Jatah BBM di SPBU DikurangiJAKARTA - Pertamina mengurangi jatah bahan bakar minyak (BBM) untuk stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sekitar 10-20 persen untuk meredam lonjakan konsumsi di tengah kritisnya stok. ''Kalau sebelumnya setiap SPBU menerima 10.000 liter per hari, sekarang hanya sekitar 8.000 liter,'' kata juru bicara PT Pertamina (Persero) M Harun di Jakarta, Selasa (21/6) pagi. ''Jangan sampai pada saat kita memulihkan posisi stok penjualan jalan terus. Kalau kita distribusikan berapa saja yang diminta tidak ada artinya semua langkah untuk memulihkan stok. Oleh karena itu, kami terus meminta masyarakat untuk menghemat BBM,'' katanya. Dikemukakan, posisi stok sebagaimana diungkapkan Direktur Utama Pertamina Widya Purnama dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Senin (20/6), merupakan angka psikologi. ''Karena setiap hari ada penambahan, misalnya dari kilang Pertamina sendiri sebesar 800.000 barel dan impor 350.000 barel untuk memenuhi kuota konsumsi nasional 1,350 juta barel per hari,'' katanya. Dikatakan, untuk mengamankan stok selain mengurangi jatah SPBU Pertamina juga berencana meningkatkan impor. Meski demikian, diakui, langkah penambahan impor BBM cukup memberatkan keuangan Pertamina, mengingat harga minyak mentah di pasar internasional terus merangkak dan mencapai US$ 59,37 per barel.
Stok Kritis "Dengan harga minyak mentah sebesar itu berarti harga produk olahannya sudah mencapai 70 dolar AS per barel,'' ujarnya. Sebelumnya, Dirut Pertamina Widya Purnama mengungkapkan, stok BBM hingga Juli nanti masih dianggap kritis. Untuk mengembalikan stok ke posisi aman 22 hari diperlukan dana US$ 1,3 mi-liar hingga US$ 1,5 miliar untuk impor BBM. Dikatakan, kelangkaan BBM beberapa hari terakhir ini disebabkan keterlambatan pencairan dana subsidi pemerintah untuk Pertamina. ''Pada tanggal 13 Juni sebetulnya kami bisa bongkar 3,2 juta barel. Itu cukup untuk 3-4 hari stok. Tapi, karena uang belum turun tidak bisa dibongkar. Uang itu baru turun pada 15 Juni jam 3 sore atas desakan Menteri dan Presiden,'' katanya saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR. Menurut Widya, keterlambatan pencairan dana subsidi akan membahayakan stok BBM di Pertamina. Idealnya, Pertamina dapat menjaga stok BBM untuk persediaan 20 hingga 22 hari. Tapi, dengan keterlambatan tersebut cadangan BBM Pertamina hanya cukup 17,5 hari. Meskipun stok minyak tanah masih tergolong aman, namun stok premium sudah di ambang kritis. ''Kalau minyak tanah yang dipakai masyarakat banyak kami jamin betul. Kita masih punya stok minyak tanah untuk 25,3 hari. Sedangkan premium 12,7 hari. Ini sudah kritis sekali. Sementara stok solar untuk 14,5 hari. Dengan dibongkarnya BBM di kapal-kapal itu kita perlu recovery 10 hari, yang biasanya sekitar dua minggu. Jadi diharapkan tanggal 25 ini (Juni) stok kita sudah kembali untuk 20 hari,'' tambahnya. Dikemukakan, sepanjang kuartal I 2005 konsumsi BBM rata-rata sudah melebihi kuota. Kelebihan konsumsi premium sudah mencapai 2,7 persen, solar 2 persen, dan minyak tanah 2,5 persen. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, kelangkaan BBM di Pulau Jawa dan sekitarnya sudah dapat diatasi. Upaya penanganan kelangkaan dilakukan secara bertahap. Diupayakan peningkatan jangka waktu persediaan pasokan sampai 20 hari. ''Sesuai kesepakatan antara pemerintah dan Panitia Anggaran DPR dalam penyusunan APBN-P tahun 2005 dalam penetapan jumlah kuota penyediaan BBM dalam satu tahun, jumlah 59,6 juta kiloliter dianggap cukup. Kelangkaan yang terjadi di wilayah Indonesia lebih disebabkan lemahnya pengawasan terhadap distribusi BBM,'' katanya. Secara terpisah, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa mengungkapkan, hingga saat ini kelangkaan BBM belum mempengaruhi sektor transportasi umum. Pihaknya yakin Pertamina akan menyiapkan BBM untuk kebutuhan transportasi nasional. Gunakan Jeriken Dari Nganjuk, Jawa Timur dilaporkan, pembelian BBM dengan menggunakan jeriken plastik terjadi di beberapa SPBU. Sejumlah warga bolak-balik membeli premium untuk berjaga-jaga jika persediaan BBM di Nganjuk habis. "Tidak masalah kami harus antre sampai sekitar 70 meter. Setelah mendapat premium kembali antre lagi. Sepeda motor kami butuh BBM agar bisa jalan,'' ujar Handoko yang ditemui di SPBU Loceret, Nganjuk. Menurut Handoko, istrinya membeli BBM dengan mengendarai sepeda motor, sedang dia membelinya dengan jeriken. Pengelola SPBU ini menggunakan teori buka - tutup. Jika kiriman dari Depo Surabaya lancar SPBU buka. Sebaliknya apabila tidak ada kiriman SPBU terpaksa ditutup. Anggota Komisi B DPRD Nganjuk Basori menyayangkan masih ada SPBU di daerah ini menerima pembelian BBM dengan menggunakan jeriken. Di Bengkulu, persedian premium di SPBU kembali normal. Ardi (32), petugas SPBU di Jalan S Parman, Kota Bengkulu, ketika dihubungi mengatakan, sejak Senin siang persediaan premium kembali normal setelah pihak Pertamina meningkatkan pasokan ke semua SPBU. (U-5/L-10/A-17/080/143) Milis ini merupakan ajang pertukaran informasi seputar masalah Sepeda Honda Karisma antar sesama pengendara dan Pencinta sepeda motor Honda Karisma. Kalau ingin me-reply, mohon pesan yang tidak di perlukan dan sudah panjang di hapus agar message tidak terlalu panjang Jangan mem-posting message yang tidak ada Hubungannnya dengan Milis ini, SPAM Mail, Junk Mail, SARA. Yahoo! Groups Links
|

