From: FRS Sowong [[email protected]] Tidak Pernah Berhenti Di Satu Level
Bacaan: Matius 6:25 6:25. "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian ? ----------------------------------------------------- KS-ILT Mat 6:25 "Itulah sebabnya Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir dengan jiwamu, apa yang akan kamu makan dan apa yang akan kamu minum; atau dengan tubuhmu, apa yang akan kamu pakai. Bukankah jiwa itu lebih utama daripada makanan, dan tubuh daripada pakaian ? Rusaknya dunia ini membuat manusia tidak menghargai dirinya sendiri. Ini merupakan prestasi besar kuasa kegelapan yang berhasil menipu manusia. Manusia menghargai dirinya melalui menyejajarkannya dengan lembar-lembar rupiah, mobil, rumah, gelar, pangkat dan lain sebagainya. Demi hal-hal tersebut orang bisa mengorbankan keselamatan jiwanya. Kita harus sadar bahwa dunia tidak boleh menentukan standar hidup kita. Contohnya, harus memiliki rumah pribadi, harus memiliki kendaraan pribadi roda empat, pakaian harus up-to-date, makan harus ada dagingnya, dan sebagainya. Tidak ada untungnya kita mengikuti standar tersebut, sebab itu tidak membuat kita lebih berharga. Bukan itu yang membuat kita berharga di mata Tuhan. Tidak salah kalau kita memiliki itu semua, sesuai dengan porsi berkat yang telah kita terima dari Tuhan. Tetapi kalau kita menjadikannya sebagai kenikmatan hidup, berarti kita sudah ditawan oleh kuasa kegelapan. Iblis menggunakan standar hidup ini untuk menggiring orang ke dalam kegelapan abadi, sebab standar hidup dunia sesungguhnya tidak pernah berhenti di satu level. Manusia akan berusaha bergerak terus, untuk meraih level yang lebih tinggi. Dari jalan kaki, kemudian menuntut bisa naik sepeda, lalu naik motor, berikutnya naik mobil, lalu mau memiliki kapal pesiar, selanjutnya jet pribadi, akhirnya mati tanpa sempat menjadi kekasih Tuhan. Manusia merasa levelnya naik, padahal di mata Tuhan sesungguhnya turun sampai menjadi tidak berharga sama sekali, dengan kata lain, binasa. Sesungguhnya kalaupun kita tidak hidup sesuai dengan standar hidup dunia, kita tidak menjadi kurang berharga. Kita tidak akan kurang bahagianya. Kita masih bisa menikmati dunia ini secara utuh, sebab bila kita bersama HaMashiakh/ Kristus, segalanya itu indah. Untuk itu kita harus melatih diri dan belajar, agar suasana jiwa kita tidak ditentukan oleh apa kata dunia di sekitar kita. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1Tim. 6:8) sebab hidup itu lebih berharga daripada makanan, dan tubuh itu lebih berharga daripada pakaian. ------------------------------------------------- 1Tim 6:8 Dan manakala memiliki makanan dan pakaian kita akan dibuat cukup dengan hal-hal itu. Seperti HaMashiakh/ Kristus yang menang atas pencobaan Iblis yang menggunakan umpan keindahan dunia untuk menjerat-Nya (Luk. 4:5-8), kita juga harus menang. Jangan mengejar level kenikmatan hidup yang lebih tinggi, sebab itu perangkap Iblis. Namun kita harus menggantinya dengan tidak pernah berhenti di level kedewasaan rohani yang sama. Dalam hal ini kita tidak boleh puas. Kita harus berusaha meraih level kedewasaan yang lebih tinggi sampai di akhir hidup kita. --------------------------------------------------- Luk 4:5 Dan, sambil membawa Dia naik ke sebuah gunung yang tinggi, si iblis memperlihatkan kepada-Nya seluruh kerajaan dunia dalam waktu sesaat. 4:6 Dan si iblis berkata kepada-Nya, "Aku akan memberikan kuasa ini seluruhnya dan kemuliaannya kepada-Mu, sebab hal itu telah diserahkan kepadaku, dan kepada siapa saja yang aku kehendaki, akan aku berikan. 4:7 Sebab itu, jika Engkau menyembah di hadapanku, semua itu akan menjadi milik-Mu." 4:8 Dan sambil menanggapi, YESHUA berkata kepadanya, "Enyahlah ke belakang-Ku, hai Satan! Sebab telah tertulis: Engkau harus menyembah YAHWEH, Elohimmu, dan hanya kepada-Nya engkau beribadah!" Suasana jiwa kita tidak boleh ditentukan oleh apa kata dunia di sekitar kita. Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit. ====================================== From: FRS Sowong [[email protected]] Diliciki Dirinya Sendiri Bacaan: Yeremia 17: 9 17: 9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya ? ------------------------------------------------- KS-ILT Yer 17:9 Hati yang penuh dusta melebihi semua yang sulit disembuhkan, siapakah yang dapat mengetahuinya ? Suatu hari penulis mengunjungi kakak ipar seorang sahabat yang dirawat di rumah sakit. Saya melihat sosok pria yang mengerang kesakitan dan lemah karena hatinya membatu (sirosis) dan tidak bisa diobati lagi. Dokter yang merawat mengatakan, seandainya gejala pengerasan hati ini sudah diketahui dua puluh tahun lampau, maka ia bisa diselamatkan; tetapi sekarang sudah terlambat. Kalau hati (liver) manusia secara fisik pada tahap tertentu tidak bisa diselamatkan, maka hati secara rohani juga bisa mengalami hal yang sama. Nabi Yeremia menulis, "Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya ?" Hati manusia bisa sangat licik; bahkan oleh kelicikannya, seseorang tidak menyadari bahwa hatinya licik. Ia tidak mampu mengenali hatinya sendiri. Dari teks ini tersirat jelas bahwa ada stadium penyakit tertentu saat seseorang sudah tidak bisa lagi dikoreksi oleh siapa pun, bahkan oleh Roh Kudus sendiri, karena hatinya sudah membatu. Manakala suara Roh Kudus selalu ditolak oleh hati seseorang, dan orang itu sudah tidak bisa berubah oleh koreksi Roh Kudus, berarti ia sudah menghujat Roh Kudus. Oleh sebab itu sebelum hati kita membatu dan tidak bisa diperbaiki lagi, maka kita harus teliti memeriksa hati kita oleh pertolongan Roh Kudus dengan tekun. Setiap kita membutuhkan intervensi Tuhan untuk membuka mata hati kita guna mengenal diri sendiri (Mzm. 139:23-24). Namun tentu dari pihak kita juga harus ada usaha sungguh-sungguh untuk mengenali diri. Elohim yang mengenal kita lebih lengkap daripada kita mengenal diri kita sendiri akan menolong melihat diri kita sendiri seperti Elohim melihat. Koreksi tersebut bisa melalui suara Roh Kudus yang berbicara kepada kita, atau melalui suara manusia dan kejadian di sekitar kita. Dari pergumulan itu kita mengembangkan kecerdasan roh. Inilah yang dapat menghindarkan kita dari penyesatan (2Kor. 11:2-3). ---------------------------------------------- Maz 139:23 Selidikilah aku, ya Elohim, dan kenalilah hatiku; ujilah aku, dan ketahuilah pikiranku; 139:24 dan lihatlah, apakah ada jalan yang jahat dalam diriku; dan bimbinglah aku di jalan yang kekal. 2 Kor 11:2 Sebab aku mencemburui kamu dengan cemburu Elohim, karena aku telah mempertunangkan kamu kepada seorang suami, supaya mempersiapkan seorang perawan yang suci kepada HaMashiakh. 11:3 Namun aku takut, jangan-jangan sama seperti ular dalam kelicikannya telah memperdaya Hawa, demikian pula akalmu diselewengkan dari ketulusan yang ada dalam HaMashiakh; Meminta Roh Kudus menolong kita memeriksa hati harus dilakukan terus menerus. Tanpanya, siapa pun dapat diliciki oleh hatinya sendiri, termasuk hamba Tuhan. Contohnya, hamba Tuhan yang mulanya ingin menggunakan mukjizat untuk membawa orang kepada HaMashiakh/ Kristus dapat diliciki oleh hatinya sendiri yang haus kehormatan dan materi. Roh Kudus berkali-kali menegurnya, namun suara-Nya yang lembut itu tidak dihiraukannya; ia lebih memperhatikan ingar-bingar suara orang yang mengelukan dirinya. Bertobatlah, sebelum hati rohani kita mengeras sampai sirosis rohani dan tidak dapat diselamatkan lagi. Kita harus memeriksa hati kita terus-menerus dengan pertolongan Roh Kudus, agar kita senantiasa berjalan di jalan Tuhan yang kekal. Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit. ======================================= From: FRS Sowong [[email protected]] Membayar Harga Keseriusan Bacaan: 2 Korintus 5:10 5: 10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. ------------------------------------------ KS-ILT 2 Kor 5:10 Sebab, seharusnyalah kita semua dibuat nyata di hadapan takhta pengadilan HaMashiakh, sehingga tiap-tiap orang dapat menerima sesuatu pada tubuhnya, sesuai dengan apa yang telah dia lakukan, entah baik ataupun buruk. Ada satu hal yang harus kita terima dan sungguh-sungguh alami, yaitu menunjukkan keseriusan sebagai anak-anak Elohim. Menjadi serius bukan tergantung anugerah Tuhan atas setiap individu; setiap kita bisa serius. Alkitab jelas menunjukkan bahwa kita semua harus menghadap takhta pengadilan HaMashiakh/ Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. Ini sungguh-sungguh tergantung respons setiap individu menanggapi kenyataan bahwa Elohim itu ada, dan bahwa Elohim memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibr. 11:6). Keseriusan dengan tindakan konkret ini merupakan langkah yang menyelamatkan kehidupan setiap individu. ----------------------------------------------- Ibr 11:6 Namun tanpa iman, mustahil untuk menjadi berkenan. Sebab siapa yang mendekat kepada Elohim, ia harus percaya bahwa Dia ada, dan bahwa Dia adalah pemberi upah kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia. Iblis akan berusaha membuat diri kita-seorang Kristen-bersikap pasif. Ia menyuntikkan anggapan ke dalam pikiran bahwa anugerah itu bukan hanya keselamatan; yang namanya iman, respons dan keseriusan pun anugerah. Kata Iblis, kalau Tuhan tidak memberikan anugerah "roh keseriusan" kepada kita, mau diapakan pun, kita tidak akan serius; percuma berusaha, sebab usaha manusia semuanya sia-sia. Hidup ini mengalir saja, mengikut alunan "roh". Pertanyaannya, roh siapa ? Bukankah hidup ini dipercayakan Tuhan kepada kita ? Kualitas hidup ini ditentukan dari seberapa kita memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Keharmonisan itu tergantung dari langkah konkret kita untuk menuruti kehendak-Nya. Sedihnya, banyak orang Kristen yang terjangkit oleh virus pasivitas ini. Mereka belum memenuhi bagian yang seharusnya untuk mengalami Tuhan dalam kehidupan secara konkret. Sejatinya harga keseriusan dengan Tuhan adalah segenap hidup. Tidak ada yang boleh disisakan bagi siapa pun atau apa pun. Orang yang tidak serius dengan Tuhan menganggap bahwa keselamatan yang Tuhan perjuangkan adalah murahan. Mereka tidak mengerti betapa berat perjuangan Yesus untuk membuka jalan bagi manusia agar dapat menemukan Elohim dan bersekutu dengan-Nya. Keseriusan kita sebagai anak-anak Elohim mengharuskan kita memperdalam pengenalan akan Dia, yang dibangun melalui belajar kebenaran Firman Tuhan dan doa pribadi. Tentu juga melalui persekutuan dengan orang yang takut akan Tuhan, merindukan Tuhan dan sungguh-sungguh menyadari bahwa hidup ini hanya untuk mengabdi kepada-Nya. Demi hubungan yang harmonis dengan Tuhan, maka kita akan menyerahkan apapun yang ada pada kita bagi Tuhan, sampai kita tidak memiliki apa pun kecuali Tuhan sendiri. Dialah harta kita satu-satunya. Harga keseriusan dengan Tuhan adalah segenap hidup kita, tanpa ada yang disisakan. Diadaptasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.

