> Enaknya berhubungan dengan SMK, kita bisa masukin materi2 praktikal > yang banyak kampus 'gengsi' untuk memasukkannya. > Alasan klasiknya, kami di S1 mengajarkan konsep, kami bukan kursusan, > dan whatever b***s**t lainnya > yang jadi pembenaran untuk tidak membuat lulusannya siap kerja. > > Mendingan menghasilkan tukang jahit yang beneran bisa kerja daripada > 'pengennya' menghasilkan desainer pakaian > tapi akhirnya jahit gak bisa, desain apalagi makin gak bisa.
Ada yang suka nonton project runnaway? http://en.wikipedia.org/wiki/Project_Runway. Ini adalah reality show kontest designer di hollywood sono. Nah adakah disini yang membayangkan bentuk dari kontes ini adalah bagus-bagusan bikin design di kertas seperti yang dibayangkan anak-anak kecil tentang fashion designer? Well itu salah besar, di kontes tersebut nggambar-nggambar design baju di kertas cuma sekedar tahap awal untuk mencurahkan ide, seperti kita programmer menggambar ERD/UML atau what ever dokumentasi yang ditulis. Yang dinilai juri adalah baju hasil akhir karya kontestan yang dikenakan peragawati beneran diatas catwalk. Analogi diatas bisa dengan jelas menggambarkan kesalahan konyol sistem pendidikan IT di kampus-kampus, alasan "kita ga mau jadi penghasil tukang jait" cukup jelas kalau menggunakan project runnaway diatas. Kenapa? karena project runnaway itu adalah kontes fashion designer, jelas kan ini kontes designer, tapi siapa yang menjait bajunya sampai jadi? ya designer-designer ini. Apa yang dinilai? ya hasil aktual bajunya. Ketika kampus hanya bisa menghasilkan mahasiswa dengan portofolio cuma selembar ijasah tanpa skill membuat aplikasi, saya kira ada yang salah dari sini :(. Seharusnya yang dinilai adalah kemampuan lulusanya untuk mendesign, mendevelop dan memastikan aplikasi yang dibuat bisa digunakan dengan baik. Saya sangat yakin para dosen yang ikut nimbrung di JUG ini sudah melakukan tugasnya dengan hebat. Tinggal gimana menularkan semangat dan pemahaman seperti ini ke khalayak yang lebih luas. Bahwa, tujuan utama pendidikan dikampus adalah membekali siswanya dengan ketrampilan memadai untuk mendapatkan pekerjaan yang saaangat layak. Permasalahan ini sepertinya tidak muncul di universitas besar seperti UI dan ITB, karena input mahasiswanya sangat cukup bagus untuk menyadari apa yang harus mereka kerjakan dan pelajari selama di bangku kuliah. Diajari atau tidak oleh dosenya nggak masalah, mereka bisa belajar otodidak sendiri. Nah yang jadi concern adalah univ lain diluar PTN atau PTS favorit, dimana mahasiswanya masih perlu banyak bimbingan dan arahan, kalau dari dosen dan kurikulum nggak mendukung, ya susahnya minta ampun untuk menghasilkan lulusan yang bagus. Saya juga berharap iklim bisnis di IT, terutama gov project mejadi lebih baik ke depanya, jadi kompetisi berdasarkan prestasi bisa berlangsung fair. Antar satu vendor dengan vendor lain saingan untuk bikin aplikasi yang bagus dan usable. Nggak saingan menggalang dukungan dari orang dalam dan kekuasaan. Saya naif sekali dengan hal ini, saya tahu, tapi saya nggak berhenti berharap :D. Dan buat mahasiswa di sini, kalau mau ngadain acara kampus, saya bersedia dengan senang hati mengisi acaranya, berbagi pengalaman bagaimana seharusnya mahasiswa mengisi waktu yang puaaanjang selama 4 tahun itu dengan kegiatan bermanfaat. Beberapa kali saya mengisi acara di kampus alamamater saya sendiri, dan sekali ke Binus. Materi yang seru biasanya tentang bagaimana membina skill agar dapat menapak karir di IT yang bagus: http://ifnubima.org/10-hal-yang-harus-dilakukan-mahasiswa-komputer-sebelum-lulus-2/ Atau mau bawain materi java juga oke. Sharing ini pure berbagi, nggak ada motivasi cari untung sama sekali, 95% saya ngisi materi nggak pernah dibayar dan gak minta bayaran ;). -- http://ifnubima.org regards

