MENAFSIRKAN ALKITAB
Bagian 2: Problematika Menafsirkan Alkitab
 
oleh:Denny Teguh Sutandio
 
 
 
Setelah
kita mengerti pentingnya penafsiran Alkitab, maka pertanyaan lebih lanjut yang
perlu kita ajukan adalah ketika kita hendak mulai menafsirkan Alkitab, kita
menyadari ada berbagai macam problematika yang perlu kita selesaikan di dalam
menafsirkan Alkitab. Apa saja problematika tersebut?
A.        Problematika
Teks Asli
Ketika kita hendak membaca
dan menafsirkan Alkitab, maka perlu diketahui bahwa Alkitab yang ada di tangan
kita itu adalah naskah Alkitab terjemahan bahasa Indonesia. Lalu, muncul
pertanyaannya, di mana naskah asli (autographa)
Alkitabnya? Fakta menjelaskan bahwa autographa Alkitab sudah tidak ada. Karena 
autographa Alkitab tidak ada, banyak orang non-Kristen langsung menyerang 
Kekristenan
bahwa Alkitab tidak bisa dipercaya, lalu mereka membandingkannya dengan “kitab
suci” mereka yang diklaim langsung turun dari Sorga. Bagaimana orang Kristen
menjawabnya?
Pertama,meskipun orang Kristen tidak memiliki
lagi naskah asli Alkitab, naskah terjemahan Alkitab yang kita pegang sekarang
ini tetap bisa diandalkan, karena hanya terjadi sangat kecil kesalahan salinan
dan kesalahan itu TIDAK begitu fatal yang mempengaruhi makna Alkitab. Selain
itu, meskipun teks asli Alkitab sudah tidak ada, namun, khususnya PB, teks
Yunani salinan begitu banyak bahkan jumlahnya ribuan yang tentu tidak sama
persis, sehingga dari ribuan naskah Yunani tersebut,[1] kita dapat melakukan 
kritik teks[2] untuk mendapatkan arti aslinya. Jumlahnya yang ribuan tersebut 
jauh lebih bisa
diandalkan keakuratannya daripada naskah asli dari kitab-kitab lain yang
berjumlah tidak lebih dari 1.000.
Kedua,jika ada orang non-Kristen yang
menyerang Kristen dengan berkata bahwa karena naskah asli Alkitab tidak ada,
maka Alkitab sekarang tidak bisa diandalkan, maka mengutip perkataan Pdt. Yakub
Tri Handoko, Th.M., kita perlu mempertanyakan ulang kepada orang non-Kristen
tersebut bahwa naskah asli kitab suci mereka pun juga TIDAK ADA, karena
(hampir) semua naskah asli dari semua kitab sudah tidak ada!
Ketiga,jika ada orang non-Kristen yang
membanggakan diri bahwa “kitab suci” mereka langsung turun dari Sorga, berarti
orang tersebut TIDAK mengerti agamanya sendiri! Menurut sejarah, “kitab suci”
mereka itu merupakan catatan dari “nabi” mereka yang mendapat “wahyu” dari
Allah yang kemudian sang “nabi” mendiktekannya kepada seseorang, karena sang
“nabi” buta huruf. “Kitab suci” tersebut pun juga disalin dan diterjemahkan.
 
B.        Problematika
Bahasa
Selain problematika teks asli, problematika bahasa juga
merupakan problematika menafsirkan Alkitab, karena bahasa asli Alkitab yaitu
Ibrani, Aram, dan Yunani tidak dimengerti oleh kita sebagai orang Indonesia.
Problematika ini mengakibatkan kita tidak lagi memahami indahnya bahasa Ibrani
di dalam Perjanjian Lama[3] dan bahasa Yunani di dalam Perjanjian Baru.[4] Yang 
lebih penting, problematika ini mengakibatkan kita terlalu cepat
mendefinisikan satu kata dalam Alkitab LAI kita tanpa kita memperhatikan teks
Yunani dan pengertiannya menurut konteksnya. Misalnya, beberapa pengkhotbah
kontemporer ketika membaca kata “iman” di dalam PB, mereka langsung
mengaitkannya sengan self-confidence (keyakinan diri). Sementara itu, orang 
Kristen lain mendefinisikannya sebagai
keyakinan (conviction). Padahal, di
dalam teks Yunani, kata “iman” yaitu πίστις(pistis) bisa memiliki arti lebih 
dari satu
dan itu semua harus disesuaikan dengan konteks di mana kata itu dipakai.
 
C.       Problematika
Konteks
Selain bahasa,
problematika menafsirkan Alkitab lainnya adalah problematika konteks di mana
konteks penulisan kitab di dalam Alkitab berbeda dengan konteks kita di zaman
sekarang. Contoh, Surat Ibrani merupakan surat yang ditulis kepada orang
Kristen yang lagi dianiaya dan konteks ini jelas berbeda dengan konteks kita
yang tinggal di Indonesia yang mungkin tidak pernah dianiaya. Sehingga tatkala
kita hendak menafsirkan Surat Ibrani, kita akan kesulitan mengertinya dengan
konteks kita. Oleh karena itu, kita perlu mengerti konteks waktu itu sebagai
dasar kita mengaplikasikannya ke dalam konteks kita sekarang.

________________________________
 
[1]Prof. David Alan Black, D.Theol.
menyebutkan ada 5.000 manuskrip dari sebagian atau semua Perjanjian Baru bahasa
Yunani, 8.000 manuskrip dalam bahasa Latin, dan ribuan manuskrip tambahan dalam
versi-versi kuno lainnya. (David Alan Black, New Testament Textual Criticism: A 
Concise Guide {Grand Rapids:
Baker Academic, 1994}, 18)
[2]Kritik teks adalah studi dari teks
asli Perjanjian Baru. (Ibid., 11)
[3]Ketika kita membaca Mazmur 119 dalam
Alkitab Bahasa Ibrani, kita akan mendapati keindahan bahasa Ibrani di mana 176
ayat di dalam pasal ini dibagi menjadi 8 bagian dan masing-masing bagian
dimulai dengan 22 abjad Ibrani; jadi: ayat 1 s/d 8 diawali huruf Ibrani: aleph
(transliterasi: a), ayat 9 s/d 16 diawali huruf Ibrani: beth (transliterasi:
b), dll.
[4]Ketika kita membaca Efesus 1:3-6
dalam bahasa Indonesia, kita mendapati adanya titik untuk memisahkan antara
ayat 3 dan 4, ayat 4 dan 5, tetapi ketika kita memeriksa teks Yunaninya, dari
ayat 3-6 TIDAK menggunakan satu tanda titik, baru pada ayat 6 setelah kata 
egapēmenoi
berakhir, maka baru muncul tanda titik.
 
"Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang 
Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya 
untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata."
(Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

Kirim email ke