KEBAHAGIAAN SEJATI oleh:Pdt. Hendra Gustiana Mulia, M.Th. Nats: Lukas 9:23-25 Pendahuluan Dalam bagian ini Tuhan Yesus berkata bahwa setiap orang yang ingin mengikut Kristus atau yang menyebut dirinya Kristen, Tuhan memberikan persyaratan: menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus. Ini adalah persyaratan yang juga ditujukan bagi setiap kita. Kalau kita mau ikut Tuhan Yesus kita harus menyangkal diri, memikul salib setiap hari, lalu mengikut Yesus. Tetapi kita sebagai orang injili sering kali hanya ditekankan untuk percaya dan menerima Tuhan Yesus. Itu saja. Kalau percaya dan menerima Tuhan Yesus pasti masuk ke Sorga. Kebanyakan orang Injili berhenti hanya sampai di sini saja selain didorong untuk mengabarkan Injil. Tetapi masuk ke Sorga juga bukan menjadi keinginan setiap kita. Kita lebih memilih untuk hidup di dunia ini. Isi Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa setiap yang ingin mengikut Dia, harus menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Menyangkal diri berarti keinginan, mimpi, harapan, gambaran sendiri untuk menjadi seorang Kristen harus kita sangkal jika itu bertentangan dengan keinginan Tuhan. Kalau impian kita tidak sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita, maka kita harus berani menyerahkan impian kita kepada Tuhan. Inilah yang dinamakan menyangkal diri. Tuhan Yesus juga mengatakan tentang memikul salibnya setiap hari. Memikul salib bukan berarti menanggung sesuatu yang disebabkan oleh kesalahan kita sendiri. Memikul salib pada waktu itu hanya berarti satu hal yaitu: mati. Memikul salib bukan sekadar memikul penderitaan, melainkan berarti mati. Karena salib pada waktu itu adalah lambang kematian. Maka menyangkal diri dan memikul salib berada dalam pengertian yang sama: mati. Kita harus mati kepada keinginan, impian, dan apa yang kita ingin capai dan dapatkan dalam kehidupan ini. Mengikut Tuhan dengan penyangkalan diri dan memikul salib itulah hidup Kekristenan, yaitu hidup di mana kita mengikut Tuhan, hidup di mana kita menyangkal diri setiap hari, hidup di mana kita mati bagi diri kita sendiri sehingga sama seperti rasul Paulus, kita dapat berkata bahwa hidup kita bukanlah kita lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. Itulah yang diinginkan dalam gerakan A Life ini di mana kita ingin mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, bukan menjadi pengikut Tuhan yang asal-asalan. Jika ingin menjadi pengikut Tuhan dengan sungguh, kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Bukan hanya terima dan percaya. Tetapi hidup ini sebelum menuju Sorga adalah suatu hidup yang menyangkal diri, suatu hidup yang memikul salib setiap hari. Itulah spritualitas. Kebahagiaan kita ialah ketika kita menjadi pengikut Kristus yang sungguh. Jika kita ingin bahagia, kita harus menjadi pengikut Kristus yang sejati dan sungguh. Bila kita ingin menjadi pengikut Kristus yang sungguh, kita harus menyangkal diri, memikul salib setiap hari, dan mengikut Yesus. Itulah kebahagiaan sejati. Namun sering kali kita merasa ketika menjadi Kristen maka hidup kita tidaklah merasakan kebahagiaan. Dalam doa dan kesaksian kita ketika berjalan dengan Tuhan sering kali kita temui bahwa kita tidak menginginkan hidup bahagia. Dalam konsep kehidupan dunia, kebahagiaan adalah kalau kita memiliki benda atau barang. kebahagiaan diukur dari apa yang kita miliki. Sebaliknya, kebahagiaan yang dikatakan dalam Alkitab adalah pada waktu kita menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Tuhan. Kita tidak mau menyangkal diri, itulah sebabnya kita tidak mau bahagia. Kita malah tetap mengejar sesuatu di luar Tuhan, bukan mengejar apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Setelah memiliki dan mendapatkan benda yang kita inginkan, kita cenderung untuk mengejar kekuasaan. Setelah memiliki uang banyak, ingin menjadi orang yang berkuasa. Kita berpikir untuk menjadi bahagia, kita harus memiliki kekuasaan. Manusia tidak mengingini kebahagiaan. Manusia hanya ingin mendapatkan impiannya. Manusia hanya ingin mendapatkan apa yang ia harapkan. Tidak mau menyangkal diri. Tidak mau memikul salib. Tidak mau mengikut Tuhan. Apakah kita mengingini kebahagiaan? Apakah kita ingin menjadi pengikut Tuhan yang sejati? Kita hanya ingin keinginan kita sendiri yang tercapai. Lihat isi doa kita. Apakah kita pernah berkata: “bukan kehendakku yang jadi, tetapi kehendak-Mu”? Sering kali kita berkata: “kehendakkulah yang jadi, bukan kehendak-Mu”. Doa kita hanya meminta dan tidak pernah bertanya apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Penutup Bagaimana kita bisa hidup bahagia? Hanya satu cara, yaitu pada waktu kita menjadi pengikut Tuhan. Pada waktu kita mengikuti kehendak Tuhan, di situlah ada kebahagiaan yang sejati. Mulailah dari hal kecil. Kita belajar menyerahkan diri, menyangkal diri, memikul salibnya setiap hari, mengikut Tuhan Yesus. Rasakan apa yang disebut mengikut Tuhan dengan sepenuh hati. Di situlah kebahagiaan kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Ringkasan khotbah ini tidak melalui proses editing oleh pengkhotbah Sumber: Ringkasan Khotbah Kebaktian Umum I di Gereja Kristus Yesus (GKY) Green Ville, Jakarta hari Minggu, 5 Februari 2012 http://www.gkyjgv.org/ringkasan.php?kode=1561 Profil Pdt. Hendra G. Mulia: Pdt. Hendra Gustiana Mulia, S.Th., M.Div., M.Th.dilahirkan pada tanggal 4 Februari 1952 dan memperoleh gelar Sarjana Theologi (S.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang; Master of Divinity (M.Div.) dan Master of Theology (M.Th.) dari Reformed Theological Seminary, U.S.A. "Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata." (Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

