----- Original Message -----
From: jojo
Sent: Wednesday, April 13, 2005 10:57 AM
Subject: Accident Report : Penyetopan Polisi Mendadak di Jalan Raya

Pagi ini saya seperti biasa saya berangkat ke kantor melewati Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat. Kendaraan-kendaraan melaju cepat karena jalan masih kosong sekitar jam 8 pagi. Sekitar 200 meter sebelum saya sampai di bunderan BI lampu merah traffic light berganti hijau sehingga saya tidak mengerem dan tetap laju sekitar 70 km/jam.
 
Setelah dekat dengan traffic light bunderan BI, saya mendengar suara sirine polisi dari arah kanan (dari arah Gambir menuju BI) seperti biasa kelihatannya ada mobil pejabat yang lewat, namun sepertinya bukan RI 1 atau RI 2, dari pengawalan yang minim menurut saya hanya pejabat biasa saja. Dan secara tiba-tiba seorang polantas berdiri di depan lampu merah menghentikan semua kendaraan yang melaju. Saya juga berhenti dengan tiba-tiba karena kaget. Dan beberapa detik kemudian terdengar suara decit rem di belakang motor saya.CCIIIIIIIIIIIIIEETTT.....BRAAAKKKK....!!!!!!!!!!!!!
Beberapa motor di belakang bertumbukan, dan ada satu motor bebek yang menabrak saya, bannya melesak masuk ke antara ban dan knalpot. Untung saya bisa menjaga keseimbangan sehingga tidak jatuh. (saya jadi teringat tragedi penyetopan di jalan tol yg berakibat tewasnya beberapa orang) 
 
Sumpah serapah para pengendara terdengar tak lama setelah penyetopan mendadak itu. Si pengendara bebek itu dan saya mencoba melepas ban tersebut namun tak berhasil. Polisi tadi mendekat, membantu mengeluarkan ban. Saya baca name tag di dadanya : Sugeng P, kemudian pangkat di bahunya : Bripka, Brigadir Kepala. "Pak Sugeng kalau stop kendaraan jangan mendadak dong pak," sahut saya ketika dia mendekat.
 
Matanya langsung melotot kearah saya, dan menghardik : "Apa kamu, bukan salah saya. Kalau polisi nyetop, lampu merah tidak berlaku!" "Iya pak saya ngerti, tapi jangan mendadak gitu dong, kan jadinya pada tumbukan begini," sahut saya lagi masih dalam nada pelan.
 
Bripka Sugeng diam saja dan kemudian terlihat agak panik karena tak lama arus kendaraan dari jalur saya mulai bergerak kembali namun jadi macet karena motor saya ada di tengah jalur. Sebuah ibu dari dalam mobil mengeluarkan kepalanya dari jendela dan menghardik Bripka Sugeng : "Hei Pak, Jangan Berentiin Seenaknya dong,"! Sang Polisi kembali ngedumel "Bukan salah saya kok,!" Kasihan juga saya lihat dia, terpojok antara tugas dan hujatan dari masyarakat. 
 
Motor akhirnya saya dorong ke pinggir agar tak mengganggu lalu lintas, berat juga karena bebek tadi "nempel kayak perangko" di motor saya. Setelah tiba di pinggir, baru akhirnya ban bebek tersebut bisa dilepaskan setelah bannya dikempeskan terlebih dulu.
 
Setelah itu, saya lihat si pengendara bebek itu dan baru saya sadar bahwa si pengendara bebek tangannya luka dan agak dalam, darah cukup banyak terlihat dan dia mulai mengerang kesakitan (Bapak itu tidak pakai sarung tangan dan mungkin sebelum menabrak saya, stang dia menghantam motor lainnya sehingga tangannya luka) . Saya panik. Biasanya saya bawa obat P3K di BOX tapi hari ini saya gak bawa. Darurat, saya ambil sapu tangan dari saku dan membalutkan ke lukanya agar darah tak menetes. "Bapak masih bisa tahan?" Sebentar pak kita ke rumah sakit terdekat!"
 
Saya menengok mencari Bripka Sugeng, eehhh...dia dah gak ada, malah ke sebrang jalan lagi ngobrol dengan temen-temen polisi lainnya. Rasa kasihan terhadap polisi tadi berubah menjadi kesal setengah mati. Kok gak tanggung jawab sih??!
 
Ada polisi lain di dekat motor saya panggil, "Pak ini gimana, orang ini luka kok malah dibiarkan?" "Wah saya gak tau, saya kan waktu kejadian di sebrang jalan. itu Bripka Sugeng!" katanya sambil memanggil kawannya.
 
Bripka Sugeng datang. (Si pengendara bebek itu dari tadi diam saja, kayaknya takut sama polisi) Saya tanya ke pak Sugeng, "Pak ini gimana, motornya sih gak apa-apa cuma lecet dikit, motor saya juga gak papa. Cuma ini luka parah tangannya harus segera dibawa ke rumah sakit!"
 
Mungkin karena saya yang cerewet sementara si pengendara diam saja. Bripka Sugeng menanyakan lagi ke si pengendara, "Jadi maunya gimana?" Si Bapak diam saja sambil mengerang kesakitan. "Bapak kerja di mana?" tanya sang polisi lagi. "di Jakarta Barat pak". "Dimana?" "Di Swasta". Loohh..kok jadi tanya jawab pekerjaan begini, tanya saya dalam hati.
 
Saya sela lagi, "Pak lukanya parah, sebaiknya dibawa ke rumah sakit atau klinik terdekat, paling dekat dari sini dimana?"
 
"Ya deket sini ada tuh klinik," kata Bripka Sugeng dan mendekati kawan polisinya mengajak bicara. "Jangan, sebaiknya dibawa ke polda saja ada klinik di sana, jadi tanggungannya kan kita," kata kawan polisi yang satu.  Waahh.. kok malah diskusi?
 
"Ya dimana saja lah pak, yang penting segera ditangani. kasian bapak ini kalau terlalu lama," sahut saya lagi mulai tak sabaran.
 
"Ok lah, ayo ikut saya," katanya seraya menaiki motor bebek si bapak. "Silahkan pak, ikut pak Polisi ini. saputangan saya dibawa saja gak papa. "maaf saya gak bisa temenin pak," (kebetulan ada meeting di kantor tidak bisa saya tinggalkan)
 
Si Bapak tersenyum sambil masih tetap meringis dan memberikan salam ke saya. Mereka berboncengan dan bergerak jalan.
 
Saya bersiap jalan lagi, namun ketika sudah jalan saya tengok lagi ke belakang. Motor itu berhenti lagi di sebrang jalan. beberapa polisi lain datang, entah mau ngapain lagi mungkin diskusi lagi soal rute jalan ke rumah sakit. :-(
 
Hikmah yang bisa diambil :
 
1. Hati hati kalau dengar sirine polisi, mungkin ada rombongan VIP atau VVIP lewat atau sekedar pejabat eselon yang bisa membuat polisi menghentikan arus kendaraan dengan tiba-tiba.  
 
2. Posisi kita sebagai warga masyarakat kesal iring iringan VIP, dan juga dg tindakan polisi tersebut, padahal dia aparat hukum yang memang punya wewenang. Nah kembali ke kita sendiri, kalau rombongan konvoi janganlah seperti itu, ngeblock sana sini pada saat lalu lintas sedang padat, atau bahkan menerobos lampu lalu lintas ketika merah. Sirine sebaiknya tidak digunakan karena kita tidak punya hak priviledges untuk itu. Kita bukan rombongan VIP atau pejabat dan hanya pengguna jalan yang punya hak yang sama dengan lainnya.
 
Bersikaplah simpatik dan tidak arogan ketika konvoi atau rolling thunder. Perlihatkan kepada masyarakat bahwa club/komunitas anda berisi Profesional Bikers yang punya etika dan santun di jalan, bukan geng motor atau tukang ojek. Jadilah teladan bahkan bukan hanya pada masyarakat umum tapi juga kepada para aparat. Sayang kalau motornya bagus, konvoi rapi kayak semut baris, tapi kelakuan di jalan sama dengan geng motor atau bahkan gerombolan tukang ojek.
 
3. Kenakan selalu Perlengkapan Safety lengkap ketika bermotor, meski jarak dekat sekalipun. Helm, Sepatu, Jaket, Sarung tangan tak boleh tertinggal. (coba si bapak tadi pake sarung tangan mungkin tidak parah begitu). 
 
4. Berdoalah sebelum berangkat
 
Wassalam,
 
Jojo
Suharjo Nugroho
Tiger Silver
B 3309 HD
 


untuk ikutan milis ini tinggal kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk unsubscribe dari group ini, silahkan kirim email kosong :
[EMAIL PROTECTED]

Milis ini merupakan ajang pertukaran informasi seputar masalah Honda Karisma antar sesama pengendara sepeda motor Honda Karisma.

Kalau ingin me-reply, mohon pesan yang tidak di perlukan dan sudah panjang di hapus agar message tidak terlalu panjang

Jangan mem-posting message yang tidak ada Hubungannnya dengan Milis ini, SPAM Mail, Junk Mail, SARA.





Yahoo! Groups Links

Kirim email ke