-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Nandana
Sent: Tuesday, June 07, 2005 12:33 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [daarut-tauhiid] Innalillahi Wainnaillaihi Rodjiun..
Importance: High
Salemba, Warta Kota
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat
anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta-Bogor pun geger Minggu
(5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seoran pemulung bernama Supriono (38 thn)
tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan
memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.
Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa
ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan.
Di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit
muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa
jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang
muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas
Kecamatan Setiabudi.
"Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang
untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya
hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya
Rp 10.000,- per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong
perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama
sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski
Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski
hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan
nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak
yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau.
Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya.
Supriono dan Muriski hanya dapat termangu.
Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk
membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa
ambulans.
Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan
menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun
Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat,
Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus
jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka,
biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan
menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa
menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang
pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh
Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan
penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan
Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet.
Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang
ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera
dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan
surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang
terbujur kaku.
Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah
meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.
Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi
Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan
kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng
tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk
ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air
minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena
masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli
terhadap sesama.
"Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung
jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono
tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap.
Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia",ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz mengatakan peristiwa itu
seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan
bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya
memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.
*** mohon maaf karena telah mengutip ulang berita ini***
Innalillahi Wainnaillaihi Rodjiuun..
Semoga Adik Khaerunisa dapat tenang dan diterima disisiNYA dan Keluarga
yang ditinggalkan mendapat kemuliaan dan ketabahan. Amiin..
===================================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================================
Yahoo! Groups Links
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/B9pRWD/3MnJAA/Y3ZIAA/KqTolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Milis ini merupakan ajang pertukaran informasi seputar masalah Sepeda Honda
Karisma antar sesama pengendara dan Pencinta sepeda motor Honda Karisma.
Kalau ingin me-reply, mohon pesan yang tidak di perlukan dan sudah panjang di
hapus agar message tidak terlalu panjang
Jangan mem-posting message yang tidak ada Hubungannnya dengan Milis ini, SPAM
Mail, Junk Mail, SARA.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/karisma_honda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/