Agama Kristen adalah
satu-satunya agama yang tidak menekankan pentingnya perbuatan baik agar dapat
diselamatkan dari dosa, melainkan satu-satunya iman yang menekankan pentingnya
anugerah Allah di atas segala-galanya. Apa arti anugerah tersebut? Seberapa
signifikan anugerah Allah itu bagi hidup umat pilihan-Nya?
 
Temukan jawabannya
dalam:
Buku
KEBAIKAN
TUHAN YANG SESUNGGUHNYA TAK LAYAK BAGI KITA
 
oleh: Rev. Charles Haddon Spurgeon
 
Penerbit: Light
Publishing, Jakarta, 2010
 
Penerjemah: Michael
Hartono Wong
 
 
 
Di dalam buku ini, Rev.
Charles H. Spurgeon memaparkan segala hal tentang pengertian anugerah Allah di
dalam Kristus bagi umat pilihan-Nya di mana anugerah Allah pertama-tama
mencakup perjanjian/kovenan Allah bagi umat-Nya. Adalah suatu anugerah Allah
yang tak terkira ketika Ia mau mengikat kovenan-Nya dengan umat pilihan-Nya
yang masih berdosa. Kovenan itu berakibat pada karya penebusan Allah yang telah
direncanakan Bapa, digenapi di dalam Kristus, dan disempurnakan oleh Roh Kudus.
Karena keselamatan di dalam Kristus merupakan anugerah Allah di dalam iman
kepada Kristus, hendaklah umat-Nya tidak membanggakan diri melalui perbuatan
baik, karena perbuatan baik manusia tidak berarti apa-apa di hadapan Allah yang
Mahakudus. Setelah kita diselamatkan oleh anugerah Allah di dalam iman kepada
Kristus, sebagai umat-Nya, hendaklah kita meresponinya dengan melakukan apa
yang dikehendaki-Nya demi memberitakan Injil, dll sambil menyadari bahwa apa
yang kita kerjakan itu pun tetap adalah anugerah Allah. Biarlah buku sederhana
ini dapat menyadarkan kita kembali akan pentingnya anugerah Allah di dalam 
keselamatan
dan keseluruhan hidup Kristen kita.
 
 
 
Profil Rev. Charles H. Spurgeon:
Rev. Charles Haddon
Spurgeonlahir pada
tanggal 19 Juni 1834 di Kelvedon, Essex, Inggris sebagai anak sulung dari
delapan bersaudara. Orangtuanya adalah orang Kristen yang setia dan ayahnya
adalah seorang pengkhotbah. Spurgeon bertobat pada tahun 1850 pada usia 15
tahun dan ia mulai membantu orang miskin dan membagi-bagikan traktat dan
dikenal sebagai “Pengkhotbah Cilik.” Pada usia 18 tahun, ia menjadi gembala
Waterbeach Baptist Chapel, berkhotbah di sebuah gudang dan kemudian pada tahun
1854, ia telah terkenal dan diminta untuk menjadi gembala di New Park Street
Chapel di London. Dua tahun kemudian, ia menikah dengan Susannah Thompson dan
dikaruniai putra kembar di mana kedua putranya ini masuk dalam pelayanan.
Metropolitan Tabernacle dibangun pada tahun 1861 untuk menampung 10.000 orang
yang antusias mendengar khotbah Rev. Spurgeon. Ia meninggal di Mentone,
Perancis pada tahun 1892.
 
"Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang 
Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya 
untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata."
(Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

Kirim email ke