Orang Kristen modern cenderung memandang iman hanya terbatas pada relasi vertikal dengan Allah yang individualistik. Hal ini sangat kontras dengan gereja mula-mula dalam konteks sosal mereka yang begitu terpilin dan dominan. Seperti apa situasi sosial abad I, terutama berkaitan dengan isu kehormatan dan rasa malu? Bagaimana pergumulan social ini berpengaruh terhadap keputusan theologis yang diambil orang-orang Kristen pada waktu itu? Temukan penjelasannya melalui pendekatan sosial-ilmiah (social-scientific criticism) dalam acara: Ceramah Pembukaan Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR): HONOR AND SHAME IN THE GOSPEL OF JOHN oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M. Selasa, 31 Juli 2012; Pkl. 18.00-21.00 WIB di Jalan Nginden Intan Timur II/5, Surabaya GRATIS! Profil Pembicara: Pdt. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah (STT-IAA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia. Pada tanggal 27 Maret 2011, beliau ditahbiskan menjadi pendeta di sinode GKRI. "Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata." (Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

