain menghabiskan uang semakin banyak. Kami benar-benar kecewa. Kami menyerah. Jalan buntu yang kami temui membuat kami berpikiran untuk mengikuti program bayi tabung saja. Kemudian kami pergi berkonsultasi pada seorang androlog yang terkenal. Kami bertanya apakah dengan ikut program ini kami punya harapan memperoleh keturunan. Ia menjawab bahwa kemungkinannya hanya 50%. Bayi tabung pada saat itu masih tergolong teknologi yang masih baru. Biaya yang harus dikeluarkan pun sangat mahal dan tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas tersebut. Kami bimbang, bagaimana kami harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal untuk suatu ketidakpastian? Akhirnya kami putuskan untuk membatalkan ikut program tersebut. Apalagi setelah kami ketahui bahwa pembuahan itu dilakukan di luar rahim, dan jika pembuahan itu berhasil baru akan dimasukkan kembali ke dalam rahim. Selebihnya, rumah sakit tidak berani menjamin keberhasilan proses kehamilannya. Alasan utama kami membatalkan program tersebut adalah karena selain biaya yang mahal, saya teringat bahwa kandungan istri saya yang lemah. Lelah dengan berbagai terapi dan pemeriksaan dokter, timbul niat kami untuk mengadopsi anak saja. Selain biaya yang dikeluarkan murah, juga tidak mengandung risiko apa pun. Tidak lama setelah kami membicarakan mengenai hal itu, istri saya bertemu dengan seorang teman lama yang adalah seorang dokter. Setelah berbincang-bincang, dia cukup kaget mengetahui bahwa kami belum memiliki anak. "Sudah ke dokter?" tanyanya. "Sudah habis semua dokter kami kunjungi, bahkan berbagai pengobatan alternatif telah kami lakukan, namun tidak satu pun yang berhasil," jawab kami. "Masih ada satu dokter spesialis yang belum kalian kunjungi. Dia pasti mampu menyelesaikan permasalahan kalian. Dia adalah dokter di atas segala dokter," katanya. Kami menjadi semakin kebingungan mendengar penuturannya. Dokter mana lagi? Kenapa bisa terlewatkan selama ini? Dan kami menjadi semakin yakin karena yang merekomendasikan adalah teman lama kami sendiri yang juga adalah seorang dokter. Pastilah dokter dengan reputasi terbaik. Seolah timbul harapan baru lagi setelah sekian lama kami kecewa dan putus asa. "Siapa namanya? Tolong kenalkan kepada kami agar kami bisa segera pergi ke sana," tanya kami dengan tidak sabar lagi. "Namanya Tuhan Yesus!" jawabnya singkat. Kami berdua seperti disambar petir mendengar nama "Dokter" yang dia sebutkan. Kami sadar selama ini kami punya sikap yang salah. Kami pasrah, tapi pasrah yang salah. Kami tahu Dia yang paling berkuasa, namun kami selalu berpikir "kalau Tuhan memberi ya, pasti akan memberi, tapi kalau tidak itu merupakan kehendak Tuhan sendiri." Nama Yesus tidak pernah kami sebut di dalam doa-doa kami. Kami merasa sangat berdosa karena selama ini melupakan Dia yang sesungguhnya mampu melakukan apa pun bagi orang yang percaya pada-Nya. Mulai malam itu, kami berdua berdoa sambil berlutut di hadapan Tuhan. Kami berpegangan tangan tanda sepakat menaikkan permohonan kami kepada Tuhan. Tiap malam kami meminta dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Dalam pergumulan doa kami setiap hari, rupanya Iblis tidak tinggal diam. Dia mencari cara agar kami berhenti memohon kepada Tuhan. Ibu saya berkata, "Lihat, semua saudaramu yang telah menikah sudah memiliki anak," katanya. "Kalau mau dikaruniai anak, engkau harus kembali kepada kepercayaan leluhurmu." Namun saya tetap bertahan menghadapi cobaan itu. Banyak teman-teman menganjurkan saya agar berselingkuh saja. Katanya, hal itu wajar saja dilakukan untuk membuktikan bahwa sebenarnya saya subur. Ketika hal itu saya ungkapkan kepada istri saya, dia kaget tapi tidak marah. Dia sendiri juga menceritakan hal yang sama, bahwa ada seorang pria yang dekat dengannya dan mengajaknya berselingkuh, tapi dia menolak. Setelah mendengar hal itu semua, kami menjadi semakin tekun berdoa, mengucap syukur pada Tuhan atas kebaikan dan perlindungannya pada kami karena diberikan kekuatan menghadapi cobaan. Tepat 40 hari setelah kami berdoa, istri saya merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Dia menjadi sering mual-mual dan merasa tidak enak badan. Segera kami pergi ke klinik untuk melakukan pemeriksaan. Setiba di rumah, dengan tegang kami ingin melihat hasil tes dokter. Istri saya tidak berani membukanya, dia menyuruh saya untuk membuka hasil tes tersebut. Setelah dibuka, ternyata hasilnya negatif. Istri saya menjadi kecewa dan sedih sekali. Entah bagaimana, tiba-tiba gelora iman di dalam hati saya muncul. Saya mengajak istri untuk menumpangkan tangan ke hasil tes itu. Walau kedengaran aneh, dia mau saja mengikuti ajakan saya. Kami sepakat berdoa. Setelah membuka mata, kami melihat hasil tes tersebut... negatif! Kami berdoa untuk kedua kalinya. Hasilnya masih negatif. Saya katakan kepada dia agar jangan berputus asa, "Kita berdoa lagi." Maka untuk ketiga kalinya kami berdoa. Ketika membuka mata dan melihat hasil tes tersebut, ternyata masih negatif. Namun sekilas dari hasil lab itu saya melihat ada semacam tanda titik di atas tanda negatif tadi. Menurut petunjuk, bila ada dua tanda strip pada hasil tes itu, maka itu berarti positif. Saya percaya itu adalah tanda dari Tuhan. Karena saya yakin bahwa tanda itu sebelumnya tidak ada dan kini telah bertambah menjadi sebuah titik kecil. Saya percaya bahwa tanda itu pasti bisa menjadi strip. Istri saya tidak percaya, menurutnya titik itu hanya luntur saja. Menurut saya tidak, kalau kita beriman bahwa tanda itu berasal dari Tuhan, maka Dia pasti akan melakukan mukjizat. Maka kami mendoakan tanda titik itu sekali lagi, setelah kami buka tanda itu tampak berubah agak memanjang. Kami menjadi semakin bersemangat, dengan berkeyakinan bahwa pasti terjadi mukjizat, kami menumpangkan tangan sekali lagi pada hasil tes itu. Entah sudah berapa kali kami berdoa dan menumpangkan tangan, kami melihat bahwa hasil tes tersebut benar-benar telah berubah menjadi strip. Tanda yang menyatakan bahwa istri saya positif hamil! Suatu tanda iman yang sungguh kami nantikan selama bertahun-tahun. Tidak percaya akan tanda itu, kami pun kembali ke klinik keesokan harinya. Sungguh mukjizat Tuhan terjadi, hasil tes di klinik pun menyatakan bahwa istri saya sedang hamil muda. Masih kurang percaya akan hasil lab, maka kami pergi juga ke sinshe. Saat sinshe meraba nadi istri saya, dia menyatakan bahwa istri saya sedang hamil dua minggu. Keajaiban Tuhan sungguh nyata dan tepat waktu karena pada saat itu kami memang sudah merencanakan untuk mengadopsi anak jika sampai akhir tahun ini belum ada tanda-tanda kehamilan. Ternyata Tuhan tidak pernah mengecewakan orang yang bersungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Dia menjawab doa kami, dan di penghujung tahun, tepatnya tanggal 27 Desember 1991, anak kami yang pertama lahir. Kini kami telah dikaruniai 3 orang anak. Tidak habis bila saya harus menceritakan tentang kebaikan Tuhan di dalam kehidupan rumah tangga kami. Dia tidak pernah terlambat untuk menolong. Diambil dan disunting seperlunya dari: Judul asli artikel: Ternyata Masih Negatif Judul majalah: SUARA, Edisi 78, Tahun 2005 Penulis: IM Penerbit: Communication Department Full Gospel Business Men's Fellowship International - Indonesia Halaman: 11 -- 13 dan 28 __________________________________________________________ Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. (Roma 12:11) < http://alkitab.sabda.org/?Roma+12:11 > --------------------------------------------------- KS-ILT Rom 12:11 dengan kerajinan yang tidak kendur, dengan bernyala-nyala dalam roh, dengan menghambakan diri kepada Tuhan, KJV Rom 12:11 Not slothful in business; fervent in spirit; serving the Lord; ________________________________________________________ POKOK DOA 1. Doakan agar pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak boleh tetap berpengharapan dan percaya penuh pada Yesus. 2. Mengucap syukur untuk pasangan suami istri yang sudah dikaruniai anak. Kiranya mereka menjadi orang tua yang baik dan tetap setia pada Yesus. 3. Doakan agar setiap orang tetap bertekun dalam doa dan setia dalam menantikan janji-Nya. -------------------------------------------------------------------------------------- Pimpinan redaksi: Novita Yuniarti Kontak: < kisah(at)sabda.org > Berlangganan via email: < subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org > Berhenti berlangganan < unsubscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org > Pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-kisah(at)hub.xc.org > Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/kisah Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org Facebook KISAH: http://fb.sabda.org/kisah Twitter KISAH: http://twitter.com/sabdakisah Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org Anda terdaftar dengan alamat email: [email protected] _______________________________________________________________ Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA Didistribusikan melalui sistem network I-KAN Copyright (c) 2010 Kisah / YLSA -- http://www.ylsa.org Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

