MEMILIKI
KERENDAHAN HATI
 
oleh: Denny
Teguh Sutandio
 
 
 
“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; … Selidikilah aku, ya
Allah, dan kenallah hatiku”
(Mzm. 139:1,
23)
 
 
 
Raja Daud yang menulis Mazmur 139 ini merupakan
seorang raja yang diurapi oleh Tuhan sendiri menggantikan Saul. Pengurapan Daud
menjadi raja merupakan pemilihan Tuhan sendiri, karena Ia mendapati kemurnian
hati Daud. Ketika hendak mengurapi seorang raja menggantikan Saul, Tuhan
memberikan petunjuk kepada nabi Samuel, “Janganlah
pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan
yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan
mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
(1Sam. 16:7) Dari hati yang cinta akan-Nya, akhirnya Daud yang terpilih, 
meskipun
di mata dunia, Daud justru tidak terpandang. Di sini, kita melihat Tuhan lebih
melihat hati ketimbang hal-hal yang lahiriah. Di dalam Perjanjian Baru, Kristus
sendiri berkata kepada orang Farisi dan hamba-hamba uang, “Kamu membenarkan 
diri di hadapan orang, tetapi
Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” 
(Luk. 16:15) Di sini, sangat jelas dari
Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, Alkitab secara konsisten mengajar kita
bahwa Allah sangat melihat hati kita yang terdalam.
 
Kemurnian hati Daud inilah yang mengakibatkan ia
bisa menuliskan Mazmur 139 ini yang meminta Allah sendiri yang mengenal dirinya
menyelidiki dan mengenal hatinya serta kemudian di Mazmur 139:24, ia meminta
Tuhan melihat apakah jalannya selama ini serong sekaligus memimpinnya kepada
jalan-Nya yang kekal. Dengan kata lain, kemurnian hati Daud mengakibatkan ia
menjadi seorang yang rendah hati. 
 
Apa itu rendah hati? Apa bedanya dengan
rendah diri? Rendah diri alias minder berarti terus-menerus menjelek-jelekkan
diri, sedangkan rendah hati berarti membuka hati kita untuk terus-menerus
belajar dan ditegur. Menurut Pdt. Dr. Stephen Tong, rendah hati BUKAN selalu
mengatakan YA sambil senyum (bahasa Jawa: enggih-isme).
YA, rendah hati bukan sikap lahiriah, tetapi lebih merupakan sikap batin/hati
yang terdalam. Sebegitu signifikannya sikap rendah hati, sehingga salah satu
apologet Kristen ternama abad ini, Dr. Ravi Zacharias dalam bukunya Sang
Penenun Agung pernah berkata, “Kerendahan hati adalah batu pijak bagi melayani
Tuhan.” (hlm. 69) Seorang pelayan Tuhan yang tidak memiliki kerendahan hati
akan menjadi pelayan Tuhan yang arogan dan merasa diri paling benar sehingga
sulit ditegur. Kerendahan hati bukan hanya perlu dimiliki seorang pelayan
Tuhan, tetapi juga semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Kristus.
Lalu, dari manakah kerendahan hati itu bersumber? Penulis buku laris, Desiring 
God, Rev. John S. Piper,
D.Theol. dalam bukunya Memerangi Ketidakpercayaan berujar, “Kerendahan hati 
hanya bisa bertahan di dalam
hadirat Allah. Ketika Allah berlalu, kerendahan hati berlalu… kerendahan hati
mengikuti Allah bagaikan suatu bayangan.” (hlm. 39) Ya, kerendahan hati berasal 
dari Allah dan
orang yang rendah hati adalah orang yang memusatkan iman dan kehidupannya hanya
pada Allah SAJA.
 
Seorang yang
memusatkan iman dan kehidupannya hanya pada Allah SAJA berarti orang yang sadar
bahwa dirinya adalah manusia berdosa yang memerlukan Allah sebagai Pusat
hidupnya. Kesadaran ini disusul dengan kerinduannya yang mendalam untuk
menempatkan Allah dan firman-Nya berotoritas dalam kehidupannya. Tentu saja,
orang ini bukanlah orang yang keras kepala yang ngotot dengan pandangannya 
sendiri, sebaliknya ia berkata dan
bersikap seperti apa yang Daud minta, yaitu meminta Tuhan melihat apakah jalan
hidup kita serong dan memimpin kita ke jalan-Nya yang kekal. Setelah Alkitab
dijadikan patokan dasar iman dan kehidupannya, maka ia pun dengan rendah hati
meminta saran, teguran, dan nasihat dari orang lain: orangtua, teman, saudara,
pacar, suami/istri, dll. Namun perlu dicamkan: semua nasihat tersebut HARUS
diuji terlebih dahulu oleh otoritas Alkitab. Jika nasihat tersebut lolos ujian,
maka kita boleh menuruti nasihat itu, namun jika TIDAK, hargai nasihat
tersebut, namun JANGAN menaatinya, karena menaati apa pun yang melawan apa yang
Allah firmankan adalah DOSA!
 
Orang yang memberi nasihat, saran, dan teguran pun
jika seorang Kristen yang sehat hendaklah memberi nasihat, saran, dan teguran
yang Alkitabiah dan bijaksana, namun sampaikanlah dengan kasih dan tegas, namun
TIDAK memaksa! Beberapa kali saya menemukan orang yang memberi saran selalu
berkata manis, “Saya hanya menasihati, tidak memaksa”, namun ujung-ujungnya
kalau orang yang tidak dinasihati itu tidak sependapat dan tidak menaati 
nasihatnya,
orang itu dicap: bodoh, kurang ajar, dll. Aneh! Kalau memang orang itu tidak
memaksa, kenapa dia marah kalau
tegurannya tidak dituruti? Lalu, orang yang menegur orang lain pun SEHARUSNYA
juga rendah hati belajar jika mungkin tegurannya itu salah dalam hal isinya
atau kurang tepat waktunya atau kurang mengerti konteks/situasi orang lain
(salah tafsir). Dengan kata lain, orang yang menegur dan ditegur sama-sama
rendah hati mau mengerti satu sama lain, bukan merasa diri paling hebat,
berjasa, dan pandai jika sudah menegur orang. Murnikan motivasi kita ketika mau
menegur orang lain!
 
Dengan kata lain, menurut saya, kerendahan hati
dalam iman Kristen meliputi dua hal: rela ditegur jika salah (pasif) dan
rela/siap belajar mengerti orang lain (aktif)! Dan kedua hal ini bersumber dan
berpusat pada Allah dan firman-Nya (Alkitab), sehingga kemuliaan hanya bagi
nama Allah Trinitas selama-lamanya. 
 
Bagaimana dengan kita? Sudah siap dan relakah kita
rendah hati? Saya mengerti bahwa menjadi orang yang rendah hati itu sulit,
tetapi biarlah Roh Kudus melembutkan hati kita untuk pertama-tama taat akan
firman-Nya dan kemudian selektif menerima teguran dan saran dari orang lain
sesuai dengan firman-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

Kirim email ke