Sory waktu sabtu elo sms gue, gue enggak bisa mampir, soalnya lagi ada keperluan yang lain setelah dari TMC.
Maap yaak. Pada 17 November 2008 12:11, Andry B <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > www.jalanraya.net > Safety Riding Weblog Indonesia > > ========================================= > > Sabtu-Minggu (14-15 November 2008) PT. BOEHRINGER INGELHEIM Indonesia > bersama Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) mengadakan dua hari > pelatihan Aman Berkendara secara defensif atau lebih dikenal dengan istilah > Defensive Riding. Event ini menjadi jawaban atas program yang berlaku > 'worldwide' yang dicanangkan PT. BOEHRINGER INGELHEIM internasional yaitu > "Zero Accident to Field Force". Peserta yang hari itu berjumlah 16 orang > sehari-harinya memang berkutat dengan kendaraan operasional sepeda motor, > mereka bekerja sebagai Sales Force yang selalu wara-wiri memberikan > penawaran-penawaran pada banyak instansi farmasi. Tak heran kebutuhan akan > keselamatan menjadi nilai mutlak sejajar dengan target yang diberikan oleh > pihak perusahaan. > > Hari pertama peserta disuguhkan kelas teori yang mengupas habis sisi yang > belum terungkap dari ilmu berkendara, baik soal bagaimana posisi badan yang > ideal, pemilihan perlengkapan berkendara, ilmu menikung, manajemen resiko > hingga pemutaran video-video dan ilustrasi seputar fakta kecelakaan yang > dipaparkan secara gamblang oleh Bp.Surya selaku kepala instruktur JDDC > selama dua hari. Materi menjadi ilmu baru bagi peserta saat mereka menyadari > bahwa berkendara tidak semudah yang mereka bayangkan, seperi diketahui bahwa > berkendara di Jakarta menjadi media penguras tenaga tingkat tinggi dimana > mental dan emosi selalu tarik ulur untuk menjadi yang terdepan. Disinilah > pentingnya metode aman berkendara secara bertahan (defensive). Titik bahaya > bisa datang dari arah mana saja (depan-belakang-kiri-kanan bahkan atas dan > bawah). Pengendara kebanyakan selalu berkilah pada elemen lain ketika mereka > mengalami insiden, bisa saja mereka menyalahkan munculnya tiba-tiba lubang > di jalan atau bahkan saling tuding bahwa kendaraan lain lah yang melakukan > kesalahan. Jika mau diambil investigasi tersingkap data dominan penyebab > kecelakaan datang dari faktor manusia, lemahnya antisipasi dan mental > berkendara menjadi dominan sehingga kadang emosi lah yang muncul sebagai > tameng atas kesalahan mereka sendiri. > > Hari kedua menjadi medan praktek atas teori di hari pertama, total sebelas > simulasi berkendara disuguhkan tim Instruktur. Peserta dipaksa keras > mempraktekan ilmu berkendara di berbagai medan mulai cara pengereman yang > baik, antisipasi kecelakaan, berkendara di titian besi dan medan berpasir, > meliuk di cone hingga naik ke jembatan besi. Antusiasme peserta sangat > terlihat sepanjang pelatihan, hujan deras di tengah haripun tak menyurutkan > agenda pelatihan saat peserta tetap berada di lapangan mengenakan jas hujan. > Salah satu metode pelatihan yang menarik adalah sesi "Commentary Riding", > metode ini melibatkan peserta dan instruktur dalam satu motor dan berkendara > di medan sebenarnya yaitu jalan raya, di saat itulah peserta wajib > mengkomunikasi kan setiap kondisi yang tampak di sekeliling mereka. > > Diantara enam belas peserta, hadir dua pengendara wanita masing-masing Desi > dan Norma. Desi terlihat cukup fasih mengikuti medan halang rintang, dengan > logat Jawa-nya yang kental senyumnya kerap mengembang seolah jadi penghibur > bagi peserta lain di tengah lapangan. Norma pun sama dengan sikapnya yang > terlihat enjoy menikmati pelatihan. Di sesi "Commentary Riding", terungkap > alasan Norma mengganti spionnya dengan ukuran yang lebih kecil dengan alasan > agar bisa meliuk di seputar kemacetan. Pemahaman yang sebenarnya bisa > dikoreksi karena fungsi spion bagai kumis kucing dimana saat spion berukuran > standar tak sanggup masuk di celah kendaraan, maka pada waktu itu pulalah > pengendara tak seharusnya melakukan manuver masuk di tengah dua kendaraan. > > Di akhir acara peserta terlihat puas mengumpulkan ilmu baru dan sesekali > berharap bahwa event sejenis dapat berlangsung secara reguler. Pak John > Kurniyanto selaku Sales Manager di hari pertama juga secara tegas > mengharapkan pelatihan bisa berakhir baik dan menjadi elemen penting dalam > program perusahaan yaitu "Zero Accident to Field Force". Ini seolah berusaha > mengurangi fakta buruk fenomena berkendara di tanah air dimana 63% penyebab > kemiskinan adalah kecelakaan kendaraan, nyawa seseorang yang hilang atau > cedera spontan memutus putaran roda ekonomi keluarga. Kini 86% manusia > modern berpotensi mengalami kecelakaan, untuk ukuran lalu lintas yang buruk > di kota Jakarta angka ini bisa naik menjadi 96%. 8 dari 10 kecelakaan > melibatkan sepeda motor. Jangan ambil bagian dalam fakta mengerikan diatas. > Tetap berusaha defensif dan jauhi potensi bahaya. Every K (kilo) is a Killer > ! *(andry berlianto)* > > > > > -- > -- > <Redd Cyser B 6193 KPL> > Every time you go past your limit, that becomes your new limit. > http://www.jalanraya.net/ > http://adventuride-indonesia.com/ > http://www.andryberlianto.co.cc/ > ---------------------------------------------- > > -- Salam ozqy KHCC OO7 I H # 182 I FSRJ/RSA http://www.khcc.or.id http://www.honda-riders.or.id http://www.rsa.or.id http://www.jalanraya.net

