Satu lagi.. TWO TUMB Bro.....
Tulisan yang begitu indah........... yup.... sudah semestinya kita lebih
peduli dengan lingkungan di sekeliling kita....
Dah sepatutnya kita ambil hikmah yang terkandung di dalamnya.....



On 02/01/07, Penjaga Makam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

   Dear All,

Met tahun baru 2007, semoga semua keinginan dan harapan rekan-rekan bisa
terpenuhi di tahun ini.
Maaf kalau kurang berkenan, saya hanya ingin membagi sedikit cerita yang
mungkin bisa diambil hikmahnya. Tapi yang jelas ada beberapa pertanyaan yang
masih belum bisa saya jawab di akhir cerita ini, tolong kasih tahu ya...
Makasih...

Cerita ini bermula di satu pagi dimana matahari belum benar2 menampakan
wujudnya di minggu terakhir Desember 2006. Seperti biasa aku bersama si
Angelina Jolie, lebih akrab saya panggil "Angie" melesat membelah aspal yang
masih dingin di sepanjang jalan raya Bogor. Hentakan lagu "Welcome to my
paradise" yang keluar dari MP3 player butut turut memberikan keceriaan di
pagi itu. Sedikit manggut-manggut mengikuti irama lagu boleh jadi sedikit
membingungkan pengendara motor di kiri kanan yang sama-sama tertahan traffic
light. Aku sempat hitung dalam hati jumlah sepeda motor yang berada di
depan, kiri dan kanan ku. 27 motor sepagi ini sudah ngeriyung di satu lampu
merah. "Luar biasa semangat orang-orang ini" pikirku dalam hati. Maklum
sepagi ini mereka sudah antusias ingin segera menuntaskan kewajibannya
sebagai manusia di bumi. Lampu masih kuning dan belum hijau, tetapi
wusss...wusss...wusssss hampir secara bersamaan semua menghentakkan gas-nya.
Karena yang di belakang Angie sudah nggak sabar juga dan terus membuyikan
sirene, jadilah si Angie ku paksa mengekor rombongan di depan. "Kampret nih
orang, nggak sabar amat!" omelku membathin.

Hitungan kilometer belum mencapai 1, tiba-tiba semua pengendara di
depanku meliuk ke arah kanan seperti menghindari sesuatu dengan kecepatan
yang agak diperlambat. Aku tarik rem depan dan kuinjak rem belakang secara
bersamaan menghindari semua motor di depan kiriku yang langung memotong
dan meliuk ke arah kanan secara tiba-tiba. Angie melaju semakin perlahan
hingga sesuatu sudah ada di hadapannya. Yah ini dia penyebab semua
pengendara menghindarinya. ,.. satu sepeda motor merek "Shogun" tergeletak.
Pengendaranya tergeletak 3 meter dari mesin tunggangannya yang berkapasitas
125 cc itu, namun terlihat sekali kalau ia berusaha bangkit.

Tanpa berpikir lama segera kusilangkan Angie menutupi jalan searah ini,
tidak lupa kubisikan ke telinga Angie, "Maaf darurat dan nggak usah protes.
Kalau ada yang nubruk anggap aja kamu lagi sial hari ini, tapi tenang aja
nanti gue bawa ke bengkel yang cihuy". Angie nggak bisa berkata apa-apa,
hanya diam dan melirik sinis juragannya yang meninggalkannya, Sementara dari
matanya nampak jelas kekhawatiran kalau-kalau ada yang iseng senggal senggol
bodynya yang lumayan aduhai.

Segera kuberlari kecil menghampiri si pengemudi yang masih berusaha
bangkit. "Gimana pak, bisa bergerak?" tanyaku kepadanya sambil memegang bahu
kirinya. "Bisa, tapi mungkin kaki kiri terkilir susah sekali di gerakkan"
jawabnya sambil menahan rasa sakitnya. "Ok, kita berusaha minggir dulu, ayo
saya bantu, gunakan kaki kanan untuk berpijak" Tangan kirinya disilangkan ke
bahuku, dengan sekuat tenaga dia berusaha berdiri dengan dibantu olehku.
Perlahan kami berjalan ke tepi. Setelah aku merasa aman kalau si pengendara
tidak lagi berada di tengah jalan, aku segera menghampiri sepeda motornya
yang masih tergeletak. "Hmmm, masih menyala rupanya" gumanku dalam hati.
Segera kumatikan, kubangkitkan dan kudorong ke tepi. Beberapa barang kecil
yang terbawa masih berceceran di tengah jalan, raincoat dan rantang plastik.
Aku segera ambil semua yang tercecer, hingga ketika mengambil rantang
plastik hatiku demikian tergetar. Semua makanan (yang kuduga sebagai
sarapannya) habis sudah berantakan. Terbayang olehku betapa mulianya orang
yang telah menyiapkan ini semua, namun dengan sangat terpaksa semuanya harus
tercecer.

Setelah yakin tak ada yang tercecer dan kugiring Angie ke pinggir, segera
kuhampiri si pengendara yang masih terduduk lemas. Kukembalikan kunci kontak
motornya. Kubongkar daypack yang sudah setia menemaniku pergi sekian lama
untuk mencari sekotak "First Aid" didalamnya. "Ini dia, sudah lama kamu
tidak keluar dari dalam daypack, sekarang saatnya kamu bekerja" celotehku
dalam hati.

"Sebaiknya yang lecet-lecet di berikan ini pak, lumayan mengurangi dan
menghindari infeksi kalau mungkin terjadi" kataku sambil menyodorkan
betad*** ke hadapannya.
"Terima kasih" jawabnya sambil menerima obat tersebut.
"Sudahlah mas, nggak apa-apa, silahkan kalau ingin melanjutkan, saya
berterima kasih sekali" katanya lagi.
"Nggak apa-apa pak" jawabku singkat. "Bapak tersenggol motor2 yang bersama
bapak tadi?" tanyaku kepadanya sambil menyodorkan sebotol minuman mineral
yang memang selalu aku bawa dalam daypack.
"Nggak, saya sudah terjatuh lebih dahulu sebelum mereka dan Mas lewat,
tapi tadi saya sulit sekali untuk berdiri"
"Hmmm,.. jadi sekian banyak motor yang didepanku tadi tidak ada satupun
yang berusa menolongnya, cuma menghindarinya. Tega amat tuh orang-orang"
pikirku dalam hati.

"Luka yang ini saya balut sementara ya pak, kayaknya agak dalam dan
lebar." pintaku kepadanya sambil menunjuk luka di betis dibalik robekan
celananya. "Ya silahkan mas, kalau memang perlu, terima kasih loh sudah mau
bantu" jawabnya. Aku hanya tersenyum saja. Selanjutnya aku memastikan kalau
dia sudah berada dalam kondisi lebih baik.

"Rumah bapak dimana, lebih baik bapak kembali ke rumah dulu atau apa bapak
merasa harus ke dokter. Nanti saya antar?" tanyaku.
"Nggak, nggak usah! Saya sudah bisa berdiri kan? paling keseleo aja"
jawabnya sambil tersenyum.
Namun aku tahu benar dia hanya berusaha untuk menahan rasa sakitnya.

"Saya tinggal di perumahan A, nggak jauh dari sini kok" katanya lagi.
"Oh iya nggak terlalu jauh pak. Oke deh gini aja pak. Di depan sana ada
pertigaan, nanti saya panggil tukang ojek untuk antar bapak, kebetulan saya
kenal dengan satu orang di antara mereka, teman saya sekolah dulu pak"
"Nggak usah mas, kok malah merepotkan" katanya lagi

"Ngomong2 kok P3Knya lengkap sekali dan keliatannya anak gunung ya, lihat
dari gayanya?" tanyanya sambil senyum. "Bisa aja pak, kebetulan saja kok.
Kalau urusan naik gunung emang sudah bawaan lahir" jawabku setengah tertawa.

Selanjutnya kami isi dengan ngobrol sebentar tentang kejadian yang barusan
menimpanya, sementara mataku demikian seksama memperhatikan setiap luka di
tubuhnya untuk memastikan dia dalam keadaan baik. Sedikit yang aku sesalkan,
mengapa pengendara yang lain nyaris tidak peduli dengan kejadian yang
menimpanya. Bahkan hingga aku menolongnya semua hanya meliuk dan menghindari
si Angie yang sengaja aku bentang menghadang arus lalu lintas.

"Maaf pak saya nggak bisa berlama-lama, kebetulan sudah janji sama boss di
kantor untuk datang lebih pagi, jadi tidak bisa menemani bapak. Nanti saya
panggil teman saya. Bapak tunggu saja disini. Kalau ada apa2 ini kartu nama
saya pak" kataku kepadanya setelah memastikan dia dalam keadaan yang lebih
baik.

"Iya mas terima kasih. Nanti saya telpon ya. Terima kasih sekali. sudah di
tolongin"
"Sudahlah pak, sama-sama. ini ada roti, kebetulan istri saya yang buat dan
sedikit berlebih, dimakan ya pak, lumayan sambil mengisi waktu menunggu
teman saya datang" pintaku dengan senyum.
"Terima kasih banyak" jawabnya dengan senyum yang lebih indah.

Selanjutnya aku bersalaman dan pamit. Segera kuajak Angie melanjutkan
perjalanan rutinitasnya. Tak lupa kuhubungi temanku yang sedang mangkal
untuk mengajak satu temannya juga menolong si bapak tadi. Kutunjukan
letaknya dan kuberikan sedikit uang rokok kepadanya sebagai ongkos mengantar
si bapak tadi. Selanjutnya aku melesat bersama Angie dengan banyak pikiran
di kepala. "Mengapa semua orang tadi seakan tidak peduli apa yang ada
didepan bola matanya?" Berbagai argumentasi saling bersahutan di dalam
kepalaku. Tapi satu hal yang aku ingat, kotak kecil P3K yang ada didalam
ranselku bertahun-tahun sudah seringkali termanfaatkan. Aku kembali berfikir
"Mungkin jika setiap pengendara menyiapkan juga hal yang kecil ini maka
setiap pengendara akan bisa membantu dan meringankan rekan lain yang
mengalami kecelakaan, walaupun hanya bersifat pertolongan pertama tetapi
paling tidak bisa sedikit meringankan rasa sakit"

"Ah sudahlah..... nanti saja kutulis di milist karisma_honda sesampai di
kantor, walau belum jadi member tetap,  mungkin saja tulisan ini bermanfaat
dan bisa jadi bahan diskusi. Paling tidak aku jadi tambah mengerti dan
belajar jadi pengendara motor yang baik" pikirku..

"Boss, kalau cerita ke teman-teman, tanyain dong! Emang boleh melintangkan
motor seperti yang boss lakukan tadi. Angie rada-rada takut juga tuh" pinta
Angie dengan terbata-bata.
"Iya sayang... nanti gue tanyain, dah nggak usah cemberut gitu" jawabku
sambil mengusapnya

Wusssssss.. Aku dan Angie kembali melesat mengisi rutinitas harian...

Salam....
Bongkeng.
** Milist ini bikin saya tambah mengerti, thanks to all *
**
Note : Angie is karisma 125D yang uhuy... :)






--
Wassallam
B 3 FFY  //  "Bebek Bertahan"
KHCC - 004
KaFC - 850

Homepage : http://bef272.multiply.com

"tekun, sabar, dan tawakal dalam segala hal, adalah kunci kesuksesan"

Kirim email ke