KEPALA BUKAN EKOR
 
oleh:Pdt.
Bigman Sirait
 
 
 
KEPALA bukan ekor, adalah kata yang
sangat akrab di telinga kita. Tiap kali terucap oleh pengkhotbah, dengan
semangat tinggi umat akan mengaminkannya. Apalagi jika sang pengkhotbah
berapi-api, dapat dibayangkan respon pendengar. Hal ini dapat dipahami, karena
setiap orang pasti tak rela menjadi  ekor. Menjadi kepala berarti kaya, si
miskinlah ekornya. Orang yang sehat itu ekspresi yang kepala, sementara miskin
Anda tahu jawabannya. Semua diukur secara kuantitatif, deret angka. Para
pembicara selalu memberi tekanan yang jelas soal kepala dalam ukuran angka,
keberhasilan kuantitatif. Kamu kepala karena kamu “orang percaya”, “umat
Allah”, itu otomatis. Jika kamu tidak kaya, atau kamu sakit, kamu adalah ekor,
kurang beriman, itu rumusannya. Terasa sangat kejam, karena memang sangat
diskriminatif, padahal Tuhan tak begitu. 
 
Ini adalah wajah aneh Kekristenan yang
dimunculkan oleh orang berpikiran pendek, sangat bergairah dengan angka, dan
mengabaikan semangat sejati Alkitab. Dengan jelas, Alkitab membicarakan
kualitas yang menjadi tuntutan. Lihatlah apa kata Yesus tentang pujian Israel:
“Percuma bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari
pada-Ku”. Israel mengedepankan kuantitas, sementara Tuhan menuntut kualitas.
Ungkapan ini diucapkan Yesaya sebagai nabi. Yesaya menyampaikan kebencian Allah
akan kemunafikan yang mewarnai puasa, perpuluhan, dan ibadah Israel. 
 
Tampaknya hal itu kembali terulang di
kekinian gereja. Tapi celakanya justru inilah yang diminati umat. Orang rela
mengantri untuk motivasi seperti ini. Kurang suka pada kualitas, karena
kualitas selalu menuntut keberanian dan pengorbanan yang besar. Tak ada yang
mau membayar harga dalam mengikut Yesus, semuanya mau mengambil untung dari 
percayanya.
Padahal keuntungan percaya terle-tak pada keselamatan yang diterima cuma-cuma,
bukan soal status sosial atau keadaan lahiriah. Itulah sebab, mengapa para
rasul justru merasa beruntung boleh menderita untuk Yesus, bukan sebaliknya,
merasa beruntung karena bisnis yang berlipat-lipat. Apakah tidak boleh kaya?
Tentu saja bukan itu maksudnya, tetapi amat sangat jelas, kaya bukanlah tujuan
orang percaya, melainkan sekadar alat untuk memuliakan Tuhan. Kekayaan bukan
kemuliaan diri, kemuliaan adalah pengabdian pada Sang Kebenaran. Kembali pada
“kepala bukan ekor”. 
 
Menjadi kepala bukan ekor (Ul. 28:13)
yang dimaksud Alkitab adalah, menjadi pemimpin, pemberi arah. Menjadi kepala
itu sangat jelas. Ke mana kepala pergi ke situ ekor mengikuti. Jadi yang 
dimaksud
menjadi kepala bukan soal kaya, atau kuantitas, tetapi sekali lagi soal
kualitas. Israel tak boleh seperti bangsa lain yang kafir, tak mengenal Allah.
Israel harus bisa menunjukkan keunikannya dalam monoteisnya. Israel yang
ber-Allah satu. Itu unik di tengah bangsa lain yang ber-Allah banyak. Itu sebab
Israel dituntut setia terhadap firman Tuhan dan mengajarkannya berulang kali
kepada setiap anak-anak Israel. Dalam kesetiaan itu mereka diatur oleh hukum
Allah yang berdaulat. Maka jika mereka taat, mereka akan menjadi bangsa yang
besar dan berpengaruh, berkuasa dan mempengaruhi bangsa yang lainnya. Itulah
menjadi kepala. 
 
Sementara soal harta, kesehatan, dan
yang lainnya adalah bonus belaka, bukan tujuan utama. Tujuan utama kepala
adalah memberi arah, memimpin di jalan yang benar. Indah bukan? Menjadi ekor
sudah jelas pengekor, mengikuti arus zaman. Dunia sangat cinta uang,
materialistis. Apa saja dihalalkan dalam mengumpulkan uang. Uang membuat
seseorang merasa terhormat, dan dengan uang bisa membeli apa saja. Bahkan bisa
belanja keadilan, dan kehormatan semu. Uang menjadi tujuan kebanyakan para imam
di era Perjanjian Lama, dan semakin menggila di era Perjanjian Baru. Para imam
mencari keuntungan lewat ibadah di bait Allah. Yesus pernah membongkar praktek
mereka, dan menyucikan bait suci yang ternyata tak suci. Dan yang paling
mengerikan, Yudas pun rela menjual Yesus dengan 30 keping perak. Uang telah
membuat Yudas gelap mata, membuang kehormatan kemuridannya. Semua soal uang,
soal kaya. 
 
Inikah menjadi kepala? Jelas amat
sangat itu salah. Itu bukan kepala, tetapi sebaliknya itu ekor tanpa daya.
Tertarik dengan nilai dunia, dan menjadi pengikutnya. Ironis bukan, merasa
menjadi kepala, padahal murni ekor. Mengikut dunia, tetapi merasa memimpinnya.
Itu sebab tidak heran jika dunia mencemooh gereja yang semakin hari semakin
berkurang saja orang setia yang beriman teguh. Mirip kisah Gideon yang
mempersiapkan tentara untuk pertempuran sebanyak 30 ribu orang (Hak. 7). Tetapi
ternyata tinggal sedikit ketika seleksi ilahi terjadi. Gideon pergi bertempur
hanya dengan 300 tentara, dan berhasil. Gereja bagaikan 30 ribu orang yang
banyak, ramai, penuh. Padahal yang sejati hanya 300 orang, kecil, sedikit,
tampak tak berarti, tapi itulah pemenangnya. Kualitas bukan kuantitas. Jadi
sangat jelas bukan artinya menjadi kepala. Ingat, para nabi bukan orang kaya,
bahkan sebaliknya, ada yang peternak kaya dipanggil jadi nabi dan meninggalkan
semuanya. Ada Elisa yang menolak uang Naaman, sementara pelayan masa kini mirip
Gehazi pembantu Elisa, bukan saja menyambar uang yang ditolak Elisa, jika perlu
mereka menipu dengan dalih proyek pelayanan. Dan jika kaya, mereka menyebut
diri kepala. Sungguh sebuah penipuan yang licin. 
 
Penipuan dengan pembenaran yang
diindoktrinasikan, yang membuat umat terbius, dan kalaupun tahu, takut
mengoreksinya. Ingat, kaya bukan dosa, bukan kaya yang jadi masalah, tetapi
konsepnya dan caranya. Jika Tuhan mau memberi, apalah susahnya. Dunia ini, dan
segenap isinya milik Tuhan. Tapi, berkata mewah itu dari Tuhan, dan
menjadikannya gaya hidup, itulah persoalan. Umat Kristen menjadi sangat 
self-oriented, gila kaya, kehilangan
kepekaan pada sesama. Kesaksian selalu berputar soal kuantitas, bukan lagi
kualitas hidup. Seharusnya menjadi kepala, adalah menjadi orang yang
berintegritas, orang yang dapat diteladani menjadi model, menjadi kepala.
Alangkah indahnya dunia jika orang Kristen menjadi terang seperti tuntutan
Yesus kepada setiap orang percaya. 
 
Orang Kristen menjadi kepala, sehingga
jelaslah arah kehidupan. Ini menjadi tuntutan pada setiap pemimpin. Dalam
kepemimpinan umum, seharusnya seorang pemimpin memiliki jiwa kepahlawanan,
menjadi pelindung kaumnya, dan sangat menjaga orang di sekitarnya. Dia bukan
tipe orang yang mengamankan diri, dan pengkhianat terhadap pengabdian orangnya
sendiri. Dia bukan pemim-pin yang hanya lancar bicara, tapi gagap
mewujudkannya. Bukan oportunis, cinta kaya, ingin jadi idola, tetapi
mengorbankan kawan-kawannya. Begitu pula dalam dunia keagamaan, sungguh tak
bisa dibayangkan pemimpin agama yang oportunis bukan? Menyedot kekayaan umat,
dengan meminta umat suka memberi, padahal dia sendiri sebagai pemimpin agama
tak suka berbagi. Hanya menumpuk untuk diri, dan terus berjalan dalam
manipulasi. 
Menjadi kepala bukan ekor dalam arti yang sesungguhnya sangat dibutuhkan di
tengah dunia yang oportunis ini. Menjadi kepala bukan ekor sudah seharusnya
menjadi semangat yang tak pernah padam, itulah panggilan orang percaya. Cobalah
mulai dengan sikap yang kritis dengan mencermati kepemimpinan agama di sekitar
Anda, mulailah mengenali mana yang sejati dan mana yang hanya sekadar untuk
materi. Ingat, jual beli “Firman” sudah sangat terkenal di era Bileam si nabi
mata duitan. Karena itu jangan terjerumus lagi di lubang yang sama, di kekinian
masa. Lalu mulai pula dengan berani mempertanyakan hal yang kelihatan salah.
Tak perlu takut risikonya, karena Tuhan Yesus sudah mengatakannya: bahwa yang
layak menjadi murid-Nya hanyalah mereka yang berani menanggung risiko. 
 
Tentukan sikap, apakah Anda kepala
(murid Kristus), atau hanya ekor (pengikut pemimpin agama). Lalu belajarlah
menyuarakan kebenaran, belajar menjadi kepala yang tegak, Kristen yang punya
sikap, yang konsisten. Ingat ekor akan mengikut Anda. Jika arah sudah benar,
berbahagialah, karena Anda telah menolong banyak orang tahu jalan kebenaran,
dan saat yang sama tahu pula apa itu kepalsuaan. Selamat menjadi kepala dan
bukan ekor, yang sesungguhnya, bukan yang ecek-ecek. Semoga.
 
 
 
Sumber: 
http://reformata.com/news/view/5634/kepala-bukan-ekor
 
 
“Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam 
hidup setiap orang percaya.”
(Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

Kirim email ke