Semoga bermanfaat untuk refleksi bagi kita semua untuk Jogjakarta,
Kota kita tercinta ini....:-> B. Widi. Handoyo
------------------------------------------------------------------------
Kedaulatan Rakyat, 11 June 2006, 
Porak Poranda ===> Oleh : Bakdi Soemanto 
PIERRE Labrousse mengartikan porak poranda en desordre. Dalam bahasa
kita, istilah Prancis itu, secara harfiah, berarti tiadanya tatanan,
yang dalam Bahasa Jawa disebut bubrah. Teman dekat saya yang baru-baru
ini pulang dari New Jersey Amerika Serikat, setelah puluhan tahun
ngendon di kota itu, kaget setengah mati menyaksikan Yogyakarta pasca
gempa. Sambil menikmati lotek yang sudah ratusan bulan ia rindukan,
berkomentar, "Yogya sungguh porak poranda setelah dilanda gempa..."
Saya yang duduk di sebelahnya tak merespons. Tetapi, pada malam
harinya, saya tidak bisa tidur. Timbul pikiran aneh dalam benak saya:
benarkah Yogya porak poranda setelah gempa 27 Mei yang lalu, ataukah
sebenarnya wilayah kita tercinta ini sudah sangat lama porak poranda?

Porak poranda yang menjadi pertanyaan itu, seperti kita saksikan
bersama-sama, muncul dalam dua lapis. Lapis dimaksud adalah lapis
fisik atau yang kita sering menyebutnya wadhag atau tangible dan lapis
mental, mungkin malah spiritual, yang sering kita sebut batin atau
intangible. Jonathan Culler, seorang ahli semiotika, mengatakan bahwa
fenomena yang tangible biasanya, mengedepan lebih awal. Kemudian,
disusul yang lebih halus, menyangkut batin atau yang intangible.

Di Yogya, situasinya terbalik. Yang intangible mengedepan lebih dahulu
dan merupakan basis dari porak poranda hal-hal yang intangible.
Tatkala pembangunan fisik mulai gencar dilaksanakan di Yogyakarta,
gejala yang tampak adalah bahwa manusia, perlahan-lahan tetapi pasti,
dilupakan. Pembangunan jalan tidak sekaligus membangun jalan untuk
pejalan kaki alias trotoar. Jika trotoar itu ada, tidak bisa digunakan
lagi sebagai jalan manusia karena di sana dipakai untuk berjualan.
Karena pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor sangat hebat, becak dan
andhong tersingkir. Tak ada tempat buat pengendara sepeda. Pertumbuhan
jumlah motor tidak terkontrol.

Jumlah motor, mobil, taksi, bus kota yang beraneka ragam secara
sepintas menunjukkan perkembangan peradaban. Sebagai kendaraan, becak
yang berjalan oleh tenaga kaki manusia yang `so fantastic', menurut
sebutan Prof James Spillane diganti dengan mesin. Andhong yang
bergerak karena tenaga hewan diganti mesin pula dalam wujud bus atau
colt. Sepeda yang dikayuh dengan kaki diganti motor. Pedati yang
ditarik sapi diganti truk. Tetapi, benarkah ini penanda meningkatnya
derajad peradaban Yogyakarta atau justru sebaliknya.

Pertanyaan yang berkait dengan itu adalah apa untungnya penggantian
tenaga itu bagi Yogyakarta yang kecil ini? Benarkah penggantian tenaga
tarik atau dorong dengan mesin untuk kepentingan efisiensi waktu atau
sekedar karena kendaraan bermesin itu tersedia? Ataukah lebih konyol
lagi, kita tidak berdaya menghindari mobil dan motor. Yang jelas,
dengan hadirnya kendaraan bermesin secara besar-besaran telah
meningkatkan polusi udara secara drastis. Peringatan para ahli
bertalu-talu dan mendayu-dayu tentang bahaya sesak napas akibat asap
yang keluar dari knalpot, tetapi kita tidak berdaya untuk tidak naik
motor atau mobil kita sendiri. Infra struktur `perkembangan' untuk ini
tak memadai sama sekali. Karena itu, Yogyakarta bukanlah tempat yang
nyaman lagi. Dengan kata lain, hadirnya motor dan mobil membuat
kehidupan di jalan-jalan raya mewah tetapi secara batin, sebenarnya,
keporak-porandaan Yogyakarta sudah terjadi. Yogya menjadi semrawut.
Tidak ada lagi tata. Sekali lagi, manusia kita korbankan sendiri...

Pajak kendaraan yang semakin mahal yang memungkinkan masukan uang
jumlahnya tak terbayangkan oleh seorang penarik becak, tidak tampak
bisa meningkatkan sarana kenyamanan pengaturan jalan. Di sana,
sebenarnya, peradaban merosot drastis. Tetapi, siapa yang melihatnya?
Bukankah yang tampak dosen yang mula-mula naik sepeda esoknya
mengendarai bebek dan lusa berganti mobil? Hanya tangan batin yang
mampu nggraita dan nyurasa kahanan, yang memungkinkan keporakporandaan
ini tampak jelas.

Gedung-gedung besar dan tinggi terus dibangun. Gedung-gedung itu untuk
sarana perdagangan: misalnya toko dan mal serta bank-bank, juga hotel.
Dalam membangun gedung-gedung besar dan tampak mewah dari luar itu,
terkadang dengan mencuekin peringatan budayawan dan para pemangku
spiritual. Tetapi, yang lebih penting lagi, infrastruktur untuk
gedung-gedung mewah, besar, tinggi tidak ada. Adapun yang dimaksudkan
adalah bagaimana mengamankan gedung itu dari kobaran api? Apakah
alat-alat siap, pasukannya siap? Bagaimana kalau terjadi gempa? Dan
yang tak kalah pentingnya, bagaimana pandangan dari segi estetika tata
kota?

Tampak, benda-benda fisik mewah yang `menghajar' wilayah budaya yang
disebut Yogyakarta ini hanya mengejar perolehan uang sebanyak mungkin.
Dengan hadirnya barang-barang mewah itu, rakyat kecil lemah miskin
semakin menempati wilayah-wilayah pinggir. Pembangunan Yogyakarta
tampak tidak berpihak kepada mereka. Oleh karena itu, mereka
merangsek. Mereka serbu trotoar-trotoar untuk jualan. Karena orang
kaya cuek, pemerintah cuek, mereka juga cuek terhadap pejalan kaki...

Tatkala gempa mengguncang Yogya, barulah tampak keporak-porandaannya.
Porak poranda yang tampak adalah yang fisik. Tampak pula betapa tidak
siapnya kita. Tiba-tiba kita menyadari bahwa Yogyakarta adalah wilayah
rawan gempa. Di utara ada Gunung Merapi di Selatan ada sumber
guncangan yang berpotensi memicu tsunami. Garis mistis-imajiner: Laut
Selatan-Krapyak-Kraton-Tugu-Merapi menyatakan diri dengan sangat
konkret. Kurang percaya?

Karena terus-menerus tertindih, sangat sulit rakyat kecil bangkit
kembali setelah gempa. Mereka sudah terlalu lama menjadi pelengkap
penderita dan objek manipulasi. Mereka hanya tampil sebagai pemberi
legitimasi: atas nama rakyat, demi rakyat, kursi untuk rakyat, golf
untuk rakyat, benthik untuk rakyat, dan lain-lain. Jelasnya,
pembangunan Yogya selama ini telah menghancurkan keseimbangan dan
bahkan harmoni antara fisik dan batin, besar dan kecil, pimpinan dan
kawula.

Apakah ini semua bisa menjadi pelajaran buat kita? Apakah
kabupaten-kabupaten nanti ikutan memberi izin pendirian mal-mal?
Ataukah secara tegas saja DPRD menyatakan menolak pendirian mal dan
hotel-hotel mewah? Kalau tidak, mau dijadikan wilayah budaya macam
apa? Pemegang kekuasaan dan DPRD yang sincere harus memilih: Yogya mau
dibawa ke mana!****

(Penulis, Guru Besar FIB UGM)-a.






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/0XFolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

"This is my way being a linuxer..."
http://jogja.linux.or.id
http://jogja.linux.or.id/wiki/

Untuk berhenti langganan silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jogja-linux/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke