Pada tahun 1919, seorang pemuda yang baru pulih dari luka-luka yang dideritanya 
dalam Perang Besar di Eropa menyewa sebuah apartemen kecil di Chicago. Ia 
memilih lokasi tersebut karena dekat dengan rumah penulis terkenal di Sherwood 
Anderson. Anderson menulis sebuah novel yang mendapatkan banyak pujian berjudul 
"Winesburg, Ohio," dan ia dikenal suka membimbing para penulis muda.


Kedua pria itu segera menjadi sahabat, dan melewatkan waktu bersama hampir 
setiap hari selama satu tahun. Mereka makan bersama, berjalan bersama ke tempat 
yang jauh, dan mendiskusikan masalah penulisan sampai jauh malam. Pemuda itu 
sering membawa contoh tulisannya kepada Anderson, dan penulis kawakan itu 
menanggapinya dengan memberikan kritik-kritik yang jujur namun tajam. Meski 
demikian, penulis muda itu tak pernah patah semangat. Ia selalu mendengarkan, 
mencatat dengan teliti, lalu kembali ke mesin ketiknya untuk memperbaiki 
tulisannya.

Ia tidak berusaha membela diri. Ia berkata di kemudian hari, "Saya tidak tahu 
cara menulis yang baik sebelum bertemu dengan Sherwood Anderson." Salah satu 
tindakan terpenting yang dilakukan Anderson bagi pemuda yang ditolongnya itu 
adalah memperkenalkan pemuda itu kepada rekan-rekannya di dunia penerbitan. 
Segera pemuda itu mulai menulis naskahnya sendiri. Pada tahun 1962 ia 
menerbitkan novel pertamanya, yang mendapatkan sambutan yang kritis. Judulnya 
adalah "The Sun Also Rises", dan nama pemuda yang menulisnya adalah Ernest 
Hemingway.

Tapi tunggu dulu! Kisah ini tidak berakhir di sini. Setelah Hemingway 
meninggalkan Chicago, Anderson pindah ke New Orleans. Di sana Anderson bertemu 
dengan seorang penyair muda, yang memiliki dorongan yang sangat kuat untuk 
memperbaiki ketrampilannya. Anderson melakukan hal yang sama kepada pemuda itu, 
seperti yang diperbuatnya kepada Hemingway--mengajarinya menulis, 
mengkritiknya, berdiskusi dengannya, memberinya semangat, dan menyuruhnya 
menulis lebih banyak lagi.

Ia memberikan salinan novel-novelnya dan mendorong pemuda itu untuk membacanya 
dengan teliti, memperhatikan kata-kata, tema, pengembangan karakter dan alur 
cerita. Setahun kemudian, Anderson menolong pemuda itu untuk menerbitkan novel 
pertamanya yang berjudul "Soldier Pay". Tiga tahun berikutnya William Faulknes, 
penulis baru yang berbakat dan berotak cemerlang itu menulis "The Sound and the 
Fury," dan kisah tersebut segera menjadi karya besar di Amerika.

Peranan Anderson sebagai pembimbing para penulis yang bersemangat tidak 
berhenti sampai di situ. Di California, ia membimbing penulis drama Thomas 
Wolfe dan seorang pemuda bernama John Steinbeck selama beberapa tahun. Dari 
semua pemuda yang dibimbing Anderson, tida di antaranya memperoleh hadiah 
Nobel, sedangkan empat lainnya memperoleh Hadiah Pulitzer di bidang karya 
sastra. Kritikus sastra terkenal Malcolm Cowley mengatakan bahwa Anderson 
merupakan "Satu-satunya penulis pada zamannya yang mewariskan gaya penulisan 
dan visinya kepada generasi berikutnya."

Apa yang membuat Anderson begitu bermurah hati memberikan waktu dan 
ketrampilannya untuk membimbing para penulis yang lebih muda? Salah satu 
alasannya barangkali adalah karena ia sendiri telah dibimbing oleh penulis yang 
lebih senior, yakni penulis besar Theodore Dreiser. Ia juga telah memperoleh 
cukup banyak bimbingan dari Carl Sandburg.

Saya merasa pola di atas sangat instruktif. Pola tersebut bukan saja 
mencerminkan pengalaman saya sendiri, melainkan juga menggambarkan hal-hal yang 
menurut pendapat saya merupakan prinsip mendasar dari pengalaman manusia. 
Prinsip itu mengatakan bahwa cara terbaik untuk menimbulkan dampak pada masa 
yang akan datang adalah dengan membina kehidupan orang lain. Proses ini 
dinamakan bimbingan.

--Chip McGregor

 

Kirim email ke