OTORITAS KITAB-KITAB KANONIK ALKITAB DAN EKSTRA
KANONIK
 
oleh:Pdt.
Arnold Tindas, D.Min., D.Th.
 
 
 
PENDAHULUAN
Injil Barnabas, Injil Thomas, Injil Yudas sudah terbit dan beredar di
Indonesia dan bakal muncul lagi Injil-injil lain, seperti Injil Maria, Injil
Petrus dan kitab-kitab lain yang tidak termasuk di antara 66 kitab-kitab
kanonik Alkitab, yang berkembang menjadi bahan diskusi teologi sistematik
belakangan ini. Kehadiran Injil-Injil baru, yang disebut ekstra-kanonik atau
apokripa itu, diterima secara kontroversial di kalangan para teolog. Sebagian
menyebutnya Injil-injil palsu dan menyesatkan, sebagian lagi menyambutnya
dengan tangan terbuka, karena menilainya sebagai pembukaan tabir kebenaran
untuk melengkapi kekurangan dalam 66 kitab kanonik Alkitab yang kita pakai
selama ini. Injil-injil ekstra-kanonik/apokripa masih puluhan yang bertahan
hingga kini, di antaranya adalah: Injil Yudas (120 M); Injil Thomas (180 M);
Injil Barnabas; Injil Petrus (170 M); Injil Filipus; Protoevangelion Yakobus
(150 M); Injil Rahasia Markus (1960 M); Injil Maria (160 M); Injil Nikodemus;
Injil orang Ibrani (140 M); Injil orang Nazaret (120M); Injil orang Mesir (120
M); Injil orang Ebionit (120M); Injil Kebenaran. Penerimaan yang kontroversial
umumnya berkisar pada lingkup otoritas, perdebatan tentang apakah kitab-kitab
ekstra-kanonik dapat disetarakan sama dalam otoritasnya dengan kitab-kitab
kanonik Alkitab. 


KRITERIA
OTORITAS KITAB SUCI
Otoritas Kitab Suci adalah tingkat prioritas penerimaan atau pengakuan
seseorang atau sekelompok orang sebagai pedoman hidup beriman, mengatasi
kitab-kitab lain mana pun atau nilai-nilai, kaidah, dan hukum apa pun yang
dipandang dapat memberi petunjuk hidup yang benar. Kriteria utama otoritas
Kitab Suci adalah berhubungan dengan sumber tulisan dan siapa penulisnya.
Sebuah kitab akan diterima dan diakui sebagai Kitab Suci apabila sumbernya dari
Allah dan penulisnya adalah Allah atau manusia yang dipilih Allah secara khusus
untuk menuliskan firmanNya. Kriteria berikutnya adalah berhubungan dengan
wahyu, ilham, dan kanon Kitab Suci. Kriteria wahyu, dipertimbangkan dari
penggunaan Allah seluruh tulisan di dalamnya untuk menyatakan diri-Nya kepada
manusia ciptaan-Nya sendiri. Kriteria ilham, dipertimbangkan dari keterlibatan
Allah dalam kepenulisannya sehingga dapat terhindar dari kekeliruan
(falibilitas) atau kesalahan (eransi). Kriteria kanon, dipertimbangkan dari
penerimaan jemaat secara luas tentang sebuah kitab dalam ibadah sebagai sumber
pengajaran hidup beriman. Jadi kriteria otoritas Kitab Suci adalah sumber,
penulis, wahyu, ilham dan kanon dari seluruh tulisan di dalamnya. 
 

OTORITAS
KITAB-KITAB KANONIK ALKITAB
Kitab-kitab Alkitab, yang terdiri dari 39 kitab Perjanjian Lama (PL) dan
27 kitab Perjanjian Baru (PB), diakui sebagai otoritas tertinggi oleh gereja
mula-mula (abad I-V), gereja abad pertengahan (abad VI-XV), dan gereja pada era
reformasi (abad XVI-XVII). Penolakan terhadap otoritas tertinggi Alkitab muncul
dan berkembang pada era modernisasi (abad XVIII-kini). Ke-39 kitab PL bahkan
jauh lebih awal diterima otoritasnya, khususnya oleh umat Yahudi, oleh Yesus
Kristus dan oleh rasul-rasul dan para penulis kitab-kitab PB. Sumber segala
tulisan Alkitab diakui berasal dari Allah karena melaluinya Allah mau
menyatakan diri-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. Alkitab memiliki kepenulisan
rangkap dua, yaitu penulis ilahi (divine
author) dan penulis manusia (human
author). Karena itu Alkitab disebut wahyu Allah dan diilhamkan Allah.
Petrus berkata, “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia,
tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2Ptr.
1:21). Paulus berkata, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah” (2Tim. 3:16).
Kosa kata dari human author tapi
setiap kata dalam naskah asli (original
manuscript) ditulis menurut kehendak dan kontrol Allah, sehingga tidak
mungkin terdapat kesalahan (inerrancy),
dan dengan demikian diakui bahwa setiap kata diilhamkan Allah (verbal and 
plenary inspiration). Ke-39
kitab PL diteguhkan oleh para rabi sebagai kanonik firman Allah pada konsili di
Jamnia pada tahun 90 M. Ke-27 kitab PB diteguhkan oleh gereja sebagai kanonik
firman Allah pada Konsili Karthage tahun 397.
 
Sekalipun Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 orang, dengan latar belakang
yang berbeda, tapi keselarasan dan kontinuitasnya terpelihara. Para penulis
yang terpilih itu, terdiri dari raja-raja, petani, filsuf, nelayan, dokter,
negarawan, sarjana, penyair, dan pembajak sawah. Mereka hidup di negeri yang
berbeda dan dengan pengalaman yang berbeda pula. Mereka tidak dalam satu
generasi sehingga tidak pernah mengadakan pertemuan, konsultasi, seminar,
lokakarya, konferensi, atau yang semacamnya untuk suatu persetujuan atau
kesepakatan mengenai pembagian tugas, materi, outline, tujuan dan alamat
penulisan. Alkitab ditulis dalam satu periode sejarah yang cukup panjang,
memakan waktu kurang lebih 1.600 tahun. Tak dapat disangkal bahwa kumpulan dari
66 kitab ini merupakan kitab yang paling banyak dibaca dan terus-menerus
dibaca; paling banyak bahasa terjemahan, paling banyak jilid penerbitan, dan
paling banyak mempengaruhi hidup manusia. Tak terhitung orang yang rela menjadi
martir, yang rela dianiaya, dan yang rela mengorbankan apa saja karena
keyakinannya berdasar Alkitab. Sementara yang lain meninggalkan kehidupan yang 
jahat,
dan yang lain lagi dikuatkan dari keputusasaan karena keyakinan akan Alkitab
sebagai firman Allah. Fenomena ini membuktikan otoritas kitab-kitab kanonik
Alkitab. 
 

OTORITAS
KITAB-KITAB EKSTRA-KANONIK
Kitab-kitab dan sumber-sumber ekstra-kanonik ditulis paling awal 50 tahun
sesudah kitab-kitab kanonik PB. Semua tulisan dan pengajaran dalam kitab-kitab
ekstra kanonik nampak sangat dipengaruhi oleh pengajaran gnostik Kristen. Para
sarjana sejak dulu tidak tertarik meneliti pengajaran atau informasi tentang
Yesus Kristus karena otoritasnya sulit diterima dan bahkan tidak diakui. Pada
umumnya informasi tentang Yesus dalam tulisan-tulisan ekstra-kanonik berbeda
atau bahkan bertentangan dengan informasi dalam kitab-kitab kanonik PB. Karena
itu pertimbangan otoritas dari sisi wahyu Allah tidak bisa diterima, karena
tidak mungkin Allah yang sama mewahyukan yang bertentangan. Pertimbangan
otoritas dari sisi ilham Allah, penulisannya pada abad kedua ketika para rasul
atau orang-orang yang dekat dengan Tuhan Yesus, yang dipakai sebagai nama
penulis kitab itu sudah meninggal antara 50-100 tahun sebelumnya. Pertimbangan
otoritas dari sisi kanonisasi, penggunaannya hanya pada kelompok tertentu,
gnostikisme Kristen, bukan pada gereja secara universal, terlebih pula semua
tulisan itu belum ada pada jaman gereja rasul-rasul.
 
Gnostikisme nampak dalam Injil Thomas, yang penulisannya ditujukan untuk
kalangan tertentu (esoterik), orang-orang elite rohani, yang dianggap memenuhi
syarat untuk mendengar ajaran rahasia Yesus. Kalimat pendahuluan Injil Thomas
berbunyi, “Ini adalah kata-kata rahasia yang diucapkan Yesus yang hidup”.
Maksudnya, kata-kata rahasia itu diucapkan Yesus kepada Thomas secara pribadi.
Injil Thomas memberi tekanan pada pengetahuan dan hal mengetahui. Orang-orang
yang yang memiliki pengetahuan rahasia ketika itu disebut pengikut gnostik.
 
Gnostikisme dalam Injil Yudas nampak dalam ajaran di dalamnya, yang
memandang bahwa manusia memiliki zat ilahi karena emanasi dari Allah.
Keselamatan adalah membebaskan zat ilahi itu dari penjara tubuh jasmani atau
ragawi. Perlu pengetahuan khusus (gnosis) bagi manusia untuk mencapai
keselamatan itu. Yudas dianggap menjadi penolong Tuhan Yesus Kristus dalam
pembebasan zat ilahiNya melalui penyaliban. Jadi salib Yesus bukan penebusan
dosa dan pembebasan manusia dari hukum dosa. Yudas dinyatakan sebagai murid
yang dikasihi Tuhan Yesus dan yang terbaik dari ke-12 muridNya. Ia menerima
pengetahuan khusus (gnosis) langsung dari Tuhan Yesus, pengetahuan rahasia yang
tidak didapat oleh ke-11 murid lainnya. Gnosis itulah yang bisa membuat Yesus
disalib dan zat ilahi terbebaskan.
 
Injil Maria mengisahkan Maria Magdalena sebagai wanita yang paling
dikasihi oleh Tuhan Yesus di antara semua wanita yang pernah bertemu dengan
Tuhan Yesus. Satu ayat Injil Maria berbunyi: ?Saudari, kami tahu bahwa kamu
sangat dikasihi oleh Juruselamat, lebih dari wanita lainnya.? Novel The Da
Vinci Code (Dan Brown) berspekulasi bahwa Maria adalah kekasih Yesus, bahkan
mungkin menikah denganNya. Beberapa teks menuliskan bahwa Yesus sering mencium
Maria Magdalena dengan ciuman mulut.
 
Jadi otoritas kitab-kitab dan sumber-sumber ekstra-kanonik sejak awal
sejarah gereja tidak diakui, karena itu tidak mungkin ditambahkan pada ke-27
kitab PB. Meskipun ada usaha-usaha untuk menerbitkan dan mengedarkannya secara
luas untuk mendapat pengakuan gereja, tetapi karena pengajaran di dalamnya
bertentangan dengan pengajaran dalam ke-27 kitab kanonik PB maka harus ditolak
dan bahkan dianggap sebagai bagian dari usaha penyesatan di zaman akhir. 
 
 
 
Sumber:
http://www.hits.ac.id/hits/content/article.php?id=7
 
 
 
Profil Penulis:
Pdt. Arnold Tindas, S.Th., M.Div., D.Min., D.Th.yang lahir di Minahasa, 30
April 1952 adalah Pembantu Ketua I (Puket I) Bidang Akademik dan Direktur
Pascasarjana di Harvest International Theological Seminary (HITS). Beliau
menyelesaikan studi Sarjana Muda Theologi (Sm.Th.) dan Sarjana Theologi (S.Th.)
di Institut Alkitab Tiranus (IAT), Bandung; Master
of Divinity (M.Div.) dan Doctor of
Ministry (D.Min.) di Sekolah Tinggi Theologi Injili Indonesia (STII)
Yogyakarta; dan Doctor of Theology (D.Th.) di Sekolah Tinggi Theologi Baptis 
Indonesia (STBI), Semarang. Beliau
menikah dengan Dr. Cicilia Gunawan dan dikaruniai 2 orang anak: Aylina Sifera
Tindas dan Charis Hansen Tindas.
 
“Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam 
hidup setiap orang percaya.”
(Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

Kirim email ke