BLESSING OF GIVING

 

oleh: Pdt.
Yohanes Adrie Hartopo, Ph.D.

 

 

 

Nats: 2 Korintus 8:1-9

 

 

Salah satu perkataan
Tuhan Yesus yang tidak pernah muncul di Kitab Injil tetapi diingat dan pernah
diucapkan oleh Paulus adalah: “Adalah lebih
berbahagia memberi daripada menerima.” Tidak
pernah tercatat dalam kitab-kitab Injil bahwa kalimat tersebut keluar dari
mulut Yesus. Tetapi Paulus ingat dan mencatatnya di Kisah Para Rasul 20. Ada
dua kata yang dikaitkan erat oleh Tuhan Yesus, yaitu kata “Berbahagia” dan 
“Memberi.”
Dengan memberi, engkau berbahagia. Dengan memberi, engkau diberkati. Tidaklah
mudah bagi orang zaman ini untuk menyetujui kaitan dua kata ini karena
kebanyakan orang cenderung lebih suka memikirkan bukan untuk memberi tetapi
menerima. Banyak orang lebih mudah dan cenderung mengaitkan kebahagiaan dengan
menerima karena dengan menerima maka akan mendapat. Siapa yang tidak suka
menerima bantuan orang lain? Siapa yang tidak suka menerima uang. Siapa yang
tidak suka menerima mendapat keuntungan bisnis? Kita hidup di masyarakat yang
dipenuhi keinginan untuk menerima atau mendapat bukan memberi. Getting bukan
giving. Bahkan mungkin didalam kesempatan memmberi kita tidak mau kehilangan
kesempatan juga untuk menerima. Dalam memberipun, kita memikirkan apa yang saya
dapat. Banyak orang lebih mudah mengaitkan kebahagiaan dengan menerima. Apalagi
orang-orang yang membutuhkan. Pasti lebih senang daripada memberi.

 

Ketika Tuhan mengatakan adalah lebih
berbahagia memberi daripada menerima, Tuhan Yesus bukan ingin mengatakan yang
menerima tidak berbahagia. Bukan itu pointnya. Penerima tentu senang dan merasa
diberkati. Ada pelajaran yang lebih dalam lagi yang ingin Tuhan ajarkan kepada
kita yaitu kebahagiaan memberi. The
blessing of giving. Kita tidak tahu kapan dan dalam konteks seperti apa
Tuhan Yesus mengatakan hal tersebut. Tidak pernah dicatat dalam kitab Injil,
hanya dikutip oleh Paulus. Tetapi sekalipun kita tidak tahu secara jelas
konteks dan waktunya, ada satu fakta yang jelas yaitu Yesus sendiri menghidupi
dan menjalani perkataanNya itu. Yesus pernah berkata: “Aku datang bukan untuk
dilayani tetapi melayani.” Maka keinginan/passion Yesus yang terbesar bukan
menerima tetapi memberi. Maka menurut kitab suci, orang-orang yang memiliki
spirit seperti itu, adalah orang-orang dikatakan berbahagia. Itulah The 
Blessing Of Giving (Kebahagiaan
Memberi).

 

Di dalam perikop ini, kita belajar dan
melihat sekelompok orang-orang percaya yang ada di Makedonia yang mengerti apa
artinya kebahagiaan dalam memberi. Mereka melakukannya dalam kehidupan mereka.
Mereka adalah gereja-gereja yang berada di Provinsi Makedonia. Beberapa kota
ada di sana, kota Filipi, kota Tesalonika, kota Berea. Gereja-gereja ada di
sana dan Paulus menyebut mereka ini dengan satu tujuan yaitu supaya jemaat
Korintus belajar dari mereka, supaya jemaat Korintus mengambil bagian di dalam
pelayanan kepada orang-orang kudus. Jemaat di Makedonia dikatakan:"Mereka
ambil bagian didalam pelayanan kepada orang-orang kudus". Kata pelayanan
yang dipakai di sana dalam bahasa aslinya menggunakan kata diakonia. Diakonia
yang dimaksud Paulus ketika mengatakan hal ini adalah ketika pada saat itu
Paulus menjalankan pekerjaan pengumpulan dana untuk membantu orang-orang
percaya yang menderita yang ada di Yerusalem. Mereka berada dalam kesulitan,
miskin, menderita. Paulus bukan hanya mendengar dari pemimpin gereja tentang
keadaan itu, tetapi kemungkinan besar Ia sendiri melihat dalam kunjungannya ke
Yerusalem. Kita tidak tahu apa yang menjadi penyebab waktu itu orang-orang di
Yerusalem menderita tetapi yang jelas ekonomi memang merosot dan ada bahaya
kelaparan. Mereka butuh bantuan. Maka Paulus berketetapan hati untuk memberi
bantuan kepada mereka. Sejak saat itu, dalam perjalanan kelilingnya Paulus
mengumpulkan dana. Dia mengajak berbagai gereja untuk ambil bagian dan menjadi
gereja yang melihat kebutuhan itu.

 

Perikop yang kita baca terkait dalam
pekerjaan yang sedang Paulus kerjakan ini. Sebenarnya Jemaat Korintus pernah
berjanji untuk terlibat tetapi akhirnya mereka tidak melakukannya (1Kor. 16).
Sehingga Paulus merasa perlu mengingatkan mereka kembali. Paulus memberi
dorongan ini dengan jalan memberi contoh gereja-gereja yang ada di Makedonia
supaya Jemaat di Korintus menarik implikasi untuk diri mereka sendiri. Paulus
bertujuan memotivasi mereka dengan membandingkan sikap bukan membandingkan
jumlah yang diberikan. Sikap dalam memberilah yang ditonjolkan oleh Paulus,
bukan berapa banyak jumlah yang sanggup dikumpulkan. Paulus melihat sikap
Jemaat Makedonia sebagai contoh teladan yang memberikan inspirasi. Jemaat di
Makedonia bukan contoh yang biasa tetapi luar biasa karenak saat itu mereka
berada dalam penderitaan berat dan mereka sendiri sangat miskin tetapi
penderitaan itu tidak merampas sukacita mereka. Kemiskinan tidak melunturkan 
semangat
membantu mereka. Dalam situasi yang sulit, mereka melakukan apa yang kita pikir
tidak mungkin mereka lakukan tetapi mereka melakukannya. Mereka betul sangat
miskin tetapi kaya dalam kemurahan. Miskin tapi kaya. Ini paradoks. Kemiskinan
mereka tidak menghalangi mereka untuk bermurah hati. Kayanya mereka dalam
kemurahan hati terbukti ketika Paulus mengatakan mereka memberi bahkan memberi
melampaui kemampuan mereka. Kita sering berpikir kita memberi jika ada
kemampuan dan keadaan memungkinkan untuk memberi, waktu memberi yang terbaik
adalah ketika bisnis mendapat keuntungan. Tetapi tidak demikian dengan
orang-orang percaya di Makedonia. Keadaan mereka waktu memberi bukanlah keadaan
yang kita sebut sebagai keadaan yang ideal. Yang mereka lakukan bukan sesuatu
yang biasa tetapi di luar yang biasa. Memberi sesuai kemampuan saja tidak mudah
apalagi memberi melampaui kemampuan.

 

Jemaat Makedonia dan Jemaat Korintus
kontras sekali. Yang satu miskin, yang lainnya berkelimpahan. Dari perbandingan
ini ada hal yang ironis yang bahkan sampai saat ini masih kita temukan yaitu
tidak selalu orang yang punya kelebihan adalah orang yang paling bermurah hati.
Yang sering malah mereka yang mungkin tidak punya banyak tetapi punya hati
memberi. Pelajaran penting yang kita dapat: Memberi lebih merupakan masalah
hati daripada masalah keadaan. Segala sesuatu yang kita baca dari perikop hari
ini, membawa kita pada kesimpulan: Meski bukan waktu yang baik untuk mereka
menguatirkan kebutuhan orang lain karena mereka sendiri berada dalam keadaan
perlu dibantu tetapi justru mereka berpartisipasi dalam pelayanan diakonia ini
dengan memberi. Pelayanan kasih/Diakonia dapat dilakukan siapa saja dalam
anggota tubuh Kristus tanpa mempedulikan status ekonominya bahkan oleh orang
yang berkekurangan sekalipun bisa memberi kontiribusi yang besar. Sikap sangat
penting daripada jumlah pemberian. Satu hal lain yang kita lihat dimana jemaat
ini bukanlah jemaat yang diminta-minta. Paulus mungkin segan untuk meminta
karena ia sendiri tahu jemaat Makedonia sedang kesusahan. Tetapi Jemaat sendiri
yang meminta dan mendesak kepada Paulus supaya mereka bisa ambil bagian dalam
pelayanan diakonia itu. Inilah yang mengherankan Paulus. Bukan Paulus yang
meminta tetapi mereka yang meminta. Bagi Jemaat Makedonia, memberi adalah hak
istimewa bukan beban. Apa yang bisa membuat mereka seperti itu? Karena mereka
terlebih dahulu memberi diri mereka kepada Allah(ayat 5). Sebelum mereka bisa
memberi diri kepada Paulus untuk ambil bagian dalam pelayanan itu, mereka
terlebih dahulu memberi diri kepada Allah. Yang kita temukan hal yang berbeda
dimana mereka digerakkan terlebih dahulu bukan karena belas kasihan tetapi
karena Allah sendiri.

 

Orang yang memberi diri kepada Allah
berarti orang tersebut memberi dirinya untuk dibentuk Allah dan mengarahkan
hidupnya sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Orang yang memberi diri kepada Allah
adalah orang yang bisa berkata: “Ini diriku, ini hidupku, bentuklah dan
pakailah.” Ada pelajaran implisit yang bisa kita pelajari juga yaitu memberi
uang dan memberi diri kepada Allah tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan.
Memberi uang seharusnya merupakan ekspresi dari komitmen pribadi kita terhadap
Tuhan. Tetapi sayangnya dan sering terjadi memberi uang menjadi pengganti untuk
komitmen pribadi kita. Harusnya merupakan ekspresi, komitmen pribadi kita
dengan Tuhan tetapi tanpa sadar memberi sering dipakai untuk mengganti komitmen
pribadi dengan Tuhan. Paulus tidak ingin jenis pemberian seperti itu. Pemberian
yang benar selalu mencakup pemberian diri bukan sekedar pemberian uang.
Orang-orang yang memberi diri kepada Allah adalah orang-orang yang memberi diri
untuk diarahkan dan dibentuk oleh Tuhan. Di sanalah ia dimampukan oleh Allah
sendiri untuk menjadi orang-orang yang bisa bermurah hati. Waktu dalam keadaan
sulit jika orang masih bisa memberi seperti Jemaat Makedonia, kita tahu itu
membuktikan satu hal bahwa itu adalah pekerjaan dan gerakan Allah didalam hati
orang itu. Ada kasih karunia yang Allah anugerahkan kepada mereka. Yang kita
lihat dari Jemaat Makedonia adalah a
visible sign of an unvisible grace (suatu tanda yang kelihatan dari
anugerah yang tidak kelihatan). Pemberian mereka bukan karena cinta akan
hal-hal yang baik tetapi anugerah Allah yang bekerja. Jika orang benar-benar
mengalami anugerah dalam hidupnya maka ia tidak akan memakai kesulitan hidupnya
sebagai alasan untuk tidak memberi.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

 

 

 

Sumber:

http://www.gkyjgv.org/index.php?option=com_blog_calendar&view=blogcalendar&Itemid=587

 

 

 

Profil
Pdt. Dr. Yohanes Adrie Hartopo:

Pdt.
Yohanes Adrie Hartopo, B.A., S.Th., M.Div., Ph.D. adalah dosen Hermeneutika dan 
Biblika
di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Beliau menyelesaikan
studi Bachelor of Arts (B.A.) di
Akademi Bahasa Asing, Surabaya; Sarjana
Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of 
Divinity (M.Div.) dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam
bidang Hermeneutics and Biblical
Interpretation di Westminster Theological Seminary, Philadelphia,
Pennsylvania, U.S.A. Beliau menikah dengan Tanny Lie dan dikaruniai 2 orang
anak: Jovianus Alden Hartopo dan Johanson Ainslie Hartopo.



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke