INTEGRITAS DAN KEKUDUSAN
oleh: Pdt. Robert Ridsad Siahaan, M.Div. Saat ini integritas para pemimpin negeri kita menghadapi ujian yang sangat serius, beberapa nama anggota DPR dari berbagai daerah bermunculan di media masa karena diduga melakukan praktek korupsi dan pelanggaran-pelanggaran lainnya. Integritas bangsa tercoreng tatkala suap-menyuap dan korupsi dilakukan juga oleh aparat Kejaksaan Agung yang seharusnya menegakkan keadilan dan menegakkan hukum negara. Kehormatan institusi negara yang dianggap mulia dan terhormat menjadi tampak kotor dan tercela di mata masyarakat, karena para pemimpinnya telah merenggut kehormatannya. Perasaan sedih, jengkel bercampur marah berkecamuk di hati rakyat melihat para pemimpinnya yang bermental mencla-mencle dan serong, bukan rakyat yang melakukan pelanggaran tapi para pemimpin dan aparat pemerintahan justru lebih berani melakukannya. Betapa sulitnya menegakkan hukum dan kebenaran di negeri ini, seperti kata Benjamin Franklin, “It is hard for an empty bag to stand upright.” Jikalau integritas para penegak hukum di Indonesia kosong, maka akan sulit sekali menegakkan hukum di negara ini. Demikian juga akan berlaku bagi semua organisasi, jikalau integritas pemimpin “kosong,” akan sulit juga untuk semua pengikutnya untuk menegakkan dan menjalankan peraturan dan tanggung jawab dengan benar. Semakin menyedihkan dan suram gambaran integritas bangsa kita saat ini, karena tidak sedikit caleg-caleg yang berjuang untuk Pemilu 2009 hanya bermodalkan “kenekatan” serta perebutan kekuasaan yang berujung pada pengejaran uang di kursi DPR. Berapa banyak caleg-caleg dan capres-capres yang memiliki kemurnian integritas yang disertai dengan kapabilitas yang memadai untuk dapat memimpin negara ini? Dalam semua sendi kehidupan bermasyarakat sekarang ini kita juga melihat gambaran kebobrokan moral yang semakin menunjukkan cacatnya integritas bangsa kita, setiap hari media massa menceritakan peristiwa kejahatan di rumah tangga, di sekolah, di institusi-institusi pemerintahan, di rumah sakit, dll. Penipuan, perampokan, pembunuhan, korupsi, perjudian, perzinahan, perceraian, pembalakan hutan hingga tinggal 25% saja yang masih tersisa, pemakaian narkoba (banyak artis berguguran), pemalsuan makanan dan minuman yang “cenderung” dibiarkan. Kegagalan moral terjadi mulai dalam kehidupan rumah tangga, di dunia pendidikan, dunia usaha, dunia politik dan pemerintahan dan hancurnya moral bangsa semakin parah karena juga terjadi di dalam institusi agama termasuk gereja. Sudah sejak lama di Indonesia terjadi aksi anarkis untuk menutup rumah ibadah Kristen atau rumah ibadah agama yang dianggap sesat, dihancurkan bukan karena melanggar hukum tetapi karena fanatisme agama. Tidak ketinggalan berita yang menggambarkan rusaknya integritas orang Kristen atau para hamba Tuhan yang mencoreng kehormatan gereja, mulai dari kasus perzinahan, penyalahgunaan uang (korupsi), kepemimpinan yang otoriter/penyelewengan kekuasaan, memanipulasi jemaat, memanipulasi ajaran Alkitab, dsb. Kalau Kekristenan dan gereja gagal mempertahankan dan menegakkan integritasnya tentu akan kehilangan wibawa dan perannya, seperti kata Tuhan Yesus: “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Mat. 5:13). Tentunya sangat tidak enak dan memalukan jika jati diri dan harga diri hanya untuk diinjak dan dibuang dan tidak berguna lagi. Integritas dan Moralitas Saya pernah membaca percakapan di internet mengenai pengertian integritas dalam sebuah perusahaannya sebagai berikut: “Sebagai organisasi yang berbasis pada behaviour competency, kami melihat integritas sebagai perilaku dan bukan moralitas. Oleh karena itu kami menerjemahkan integritas ke dalam perilaku yang nyata, yaitu sebagai keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan yang mengacu pada kode etik organisasi tersebut.” Kalimat di atas tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Finalitas dari semua pembicaraan mengenai prinsip dan kebenaran tentunya adalah tindakan, tetapi kata integritas itu sendiri sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari prinsip moral seseorang. Kata integritas berasal dari kata Latin “integer,” dan kamus Wikipedia mendefiniskannya sebagai suatu keutuhan, kejujuran, kemurnian yang berkaitan dengan prinsip dan nilai etika/moral seseorang. Integritas pertama-tama menyangkut karakter dan tanggung jawab setiap individu yang kemudian bisa menyangkut identitas suatu komunitas. Integritas sangat diperlukan dalam berbagai aspek relasi, aspek keluarga, aspek bisnis dan pada setiap aspek hidup manusia. Dalam definisi sederhana integritas sering diartikan sebagai kejujuran moral seseorang, mengucapkan hal yang sama di depan satu orang atau di depan banyak orang, melakukan tindakan yang konsisten di hadapan orang atau tanpa ada orang lain. Memiliki integritas mutlak bagi sipa saja yang ingin menjadi orang sukses dan berpengaruh dalam hidupnya. Melalui sebuah survei terhadap 1.400 kepala kantor keuangan didapatkan kesimpulan bahwa “integritas merupakan faktor terpenting untuk kesuksesan seorang pemimpin.” (Investor’s Business Daily, 28 June, 2007). Penceramah Motivator kelas dunia Brian Tracy pernah mengatakan “Integritas adalah jaminan bagi semua kualitas karakter seseorang.” Integritas dan Kekudusan Kebutuhan akan integritas sama besarnya untuk masa ini ini atau kapan pun, dan hal ini merupakan perintah Allah bagi umat-Nya Allah di mana pun ia berada. Kitab Yeremia menggambarkan tuntutan ini: “Lintasilah jalan-jalan Yerusalem, lihatlah baik-baik dan camkanlah! Periksalah di tanah-tanah lapangnya, apakah kamu dapat menemui seseorang, apakah ada yang melakukan keadilan dan yang mencari kebenaran, maka Aku mau mengampuni kota itu.” (Yer. 5 :1). Bagi orang Kristen berbicara mengenai integritas berarti berbicara mengenai kekudusan hidup, di mana pun dan dalam aspek apa pun serta pada level apa pun setiap orang Kristen dipanggil untuk menyatakan kekudusan hidup (1Ptr. 1:14-16). Di dalam Alkitab ada seorang teladan yang luar biasa yang mendapat pujian dari Tuhan: “Firman TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya (“integritasnya”), meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.” (Ayb. 2:3). Hidup dengan intergritas sama sulitnya dengan hidup kudus, tetapi itulah panggilan hidup orang Kristen. Kata integritas sangat lekat dengan kata kejujuran, maka setiap orang Kristen harus jujur dalam semua pemikiran, kata-kata dan perbuatannya. Setiap orang Kristen dipanggil untuk hidup bertintegritas dalam totalitas hidupnya. Alkitab menegaskan bahwa kebahagiaan orang Kristen sangat bergantung pada integritasnya: “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.” (Mzm. 119:1). Soli Deo Gloria. Sumber: http://www.reformata.com/01519-integritas-dan-kekudusan.html Profil Pdt. Robert R. Siahaan : Pdt. Robert Ridsad Siahaan, S.Th., M.Div. adalah gembala sidang Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI) Kebayoran Baru dan dosen Theologi Praktika di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) di STTRII Jakarta. Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio. “Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.” (Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

