IBADAH

 

oleh: G. I.
Jeffrey Siauw, S.T., M.Div.

 

 

Akhir-akhir ini, hal
yang sering mengganggu saya adalah melihat cara orang Kristen beribadah.
Kesedihan saya bukan hanya karena banyak lagu-lagu pujian yang buruk, yang
kata-katanya salah secara teologi atau terlihat jelas bukan lagu yang
dipikirkan dengan baik. Kesedihan saya juga bukan hanya karena banyak permainan
musik yang buruk dalam gereja, baik yang terlalu gaduh sampai tidak ada bedanya
dengan konser musik rock (maaf kalau saya terlalu ekstrem), maupun karena
pemain musik yang memang tidak mampu. Tetapi yang paling mengganggu dan
menyedihkan saya adalah sikap orang Kristen dalam mempersiapkan ibadah dan
dalam menyanyikan pujian.

 

Dalam pelayanan
sebagai pengkhotbah, saya cukup sering berkeliling ke berbagai gereja. Ada
beberapa gereja yang terlihat mempersiapkan dengan baik (saya cenderung
mengabaikan kesalahan-kesalahan teknis yang tidak disengaja). Tetapi dengan
prihatin, saya harus katakan, lebih banyak yang tidak. Ada beberapa gereja
dimana jemaat memuji Tuhan dengan kesungguhan hati. Tetapi dengan sangat
prihatin, saya harus katakan, lebih banyak yang tidak.

 

Apa yang terjadi
dengan orang Kristen? Apa yang terjadi dengan gereja?

 

Bukankah ibadah
bersama adalah penyembahan kita kepada Tuhan? Bukankah ibadah seharusnya
dilakukan dengan sukacita dan sorak sorai? Bukankah ibadah seharusnya dilakukan
dengan gentar di hadapan Tuhan yang kudus?

 

Saya tidak ingin
menuding siapa-siapa yang bersalah, karena saya kira kita semua ada andil
bersalahnya.

 

Sebagian dari kita
menekankan ibadah yang musiknya enak dan menghanyutkan. Maka jemaat mungkin
tidak belajar memuji Tuhan tetapi memuaskan diri dengan musik yang enak.
Mungkin mereka bernyanyi sambil memejamkan mata, sambil mengangkat tangan,
sambil menikmati lagu itu, tetapi sangat mungkin hanya sedang menikmati diri
dan bukan menikmati kehadiran Tuhan.

 

Sebagian dari kita
menekankan lagu pujian yang kata-katanya baik, sering kali maksudnya adalah
lagu himne. Jemaat menjadi fanatik untuk menyanyikan lagu himne dan langsung
memprotes jika lagu yang dinyanyikan bukan himne. Tetapi banyak jemaat hanya
latihan menyanyikan lagu himne dan bukan memuji Tuhan. Banyak yang tidak
mengerti isi lagunya (begitu sampai di bait 2, lupa apa yang dinyanyikan di
bait 1). Lebih ekstrem lagi, ada yang menyanyi sambil menguap! Harfiah!

 

Saya kira kita harus
lebih banyak memperhatikan ibadah. Terus terang saya lelah dengan perdebatan
seputar jenis musik dan lagu. Jangan salah mengerti, saya tidak katakan semua
jenis musik dan lagu bisa dipakai dalam ibadah. Tetapi perdebatan seperti itu
selalu hanya berputar pada masalah kenikmatan emosi atau kepuasan rasio.
Mengapa kita tidak memperdebatkan apakah jemaat makin cinta Tuhan dan makin
hormat pada Tuhan dalam ibadah?

 

Saya tahu topik ini cukup
sensitif bagi kebanyakan dari kita. Biasanya begitu menghadapi kritik tentang
ibadah, kita langsung siap dengan benteng kita. Maka untuk membuat kritik yang
adil dan mengena, saya kira diperlukan banyak sekali pembahasan dan diskusi.
Paling tidak, ingatlah kalimat ini: Kecintaan dan rasa hormat kita kepada Tuhan
tercermin dalam ibadah dan dibangun dalam ibadah.

 

 

 

Sumber:

http://jeffreysiauw.blogspot.com/2010/02/ibadah.html

 

 

 

Profil G. I. Jeffrey Siauw:

G.
I. (Guru Injil) Jeffrey Siauw, S.T., M.Div. adalah gembala sidang Gereja 
Kristus Yesus (GKY) Singapore.
Beliau menyelesaikan studi Sarjana Teknik
(S.T.) jurusan Teknik Industri di Universitas Trisakti, Jakarta dan Master of 
Divinity (M.Div.) di Institut
Reformed, Jakarta. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi Master of 
Theology (M.Th.) bidang
Perjanjian Baru di Trinity Theological College, Singapore. Beliau menikah
dengan Yudith.



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke