Duh dengan teliti saya baca....cukup menarik deh tapi masih kurang ngerti
dgn bahasanya:)

Kang pri entar kalau ketemu tolong jelasin lagi yah?


Salam Sportivitas,
U can if U think U can

KHCC # 028
Jagokan:  Czech Republic  &  England
----- Original Message -----
From: "Kang Pri B6758KCY KHCC#038" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, June 22, 2006 4:43 PM
Subject: [KHCC] OOT: Membanding Dua Negeri


> Membanding Dua Negeri
>
> Oleh Bahtiar Hs
>
>
> Awal 2005. Selepas tsunami.
>
> Bukit berpohon lebat, padang terhampar hijau, ladang luas bertumbuh
bermacam tanaman, pekarangan pun penuh bunga dan buah. Asri yang terasa
memandang kanan-kiri jalan yang kami lalui. Sesekali mobil berlalu dari arah
berlawanan. Jalan cenderung sepi. Honda Accord bergigi matic ini pun melaju
dengan tenang. Aku duduk di belakang kemudi. Pengalaman pertama buatku
menggunakan mobil berpersneleng otomatis. Di negeri orang lagi. Perlis
Indera Kayangan, Malaysia.
>
> Kami tengah menuju Wang Kelian. Sebuah border zone antara Malaysia dan
Thailand Selatan. Sebuah kawasan bebas bea. Mayoritas muslim. Bagaimanapun
penduduk Thailand Selatan (Pattani, Yala, Narathiwat, Setun, Songkhla) yang
kebanyakan Melayu lebih dekat secara geografis, budaya dan religius dengan
Malaysia (khususnya semenanjung utara, seperti Perlis, Kedah, Pulau Pinang,
Perak, Selangor) ketimbang Thailand.
>
> Beberapa puan, termasuk isteriku, di jok belakang berceloteh riuh selama
perjalanan. Menakjubi pemandangan yang dijumpai di kiri-kanan jalan.
>
> Namun, aku lebih tertarik satu hal dalam perjalanan ini. Jalan. Ya, aku
memperhatikan jalan-jalan di negeri Perlis ini. Sepanjang jalan mulai
Kangar, ibukota Perlis, hingga perbukitan Gua Kelam sebelum Wang Kelian
selalu ada bahu jalan kanan dan kiri selebar sekitar 1,5 meter dengan garis
pembatas yang putih jelas. Disediakan untuk tempat berlalu sepeda motor.
Selain mereka tertib mematuhi traffic light, yang menakjubkan adalah tak ada
satupun kendaraan roda dua yang tidak menyalakan lampu bahkan di siang hari
dan tidak ada satupun sepeda motor berlalu di jalan kecuali selalu berjalan
di tempat yang telah disediakan buat mereka itu. Tidak kulihat ada sepeda
motor yang berlalu di jalur mobil! Bahkan ketika kami memasuki daerah
pedesaan yang sepi menjelang Gua Kelam, pemandangan itu tak jauh berbeda.
>
> Bagiku ini sangat mengherankan.
>
> “Cik Hasyim,” sapaku pada pegawai Tuan Haji Ismail yang menyertai kami. Ia
duduk di sebelahku, setelah tadi memberiku kesempatan mencobai mobil mahal
ini. “Saye perhatikan, orang-orang yang memakai kereta angin di sini selalu
menyalakan lampu dan berjalan di sebelah kiri. Tak pernah melanggar garis
batas itu, Cik.”
>
> Aku menunjuk seorang ibu dengan sepeda motornya (mereka menyebutnya:
kereta angin) berlalu berlawanan di bahu jalan sebelah kanan.
>
> Cik Hasyim hanya tersenyum – sebenarnya dia memang murah senyum. “Memang
peraturannya seperti itu, Pak Bahtiar. Kereta angin harus menyalakan lampu
di siang hari dan berlalu di jalan itu.”
>
> “Tetapi, bukankah di daerah dusun yang sepi seperti ini tidak ada polis,
Cik?” kejarku. Memang tak banyak polisi (polis – Malaysia) yang berjaga
sepanjang jalan yang kulalui.
>
> “Ya, memang tak ada polis. Tapi kalau kami berlalu di tengah jalan kan itu
artinya melanggar peraturan?”
>
> Subhanallah. Sampai sebegitunya orang Perlis patuh pada peraturan
lalu-lintas. Meski tak ada petugas. Meski mereka jumpalitan di tengah jalan
sekalipun misalnya, mungkin tak akan ada polisi yang melihat. Mobil pun
jarang melintas.
>
> Tak heran makanya ketika hari pertama datang ke kota ini seorang teman
dari Perlis mengatakan bahkan bila seorang wanita berjalan sendirian dengan
mobilnya di malam hari di negeri ini Insya Allah aman sampai di tujuan. Tak
akan ada yang mengganggu.
>
> ***
>
> Surabaya akhir tahun lalu.
>
> Polwiltabes Surabaya mewajibkan pengendara sepeda motor untuk menyalakan
lampu kota di siang hari. Untuk mengurangi angka kecelakaan lalu-lintas,
katanya.
>
> Di beberapa ruas jalan besar juga sudah dibuat jalur khusus untuk sepeda
motor. Mereka menyebutnya: proyek kanalisasi. Jalur khusus itu berupa batas
dari tiang-tiang setinggi pinggang yang dihubungkan dengan tali dan
memanjang selebar dua-tiga sepeda motor di bahu jalan. Setiap sepeda motor
diwajibkan untuk berjalan di jalur khusus ini.
>
> Tidak itu saja. Untuk membudayakan tertib lalu-lintas ini diadakanlah
iklan ajakan besar-besaran di surat kabar dan berbagai radio. Bahkan ada
undiannya segala. Setiap pengendara sepeda motor bisa mengambil dan mengisi
kupon di beberapa check-point di sepanjang jalur khusus itu. Bahkan ada
wartawan yang akan mengambil gambar seseorang yang tertib berlalu-lintas dan
yang bersangkutan akan mendapatkan hadiah bila ia beruntung muncul di
halaman belakang surat kabar edisi esok hari.
>
> Maka begitulah. Setiap sepeda motor yang berlalu di kota Surabaya
menyalakan lampu, berbondong-bondong berjalan di jalur yang telah
disediakan, mengambil dan mengisi kupon di check-point, dan menunggu siapa
tahu beruntung dapat hadiah pada akhir periode undian. Bapak-ibu Polisi
dengan sukarela berdiri di jalan-jalan protokol dengan papan menggantung di
dada bertuliskan “Nyalakan Lampu” dan menunjukkannya pada setiap pengendara
yang lewat.
>
> Tibalah saat undian. Seorang pengendara sepeda motor yang hanya memasukkan
satu dua lembar kupon beruntung mendapatkan hadiah utama. Kalau tidak salah
uang tunai 10 juta rupiah dari sponsor. Dan setelah itu, inilah yang
kemudian terjadi. Check-point pun bubarlah sudah. Tak ada lagi undian karena
tertib berlalu-lintas. Tiang-tiang kanal banyak yang putus tali
penghubungnya, untuk kemudian merana. Bahkan satu per satu hilang dari
tempatnya. Sepeda motor pun satu demi satu kembali ke tengah jalan.
Bersalipan, berkejaran, dan berbalapan dengan mobil atau sesamanya.
>
> Maka, kehidupan Surabaya di jalanan pun kembali seperti sedia kala.
>
> ***
>
> Orang Perlis juga kelewatan sopan. Jika ada kendaraan yang mau berbelok
kanan, maka Sang Pengemudi akan menunggu kendaraan lain yang berlalu dari
arah depan sampai dengan hampir-hampir sepi. Barulah ia akan membelokkan
kendaraannya dengan tenang.
>
> Begitulah yang aku perhatikan adab orang Perlis berkendara di jalan.
>
> Pagi itu kami rombongan dari Indonesia berangkat ke tempat Sijil Tuan Haji
Ismail di daerah Jejawi. Pakai kendaraan Serena berbadan besar. Aku
lagi-lagi pegang kemudi. Maklum, pengin mencoba mobil jenis baru.
>
> Selepas lampu merah Mate Ayer mobil kubelokkan begitu saja ke kanan masuk
gang tempat Sijil. Ada beberapa mobil dan sepeda motor yang akan melaju dari
depanku mengerem mendadak. Mungkin mereka tak mengira ada mobil belok ke
kanan tanpa menunggu mereka lewat lebih dulu.
>
> “Heh! Ente main selonong saja!” seru temanku dari Tangerang. “Ini Perlis
Tuan! Dudu Suroboyo, Rek*!”
>
> Yah, bagaimana lagi. Sudah biasa seperti itu di Surabaya! Bahkan aku
termasuk pengendara yang sopan di sana!
>
> Mereka ramai-ramai tertawa-tawa senang. Aku sih, sejujurnya, demikian
juga. Dasar!
>
> ***
>
>
> Kang Pri:
> Perlis, jakarta bisa gak ya kayak gitu..???
> dicuilkan dari: http://eramuslim.com/atc/oim/4492892e.htm
>
>
>
>
> KHCC TURUT BERDUKA CITA ATAS PERISTIWA GEMPA BUMI DI YOGYA
> Salurkan Bantuan Anda melalui Dompet KHCC Peduli Yogya ke
> BCA Tanjung Priok a/c: 0072759018 a/n : Ahmad Musyafak (bendum)
>
> ====================================================================
> Mailing List KHCC    : [email protected]
> Website KHCC         : www.khcc.or.id
>
> Hubungi BOM          : [EMAIL PROTECTED]
> Hubungi Pengurus     : [EMAIL PROTECTED]
>
> Bacalah dan patuhilah Tata Tertib milis !
> "Terima kasih untuk bertutur kata layaknya seorang yang terpelajar"
> ====================================================================
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/KqTolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

KHCC TURUT BERDUKA CITA ATAS PERISTIWA GEMPA BUMI DI YOGYA
Salurkan Bantuan Anda melalui Dompet KHCC Peduli Yogya ke 
BCA Tanjung Priok a/c: 0072759018 a/n : Ahmad Musyafak (bendum)

====================================================================
Mailing List KHCC    : [email protected]
Website KHCC         : www.khcc.or.id

Hubungi BOM          : [EMAIL PROTECTED]
Hubungi Pengurus     : [EMAIL PROTECTED]

Bacalah dan patuhilah Tata Tertib milis !
"Terima kasih untuk bertutur kata layaknya seorang yang terpelajar"
====================================================================

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/karisma_honda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke