MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 19: Karunia Melakukan Tindakan Belas Kasihan
Dengan Sukacita (Rm. 12:8)
 
oleh:Denny Teguh Sutandio
 
 
 
Di dalam urutan terakhir daftar karunia
yang Paulus sebutkan, ia menyebutkan karunia melakukan tindakan belas kasihan
(LAI: menunjukkan belas kasihan). Kata Yunani yang dipakai adalah ἐλεῶν(eleōn)
yang merupakan kata kerja dan kata dasarnya adalah ἐλεέω(eleeō) yang menurut 
konteksnya
berarti do acts of mercy (melakukan
tindakan-tindakan belas kasihan/kemurahan hati). Meskipun terjemahan LAI dapat
menggambarkan apa yang ingin disampaikan teks Yunaninya, namun kurang tepat,
karena kata “menunjukkan” dalam teks LAI belum mewakili arti asli dari teks
Yunaninya yaitu “melakukan.” Seseorang bisa menunjukkan belas kasihannya tanpa
harus melakukannya secara aktif.[1] Oleh karena itu, terjemahan yang lebih 
tepat adalah melakukan tindakan belas
kasihan. Karena konteks Roma 12:3-8 adalah untuk jemaat, maka melakukan
tindakan belas kasihan juga ditujukan untuk jemaat dengan berbagai macam
permasalahan: miskin, sakit, tua, cacat, dll.
Paulus juga mengingatkan jemaat Roma
agar mereka yang diberi karunia melakukan tindakan belas kasihan hendaklah
melakukannya dengan sukacita. Kata Yunani yang dipakai adalah 
ἱλαρότητι(hilarotēti)
yang merupakan kata benda yang berfungsi sebagai objek tak langsung (datif),
feminin, dan tunggal dari kata ἱλαρότης(hilarotēs) yang berarti cheerfulness 
(kegembiran/kebahagiaan).
Kata sifat dari kata ini adalah ἱλαρὸν(hilaron), terdapat di 2 Korintus 9:7 di 
mana LAI menerjemahkannya,
“sukacita.” Dengan kata lain, Paulus mendorong beberapa jemaat Roma yang diberi
karunia melakukan tindakan belas kasihan agar mereka melakukannya dengan
sukacita (bisa diartikan: sukarela) dan bukan terpaksa.

________________________________
 
[1]Misalnya, orang bisa
menunjukkan belas kasihan dengan mengatur pembagian sembako atau jadwal
pembesukan, dll tanpa ia sendiri berpartisipasi langsung di dalamnya.
 
"Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang 
Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya 
untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata."
(Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

Kirim email ke