APAKAH
ANDA MURID?
oleh: Ev. Alex
Nanlohy, M.A.
 
 
“Kecil tapi hebat”. Rasanya slogan iklan sebuah
deterjen ini, tidaklah terlalu berlebihan jika dikaitkan dengan pengalaman
dalam sebuah kelompok kecil. Kelompok kecil yang anggotanya sedikit, ternyata
dapat membawa perubahan yang besar dan berarti. Kelompok kecil untuk tujuan
agama bukanlah perkembangan yang baru. Banyak study yang telah dilakukan
tentang kelompok kecil, salah satunya didorong oleh kenyataan keefektifan
kelompok kecil dalam menyebarkan komunis.
Dua tahun setelah pemerintahan komunis menguasai Cina, dilaporkan oleh seorang
mahasiswa Kristen bahwa keluar peraturan melarang pertemuan lebih dari 5 orang.
Dia mengakhiri tulisannya dengan mengutip kata-kata Tuhan, “di mana dua atau
tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka”. Di waktu
selanjutnya, walaupun kelompok kecil dilarang dan bahkan ada yang ditangkap,
orang Kristen tetap bersekutu dan bersaksi. Sungguh luar biasa, Allah memakai
kelompok-kelompok kecil di negara yang menentang Kekristenan ini, untuk tetap
memelihara iman dan semangat penginjilan orang-orang di Cina. Bahkan ada sumber
yang mengatakan bahwa jumlah orang Kristen di Cina, setelah keruntuhan komunis
bahkan 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan sebelum komunis berkuasa. Di
dalam negara-negara yang bebas pun, kelompok kecil juga digunakan untuk
meneguhkan iman dan mendorong penginjilan.
 
 
Sarana
Pembaharuan dalam Alkitab
Beberapa abad sebelum orang-orang membicarakan
dinamika kelompok dan pertumbuhan melalui kelompok kecil, orang Kristen pada
gereja mula-mula telah menggunakan kelompok kecil untuk menyebarkan Injil pada
masa pemerintahan Romawi. Jauh sebelum ada gedung gereja dan lembaga-lembaga.
Mereka bertemu di rumah-rumah (dalam kelompok yang lebih kecil) untuk besekutu
dan menerima pengajaran dari para rasul. Ketika penganiayaan tiba, mereka
bertemu dalam tempat-tempat tersembunyi, seperti Katakombe di Roma. Hal ini
tampaknya berlangsung sampai gereja kemudian memakai sebuah sistem yang
perlahan-lahan menyebabkan lemahnya kesaksian dari orang awam dan berfokusnya
pelayanan kepada para pendeta, pengajar dan penginjil. 
Dalam rencana-Nya, Allah mau semua orang terlibat dalam kesaksian gereja dan
untuk tujuan itulah Ia memberikan orang-orang dengan karunia khusus untuk
memperlengkapi orang-orang kudus untuk terlibat dalam pelayanan (Ef 4:11,12).
Dalam pelayanannya, Tuhan Yesus mengkonsentrasikan dirinya dalam melatih
sekelompok orang. Ia memanggil mereka untuk bersama Dia, belajar dari-Nya, lalu
mengirim mereka untuk bersaksi dengan perintah untuk kembali dan melaporkan apa
yang telah mereka alami.
Allah juga memakai kelompok yang kecil di dalam Perjanjian Lama untuk membawa
pembaharuan yang signifikan bagi kehidupan umat Allah dan dunia ini. Allah
seringkali memakai rumah-rumah tangga untuk menggenapkan rencananya. Misalnya
Allah memakai delapan orang dalam keluarga Nuh untuk menggenapkan rencana-Nya
bagi dunia ini (Kej. 7–9). Nuh dan keluarganya menjadi agen pembaharu untuk
dunia ini setelah peristiwa air bah. Lihat juga contoh Musa dalam Keluaran
18:13-26, ketika ia mengikuti nasihat mertuanya, Yitro, untuk membagi kelompok
1000 orang, 100 orang, 50 orang, dan 10 orang. Hal ini memungkinkan setiap
anggota kelompok mendapat perhatian yang lebih baik. Demikian pula pengalaman
Daniel beserta teman-teman “kelompok kecil”nya, ketika mereka berada di
pembuangan Babel (Dan. 1:6; 13-20; 2:17-18).
 
Dari pemaparan di atas, kita melihat desain
Allah bahwa persekutuan (gereja) menjadi pusat di mana orang Kristen menerima 
pembaharuan
dan pengajaran dan kemudian mereka diutus ke dalam dunia untuk membawa
perubahan. Mereka tidak hidup terpisah dari masyarakat di mana mereka
berkembang, namun kehadiran mereka seharusnya membawa petobat-petobat baru ke
dalam persekutuan. Jelas sekali, bahwa kekuatan persekutuan (gereja) tidak
dapat diukur dari jumlah pengunjung kebaktian tiap minggunya. Keefektifan
pelayanan persekutuan terlihat dari jumlah anggotanya yang aktif terlibat dalam
kesaksian, yang sungguh-sungguh menjadi MURID. Pelayanan dan pengajaran yang
dilakukan di dalam persekutuan ditujukan untuk membangun MURID yang bukan
sekedar penonton. Untuk itulah, kelompok kecil dalam persekutuan berfungsi
bukan sebagai persekutuan yang terpisah dari masyarakat tetapi justru
kehadirannya memberikan pengaruh kepada segenap lapisan masyarakat (di dalam
lingkungan keluarga, sekolah/kampus, pekerjaan,
bangsa dan negara).
 
 
Sarana
yang Efektif Menghasilkan MURID
Jika ditanyakan, “Apa yang Tuhan Yesus hasilkan
dalam kelompok kecil yang dipimpin-Nya?”, maka tentu jawabannya adalah MURID.
Kata "MURID" adalah suatu sebutan yang umum digunakan dalam Alkitab
(secara khusus Perjanjian Baru) untuk menunjuk kepada para pengikut Yesus,
sebelum mereka disebut dengan istilah "Kristen". "Di
Antiokialah, murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen." (Kis
11:26b). Kata "MURID" (disciple-Ing, mathetes-Yun) muncul 73 kali dalam Injil 
Matius, 46 kali di Injil
Markus, 37 kali di Injil Lukas, 78 kali di Injil Yohanes, dan 28 kali di Kisah
Para Rasul. 
Hidup dalam keselamatan yang telah Allah anugerahkan, bukan sekedar hidup yang
pasif, tetapi hidup yang aktif untuk melakukan kehendak Allah. Ini bukanlah hal
yang mudah, melainkan membutuhkan suatu kesungguhan dan pengorbanan, untuk
dapat berkata YA kepada kehendak Tuhan dan TIDAK kepada dosa atau keinginan
diri sendiri. Panggilan hidup seperti inilah yang Yesus berikan kepada setiap
orang yang menjadi MURID-Nya. Ini adalah anugerah Allah, yang seharusnya
diresponi dengan benar oleh setiap anak-anakNya. MURID adalah seorang yang mau 
terus
belajar. MURID bukan hanya tahu tentang pengajaran Kristen, tetapi juga
melakukan apa yang dia ketahui. Status orang Kristen sebagai MURID merupakan
suatu hal yang sangat penting untuk dihayati. Menjadi MURID merupakan panggilan
yang diberikan Tuhan kepada setiap orang yang mau mengikuti DIA, dan merupakan
panggilan seumur hidup. Sebutan MURID, bukan hanya suatu terminologi kosong
yang melekat pada diri orang Kristen. Setiap murid Tuhan, seharusnya juga
menunjukkan kualitas MURID yang sejati dalam kehidupannya. Menjadi MURID
berarti suatu penyerahan diri atau komitmen total kepada gurunya. Tanpa
lahirnya MURID melalui pelayanan kita, sebenarnya kita tidak menghasilkan
apa-apa! Karena tanpa MURID, sesungguhnya tidak ada perubahan yang dihasilkan! 
 
Kelompok kecil sudah terbukti baik dan efektif
untuk pemuridan. Inipun sarana yang Allah anugerahkan di mana Ia ikut berperan 
didalamnya. Di dalam kelompok kecil bukan hanya dibentuk pengetahuan
tentang Kekristenan, tapi juga dibangun watak seperti Kristus. Kita dapat
dilatih dalam dasar-dasar Kekristenan, seperti saat teduh dan doa yang teratur,
menggali Firman Tuhan, dll. Kelompok kecil bukanlah barang baru di kalangan
pelayanan mahasiswa di Indonesia. Kelompok Kecil selama ini sudah menjadi menu
utama yang disajikan oleh Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) di berbagai kota
di Indonesia. Kelompok Kecl ini, diyakini sebagai suatu hal yang penting,
karena bukan hanya dianggap sebagai suatu aktifitas atau program tetapi
merupakan tulang punggung dalam persekutuan. Namun, mengapa PMK saat ini “adem 
ayem”? Mengapa seolah-olah tidak
terjadi perubahan di dalam Persekutuan? Di dalam dunia kampus? Di masyarakat?
Kita perlu dengan serius mengevaluasi hal ini. Atau mungkinkah, PMK sudah
berhenti menghasilkan MURID? Saat ini PMK dihadiri oleh banyak mahasiswa, namun
berapa banyak yang mau sungguh-sungguh dibentuk menjadi MURID? Mungkin juga,
ada banyak mahasiswa yang mau terlibat dalam pelayanan, namun berapa banyak
yang mau setia menjadi MURID yang melayani? Atau jangan-jangan, Kelompok Kecil
di PMK hanyalah melanjutkan tradisi saja, tapi sebenarnya sudah tidak lagi
menghasilkan MURID? PMK perlu menjawab pertanyaan ini dengan bukti dan tindakan
nyata!!!
 
Mengutip kalimat LeRoy Eims dalam buku
Pemuridan Seni yang Hilang: 
Menumbuhkan sebuah pohon jati memakan waktu bertahun-tahun lamanya,
tetapi sebuah jamur payung dapat bertumbuh dalam semalam.
Membangun murid, pembina murid, dan pemimpin yang setia dan mampu
akan memakan waktu lama.
 
 
Sumber: http://www.perkantasjakarta.org/taman-bacaan/apakah-anda-murid?page=0,1
 
 
Profil Penulis:
Ev.
Alexander A. E. Nanlohy, S.Sos., M.A.adalah Pemimpin Cabang di Persekutuan 
Kristen Antar Universitas (Perkantas)
Jakarta. Beliau menyelesaikan studi S.Sos. bidang Komunikasi di Universitas
Indonesia, Jakarta dan Master of Arts (M.A.)
dalam bidang Misi di Redcliffe College, University of Gloucestershire, U.K.
 
 
“Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam 
hidup setiap orang percaya.”
(Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

Kirim email ke