NIKMATI
PENYAKITMU!
 
oleh:Pdt.
Bigman Sirait
 
 
 
 
TIDAK ada orang yang mau
sakit. Apalagi orang modern yang hanya ingin bisa hidup serba mudah dan
sistematis, akhirnya benci terhadap  penyakit. Kemajuan teknologi membuat
orang mengubah konsep hidupnya. Orang-orang zaman dulu sangat  familiar
dengan kepahitan dalam kehidupan, sehingga dalam menyikapi penyakit pasti jauh
berbeda dibanding orang-orang masa kini. Jadi, kalau orang-orang zaman sekarang
disuruh “menikmati” penyakit, sudah pasti tidak akan ada yang mau. Orang-orang
modern tidak akan tersenyum jika sedang sakit. Tidak heran jika banyak orang
Kristen yang mengatakan bahwa penyakit itu dari setan, maka harus didoakan
dengan menumpangkan tangan atau ditengking. Mereka tidak rela menerima penyakit
itu dengan lapang dada. Penyakit itu akan selalu datang menghampiri semua
orang, sekalipun sudah berusaha dengan segala cara dan upaya untuk menghindari
penyakit, lewat cara hidup cara makan, dsb. Maka tiada jalan lain bagi kita
untuk “menikmati” saja penyakit itu.
 
Dalam 2 Korintus 12:7–10,
diceritakan tentang Rasul Paulus yang bergumul sehubungan dengan adanya duri
dalam dagingnya. Dikatakan bahwa penyakit dalam tubuh Paulus, yaitu duri dalam
dagingnya, memang sengaja diizinkan oleh Tuhan. Paulus diizinkan Tuhan untuk
menderita penyakit tersebut yang terus ada sampai akhir hayatnya. Penyakit ini
menjadi satu kesaksian yang indah, yang diizinkan Tuhan  supaya Paulus
tidak memegahkan diri atau terjerumus pada keadaan yang bisa saja membuat dia
menjadi sombong. Bahwa penyakit itu diperlukan oleh Paulus, hal ini harus
dipahami. Mungkin kita berpikir bahwa penyakit tersebut harus dibuang, tetapi
Paulus justru merasa perlu menyimpan penyakitnya. Sebab dia sadar kalau
penyakit yang diizinkan itu pun untuk menyatakan kemuliaan Allah. Dalam ayat 9,
Paulus meminta kesembuhan tapi Tuhan mengatakan, “Cukup kasih karunia-Ku
bagimu, karena dalam kelemahanmu, kuasa Tuhan menjadi nyata.” Itu lebih baik
bagi Paulus, karena dalam kelemahan, hadirnya kekuatan Allah adalah lebih baik
daripada kekuatan dosa yang hadir. Dalam ayat 10, Paulus mengatakan bahwa ia
senang dan rela dalam kelemahan. 
 
Waktu kita menyadari bahwa
penyakit itu merupakan kehendak Allah, maka kita menemukan satu momentum yang
membuat kita merasakan itu sebagai sebuah kenikmatan dan kesenangan. Dengan
demikian kita rela menanggung semua rasa sakit itu. Jika penyakit membuat orang
lain sedih, maka kita tetap tersenyum di kala menderita sakit. Penyakit itu
diperlukan, dan diizinkan Tuhan dalam sepanjang hidup kita. Jika kita sakit,
bukan berarti Tuhan tidak mendengar doa kita, tetapi juga bukan berarti setiap
penyakit itu kehendak Allah. Yang kita bicarakan saat ini adalah penyakit yang
berkaitan dengan kehendak Allah sehingga Allah mengizinkan penyakit itu
terjadi. Karena itu perlu kita menyadari hikmat dari Tuhan, bukan buru-buru
mencari kesembuhan yang  akhirnya membuat kita tidak bisa menikmati
penyakit yang Tuhan berikan itu. Tapi kalau penyakit timbul karena salah
sendiri, maka belajarlah baik-baik dan berani menanggung risiko. 
 
Kita juga harus ingat bahwa
penyakit bukan aib. Penyakit bukan aib, jika sesuai kehendak Allah. Tetapi
kalau tidak sesuai dengan kehendak Allah, itu salah sendiri, obati sendiri lalu
minta ampun pada Tuhan. Misalnya hujan sedang turun, tetapi kita tetap keluar
rumah tidak memakai payung. Lain halnya jika mau pergi ke pelayanan, tidak
memakai payung karena memang tidak punya, maka itu merupakan bagian dari
kesulitan penderitaan kita. Dapat dikatakan bahwa kondisi seperti ini merupakan
salib yang harus dipikul karena ada kepentingan yang lebih serius untuk
dikerjakan sementara fasilitas seperti payung tidak punya.


Proses
Pembentukan
Penyakit bukan kematian yang
ditakuti. Dalam Filipi 1:21 dikatakan: Karena bagiku hidup adalah Kristus dan 
mati
adalah keuntungan, lalu kenapa kita harus takut jika sedang sakit? Penyakit
bukan kematian yang harus ditakuti, bahkan kematian pun tidak perlu
ditakuti.  Ini harus dipahami. Menikmati penyakit itu bukan masalah,
tetapi sikap kita terhadap penyakitlah yang menjadi masalah. Kenapa? Karena
kita ingin kehendak kita yang jadi supaya sembuh bukannya kita memahami
kehendak Allah bahwa penyakit itu harus kita alami. Dan karena kita ingin
kehendak kita yang jadi, akhirnya kita  marah dan meragukan Tuhan. 
 
Kita harus sadar bahwa
penyakit merupakan proses pembentukan. Jika dipahami, penyakit merupakan proses
pembentukan, memberikan pertumbuhan iman. Tetapi sebaliknya jika kita melihat
penyakit itu sebuah permasalahan, maka iman tidak bertumbuh. Bahkan penyakit 
adalah
sebuah kehormatan,  kalau kita sanggup menanggungnya di dalam Tuhan.
Seperti kata Paulus, “Aku senang dan rela dalam kelemahan, di dalam siksaan,
dalam kesukaran dan dalam penganiayaan oleh karena Kristus.” 
 
Karena itu mari kita
mengubah konsep yang salah agar kita tidak menyamarkan berkat-berkat yang
diberikan Tuhan sebagai sesuatu yang harus menjadi milik orang percaya.
Berkisahlah tentang sukses:  sukses berbuah dengan Tuhan, sukses
menanggung kesulitan yang ada, sukses hidup jujur, sukses berjalan pada jalan
yang benar, sukses tidak berkompromi dengan dunia. Harta itu relatif, bisa ada
hari ini, besok tidak ada. Semua orang dunia juga mencari harta benda, mencari
kesembuhan. Tetapi yang dimiliki Allah lebih daripada itu yaitu kebenaran dan
ketenangan dalam hidup dan dalam jiwanya yang bebas yang tidak dapat ditekan
oleh apa pun. Itulah yang penting. Inilah konsep Kristiani. 
 
Belajarlah, mungkin Tuhan
mau memberikan suatu kesempatan kepada kita yang dapat dipahami sebagai suatu
kesempatan untuk menampilkan paradigma baru tentang penyakit di dunia. Dunia
ini sakit dalam segala-galanya. Karena itu mari kita beri paradigma baru pada
dunia ini dengan berkata: Jangan menangis pada waktu sakit. Karena apa? Karena
waktu sakit pun kita bisa senang, bahkan menikmatinya. 
 
Jika kita sedang sakit,
berdoalah agar Tuhan menolong. Dengan pertolongan Tuhan itu kita mengejutkan
dunia. Dunia terkejut, karena dalam keadaan sakit pun kita tetap bersukacita
dan tersenyum. Jangan mengharapkan kesembuhan hanya untuk bersaksi bahwa kita
sembuh karena Tuhan. Dalam keadaan sakit pun kita bisa bersaksi dan menjadi
alat yang luar biasa. Nikmatilah penyakit dalam paradigma baru dan tersenyumlah
dalam kelemahanmu itu, karena itulah yang membangkitkan dan menumbuhkan imanmu.
 
(Diringkas dari
kaset khotbah oleh Hans P. Tan)
 
 
 
Sumber: http://reformata.com/news/view/5937/nikmatipenyakitmu
 
 
“Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam 
hidup setiap orang percaya.”
(Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

Kirim email ke