MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 4: Karunia Perkataan Pengetahuan (1Kor. 12:8)
 
oleh:Denny Teguh Sutandio
 
 
 
Setelah
perkataan hikmat, Paulus mencatat karunia kedua, yaitu berkata-kata dengan
pengetahuan. Seperti yang telah dijelaskan di poin 1, terjemahan LAI kurang
tepat, karena kata yang dipakai adalah logos berbentuk kata benda tunggal, 
sehingga lebih tepat diterjemahkan kata/perkataan
pengetahuan. Kata “pengetahuan” dalam ayat ini dalam teks Yunaninya 
γνώσεως(gnōseōs) yang merupakan kata
benda genitif (kepemilikan), feminin, tunggal dari kata Yunani γνῶσις(gnōsis) 
yang artinya knowledge (pengetahuan). Kata γνῶσις(gnōsis) sendiri dalam
bentuk kata kerja menjadi γινώσκω(ginōskō)
artinya mengetahui (Rm. 11:34).
Lalu, apa
arti “perkataan pengetahuan”? Rev. J. Wesley Brill menafsirkannya sebagai
pengetahuan akan firman Allah.[1] Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. dalam bukunya 
Showing the Spirit menafsirkannya sebagai mengetahui Allah dan
kehendak-Nya.[2] Saya pribadi lebih cenderung memilih tafsiran D. A. Carson 
yang merujuk pada
pengenalan akan Allah dan kehendak-Nya (di dalam Kristus). Mengapa? Karena
kalau kita memperhatikan kembali konteks 1Kor. 12, tujuan diberikannya
karunia-karunia Roh adalah untuk pembangunan tubuh Kristus dan itu didahului
oleh pengakuan akan partisipasi Roh Kudus di dalamnya (1Kor. 12:3). Dan karena
Roh Kudus diutus untuk memuliakan Kristus (Yoh. 15:26; 16:14), maka otomatis
karunia perkataan pengetahuan berarti ada jemaat yang diberi karunia perkataan
pengetahuan akan Allah dan kehendak-Nya di dalam Kristus.
Baik
Prof. David E. Garland, Ph.D. maupun Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D., mereka
mengutip Prof. James D. G. Dunn, Ph.D., D.D. yang mengatakan bahwa yang disebut
karunia (charismata) bukan hikmat dan
pengetahuan, tetapi perkataan hikmat dan pengetahuan.[3] Mengapa? Rev. J. 
Wesley Brill menafsirkannya: karena pengetahuan bisa
disalahgunakan dan dicampuradukkan dengan ajaran sesat yang mengakibatkan
ajaran Gnostisisme.[4]
 

________________________________
 
[1]J. Wesley Brill, Tafsiran Surat Korintus Pertama (Bandung:
Kalam Hidup, 2003), hlm. 246.
[2]D. A. Carson, Showing the Spirit, hlm. 29.
[3]David E. Garland, Baker Exegetical Commentary on the New
Testament: 1 Corinthians (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007),
hlm. 581; bdk. Gordon Fee, God’s
Empowering Presence, hlm. 168.
[4]J. Wesley Brill, Tafsiran Surat Korintus Pertama, hlm.
246.
 
"Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang 
Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya 
untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata."
(Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

Kirim email ke